Tari Pajoge dari Bone

244

Pajoge adalah sejenis tarian yang berasal dari Sulawesi Selatan, baik Bugis maupun Makassar. Tarian ini biasanya ditampilkan dalam istana atau kediaman kalangan ningrat dan para penarinya adalah gadis yang berasal dari kalangan rakyat biasa. Awalnya tarian pajoge merupakan hiburan bagi para lelaki.

Tari Pajoge saat ini

Para penonton yang berasal dari kalangan ningrat duduk membentuk lingkaran. Para penari menari melingkar dan menari seorang diri sambil menyanyi dan mencari pasangannya di antara penonton. Ketika mendapat pasangan penari akan memberi daun sirih kepada lelaki yang sudah dipilihnya. Lelaki tersebut akan menari dengan sang gadis. Itulah fungsi tari Pajoge sebagai tarian hiburan, juga merupakan alat penghubung antara raja dan rakyat, untuk mendekatkan hubungan agar rakyat tetap cinta kepada rajanya dan sebaliknya.

Asal mulanya tarian ini timbul semasa kerajaan Bone dahulu. Ada yang mengatakan sejak abad ke-7, tetapi hal itu belum jelas, karena belum ada ditemukan tulisan-tulisan yang dapat memberikan keterangan pasti tentang hal itu, tetapi yang jelas bahwa kakak perempuan La Pawawoi Fatimah Banri pandai membawakan tarian ini, dan raja Bone ke-31 Lapawawoi Karaeng Sigeri juga sangat gemar akan tari Pajoge dan semua anaknya memelihara tari Pajoge. Bahkan La Sinrang dari Sawitto terkadang berlama-lama hanya karena kesukaannya dengan tarian pajoge ini.

Fatimah Banri Ratu Bone gemar dan pandai Tarian Pajoge

Jadi dengan demikian bahwa Pajoge lahir di istana raja untuk menghibur raja dan keluarganya, juga untuk menghibur rakyat pada pesta-pesta. Penari-penari pada umumnya diambil dari rakyat biasa saja. Perbedaan dengan tari Pakarena dengan tari Pajoge yang biasa hidup diistana raja yang penari-penarinya dipilih dari keturunan bangsawan atau anak anggota adat tujuh. Tetapi Pajoge adalah merupakan tarian rakyat yang dipertontonkan pada pesta raja dan umum.

Baca Juga :  Cerpen : Negeri Tak Berhati

Penari-penarinya dipilih yang cantik-cantik saja serta mempunyai kelebihan-kelebihan agar supaya dapat menarik perhatian para penonton, baik raja-raja maupun rakyat dengan maksud di samping berfungsi sebagai hiburan juga dapat menarik keuntungan atau hasil yang berupa materi, karena para penonton diberi kesempatan untuk Mappasompa (memahar) pada salah seorang Pajoge yang diingininya. Dan telah menjadi ketentuan bahwa setiap laki-laki yang mau Mappasompa (memahar) harus menyediakan uang atau benda lain.

Sebelumnya Tari Pajoge ini juga digemari Fatimah Banri, yakni raja Bone ke-30 sekitar 1871-1895. Fatimah Banri adalah kakak perempuan La Pawawoi yang menjadi ratu Bone sebelum La Pawawoi. Fatimah Banri gemar mengumpulkan gadis-gadis belia kemudian diajari berkesenian. Ketika ada hajatan ditampilkanlah tarian pajoge bahkan beliau sendiri kadang ikut bergabung dengan anak asuhannya, maklum Fatimah Banri dikenal mempunyai paras yang cantik jelita seperti adiknya La Pawawoi yang berparas gagah.

Di Sulawesi Selatan dihuni 4 etnis dengan budaya yang beraneka ragam, dewasa ini sering ditampilkan Tari Empat Etnik. Dan tari kreasi ini melambangkan empat etnik terbesar yang berdiam di Sulawesi Selatan meliputi etnik Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar.

Tari Empat Etnik di Sulawesi Selatan

Tari Empat Etnik memadukan beberapa tarian seperti dari tari Pajoge’ dari etnik Bugis,tari Pakarena etnik Makassar, tari Pa’gellu dari Toraja, dan tari Pa’tuddu dari daerah Mandar. Tarian ini dibuka dengan irama pakkanjara atau gendang dengan ketukan bertalu-talu khas makassar.

Semuanya memiliki makna dan gerakan khas tersendiri dan setiap gerakan memiliki makna. Seperti gerakan memutar seperti jarum jam dari tari Pakarena yang melambangkan siklus kehidupan manusia. Semua unsur tersebut diramu menjadi gerak berkonstruksi dan selaras dengan penguatan yang dilengkapi dengan Osong/Anggaru.

Baca Juga :  Bedah Lagu Rumpa'na Bone