Ajaran Kajao Lalliddong Tentang Kejujuran

483

Pemikiran dasar Kajao Laliddong, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai dasar budaya politik dan norma-norma pengaturan negara, antara lain dapat ditemukan di dalam “pappaseng” (wasiat, pesan) Kajao laliddong, terutama di dalam dialognya dengan Arumpone (Raja Bone).

Pada bagian awal dialog itu, Kajao Laliddong menanyakan pendapat Arumpone mengenai dasar-dasar pemeliharaan kemuliaan raja/kerajaan, penjagaan agar rakyat tidak tercerai-berai, serta pencegahan penghamburan kekayaan negara.

Dialog tersebut berbunyi sebagai berikut:
“…aga siyo, Arumpone, muaseng tettaroi rebba alebbiremmu, patokkong mpulanai alebbireng mubakurie; aja’ na tattere-tere tau-tebbe’mu; aja’ na pada wenno pangampo warang mparang mubakurie”

Artinya: “…apakah gerangan, Arumpone, yang kamu sebutkan tidak akan membuat rebah kemuliaanmu, yang akan mengekalkan kemuliaan yang kamu “bakuli”, tidak sampai tercerai-berai rakyatmu, jangan seperti berti terhambur kekayaan yang kamu “bakuli”.

Di dalam dialog itu, Kajao Laliddong menggunakan kata “mubakurie , yang menunjukkan pandangan Kajao Laliddong mengenai status dan fungsi raja, yaitu mengayomi rakyat dan “negeri”-nya.

Pertanyaan Kajaolaliddong dijawab Arumpone: “Lempu-e Kajao, enrennge acca-e”, “kejujuran, Kajao, beserta kepandaian”.

Bagi Kajao Laliddong, jawaban Raja Bone itu kurang sempurna. Kajao Laliddong merinci pendapatnya:
“… iya inanna warang(m)parangnge, Arumpone, tettaroengngi tattere-terre tau-tebbe’-e; temmatinropi matanna arungnge ri esso ri wenni, nawa-nawai adecengenna tanana; natangnga-i olona munrinna gau-e, napogau-i; maduanna maccapi mpinru-ada Arung Mangkau-e; matelleunna, maccapi duppai-ada, Arung Mangkau-e; maeppana, tengngalupangnge surona powada ada-tongeng”.

“Induk kekayaan yaitu yang tak membiarkan rakyat tercerai-berai adalah (pertama), “tak tertidur matanya sang raja pada siang dan pada malam-hari memikirkan kebaikan negerinya; diperhatikannya sebab dan akibat setiap tindakan baru dilakukannya; kedua, raja pintar menata kata-kata; ketiga, raja pintar menanggapi kata-kata; dan keempat, tidak terlupa, utusan mengatakan kata-kata-benar”. Kekayaan bukan sekedar harta-benda. Kekayaan berinduk pada keadaan, yaitu bila rakyat negeri tidak tercerai-berai, tidak bersengketa. la berinduk pada persatuan. Untuk menjaga agar “induk-kekayaan” itu tidak rebah, maka raja harus terus-menerus memikirkan kebaikan dan kesejahteraan negeri dan rakyatnya; raja harus melakukan pertimbangan matang atas seluruh kebijakan dan tindakannya, serta memiliki kepandaian menyampaikan kata-kata dan menanggapi kata-kata, sesuai dengan “warikkada”, aturan atau etik berkata-kata ; serta tak terlupa utusannya menyampaikan “ada-tongeng”, kata-kata yang benar.

Baca Juga :  Kilasan Prosesi Hari Jadi Bone

Di sini, secara tersurat dan tersirat, Kajao Laliddong menunjukkan nilai-dasar yang prinsipil, yaitu “lempu”, “ada-tongeng” dan “ sipakatau”; yaitu “kejujuran, kata-kata yang benar dan saling memanusiakan”, di dalam “konsep” budaya politiknya.

Kemudian, Kajao Laliddong menjelaskan : “…riaseng macca mpinru ada, tau tettassalae ri pangngaderengnge”, dan “…riaseng macca duppai ada, tau tetassalae ri rapangnge”, serta “…tau tengngallupang surona ri ada-tongengnge, tau tettakkalupae ri bicarae”. “Disebut pintar menata kata-kata adalah orang yang tak melanggar “pangngadereng”; disebut pintar menanggapi kata-kata adalah orang yang tak melanggar “rapang”, dan tak terlupa utusannya menyampaikan kata-kata benar, orang yang tak alpa pada “bicara”, hukum.

Penjelasan Kajaolaliddong menunjukkan pandangannya mengenai supremasi hukum. Untuk menjaga persatuan, yang berarti memelihara “induk kekayaan negara”, hukum harus ditegakkan dan dijadikan pedoman di dalam berbagai aktivitas kenegaraan dan kemasyarakatan.

Selanjutnya Kajao Laliddong menunjukan relasi antara “acca”, kepandaian, dengan “lempu”, kejujuran, serta “obbi-e”, seruan/ penyampaian. Sumber-kepandaian adalah kejujuran, sedangkan saksi kejujuran adalah seruan atau penyampaian, dakwah.

Di dalam relasi yang ditunjukkan itu, nilai kejujuran menduduki posisi sentral. Kepandaian yang tidak bersumber atau tidak disertai kejujuran, tidak akan menopang pemeliharaan “induk kekayaan” negara dan rakyat. Kejujuran harus diserukan, didakwahkan.

Secara mendetail Kajao Laliddo menunjukkan contoh-contoh perbuatan yang merupakan perwujudan kejujuran yang harus diserukan:

iyana riobbireng, Arumpone, makkedae, aja’ muala taneng-taneng, taniya taneng-tanengmu, aja’ muala warang mparang, taniya warang mparangmu, nataniyato manamu, aja’to mupassu tedong, nataniya tedongmu, enrengnge annyarang, taniya anynyarangmu, aja’to muala aju ripasanree, nataniya iko pasanre-i, aja’to muala aju riwetta-walie, nataniya iko
mpetta-waliwi”.

Yang diserukan ialah perbuatan yang merupakan perwujudan kejujuran, yang akrab dengan konteks kehidupan sehari-hari, “…yaitu jangan mengambil tetanaman, yang bukan tanam-tanamanmu, jangan mengambil harta benda, yang bukan harta bendamu, bukan pula pusakamu, jangan juga mengeluarkan kerbau, yang bukan kerbaumu, serta kuda yang bukan kudamu, jangan juga kau mengambil kayu yang disandarkan, yang bukan kamu menyandarkannya, dan jangan juga mengambil kayu yang ditetak sebelah-menyebelah, yang bukan kamu yang menetaknya.”

Baca Juga :  Profil Singkat Ani Yudhoyono

Kalau sumber kepandaian adalah kejujuran, maka saksinya menurut Kajao Laliddong adalah perbuatan, dan yang dilakukan ialah norma-norma “pangngadereng” dengan tidak mendengarkan kata-kata buruk dan kata-kata baik.
Maksudnya, melakukan perbuatan sebagai manifestasi dari kepandaian yang bersumber dari kejujuran, tidak terpengaruh oleh bujuk-rayu, sanjungan dan pujian, serta tidak terpengaruh oleh hujatan dan caci-maki.

Relasi acca, lempu, obbi dan gau, di dalam konsep pemikiran Kajao Laliddong adalah kepandaian bersumber dari kejujuran, kejujuran dipersaksikan dengan seruan, dakwah, dan kepandaian yang bersumber dari kejujuran itu dipersaksikan dengan perbuatan. Kepandaian dan kejujuran harus diekspresikan dengan dakwah” dan perbuatan; yang didakwahkan dan dilakukan adalah panngadereng, penjabaran nilai-nilai dasar.

Tampak jelas bahwa pemikiran Kajaolaliddong berdasar pada moralitas yang diimplementasikan di dalam bentuk tindakan nyata.