Falsafah Bugis 10 S

273

Falsafah ialah pandangan hidup dan sikap batin paling dasar yang dimiliki oleh orang atau masyarakat.

Falsafah itu lahir dari hasil proses nalar yang wajar dan melingkupi seluruh aspek kehidupan. Hasil proses nalar tersebut bisa berupa anggapan dan gagasan yang disepakati.

Dalam pandangan Bugis, falsafah merupakan suatu bahasa kebersamaan dan keterikatan yang menjadi sebuah pedoman dalam menghadapi dan mengarungi kehidupan. Falsafah Bugis tersebut dituangkan dalam simpul “paseng” yang artinya pesan bertuah.

Ketika “paseng” terlanggar dapat menimbulkan konsekwensi hidup yang tidak diharapkan. Kondisi seperti ini lahirlah simpul ” pangaja”.

Simpul paseng diartikan sebagai petuah yang biasanya didahului dengan kata ” rekko ” yang artinya : jika, apabila, kalau. Sedang simpul pangaja diawali dengan kata ” aja ” yang artinya: jangan.

Contoh Simpul Paseng, yaitu:
Rekko naenreki pabbicarae waramparang de toni lempue. Artinya jika hakim menerima pemberian (suap) lenyap pula kejujuran.

Manakala pesan itu terlanggar dapat menimbulkan permasalahan. Akibatnya, orang tua Bugis mengatakan ” makkeda memengnga padecengi, aja’ musanre ri cekoe”.

Artinya saya sudah mengatakan sebelumnya, bahwa jagalah kejujuran dan jangan bersandar pada kecurangan.

Untuk menjaga dan memelihara pesan-pesan bertuah di atas disimbolkan dalam bentuk ungkapan-ungkapan seperti di bawah ini. Ungkapan-ungkapan tersebut saya sebut 10 S ( ᨔ ).

Falsafah Bugis 10 S ( ᨔ )

Sipakalebbi : Saling menghargai
Sipakainge : Saling mengingatkan
Sipakatau : Saling memanusiakan
Sipatokkong : Saling menegakkan
Siparappe : Saling mendamparkan
Sipatuo : Saling menghidupkan
Siporio : Saling menyenangkan
Siporennu : Saling membahagiakan
Sipatuju : Saling memahami
Siaddampeng : Saling memaafkan

Huruf ᨔ (sa) dalam bahasa bugis sesuai dengan bentuknya bersisi empat yang melambangkan  4 arah mata angin, yakni Utara, Selatan, Timur, dan Barat. Selain itu melambangkan 4 unsur yang terkandung dalam tubuh manusia, yaitu Tanah, Air, Api, dan Angin.

Baca Juga :  Mengapa Orang Bugis Suka Pakai Sarung?

Semoga bermanfaat,

(Mursalim/Teluk Bone).