Menakar Pengkhianat

305

Kata Jenderal Sudirman ” Siapkan 10 peluru dalam senjata, 9 peluru untuk penghianat, dan 1 peluru saja untuk lawan, karena pengkhianat musuh terbesar agama dan negara “.

Musuh terbesar dalam sebuah peperangan adalah musuh di dalam selimut (Pengkhianat).

Engkau bisa saja membaca semua langkah yang dilakukan oleh musuh, tetapi sulit ketika harus membongkar pengjhianat di dalam satu lingkaran.

Pengkhianat itu adalah seorang yang berpotensi menjadi pengkhianat bukanlah dari musuh namun dari orang terdekat dan orang-orang yang kita hormati.

Pengkhianat memang bukan orang-orang yang jauh, tapi orang yang paling dekat. Dengan tegas badik dan keris pun menusuk kepada seorang pengjhianat. Tidak ada hukuman lain selain kematian bagi seorang pengkhianat.

Lantas bagaimana kalau yang berkhianat itu adalah seorang pemimpin?

Apakah kita mau dipimpin seorang pengkhianat? Pilihannya hanya satu, “LAWAN”

Melawan itu memang sangat berisiko, mati atau dimusuhi. Tetapi bagi seorang Pejuang, lebih baik mati daripada harus bersekutu dalam pengkhianatan.

Banyak cara yang dilakukan oleh seorang pengkhianat, banyak cara juga yang harus dilakukan oleh seorang pejuang untuk melawan pengkhianatan.

Seperti kata Bung Karno, ‘kalau kata-kata saja tidak cukup untuk menjawab jiwa yang kebelinger. Cukuplah senjata, satu jawaban yang lebih tegas lagi’.

Melawan pengkhianat tidak harus selalu dengan senjata, karena senjata utama kita yang paling utama dan paling berbahaya adalah lidah. Yang ditopang dengan pemikiran kritis untuk menghancurkan pengkhianatan.

Selama masih ada peperangan, pengkhiantan itu selalu ada. Tapi selama itu pula pengkhianatan selalu digagalkan meskipun dengan waktu yang lama.

Pengkhianat memang selalu banyak cara, tapi seorang pejuang tidak akan pernah kalah oleh seorang pengkhianat.

Kata Imam Ali Bin Abi Thalib, Pengkhianatan yang paling besar adalah pengkhianatan umat, sedang pengkhianat yang paling keji yaitu pengkhianatan pemimpin.

Baca Juga :  JIMAT BUGIS TANGKAL SAPURATA