Sejarah Bareccung atau Meriam bambu

180

Di kalangan Bugis sudah tidak asing lagi tentang Meriam Bambu utamanya di perdesaan. Penulis sendiri di masa kecil yang menghabiskan masa anak-anak di kampung.

Meriam bambu atau bareccung awo ini salah satu permainan tradisional Bugis cukup populer serta dikenal di berbagai daerah Bugis Sulawesi Selatan. Bahkan hampir di seluruh wilayah nusantara pada umumnya.

Selain disebut dengan istilah Bareccung awo di berbagai daerah permainan ini dikenal juga dengan nama bedil bambu, mercon bumbung, dll menurut bahasa masing-masing daerah.

Permainan bareccung ini biasanya dimainkan oleh anak-anak laki-laki dalam rangka menyambut dan memeriahkan bulan puasa menjelang hari raya, dan peringatan hari besar agama maupun adat.

Sejarah Bareccung atau Meriam bambu

Di sejumlah daerah di Indonesia dan wilayah melayu serumpun lainnya, permainan tradisional yang satu ini dikenal dengan nama Meriam bambu, namun di beberapa daerah di Indonesia lainnya juga dikenal dengan nama yang lain.

Di sejumlah daerah di wilayah melayu, misalnya di kepulauan bangka Belitung Meriam bambu ini juga dikenal dengan sebutan bedil bambu. Di Minangkabau disebut Meriam betung atau badia batuang, sedangkan di Aceh di sebut dengan Bahasa local te’t beude trieng. Di Yogyakarta, jawa tengah, dan jawa timur , permainan ini lebih familiar dengan penamaan mercon bumbung atau long bumbung. Di Banten dan di sejumlah daerah lainnya di tanah sunda disebut dengan istilah bebeledugan.

Sementara itu masyarakat Gorontalo dan suku bangsa di wilayah Indonesia bagian timur lainnya menyebut permainan ini dengan nama bunggo. Jadi penamaannya mengikuti bahasa masing-masing daerah.

Asal usul Bareccung / Meriam bambu

Permainan meriam bambu ini diperkirakan terinspirasi dari senjata yang dipakai oleh bangsa portugis saat mereka berupaya menduduki wilayah nusantara sekitar tahun 1511.

Meriam adalah sebuah senjata modern yang dimiliki oleh bangsa portugis. Pada masa itu kehadiran meriam bagi orang-orang pribumi menjadi perhatian mereka. Mereka heran melihat ada benda yang bisa mengeluarkan bola panas yang bisa mengakibatkan kerusakan yang lumayan besar.

Merujuk pada kisah asal-usulnya tersebut, permainan Meriam bambu ini diwujudkan dalam bentuk “Meriam” yang dibuat dari bahan bambu. Cara memainkannya pun nyaris sama dengan penggunaan Meriam sungguhan , yakni dengan menyulut lubang yang ada di bagian pangkal bambu dengan api.

Permainan Meriam bambu ini sangat digemari anak-anak dan kaum remaja laki-laki di banyak daerah di Indonesia. Tidak jarang sekumpulan anak laki-laki berlomba- lomba membunyikan Meriam bambu. Barang siapa yang berhasil menghasilkan suara ledakan paling keras, itulah yang diakui sebagai jagonya Meriam bambu.

Tidak jarang, Karena terlalu kerasnya suara dentuman yang ditimbulkan, Meriam bambu bisa pecah dan terbelah menjadi dua bagian dan ketika itu asapnya membumbung.

Pada prinsipnya, permainan Meriam bambu sebenarnya bukan tergolong dalam permainan yang bersifat kompetisi, melainkan hanya untuk hiburan semata. Tidak hanya itu, permainan Meriam bambu sudah menjadi tradisi yang secara turun-temurun dimainkan secara rutin.

Seperti halnya di kampung Bugis, di tanah Minangkabau yang menjadi salah satu pusat peradaban melayu, memiliki tradisi membunyikan meriam bambu ketika bulan puasa tiba. Para remaja di Sumatra barat membunyikan Meriam bambu, yang oleh masyarakat di sana lebih dikenal dengan sebutan meriam betung.

Baca Juga :  Perbedaan kata TAU dan TO dalam bahasa Bugis

Setiap petang hari sembari menunggu waktu buka puasa tiba. biasanya, kalangan remaja di Minangkabau, terutama yang masih bermukim di daerah-daerah pelosok, melakukan tradisi “ perang Meriam betung” di sepanjang tepi sungai.

Demikian halnya dengan masyarakat di aceh yang juga tetap melestarikan tradisi memainkan Meriam bambu. Untuk menyambut idul fitri, misalnya, masyarakat Aceh di sejumlah wilayah menyulut Meriam bambu dari malam hari seusai salat tarawih hingga menjelang waktu sahur.

Bahkan masyarakat aceh dalam mempersiapkan suatu acara mereka tidak tanggung-tanggung, puluhan batang bambu di persiapkan untuk dibuatkan meriam bambu, itu dilakukan demi meramaikan suasana Ramadan dan lebaran. Dan pada malam takbiran atau malam menjelang lebaran adalah puncak acara di mana ratusan penduduk di berbagai tempat diwilayah aceh akan berbondong bondong menyaksikan acara membunyikan meriam bambu .

Di Gorontalo Meriam bamboo disebut dengan nama bunggo dan biasanya hampir setiap malam di waktu sahur para remaja di gorontalo memainkannya di sepanjang bulan puasa. Biasanya sejak awal masa Ramadan, anak- anak di daerah Gorontalo mulai pergi kehutan untuk mencari bahan- bahan untuk membuat meriam bambu. Tujuannya untuk membangunkan warga yang ingin sahur. jadi setiap pukul 02:00-03:00 anak-anak di daerah gorontalo sudah bersiap-siap untuk bermain bunggo dan kemudian beramai-ramai membangunkan warga yang lain dengan dentuman Meriam bambu.

Meskipun suara dentuman bunggo cukup keras dan memekakkan telinga, warga Gorontalo mengaku sudah terbiasa dengan tradisi yang telah berjalan selama ini, dan justru mereka merasa terbantu untuk bangun agar mereka bisa mempersiapkan santapan sahur.

Demikian juga halnya di jawa dan Madura. Di Jawa Tengah, Meriam bamboo disebut dengan nama long bumbung, sementara di Yogyakarta Meriam bambu dikenal dengan sebutan mercon bumbung juga dimainkan pada setiap bulan Ramadan dan menjelang hari raya idul fitri. Selain dibunyikan pada malam setelah salat tarawih, tidak jarang long bumbung juga diledakan pada siang atau sore hari.

Lain halnya di Klaten, Jawa Tengah, anak- anak di sana biasanya bermain long bumbung dengan membuat tim, jadi mereka membagi orang-orangnya menjadi dua kelompok, dan setiap kelompok menempati posisi yang saling berseberangan, biasanya mereka bermain di tepi sungai, sehingga terlihat seperti sedang terjadi perang sungguhan. Dan untuk membuat permainan long bumbung semakin seru meraka menaruh kaleng atau benda yang bisa di masukan kedalam ujung long bumbung, sehingga waktu long bumbung disulut api maka akan terdengar dentuman yang hebat dan kaleng tersebut akan terlontar seperti peluru kendali.

Selain di daerah-daerah yang telah disebutkan, masih banyak daerah lainnya di Indonesia dan di daerah melayu seperti, Malaysia dan Brunei Darussalam, dan lainnya yang mengenal tradisi permainan Meriam bambu. Permainan ini masih bertahan dikarena telah menjadi tradisi turun-temurun dan selalu ada setiap tahunnya dalam perayaan hari hari besar agama.

Baca Juga :  Orasi Kebangsaan Bupati Bone

Bahan dan Cara Pembuatan Meriam Bambu

Dalam pembuatan meriam bambu bahan utamanya adalah batang pohon Bambu (awo), dan kita juga harus memperkirakan usia batang bambu, ukuran diameter batang bambu, dan ukuran panjang batang bambu karena hal tersebut akan mempengaruhi Kualitas suara yang dihasilkan nantinya. Semakin tua usia batang bambu dan semakin besar diameter batang bambu, maka kualitas suara yang dihasilkan akan semakin baik.

Di samping bahan utama kita juga memerlukan peralatan lainnya yaitu : parang digunakan untuk menebang dan membersihkan bambu, karet ban digunakan untuk mengikat bambu agar tidak mudah pecah, linggis digunakan untuk membuat lubang di batang bambu, sedikit kain dan sebatang kayu kecil yang di gunakan sebagai penyulut meriam bambu nantinya, minyak tanah atau karbit yang ditambahkan air dan garam sebagai bahan bakarnya.

Cara pembuatan Meriam bambu, yaitu:

Mula- mula sediakan batang bambu dan potong dengan ukuran panjang 1,5 – 2 meter atau 3 – 4 ruas dan diameter bambu berukuran 4 inci. Kemudian, permukaan batang bambu dilubangi dengan jarak sekitar 10 cm dari pangkal batang bambu. Besarnya diameter lubang dikira-kira sebesar ibu jari. Lubang inilah yang akan menjadi tempat untuk menyulut Meriam bambu.

Langkah selanjutnya adalah ikat kuat-kuat sekitar sambungan ruas bambu dengan tali atau karet ban untuk memperkuat kapasitas bambu dari tekanan tenaga yang dihasilkan ketika disulut.

Lalu sambungan ruas di antara pangkal dengan ujung Meriam kemudian dilubangi dengan menggunakan linggis. Sambungan ruas bagian dalam harus dipastikan dilubangi dengan baik dan hampir rata dengan diameter bambu. Hal ini sangat penting agar tekanan yang dihasilkan tidak tertahan sehingga membuat bambu mudah pecah ketika dibunyikan.

Pemain Meriam Bambu

Untuk memainkan Meriam bambu ini sebaiknya dilakukan oleh orang laki laki dewasa. Namun pada kenyataanya, banyak juga kaum remaja, bahkan anak- anak yang senang memainkan Meriam bambu ini.

Meskipun bisa membahayakan, namun tampaknya permainan Meriam bambu ini sudah menjadi hal yang biasa di kalangan masyarakat luas untuk memeriahkan bulan Ramadan, hari raya, hari besar keagamaan, dan acara-acara bernuansa adat.

Waktu dan Tempat Permainan Bareccung

Meriam bambu sangat sering dimainkan untuk memeriahkan bulan puasa dan untuk menyambut hari raya idul fitri, terutama pada malam takbiran atau malam sebelum lebaran tiba. selain itu beberapa kalangan masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia dan negeri-negeri melayu serumpun juga menggelar acara permainan Meriam bambu ini dalam rangka peringatan hari-hari besar keagamaan dan acara-acara adat, seperti perkawinan, khinatan, serta upacara adat lainnya.

Sedangkan mengenai tempat yang digunakan untuk membunyikan Meriam bambu bisa bermacam-macam. Umumnya, Meriam bambu diletakan secara berjajar di lapangan terbuka dan kemudian disulut secara bergantian.

Ada juga yang membunyikan Meriam bambu di halaman depan masjid ketika memperingati hari besar keagamaan. Namun secara umum, Meriam bambu dibunyikan di tempat- tempat yang luas dan jauh dari pemukiman penduduk, seperti di lapangan, di kebun, disawah, di ladang, dan lain sebagainya.

Cara Bermain Bareccung atau Meriam bambu

Baca Juga :  Arti LA dalam bahasa Bugis

Setelah Meriam bambu selesai dibuat, maka sudah siap untuk dibunyikan. Bahan bakar yang digunakan bisa berupa minyak tanah atau karbit yang dicampuri air dengan takaran tertentu.

Jika memakai air karbit, bisa pula ditambahkan sedikit garam untuk memperbesar suara dentuman.

Di daerah Bugis Bone cara mendentumkan Meriam bambu adalah dengan menuangi minyak tanah ke dalam lubang tempat penyulutan. Kemudian, seutas kayu yang sudah dililit dengan kain dan dicelupkan ke minyak tanah lalu diberi api, digunakan sebagai alat penyulut.

Sebaiknya berhati hati dalam melakukan permainan ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan bahkan penulis waktu kecil bulu kening terkena percikan api.

Untuk memainkan Meriam bambu sebenarnya tidak memerlukan keahlian khusus, namun disarankan agar berhati-hati Karena bisa membahayakan.

Jika tidak cermat dan waspada ketika menyulut, percikan api yang ditimbulkan bisa mengenai wajah. Oleh Karena itu, bagi anak-anak yang belum cukup umur disarankan untuk tidak menyulut Meriam bambu ini. Namun demikian, untuk para remaja dan kaum lelaki dewasa juga diharapkan tetap berhati-hati ketika menyulut Meriam bambu.

Nilai-nilai Budaya yang terkandung dalam permainan Meriam bambu

Meskipun mengandung risiko yang membahayakan,namun dalam permainan Meriam bambu mengandung nilai- nilai luhur dalam ranah budaya Bugis yang sangat berguna bagi masyarakat. Beberapa nilai luhur yang terkandung dalam permainan Meriam bambu antara lain:

1) Memaknai perayaan hari besar.
Di mana permainan Meriam bambu dilakukan sebagai salah satu cara untuk menyambut datangnya hari-hari besar, semisal bulan Ramadan, hari raya, hari besar keagamaan, ataupun hari besar adat.

2) Wujud syukur dan kegembiraan.
Sebagai wujud syukur dan ungkapan kegembiraan atas perjuangan dan keberhasilan yang diperoleh, misalnya sebagai ungkapan syukur telah berhasil menunaikan ibadah puasa selama bulan Ramadan.

3) Melestarikan tradisi.
Permainan Meriam bambu adalah salah satu dari sekian banyak kekayaan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Bugis sehingga sangat perlu untuk dilestarikan agar tidak punah terkikis oleh perkembangan zaman.

4) Melatih kreativitas.
Meriam bambu bukanlah permainan yang bisa dibeli dengan mudah seperti kebanyakan permainan modern yang ada saat ini. Untuk bisa memainkan Meriam bambu seorang harus membuat sendiri. Proses pembuatan Meriam bambu inilah yang menjadi proses kreatif seseorang.

5) Melatih keberanian.
Memainkan Meriam bambu memang mengandung risiko bahaya, namun jika tetap berhati-hati dan selalu waspada dalam memainkannya, justru dapat melatih keberanian seseorang anak.

6) Meriam bambu merupakan salah satu permainan tradisional yang dimiliki oleh bangsa bangsa melayu serumpun. Permainan harus terus dijaga kelestariannya supaya tidak punah meskipun di zaman sekarang, terutama di kota-kota besar, tradisi permainan Meriam bambu sudah mulai sulit ditemukan, selain Karena tergeser oleh berbagai macam jenis permainan modern yang juga karena sulit didapat bahan-bahan untuk membuat Meriam bambu ini yang berasal dari bahan-bahan yang disediakan oleh alam.

Meskipun sekarang sudah banyak penggantinya seperti petasan yang sudah banyak diperjualbelikan, namun bareccung atau meriam bambu ini masih sering kita jumpai di perdesaan Indonesia.