Antre Anda Berakhlak

103

Sepertinya budaya antre menjadi sebuah barang langka di negeri ini. Sebagai contoh, orang sering berebut masuk ke dalam busway dan lift tanpa mendahulukan orang yang mau keluar terlebih dahulu.

Maka tak jarang terjadi ada orang yang jatuh ataupun terjepit kerumunan. Belum lagi jika pergi ke daerah ada saja ulah orang-orang menyebalkan yang suka menyerobot antrean di minimarket.

Sepertinya hak orang lain tidak dihargai sama sekali. Mereka yang sudah lama menunggu giliran membayar, diambil begitu saja haknya.

Tentunya hal ini menjadi sebuah hal menyedihkan. Terlebih lagi jika kita membandingkan dengan kehidupan di luar negeri yang sudah lebih maju. Kita hanya bisa mengelus dada. Malah Anda mungkin pernah mengingatkan orang untuk mengantre. Apes, justru kena makian?.

Pentingnya Budaya Antre

Sebetulnya mengantre merupakan hal sepele, kita tinggal menunggu giliran kita tanpa merebut apa yang menjadi milik orang lain. Sederhana, bukan? Betul sederhana tapi baik bagi diri sendiri dan orang lain.

Bagi diri sendiri, mengantre dapat melatih kedisiplinan, karena kita harus menunggu waktu yang tepat. Selain itu, mengantre dapat melatih pengendalian diri kita. Dalam hal ini kita harus bisa membunuh kehendak kita yang mau cepat-cepat dan ‘melangkahi’ hak orang lain. Kesabaran sangat dibutuhkan dalam proses ini.

Sementara bagi sesama, mengantre dapat melatih masyarakat untuk saling menghormati hak orang lain. Hal ini sangat penting karena ketika kita menghormati hak-hak orang lain maka kehidupan akan berjalan dengan damai dan segala macam kegiatan akan berjalan dengan lancar.

Namun sayangnya, budaya antre yang sebenarnya sepele ini begitu susah dilakukan. Kecenderungan orang adalah egois. Mereka merasa bahwa kepentingan diri sendiri lebih berharga daripada kepentingan orang lain. Selain itu, orang tidak mau diatur karena merasa dirinya sudah benar.

Meskipun demikian, suka atau tidak suka, negeri ini harus bisa menanamkan budaya antre sedini mungkin. Tujuannya adalah agar negeri ini menjadi lebih maju. Bayangkan jika setiap orang bisa mengantre dengan baik, pasti semuanya bisa berjalan lebih lancar.

Impresi orang asing terhadap negeri kita ini akan menjadi lebih baik pula karena semuanya dapat berjalan lebih teratur. Untuk menanamkan budaya antre sejak dini, kita harus bisa memulainya dari diri sendiri terlebih dahulu.

Orang tua harus bisa memberikan teladan nyata bagi anak-anaknya. Dengan demikian kejadian yang serig saya temukan di ruang publik tidak akan terjadi lagi, yaitu ketika kita menegur seorang dengan baik malahan dia tidak peduli dan tetap menerobos antrean, bahkan menatap tidak suka ke kita.

Baca Juga :  Ucapan Selamat Atas Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Bone Periode 2018-2023

Selain itu, sebaiknya tiap fasilitas pelayanan fasilitas publik diberikan tanda-tanda yang jelas agar dapat menjadi pengingat yang efektif. Memiliki tanda arah yang jelas di depan pintu-pintu, Tanda panah kanan dan kiri untuk orang-orang yang akan masuk ke dalam. Serta tanda panah tengah bagi orang-orang yang akan keluar. Sangat jelas. Hal ini akan membantu orang yang sering ‘lupa’ dengan peraturan antre.

Berkata orang Bugis: iyatu sikolae tellu mi ise’na, iyaritu maruki, mabbaca, nennia mabbilang. Kiya siacca-accamu maruki, mabbaca, nennia mabbilang. Rekko ade’mu tea, pada muto belle.

Artinya sekolah itu tiga isinya yaitu menulis, membaca, dan berhitung. Walaupun telah menguasai dan pandai menulis, membaca, dan berhitung. Jika adat-moral tidak ada sama saja bohong.

Demikian pentingnya mendahulukan akhlak dan moral dari ilmu bagi kehidupan Bugis. Ilmu tanpa adab menjadi kacau, Ilmu agama tanpa akhlak mulia adalah sia-sia.

Karena pentingnya budaya antre ini, seorang guru di Australia pernah berkata:

“ Kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika, kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantre ”

Sewaktu ditanya mengapa bisa begitu ? jawabnya :
Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 tahun atau lebih untuk bisa mengantre dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantre.

Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali Tambah, Kali, Kurang, dan bagi. Dan sebagian mereka anak menjadi pedagang, penyanyi, pelukis, dan lainnya yang membutuhkan akhlak dan budi pekerti.

Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara semua murid dalam satu kelas ini pasti akan membutuhkan ETIKA DAN MORAL.

PELAJARAN BERHARGA DI BALIK MENGANTRE

”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;” jawab guru kebangsaan Australia itu.

1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.

2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.

3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..

Baca Juga :  Gaya Ungkapan Kajao Lalliddong

4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.

5.;Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (misalnya apakah membaca buku saat mengantre).

6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.

7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.

9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.

10.Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.

11.Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.

12.Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain

*dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya*

Fenomena :

Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”

Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.

Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya diperbolehkan masuk antrean depan, karena alasan masih kecil capek ngantre, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrean permainan yang berbeda.

Ada orang tua yang malah marah-marah karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.

Dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin Anda pernah alami juga.?

Perhatikan Adab dan Akhlakmu Wahai Penuntut Ilmu

“Seorang penuntut ilmu, jika tidak menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, maka tidak ada faidah menuntut ilmunya.

Para ulama sejak dahulu, mereka sangat memperhatikan adab dan akhlak. Jangan sampai justru dakwah rusak karena pelaku dakwah itu sendiri yang kurang adab dan akhlaknya. Ulama dahulu benar-benar mempelajari adab dan akhlak bahkan melebihi perhatian terhadap ilmu.

Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata:

“Saya mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama dua puluh tahun, dan ada-lah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu”.

Baca Juga :  Daftar Kabupaten Kota di Kawasan Teluk Bone

Hendaknya kaum muslimin terutama para penuntut ilmu dan dai sangat memperhatikan hal ini. Jika setiap orang atau sebuah organisasi, kita permisalkan. Mereka punya target dan tujuan tertentu, maka tujuan Nabi shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam diutus adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Kita berupaya untuk mewujudkan hal ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Berhiaslah dengan Akhlak Mulia

Beliau memerintahkan kita agar bergaul dan bermuamalah dengan manusia berhiaskan akhlak yang mulia.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bergaulah dengan manusia dengan akhlak mulia.”

Beliau adalah suri teladan bagi kaum muslimin dan beliaupun sudah mencontohkan kepada kita akhlak beliau yang sangat mulia dalam berbagai kisah sirah beliau. Allah memuji akhlak beliau dalam Al-Quran.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (Al-Qalam: 4).

Demikian juga pujian dari istri beliau, perlu diketahui bahwa komentar dan testimoni istri pada suami adalah salah satu bentuk perwujudan akhlak sebenarnya seseorang.

Aisyah berkata mengenai akhlak Nabi Shallallahu ‘alaih wa sallam:

“Akhlak beliau adalah Al-Quran.”

Seperti Apa Akhlak Mulia Itu?
Akhlak mulia adalah:
1. berbuat baik kepada orang lain
2. menghindari sesuatu yang menyakitinya
3. menahan diri ketika disakiti

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.

Mari kita wujudkan akhlak yang mulia, mempelajari bagaimana akhlak mulia dan dalam Islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Budaya mengantre adalah bahagian akhlak mulia.

Balasan akhlak mulia sangat besar yaitu masuk surga dan merupakan sebab terbanyak orang masuk surga

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia.

Demikian, budaya antre itu penting untuk ditanamkan sejak dini demi kemajuan negeri ini. Kalau mengatur diri sendiri saja tidak bisa, bagaimana kita akan mengatur orang lain? Bagaimana negeri ini bisa maju? Yuk mulai dari diri sendiri!