Lontara Pananrang Bugis

659

A. Pengantar

Secara struktural dan syariat, orang Bugis mulai mengintegrasikan Islam dalam kehidupannya sejak abad ke-17. Ketika itu, Kerajaan Luwu dan Gowa yang terlebih dahulu memeluk Islam atas peran tiga Dato’ dari Minangkabau, yaitu Dato’ ri Bandang, Dato’ ri Tiro dan Dato’ Sulaiman atau Dato’ Patimang.

Gowalah yang berperan menyampaikan Islam pada kerajaan-kerajaan Bugis, sehingga akhirnya Islam diterima di tanah Bugis dengan indikasi terintegrasinya ajaran Islam pada
sistem kenegaraan dan sosial (Pangadereng).

Pangadereng adalah petuah-petuah yang harus dipegangi sebagai sesuatu yang memiliki nilai yang sakral. Secara fikih,mazhab yang digunakan adalah mazhab Syafii, sementara secara tasauf, ajaran yang digunakan adalah ajaran Khalwatiah.

Sebelum Islamisasi secara struktural dilakukan, masyarakat Bugis sebelumnya sudah mengetahui Dewata Seuwae (Tuhan yang Esa)sebagai pencipta segala sesuatu yang tak beranak dan tidak diperanakkan di berbagai naskah Lontara dan tradisi tutur lisan.

Dalam perkembangannya, Islamisasi tidak hanya terbatas pada masalah syariat, akan tetapi terintegrasi pada konsep kosmologis.

Termasuk penggunaan kalender Qamariyah yang digunakan masyarakat Bugis untuk menghitung waktuyang sangat rinci berdasarkan kejadian-kejadian yang dialaminya dalam semua aktivitas kehidupan.

Dalam menghitung waktu, masyarakat Bugis mempunyai keyakinan bahwa proses alam tersebut mempunyai makna mitologi yang mempengaruhi semua aktivitas manusia bahkan diyakini dan dijadikan sebagai pedoman.

Karena yakin dengan makna mitologi tersebut, sebahagian mereka berkesimpulan bahwa mereka akan tertimpa hal-hal yang tidak mengenakkan jika tidak mengikuti pananrang tersebut. Hal inilah yang memicu munculnya istilah pemmali atau larangan di kalangan masyarakat Bugis.

Pemahaman masyarakat Bugis terhadap alam, termasuk masyarakat Bugis perantau umumnya, diwarisi secara turun temurun dari nenek moyang sejak sebelum masehi. Pemahaman terhadap kejadian-kejadian alam ini kemudian dirangkum dan dicatat dalam aksara lontara.

Lontara adalah semua jenis karya tulis orang Bugis zaman dahulu yang ditulis di atas daun lontara atau sejenis daun palmyra, dengan menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar. Ada yang mengatakan bahwa aksara lontara berasal dari aksara jangang-jangang dan bilang-bilang. Ada juga yang mengatakan bahwa aksara lontara merupakan adopsi dari huruf Arab yang menggunakan bahasa Bugis-Makassar.

Aksara ini ditemukan oleh Daeng Pamatte, syahbandar Gowa di era Karaeng Tumapa’risi
Kallonna sekitar tahun 1511-1548 dan disempurnakan oleh orang Bugis, seperti Ngka, Mpa, Nra, Nca.

Ada juga yang mengatakan bahwa aksara lontara berasal dari pandangan mitologis orang Bugis-Makassar tentang alam semesta.

Dalam kebudayaan Bugis, lontara ditulis dalam berbagai perspektif yang berbeda sesuai dengan kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan politik manusia Bugis dahulu.

Oleh karena itu, lontara terdiri dari beragam jenis berdasarkan tema. Di antaranya adalah: 1. Lontara paseng,
2. Lontara paggalung,
3. Lontara sure’-sure’,
4. Lontara’ pananrang,
5. Lontara pattaungeng,
6. Lontara ade’,
7. Lontara ulu ada,
8. Lontara allopi-loping,
9. Lontara attoriolong,
10. Lontara pangaja, dan
11. Lontara pau-pau rikadong.

Baca Juga :  Perbedaan kata TAU dan TO dalam bahasa Bugis

Lontara pananrang adalah tulisan yang membahas bagaimana cara masyarakat
Bugis menghitung waktu dan melakukan pemaknaan terhadap hari-hari setiap bulan
sebagai hasil pemikiran yang populer di kalangan masyarakat Bugis pra-Islam hingga
sekarang.

Bahkan, bukan hanya hitungan waktu dalam sebulan, tetapi juga hitungan waktu dalam dua puluh empat (24) jam. Hitungan waktu tersebut juga sangat mempengaruhi masyarakat Bugis dalam melakukan sebuah kegiatan.

Contoh Kasus:
ibu Aminah yang hendak menikahkan anaknya Becce, pada Ahad, 25 Mei 2010 pukul 10.00 wita terpaksa harus dimajukan waktunya pada hari Sabtu, 24 Mei 2010 pukul 15.00 wita, karena hari Sabtu tanggal 24 Mei 2010 dianggap sebagai hari baik menurut perhitungan waktu orang tua ibu Aminah.

Jika ibu Aminah tidak mau melaksanakan pernikahan anaknya pada hari Sabtu
sebagai hari baik, pernikahan anaknya dipastikan batal dan dicarikan waktu lain di
bulan Juni 2010.

Hal ini karena hari Ahad merupakan hari nakkaseng “hari nahas” menurut orang tua ibu Aminah Karena tidak mau berselisih paham dan menakzimkan orang tuanya, ibu Aminah pun menyetujui permintaan orang tuanya.

Fenomena budaya ini menjelaskan bahwa penentuan hari baik dan hari nahas itu penting bagi masyarakat Bugis. Dengan mengikuti pedoman penentuan hari baik dan hari nahas, mereka yakin bahwa apa yang mereka lakukan dapat berjalan dengan baik, sesuai rencana, dan berakhir dengan baik.

Mereka yakin bahwa dengan mengikuti pedoman penentuan hari, pernikahan anaknya akan langgeng dan bahtera rumah tangganya dapat berjalan dengan damai, dan renggang konflik. Hal ini dalam budaya masyarakat Bugis biasa disebut dengan klausa “de na mapella bolae “ (rumah tidak akan panas membara).

Jika pernikahan itu tetap dilakukan pada waktu yang tidak ditentukan, risikonya adalah masa pernikahannya tidak dapat bertahan lama, dan
bahtera rumah tangga penuh dengan konflik dan akhirnya berujung pada perceraian.

Meskipun mempunyai keyakinan kuat mengenai penentuan hari baik dan hari
nahas, masyarakat Bugis lainnya tetap menyerahkan semua hasil perbuatan yang telah dilakukan kepada Puang Allah Taala (Tuhan Maha Kuasa).

Hal ini diperkuat dengan frase Insya Allah (jika Allah menghendaki) yang seringkali disebut-sebut dalam memulai segala aktivitas.
Ini juga berarti bahwa dalam penentuan hari baik dan hari nahas, masyarakat Bugis memiliki semangat atau roh yang berlandaskan semangat kenabian, semangat yang sesuai dengan syariat Islam dan sama sekali tidak melanggar aturan Allah yang disebut syirik.

B. Lontara Pananrang

Lontara pananrang merupakan lontara di mana daun palem yang digunakan sebagai sarana menulis orang Bugis dahulu dengan menggunakan kalam atau sejenis lidi.

Sebahagian masyarakat Bugis berpendapat bahwa lontara adalah naskah tertulis, baik kodeks maupun manuskrip daun lontara. Dengan demikian, lontara adalah semua karya tulis masyarakat Bugis zaman dahulu.

Baca Juga :  Mitos To Manurung

Di dalam penulisan lontara, masyarakat Bugis menggunakan aksara tersendiri. Bentuk aksara lontara berasal dari “sulapa eppa wala suji”. Wala berasal dari kata walayang yang berarti pemisah atau pagar atau penjaga, dan suji berarti putri.

Wala suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa atau empat sisi adalah bentuk mistis kepercayaan orang Bugis klasik yang mempunyai banyak makna. Salah satunya adalah pandangan mengenai alam semesta sebagai sebuah kesatuan.

Alam semesta ini merupakan satu kesatuan yang dinyatakan dalam simbol {s} = sa‘ yang berarti seua (tunggal / esa ), dan dasar segi empat inilah dikembangkan menjadi 23 huruf, yaitu :
(1) k g G K (ka –ga-nga- nka);
(2) p b m P (pa- ba- ma- mpa) ;
(3) t d n R (ta- da- na – nra-) ;
(4) c j N C(ca-ja-nya-nca);

Lontara pananrang adalah tulisan yang membahas bagaimana cara masyarakat
Bugis menghitung waktu dan melakukan pemaknaan terhadap hari-hari setiap bulan
sebagai hasil pemikiran yang populer di kalangan masyarakat Bugis pra-Islam. Namun, sampai hari ini, lontara ini masih dirahasiakan dan hanya dimiliki orang-orang tertentu.

Menurut kepercayaan masyarakat Bugis, pananrang pada saat ditulis lebih dahulu dipotongkan kerbau bertanduk emas dengan harapan agar tetap memiliki makna sakral
karena setiap nama hari diartikan sebagai pedoman mengenai hari baik dan hari nahas.

Oleh karena itu, masyarakat Bugis di masa lalu hingga saat ini percaya terhadap pananrang dalam melakukan semua aspek kehidupan, seperti kegiatan pertanian, perkebunan, kelautan, pernikahan, pindah rumah, pembelian mobil baru, dan sebagainya.

Sementara nama hari merupakan gelar yang diambil dari nama binatang. Pemilihan nama hari tersebut cenderung disesuaikan dengan watak atau karakter manusia atau binatang. Nama binatang digunakan karena masyarakat
Bugis pra-Islam memiliki kemiripan dengan budaya Hindu dan kepercayaan animisme.

Perkembangan kebudayaan Bugis terhadap perhitungan bulan atau penanggalan sejalan dengan sejarah masuknya agama Islam di Sulawesi Selatan pada umumnya dan Bugis-Makassar pada khususnya.

Menurut para sejarawan sekitar abad ke-16 pada masa pemerintahan Raja Bone ke-11 La Tenriruwa banyak mempengaruhi berbagai kebudayaan Bugis-Makassar, termasuk sistem penanggalan yang pada awalnya hanya didasarkan pada pemahaman yang diterima secara turun-temurun dari nenek moyang mereka,

Dengan pengaruh tersebut, beralih mengikuti sistem penanggalan Hijriah, walaupun masih tetap dipengaruhi oleh sistem penanggalan warisan nenek moyang mereka yang dikenal dengan nahas tujuh, yaitu :
(1) malam ke-3,
(2) malam ke-5,
(3) malam ke-9,
(4) malam ke-16,
(5) malam ke-21,
(6) malam ke-24,
(7) malam ke-25.

Hitungan ini dimulai sejak munculnya bulan sabit. Penentuan masuknya awal bulan dilakukan dengan beberapa cara, antara lain (1)mappalao puppu esso, yaitu apabila matahari dan bulan secara bersama-sama terbenam, dan setelah matahari terbenam, dihitunglah masuknya awalbulan;
(2) mappabbaja, yaitu mengamati bulan di sebelah timur saat subuh, mejelangfajar dengan menggunakan kain tipis warna hitam yang ditutupkan pada mata, dan apabila terdapat garis horizontal bersusun tiga, disebut dengan itilah tellu temmate, yang berarti lagi tiga hari akan terjadi pergantian bulan, dan bilamanaterdapat garis horizontal bersusun dua, berarti lagi dua hari terbit awal bulan; dan (3)adanya kilat atau gerimis di tengah malam menjelang pergantian awal bulan.

Baca Juga :  Ajaran Kajao Lalliddong Tentang Kejujuran

Keyakinan masyarakat Bugis terhadap masuknya awal bulan yang baru itulah yang dihitung secara berurutan mulai tanggal 1 sampai tanggal 30 dengan istilah ompo uleng (peredaran bulan, setiap tanggal).

Jadi, tanggal 1 disebut seddi ompona uleng sementara tanggal 30 disebut ompona ulengnge.

Selain penggunaan tanggal dalam menentukan hari baik dan hari nahas, terdapat pula
pemahaman masyarakat Bugis tentang bulan nahas.

Bulan nahas adalah bulan yang salah satu hari di antara terdapat hari nahasnya, yaitu :
(1) hari ke-12 bulan Muharam;
(2)hari ke-10 bulan Safar;
(3) hari ke-14 bulan Rabiulawal;
(4) hari ke-20 bulanRabiulakhir;
(5) hari ke-1 bulan Jumadilawal;
(6) hari ke-3 bulan Jumadilakhir;
(7)hari ke-28 bulan Rajab;
(8) hari ke-26 bulan Syakban;
(9) hari ke- 14 bulan Ramadan;
(10) hari ke-1 bulan Syawal;
(11) hari ke-28 Zulkaidah; dan
(12) hari ke-3Zulhijah.

Hari-hari nahas tersebut diyakini sebagai hari yang pantang memulaisuatu pekerjaan atau mengadakan perjalanan.

Selain itu, ada sebuah kepercayaan terhadap kualitas suatu hari dalam sebulan yang oleh orang Bugis disebut dengan Nalaowang Uleng. Bulan ini dianggap sebagai hari nahas sehingga pada hari ini pantang bagi orang Bugis melakukanperjalanan jauh atau merantau, yaitu :
1) hari Ahad dalam bulan Muharam,
2) hari Rabudalam bulan Safar,
3) hari Jumat dalam Bulan Rabiulawal,
4) hari Selasa dalam Rabiulawal,
5) hari kamis dalam bulan Jumadilawal,
6. hari Sabtu dalam bulam Jumadilakhir,
7) hari Jumatdalam bulan Rajab,
8) hari Kamis dalam bulan Syakban,
9) hari Selasa dalam bulan Ramadan,
10) hari Senin dalam bulan Zulkaidah,
11) hari Rabu dalam bulan Zulhijah.

Nalaowang Uleng juga terjadi tepat pada hari
Rabu tanggal 27 di semua bulan Qamariyah.

Selain penggunaan tanggal, masyarakat Bugis juga membedakan “waktu dalam sehari semalam” menjadi tujuh (7) macam, yaitu:

1 Denniari 01.00-04.00
2 Subuh 04.00-06.00
3 Ele 06.00-07.00
4 Abbuweng 07.00-11.00
5 Tengasso 11.00-13.00
6 Lesang essoe (loro) 13.00-15.00
7 Araweng 15.00-18.00

Selanjutnya, untuk melihat kualitas waktu dalam sehari semalam tersebut, orang
tua Bugis dahulu memetakan waktu menjadi lima macam, yaitu pukul:
06.00-08.00,
08.00-11.00,
11.00-12.00,
12.00-15.00,
15.00-18.00.

Waktu-waktu tersebut selanjutnya ditandai sebagai waktu yang baik dan waktu nahas untuk memulai sebuah aktivitas.