Penghargaan Bagi Lamellong

209

Kajao Laliddong adalah sebuah gelar. Gelar Kajao, karena pola pikiran dan kemampuannya yang luar biasa itu, maka Lamellong diberi gelar penghargaan dari kerajaan yang disebut “Kajao Lalliddong”. Kajao berarti orang cerdik pandai dari kampung Laliddong. Nama aslinya adalah La Mellong.

Ada yang menyebut La Mellong lahir pada tahun 1507 M, tetapi sumber pasti menyebut dia berkiprah antara abad ke-16 dan 17. Dia diperkirakan sezaman dengan filosuf politik Italia, Nicolo Machiavelli.

Akan tetapi, patut kita catat, bahwa ketika Machiavelli mengabaikan etika atau moral dalam pertarungan politik, maka Kajao Laliddong justru menganjurkan agar penguasa lebih jujur dan bijaksana.

La Mellong lahir pada masa pemerintahan Raja Bone ke-4 We Banrigau (1496-1516). Sedang Machiavelli lahir tahun 1469 di Florence, Italia dan meninggal dunia tahu 1527 pada umur 58 tahun. Ayahnya adalah seorang ahli hukum, tergolong anggota famili terkemuka tetapi tidak begitu berada. Selama masih hidup Machiavelli – pada saat puncak-puncaknya Renaisance Italia – Italia terbagi-bagi dalam negara-negara kecil, berbeda dengan negeri yang bersatu seperti Prancis, Spanyol atau Inggris. Karena itu tidaklah mengherankan jika pada masa ini Italia lemah secara militer meskipun brilian di segi kultur.

Sejak kecil dalam diri Lamellong telah nampak adanya bakat-bakat istimewa untuk menjadi seorang ahli pikir yang cemerlang. Bakat-bakat istimewa itu kemudian nampak menjelang usia dewasanya yang dilatarbelakangi iklim yang bergolak, di mana pada zaman itu Gowa telah berkembang sebagai kerajaan yang kuat di jazirah Sulawesi Selatan.

Lamellong dikenal sebagai orang yang paling berperan dalam menciptakan pola dasar pemerintahan Kerajaan Bone di masa lampau. Tepatnya pada abad ke-16 masa pemerintahan Raja Bone ke-6 La Uliyo Bote’e (1543-1568) dan raja Bone ke-7 Tenri Rawe Bongkangnge (1568-1584).

Baca Juga :  Sejarah Masjid Raya Watampone

Lamellong muncul ibarat bintang gemilang di kerajaan. Dengan pokok-pokok pikiran tentang hukum dan ketatanegaraan. Pokok-pokok pikiran beliau menjadi acuan bagi Raja dalam melaksanakan aktivitas pemerintahan.

Tentang Lamellong di tanah Bugis, dilacak melalui sumber-sumber lisan berupa cerita rakyat dan catatan sejarah, baik dari lontara maupun tulisan-tulisan lainnya. Serpihan tulisan yang ada lebih banyak mencatat tentang buah pikirannya yang menyangkut “Konsep Hukum dan Ketatanegaraan” dalam bahasa Bugis Bone disebut “Pangngadereng”.(Sistem Norma).

Adapun sistem norma menurut konsep Lamellong (Kajao Lalliddong) sebagai berikut :
1.ADE’. Ade merupakan komponen pangngadereng yang memuat aturan-aturan dalam kehidupan masyarakat. Ade’ sebagai pranata sosial di dalamnya terkandung beberapa unsur antara lain :

a. Ade pura Onro, yaitu norma yang bersifat permanen atau menetap dengan sukar untuk diubah.
b. Ade Abiasang, yaitu sistem kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat yang dianggap tidak bertentangan dengan hak-hak asasi manusia.
c. Ade Maraja, yaitu sistem norma baru yang muncul sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2.BICARA.
Bicara adalah aturan-aturan peradilan dalam arti luas. Bicara lebih bersifat refresif, menyelesaikan sengketa yang mengarah kepada keadilan dalam arti peradilan bicara senantiasa berpijak kepada objektivitas, tidak berat sebelah.

3.RAPANG.
Rapang adalah aturan yang ditetapkan setelah membandingkan dengan keputusan-keputusan terdahulu atau membandingkan dengan keputusan adat yang berlaku di negeri tetangga.

4.WARI
Wari adalah suatu sistem yang mengatur tentang batas-batas kewenangan dalam masyarakat, membedakan antara satu dengan yang lainnya dengan ruang lingkup penataan sistem kemasyarakatan, hak, dan kewajiban setiap orang.
Setelah agama Islam resmi menjadi agama Kerajaan Bone pada abad ke-17, maka keempat komponen pangngadereng (Ade, Bicara, rapang, dan wari) ditambah lagi satu komponen, yakni Sara (Syariah).

Baca Juga :  Enam Perempuan Bugis yang pernah memimpin Bone

Dengan demikian ajaran Kajao Lalliddong tentang hukum yang mengatur kehidupan masyarakat, baik secara individu maupun kominitas dalam wilayah kerajaan, dengan ditambahkannya komponen sara diatas menjadi semakin lengkap dan sempurna.

Ajaran Kajaolaliddong ini selanjutnya menjadi pegangan bagi kerajaan-kerajaan Bugis yang ada di Sulawesi Selatan.

Dapat dikatakan, bahwa lewat konsep “Pangngadereng” ini menumbuhkan suatu wahana kebudayaan yang tak ternilai bukan hanya bagi masyarakat Bugis di berbagai pelosok nusantara. Bahkan ajaran Kajao Lalliddong ini telah memberi warna tersendiri peta budaya masyarakat Bugis, sekaligus membedakannya dengan suku-suku lain yang mendiami nusantara ini.

Semasa hidupnya Kajao Lalliddong senantiasa berpesan kepada siapa saja, agar bertingkah laku sebagai manusia yang memiliki sifat dan hati yang baik. Karena menurutnya, dari sifat dan hati yang baik, akan melahirkan kejujuran, kecerdasan, dan keberanian.

Diingatkan pula, bahwa di samping kejujuran, kecerdasan, dan keberanian maka untuk mencapai kesempurnaan dalam sifat manusia harus senantiasa bersandar kepada kekuasaan “Dewata SeuwwaE” (Tuhan Yang Maha Esa). Dan dengan ajarannya ini membuat namanya semakin populer, bukan hanya dikenal sebagai cendekiawan, negarawan, dan diplomat ulung, tetapi juga dikenal sebagai pujangga dan budayawan. Maka dari inilah Lamellong diberi penghargaan Kajao Lalliddong. Anugerah itu diberikan oleh La Tenrirawe Bongkange.

Nama dan jasanya sampai kini terpatri dalam hati sanubari masyarakat Bone khususnya, bahkan masyarakat Bugis pada umumnya. Dia adalah peletak dasar konsep-konsep hukum (Pangngadereng) dan ketatanegaraan yang sampai kini masaih melekat pada sikap dan tingkah laku orang Bugis.