Gaya Ungkapan Kajao Lalliddong

113

PEMIKIRAN BESAR Kajao laliddong disampaikan secara dialogis, berupa tanya-jawab antara Kajaolaliddong dan Arumpone (Raja Bone) Bongkangnge. Dialog dimulai dengan pertanyaan Kajaolaliddong yang cenderung merupakan pertanyaan menguji pengetahuan Raja Bone. Jawaban Raja Bone kemudian dijelaskan oleh Kajao laliddong. Inti penjelasannya merupakan intipemikiran Kajao Laliddong.

Gaya dialogis yang digunakan di dalam penyampaian pemikiran Kajao Laliddong merupakan gaya tersendiri, yang tidak banyak digunakan cendekiawan Bugis-Makassar yang lain, kecuali Maccae ri Luwu yang berdialog dengan La Baso’ To Akkarangeng, Datu Soppeng.

Kata-kata yang digunakannya (diksi) cenderung dipilih secara ketat sehingga mendukung makna yang hendak disampaikannya. Hal ini berkaitan dengan pandangan Kajao Laliddong yang mengemukakan pentingnya “macca mpinru ada” (kepandaian menciptakan kata-kata) dan “macca duppai ada” (kepandaian menanggapi kata-kata).

Kajao Laliddong misalnya, menggunakan kata “mubakurie”, yang diartikan “yang engkau miliki” atau “yang engkau punyai”. Kedua terjemahan itu, kurang mencerminkan makna secara utuh. “Mubakurie” secara harfiah berarti “yang engkau bakuli ”. Diksi ini digunakan Kajaolaliddong untuk mengemukakan makna bukan memiliki, melainkan menjaga, memelihara atau mengayomi.

“Bakul” adalah tempat menyimpan, memelihara dan menjaga benda yang disimpan di dalamnya. Sesuai dengan “akkatenningeng” atau pegangan adat, raja tidak memiliki, tidak mempunyai” apa-apa, melainkan “hanya” menjaga, memelihara dan mengayomi negara, rakyat, dan kekayaannya. Diksi “mubakurie” menunjukkan makna terakhir itu.

Di dalam dialog itu, Kajao Laliddong tidak menggunakan sapaan honorifik. Kepada Raja Bone, Kajao laliddong menggunakan sapaan orang kedua “mu”, seperti “muaseng” (yang engkau sebut), “mubakurie” dan Iain-lain.

Di dalam etik berbahasa sapaan “mu” ditujukan kepada orang kedua yang usianya lebih muda, atau sahabat akrab, atau derajatnya lebih rendah. Demikian pula, Kajao Laliddong tidak menggunakan sapaan “puang”, “petta” atau “junjunganku” tetapi langsung menyebut jabatan “Arum-pone” (Raja Bone), padahal di dalam “wari” (aturan), seorang abdi yang berbicara dengan rajanya harus menyertakan kata “puakku”, atau “petta”.

Baca Juga :  Osong I Parakkasi Daeng Pawawo Arung Tanete

Kajao Laliddong menggunakan sapaan “mu” dan sapaan “Arumpone”, diduga merupakan pencerminan dari kedudukan “to acca” (orang pandai) di dalam stratifikasi sosial Bugis-Makassar; yaitu sebagai “guru-bangsa” atau “guru-negara”.