Mengapa Orang Bugis Suka Pakai Sarung?

624

Siapa yang tak kenal sarung, kain berbentuk persegi panjang yang kedua sisinya dijahit menyambung hingga berbentuk seperti tabung. Orang Bugis menyebutnya LIPA’. Ketika dipakai kaum lelaki ujung atasnya dililit di pinggang yang disebut MABBIDA, dan bagi perempuan disebut MAKKAWI.

Alangkah serbagunanya kain “ajaib” ini, walau asal muasalnya masih simpang siur, umat Muslim di Indonesia umum mengenalnya sebagai busana bawahan untuk salat, di kalangan pesantren, sarung bahkan menjadi seragam wajib bagi santri ketika mengaji kitab bersama sang Kyai yang juga bersarung.

Kaum sarungan, sebuah istilah yang berbau stereotip, generalisasi yang dianggap agak konservatif, kolot, lusuh, dsb. Tak hanya di Indonesia, masyarakat Muslim Malaysia, Brunei, Thailand Selatan bangga dengan sarung mereka.

Sebenarnya kaum muslim Indonesia pun bukan “pemegang hak cipta” atas sarung, pada masa pra-Islam umat Hindu sudah memakainya, sampai sekarang umat Hindu di Bali sering tampak memakai sarung bermotif kotak-kotak mirip papan catur. Jika di Bali sarung juga dipakai sebagai bawahan, maka umat Hindu menyelempangkan sarung mereka di pundak untuk menahan dinginnya udara.

Masih banyak kegunaan lain dari sarung, mulai sebagai selimut sampai untuk menggendong bayi. Dalam keadaan darurat sarung bahkan bisa menjadi alat pengusir nyamuk. Anak-anak kecil di pedesaan juga memakainya sebagai penutup wajah ala ninja setelah mengaji di surau, untuk menakut-nakuti teman-teman perempuan mereka. itu waktu kecil lho.

Ada sebuah pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari sarung, yakni bisa memberi manfaat bagi semua; mulai menutup aurat (aib), menjadi pelindung, sikap rela berkorban seperti sarung yang menjadi alas tadi, hingga bisa menampung aspirasi seperti yang ditunjukkan sarung yang menjadi bungkus pakaian kotor tadi. Nah, sudahkah Anda bersarung hari ini???

Baca Juga :  Arti kata Ambang

Konon, raja-raja Bugis dulu selalu pakai sarung, itu bukan tanpa alasan, ini erat hubungannya kelaki-lakiannya. Mengapa cuma lelaki, apa perempuan nggak bisa ? Karena lelakilah yang memiliki keperkasaan yang disebut Mister P (penis, maaf) untuk memberikan pelayanan kepada Nona V (vagina, maaf). Sebenarnya keduanya ada saling kerja sama yang sulit dipisahkan Tuan P dengan Nona V.

Bugis khususnya laki-laki hingga sekarang ini apabila sedang di rumah, celana yang dipakainya diganti dengan sarung. Karena celana yang merupakan rumah idaman Tuan P kadang membuat tidak enak baginya.

Tuan P merasa dikarangkeng dan tidak dapat bergerak bebas apalagi kalau celana tersebut sangat sempit. Beliau (Tuan P) tidak mendapatkan udara segar padahal kepingin juga menghirup udara segar seperti hidung.

Banyak di antara kita khususnya lelaki pada saat di rumah tidak lagi memperdulikan menggunakan sarung. Katanya kuno, ketinggalan zaman, sarung nggak laku zaman now. Padahal di balik itu, sarung adalah media multiguna. Selain menutupi tubuh atau melindungi tubuh dari pengaruh alam juga sebagai media normatif manusia sebagai mahluk beretika dan berbudaya.

Apa pengaruh Sarung terhadap Mister P ?

Sarung dapat memberi pengaruh terhadap keperkasaan Tuan P. Karena pada saat dipakai dapat saling bergesekan antara sarung dengan mahkota Tuan P apalagi kalau sarungnya dari bahan yang agak kasar. Dengan begitu, Tuan P selalu mendapatkan rangsangan setiap saat.

Jikalau menggunakan celana apalagi sempit maka Tuan P tidak mendapatkan gesekan yang memadai. Nah, Hasilnya ? Tuan P makin lama makin redup seiring dimakan usia. Jika demikian yang kasihan bukan hanya Tuan P tetapi juga Nona V kena krisis pelayanan. Hal ini sangat berdampak terhadap kehidupan rumah tangga.

Kalau Anda jalan-jalan ke Pengadilan Agama terdapat data yang diperoleh. Banyak isteri/ibu-ibu yang ingin diceraikan oleh suaminya gara-gara tidak mendapat pelayanan Tuan P yang memuaskan. Ingat lho, Mister P juga butuh hak asasi.

Baca Juga :  Kearifan Bugis Werekkada

Mengapa Kamu ingin Cerai dengan Suamimu ? Dengan gamblang menjawabnya Anu-nya tidak berfungsi lagi, tidak bisa…..dan tidak…..bisa lagi berdiri tegak, padahal dulu-dulunya masih bisa berdiri tegap, tegak, tegas, dan keras,… tapi sekarang hormat melulu….hm.”

Konon, orang (lelaki) yang selalu memakai sarung dapat menambah keturunan, karena Tuan P-nya selalu terlatih dengan gesekan sarubg yang pada akhirnya Tuan P selalu responsif terhadap Nona V.

Konon raja-raja tempo dulu menerapkan konsep sarung. Sehingga tidak diherankan memiliki isteri lebih dari satu. Dan isteri-isterinya tidak diceraikan malah menambah. Walaupun usianya sudah tua namun Tuan P-nya masih kuat dan tegar. “Lebih baik menambah isteri dari pada mengurangi “ konon katanya.

Setelah menelaah tulisan di atas, maka manfaat yang dapat diperoleh apabila membiasakan diri menggunakan sarung di rumah, yaitu bisa mengurangi Perceraian, menciptakan Rumah Tangga Anda bahagia, meningkatkan keperkasaan dan motivasi Tuan P.

Oh tidak hanya itu, sarung memiliki peran untuk menjaga, menahan diri dan menjadi penyeimbang.

1. Menggunakan sarung berarti menjaga apa-apa yang ada didalamnya. Menjaga dirinya dari dunia luar, serta menjaga dunia luar agar tidak mendapat keburukan darinya. Menjaga berarti melindungi. Dalam dunia beladiri, sarung tinju itu gunanya melindungi tangan petinju dari kemungkinan cidera.

2. Sarung berarti juga menahan diri. Karena yang ada di dalam sarung itu adalah sesuatu yang berbahaya. Keris, badik, samurai sampe pistol juga ada sarungnya. Dengan disarungi, sesuatu yang ada didalamnya akan tertahan untuk memberikan akibat pada pihak lain.

Dalam budaya bugis, senjata badik itu diselip di pinggang dalam gulungan sarung (bida’). Itu sebagai bukti bahwa orang Bugis memang memiliki kekuatan namun disembunyikan dan tidak dipamerkan. Tapi kadang juga badik dipamer ketika dipermalukan (maccingara). Sarung juga sama, menahan apa-apa yang ada di dalamnya. Tidak untuk diperlihatkan dan dipamerkan ke orang lain.

Baca Juga :  Pesan Bugis Hindari Kesombongan

3. Sarung punya makna penyeimbang. Hal ini sejalan dengan pemakaian sarung yang diikat dan membentuk seperti tabung. Siapapun yang pake, besar atau kecil ukuran badannya, sarung tidak akan membeda-bedakan bentuknya. Artinya sarung tidak akan membeda-bedakan penggunanya, semua setara. Tidak bisa kita sombong dengan motif yang ada disarung kita.

4. Sarung ibarat teknologi wireless yang memungkinkan penggunanya mengakses apa saja dalam kondisi apa saja

Konon, ada misteri sarung yang berkaitan dengan teori lipatan waktu. Di mana jika kita bisa bergerak melebihi kecepatan cahaya, maka kita bisa melipat waktu. Kemudian kita bisa bergerak melintasi dimensi sehingga bisa singgah ke masa lalu atau mungkin masa depan.

Tulisan ini sekadar pengisi waktu, namun mungkin ada manfaatnya bila dicermati. Apakah Anda pakai sarung hari ini?.