JIMAT BUGIS TANGKAL SAPURATA

342

Menyebut nama Bugis sepertinya membawa aura tersendiri yang senantiasa melekat di pikiran dan hati kepada siapapun. Terlebih bagi mereka yang memang mempunyai hubungan genetika dan kekerabatan.

Bugis selain dikenal mempunyai sejarah dan peradaban yang cukup panjang juga menjadi salah satu etnis yang keberadaanya diperhitungkan di Nusantara hingga belahan dunia.

Dari sisi pergaulan, turunan bangsa bugis di manapun ia berkedudukan tetap mempertahankan jatidiri dan sifat karakter kebugisannya. Ke manapun ia merantau tak lupa akan tuah-tuah leluhurnya. Dengan begitu ia bisa bertahan meskipun harus melalui perjuangan hidup yang menantang.

Dalam pergaulan sosialnya, bangsa bugis senantiasa menjunjung tinggi dan berpegang prinsip Ada Na Gau (kata dan perbuatan). Ada Na Gau
sudah menjadi sima’ atau azimat bagi bangsa bugis di manapun ia berpijak.

Di kalangan bugis azimat atau jimat biasa disebut Sima’ yaitu sejenis lisan dan tulisan, barang yang dianggap memiliki kesaktian untuk dapat melindungi baik gangguan dari luar maupun menangkal penyakit dan tolak bala.

Jadi sima’ itu dianggap mempunyai kesaktian dan dapat melindungi pemiliknya, digunakan sebagai penangkal penyakit dan sebagainya.

Namun bagi orang bugis jimat tidak sekadar azimat melainkan ininnawa (hati dan pikiran) juga merupakan sebuah sima’ sehingga hal itu disebut Sima’ Ininnawa.

Jadi azimat atau sima tidak hanya berupa lisan, tulisan, atau barang akan tetapi melibatkan sifat abstrak yakni ininnawa yang diyakini dapat menyembuhkan dan bisa mengobati penyakit diri sendiri.

Hal tersebut sering diungkapkan orang tua bugis kepada anak keluarganya ketika menanggung sakit lalu ia mengatakan “Urai Alemu” artinya obati dirimu sendiri bersandar kepada Allah SWT.

Sima ininnawa ini merupakan azimat pamungkas orang bugis di mana dalam menghadapi segala sesuatunya dibutuhkan ketenangan jiwa dan pikiran. Sehingga sima’ ininnawa sudah menjadi penangkal sapurata.

Sima ini bisa membuat hati tenang dan damai, menangkal Rasa iri, dengki, pendendam, fitnah, benci, amarah terpendam, sombong, pelit, egois, keras kepala, sedih, malas, dan lainnya, karena itu sumber penyakit.

Bukankah dengan hati tenang damai serta riang gembira bisa menyembuhkan penyakit seseorang?.

Mari kita simak contoh penggunaan Sima’ Ininnawa dalam kehidupan sehari-hari seperti diuraikan di bawah ini.

Sima’ Ininnawa bisa menyembuhkan antara lain :
1. Maag
Bukan hanya diakibatkan karena kesalahan pola makan yg tidak teratur, Akan tetapi justru lebih didominasi karena “stress” coba untuk lebih Fress dan memerdekakan diri. Hal ini berarti dibutuhkan kebebasan jiwa, hati dan pikiran.

2. Hypertensi
Bukan hanya diakibatkan oleh terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang asin, Daging tapi lebih dominan karena kesalahan dalam memanage “emosi” Jadi Coba dengan cara mengatur Emosi Dan Rasa.

3. Kolesterol
Bukan hanya diakibatkan oleh makanan berlemak, tapi rasa “malas berlebih” yang lebih dominan menimbulkan lemak, Jadi coba perbanyak Gerak Dan Tingkatkan semangat hingga Seluruh organ dapat bergerak.

4. Asthma
Bukan hanya karena terganggunya suplai oksigen ke paru-paru, akan tetapi Dikarenakan sering merasa “sedih” yang membuat kerja paru-paru tidak stabil, Jadi Coba Terus Membuat suasana Hati riang dan Refresing

5. Diabetes
Bukan hanya karena terlalu banyak konsumsi glucousa, yang manis manis, tapi Bisa saja sikap “egois dan keras kepala” yang mengganggu fungsi pankreas, Coba Ikhlas Dan Rela Dalam segala Hal.

6. Penyakit liver
Bukan hanya karena kesalahan pola tidur, tapi sifat “ngrasani” orang lain yang justru merusak hati kita, Coba Untuk Membuat hati kita tenang Dan Damai.

7. Jantung koroner
Bukan hanya diakibatkan oleh sumbatan pada aliran darah ke jantung, tapi kita jarang sedekah atau memberi yg membuat jantung kita kurang merasakan ketenangan, sehingga detaknya tidak stabil.

Jadi kalau kita ingin selalu sehat, perbaiki Diri kita, Pikiran kita
terutama hati kita dari segala jenis penyakit.

Dengan demikian dapat ditarik simpulan, bahwa sima’ ininnawa bisa menghindari diri dari rasa iri, dengki, pendendam, fitnah, benci, amarah terpendam, sombong, pelit, egois, keras kepala, sedih, malas, dan lainnya, karena itu sumber penyakit.

Karena itu perbanyaklah doa dan jadilah orang yang mudah memaafkan, lembutkan hati dan ikhlaskan yang sudah terjadi.

Selain itu banyak-banyak bersyukur dan nikmati kebahagiaan sekecil apapun, Jalin persaudaraan yang mengajak dan selalu mengingatkan dalam kebaikan Serap ilmu dari arah mana saja Dari kawan maupun lawan. Dan hindari sifat empuru sereati dan kella-kella (ESK)

#Salam SIMA’ ININNAWA#
#Salama Tapada Salama#