Ilmu Jujur Orang Bugis

189

ILMU JUJUR ORANG BUGIS

Ceko riala sanreseng
Pajaneng temmalampe
Riala pakkawaru

Lempu riala sanreseng
Pajaneng masumange’
Madeceng laona

Terjemahan :

Jika sifat curang dijadikan pedoman
Tentulah takkan mungkin lestari
Untuk dijadikan pengharapan

Jika kejujuran dijadikan pedoman
Tentulah akan menjadi indah
Segala sesuatunya akan baik

Nilai Sebuah kejujuran tidak akan bisa dibeli oleh harta dan benda , hanya dapat kira rasakan di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Betapa damai dan sejahteranya orang-orang yang masih mempunyai sikap jujur di hatinya, tanpa perlu takut akan terhina oleh orang lain.

Di sisi Allah pun kita akan ditulis sebagai orang yang jujur yang kelak akan membawa kita surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi.

JUJUR adalah sebuah kata yang indah didengar, tetapi tidak seindah mengaplikasikan dalam keseharian.

Tidak pula berlebihan, bila ada yang mengatakan “jujur” semakin langka dan terkubur, bahkan tidak lagi menarik bagi kebanyakan orang.

Semua orang paham akan maknanya, tetapi begitu mudah mengabaikannya. Yang lebih berbahaya lagi adalah ada orang yang ingin dan selalu bersikap jujur, tapi mereka belum sepenuhnya tahu apa saja sikap yang termasuk kategori jujur.

Jujur adalah sebuah nilai abstrak, sumbernya hati, bukan pada omongannya. Jadi “jujur” sebuah nilai kesadaran “imani”, dimulai dari suara hati.

Kualitas imanlah yang dapat mengantarkan seseorang menjadi jujur. Kata jujur adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sikap seseorang.

Jika ada seseorang berhadapan dengan sesuatu atau fenomena, maka orang itu akan memperoleh gambaran tentang sesuatu atau fenomena tersebut.

Jika orang itu menceritakan informasi tentang gambaran tersebut kepada orang lain tanpa ada “perubahan” (sesuai dengan realitasnya) maka sikap yang seperti itulah yang disebut dengan jujur.

Baca Juga :  Walasuji dan Filosofi Pohon Bambu

Dengan kata lain seseorang dikatakan jujur, bila ucapannya sejalan dengan perbuatannya.

Jadi yang disebut dengan jujur adalah sebuah sikap yang selalu berupaya menyesuaikan atau mencocokkan antara Informasi dengan fenomena atau realitas. Dalam agama Islam sikap seperti inilah yang dinamakan shiddiq.

Makanya jujur itu bernilai tak terhingga. Karena semua sikap yang baik selalu bersumber pada “kejujuran”.

Merupakan suatu keindahan bila setiap individu bersikap jujur terhadap dirinya, pedagang senantiasa jujur dalam usaha dagangannya, demikian pula pemimpin yang jujur dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.

Berkaitan dengan hal itu Rasulullah SAW bersabda: “Hendaknya kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu menunjukkan kalian kepada kebajikan. Dan kebajikan itu menunjukkan kalian jalan ke surga.” (HR. Muslim).

Kejujuran itu memang pahit pada awalnya tapi yakinlah akan berbuah manis pada akhirnya.