Pemikir Besar dari Tanah Bugis

192

PEMIKIR BESAR La Mellong To Suwalle Kajao Laliddong Tau Tongengnge ri Gau’na, (La Mellong Sang Cerdik-Cendekia Kajao Laliddong Manusia yang Sungguh-Sungguh Benar Perbuatannya, 1507-1586).

Walaupun dikemukakan lebih lima abad yang lalu, ternyata masih tetap menarik untuk dikaji dan dipikirkan mengenai berbagai aspek di dalam kehidupan.

Terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai dasar kenegaraan (kerajaan), hukum dan/atau budaya politik, nilai-nilai apa yang diterapkan di dalam pengaturan pemerintahan, bagaimana cara menerapkannya, di mana posisi rakyat ditempatkan di dalam kehidupan bernegara.

Dan bagaimana perhatian terhadap kesejahteraannya, bagaimana dan untuk apa supremasi hukum ditegakkan?

Singkatnya, bagaimana pemikiran dasar Kajao Laliddong? Kemudian, bagaimana pengaruh pemikiran Kajao Laliddong pada pemikiran to acca, cendekiawan Bugis-Makassar lainnya,?

Bagaimana perwujudannya di dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Bugis-Makassar, serta bagaimana relevansinya dengan kehidupan masa kini?

Semuanya hal tersebut merupakan pertanyaan-pertanyaan yang menarik untuk ditelaah, dengan melakukan upaya interpretasi atau penafsiran yang termaktub di dalamnya.

Kajao Laliddong juga sudah menganjurkan sistem demokrasi yang berkedaulatan rakyat sebagai model ideal dari sistem pemerintahan suatu kerajaan di daerah Bugis.

Pengakuan akan kedaulatan rakyat itu merupakan buah pikir dari seorang penasihat Raja Bone (kajao) yang bernama La Mellong atau Kajao Laliddong.

Sehingga pola dasar yang disebut PANGADERENG (adat istiadat), kemudian menjadi rujukan bagi raja-raja dan aparat jajarannya dalam setiap aktivitas.

Baca Juga :  Pasca Gugurnya Petta Ponggawae