Mitos Nama Sulawesi

199

CERITA orang tua, kalau nama Sulawesi berasal dari kata sele’ bessi (engsel dari besi). Di Sulawesi kampung Bugis banyak panre bessi (pandai besi). Cumpiga adalah suatu kampung tanah Bugis Bone sejak dulu masyarakatnya hidup dengan bertani dan sebagian sebagai panre bessi.

1905, suatu hari si pandai besi didatangi tentara Belanda, ia sedang mencari panglima perang Bone Petta Ponggawae. “Goedemiddag … Hoe gaat het met je? selamat pagi … apa kabar? kata orang Belanda.

Si Panre Bessi yang sedang menempa besi untuk dibuat engsel hanya melongo. Dalam hatinya mungkin orang Belanda ini menanyakan apa itu yang kau bikin. Maka Si Panre Bessi “iyye sele bessi” jawabnya. Orang Belanda tadi manggut-manggut saja ” oh Dankjewel … selebes? ah …sele bessi jawab si panre bessi. Oh yo … selebes … Dankjewel …jawab orang Belanda tadi Oh yo … selebes… terima kasih.

Sebulan kemudian, si panre bessi kembali didatangi Belanda minta bantuan dibikinkan anak kunci raksasa model F dan tiga hari kemudian kunci itupun sudah jadi dalam ukuran besar. Konon anak kunci engsel raksasa itu disimpan di Mess Bouland (Wisma Guru-guru saat ini) Jalan Makmur Watampone.

Di Belanda ada sebuah dinding tembok tertulis lontara dengan kata “sulisa”. Lengkapnya, yaitu “polena pelele winru, tenri kutuju mata padanna sulisa”. Demikian bunyi pepatah yang ditulis dalam aksara Bugis di mural gedung KITLV Belanda. Mungkin berhubungan penamaan pulau Sulawesi. Apabila diruntut dari selebessi-selebes-sulisa-sulawesi. Kunci Selebessi raksasa pesanan Belanda berbentuk F menandakan pulau Sulawesi menyerupai huruf F.

Sementara cerita lain mengatakan, kalau mulanya belum ada Sulawesi. Yang ada hanyalah laut di antara dua pulau. Lalu kedua pulau itu bertabrakan. Maka jadilah pulau Sulawesi. Itu sebabnya pinggangnya bergunung-gunung, banyak sungai, dan banyak besi, banyak emas” Begitulah kata-kata orang tua (ada tomatoa).

Baca Juga :  Makna Lirik Lagu Ongkona Bone

Mitologi Toraja lain lagi, dalam mitologi toraja digambarkan bahwa penutup bumi dulunya terlalu kecil, sehingga para dewata mengurut-urut bola bumi, supaya bajunya pas. Tahu-tahu, kebesaran, sehingga terjadilah kerut-kerut dan lipatan-lipatan yang merupakan asal usul gunung gunung.

Profesor John A. Katili, ahli geologi Indonesia yang merumuskan geomorfologi Pulau Sulawesi bahwa terjadinya Sulawesi akibat tabrakan dua pulau (Sulawesi bagian Timur dan Sulawesi bagian Barat) antara 19 sampai 13 juta tahun yang lalu, terdorong oleh tabrakan antara lempeng benua yang merupakan fundasi Sulawesi Timur bersama Pulau-Pulau Banggai dan Sula, yang pada gilirannya merupakan bagian dari lempeng Australia, dengan Sulawesi Barat yang selempeng dengan pulau-pulau Kalimantan, Jawa dan Sumatra, Sulawesi menjadi salah satu wilayah geologis paling rumit di dunia.

Sederhananya boleh dikata bahwa busur Sulawesi Barat lebih vulkanis, dengan banyak gunung berapi aktif di Sulawesi Utara dan vulkan mati di Sulawesi Selatan. Sedangkan busur Sulawesi Timur, tidak ada sisa-sisa vulkanisme, tapi lebih kaya mineral. Sumber-sumber minyak dan gas bumi dari zaman Tertiary tersebar di kedua busur itu, terutama di Teluk Tomini, Teluk Tolo, Teluk Bone, serta di Selat Makassar.

Perbedaan geomorfologi kedua pulau yang bertabrakan secara dahsyat itu menciptakan topografi yang bergulung gulung, di mana satu barisan gunung segera diikuti barisan gunung lain, yang tiba-tiba dipotong secara hampir tegak lurus oleh barisan gunung lain. Kurang lebih seperti kalau taplak meja disorong dari beberapa sudut dan arah sekaligus.Makanya jarang kita bisa mendapatkan pemandangan seperti di Jawa, Sumatera, atau Kalimantan, di mana gununggunung seperti kerucut dikelilingi areal persawahan atau hutan sejauh mata memandang. Kecuali di Sulawesi Selatan (itupun di selatan Kabupaten Enrekang), kita sulit menemukan hamparan tanah pertanian yang rata.

Baca Juga :  Dunia Sepi Tanpa Seni

Sederhananya, Sulawesi adalah pulau gunung, lembah, dan danau, sementara dataran yang subur, umumnya terdapat di sekeliling danau-danau yang bertaburan di keempat lengan pulau Sulawesi. Ekologi yang demikian ikut menimbulkan begitu banyak kelompok etno-linguistik.

Setiap kali satu kelompok menyempal dari kelompok induknya dan berpindah menempati sebuah lembah atau dataran tinggi di seputar danau, kelompok itu terpisah oleh suatu benteng alam dari kelompok induknya, dan lewat waktu puluhan atau ratusan tahun, mengembangkan bahasa sendiri.

Geomorfologi yang khas ini menyebabkan pinggang Sulawesi Tana Luwu dan Tana Toraja di provinsi Sulawesi Selatan, bagian selatan Kabupaten Morowali, Poso, dan Donggala di provinsi Sulawesi Tengah, dan bagian pegunungan provinsi Sulawesi Barat sangat kaya dengan berbagai jenis bahan galian.Batubara terdapat di sekitar Enrekang, Makale, dan Sungai Karama.

Juga di Sulawesi Barat sebelah utara, di mana terdapat tambang batubara dan banyak jenis logam tersebar di berbagai pelosok Sulawesi. Tembaga dan nikel terdapat di sekitar Danau-Danau Matano, Mahalona dan Towuti.

Bijih besi bercampur nikel, yang diduga berasal dari meteor, memungkinkan lahirnya pandai besi di lembah-lembah Rampi, Seko dan Rompong di hulu Sungai Kalaena (Luwu Utara) dan di Ussu, dekat Malili (Luwu Timur), yang ilmunya ditularkan ke pandai besi asal Toraja, yang selanjutnya menularkannya ke pandai besi Bugis.

Guratan besi-nikel itu dikenal sebagai pamor Luwu atau pamor Bugis oleh empu penempa keris di Jawa, dan membuat Kerajaan Luwu kuno dikenal sebagai pengekspor besi Luwu.

Di masa kini, salah satu pusat konsentrasi pandai besi Toraja letaknya di lereng Sesean, gunung tertinggi di Tana Toraja. Bijih emas pun banyak terdapat di pinggang Sulawesi, karena biasanya mengikuti keberadaan bijih tembaga.

Baca Juga :  Menggagas Demonstrasi Ala Bugis Bone

Di Bone umumnya Sulawesi dikenal memiliki potensi tambang bijih besi mungkin inilah ikhwal penamaan selebessi-selebes-sulisa- menjadi sulawesi sekarang ini.