Aku pergi ke Selatan saja karena perasaan ini tidak bisa lagi ku Utarakan

128

Aku bingung dengan permulaan. Kata para ‘penyembah’ siang, matahari itu awalnya, permulaannya, di mana dunia mulai membuka mata.

Kata para  ‘penyembah’ malam, surya tenggelam itulah permulaan, di mana setiap lirih menjadi begitu terang.

Aku mulai mengenalnya, dengan segaris senyum simpul khas nan mempesona. Itu aku yang tersenyum, bukan dia. Dengan warna baju hitam serta air muka yang dicerah-cerahkan. Itu juga aku, bukan dia.

Hari itu memang kelabu, pas saat warna baju hitam yang kukenakan. Tapi itu bukan karena ada yang haru, karena haru seharusnya biru.

Diam-diam, ia balik tersenyum. Lalu kuperhatikan lagi, apa itu tulus, atau ada niat lain di balik senyum. Ah, jangan-jangan keluh.

“Mau ke mana? Hei…”

“Bukan urusan!”

Aku berjalan mendekat, semakin dekat. Dan engkau? Jauh, dan semakin menjauh. Aku hanya terpekur pana sambil-lagi-lagi tersenyum simpul.

Hari itu berlalu, aku tak berniat untuk mendekatinya aku tak berniat mengusiknya, sungguh. Aku hanya ingin berada pada atmosfer yang berbeda, saat dua kutub berbeda namun sama rasa, maka bertemulah.

Sungguh aku pun tak ingin, namun ini alami, sudah kehendak alam menggerakkan.

Hari ini bukan bulan Juli, sehingga bukan musim penghujan, dan Bangroel sedang tak mendeklamasikan sajak lirihnya.

Hari ini akhir tahun. Ah, bukan, tapi awal tahun. Lagi-lagi aku bingung, tak dapat membedakan mana awalan dan akiran. Entah ini apa yang kurasa, dungu.

Aku memang tak bisa membedakan mana prefiks, atau sufiks, mungkin, infiks, atau bahkan konfiks? Dunia semakin absurd, samar.

Selang beberapa waktu, kutemukan langit masih biru. Apa ini pertanda haru? Bukankah ada idiom haru biru? Mengapa haru bukan kelabu? Ataukah kelabu itu tabu? Entahlah, yang pasti, yang kurasa tuk bisa menjadi selaksa narasi.

Aku dapat merasakannya, meski aku tak ingin melihatnya. Aku bersumpah, aku tak melihatnya, bahkan aku tak tahu warna kerudung atau sepatunya. Tapi aku dapat merasa auranya. Apa mungkin harus kuutarakan? Ah, tidak.

Aku ini selatan. Lebih baik ku selatankan. Namun, bila aku selatan, apa mungkin ia utara? Angin muson, cepatlah berembus. Buatlah aku lupa kalau sekarang indah musim gugur. Ingatkan aku pada kejamnya kemarau atau histerisnya badai hujan.

Baca Juga :  KUTUTUP SEMENTARA LEMBARAN DUKA LOMBOK

Dalam puisi berkata; Ku Panggil Namamu. Tapi aku? Aku tak ingin menyebutkan namamu. Tapi sialnya, seperti sudah di setting pada mode default, nama itu bergumam dalam pangkal tenggorokan.

Beruntung lidah masih dapat kukendalikan, sehingga tak sampai nama itu kuucapkan. Waktu aku pernah rasakan hal seperti ini, ibu pernah berkata bahwa aku normal.

Namun ibu menasihati agar aku tak berlebihan, karena dapat buat normal jadi abnormal. Yang harusnya berbuat malah berbuta. Dan yang seharusnya berbuta malah dibuat-buat.

Aku seorang sanguinis, tapi pada waktu-waktu seperti ini, kadar plegmatisku meningkat pesat. Aku jadi diam, berfikir, menerka, berhipotesa, kaji, lalu diam kembali, berfikir kembali..dan seterusnya..dan seterusnya…

Lagu lawas mengalun dari TV nasional, TV yang keberadaannya dianaktirikan oleh masyarakat politan. ‘Juwita malam, siapakah gerangan tuan? Juwita malam, dari bulankah tuan?’

Tiba-tiba saja Bunga Citra Lestari ‘memanas-manasi’ dengan lagunya. –begitu banyak bintang, seperti pertanyaanku. Tentang kamu, tentang kamu—

Bunga-bunga padma tanpa kumbang sedang hadir di hatiku, ya, tanpa kumbang. Karena aku yang menikmati bunga itu, bukan Sang Kumbang.

Chaeril, tolong bacakan puisi harapanmu yang ingin hidup seribu tahun lagi, tapi jangan sebutkan tentang binatang jalang. Karena aku bukan binatang dan aku bukan jalang!

Bangroel tolong bacakan aku puisimu yang berjudul Aku Ingin, namun cukup kau sebutkan ‘aku ingin mencintaimu (tanpa) dengan sederhana’ tak perlu diteruskan, tentang kayu api arang, hujan angin tak jadi hujan, tolong kini kau singkirkan dahulu, karena aku ingin selamanya, bukan sementara saja. Karena yang kurasa tak sederhana.

Sudahlah, nayatanya kita semakin dekat. Aku semakin mengenalmu, aku semakin tahu tentang laku dan perimu.  Tiba-tiba saja aku seperti ahli linguistik, aku dapat mengerti setiap lakumu, aku dapat membaca semua guratan kata.

Aku pun menjadi filolog instan, karena yang lain tak dapat membacamu, aku dapat membacanya. Karena kau begitu langka dan begitu beruntung aku yang menemukan—ini versiku.

Aku bisa jadi sastrawan, tandinganku hanya aku, tak ada kritikus sastra. Karena aku yakin setiap karyaku kau akan suka.

Baca Juga :  AkU HaNyA BeRpERaNG DeNgAn MuSuH & PeNgHiAnAt BaNgSa

“Sudah, jangan diteruskan”

“Mengapa…?”

“Karena,, aku ingin….”

Tiba-tiba hujan datang. Langit menangis karena engkau menangis. Tiba-tiba pula hambar dan getir. Dan aku tak pernah mengerti, apakah ini awalan atau akhiran. Karena seharusnya aku tak mengharu, karena langit sedang tidak biru, tapi kelabu!

Badai katrina pindah ke Indonesia. Aku tersayat halilintar. Terpaku derasnya badai angin dan hujan. Tidak, aku tak berlebihan, ini memang begitu memang.

Aku skeptis dengan masa yang ada di depan. Tapi bukanlah di setiap dongeng anak, bila hujan besar tiba maka itu pertanda akan adanya pelangi indah nan mempesona. Aku masih yakin dengan itu.

Namun tampaknya melukis pelangi setelah badai, perlu waktu lama dan bahan yang sukar didapat. Biar, biar kunikmati guratanku sendiri.

Karena terlalu lama berharap pada pelangi, aku malah asyik terpekur pandangi lagit hari. Lagi-lagi masih biru. Jujur, bisakah kutafsir apa yang kurasa? Mungkinkah ini sebuah haru, atau memang cerah rona dalam rima jiwa? Ini lebih membingungkan daripada awalan dan akhiran.

Sunset memang indah, ya, indah memang. Namun brengseknya sunset-ku terhalang gedung-gedung tinggi. Yang kulihat? Hanya sebatas bayang-bayang kubus-kubus panjang dan trapesium.

Aku menunggu saat ini, saat senja. Mungkin aku seperti squidward yang sedang menemani spongesbob yang katanya akan mati saat matahari terbenam karena sebuah pie bom yang dibeli dari perompak.

Yang kutemani kini adalah jiwaku, raga yang menemani jiwa, yang entah seberapa lama lagi akan terbang tinggalkan raga.

“Aku merindukanmu…sungguh”

Aku diam termangu, bisu.

Kujawab “Mungkin aku pun sama, tapi….ah, entahlah”

Ini hati yang munafik, atau iman yang munafik. Kadang hati dan ucapan tak sejalan. Ini bisikan setankah, atau nurani yang sedang meracau? Yang jelas, aku rindu.

Karena batasan antara rindu dan benci hanya dibatasi sehelai rambut tipis. Naif memang, memang naif. Seperti dalam lagunya—yang kutahu pasti kubenci untuk mencintaimu.

Sudah hampir jam dua belas malam, aku bukan sedang menuliskan kata-kata melankolis seperti dalam FTV, sang tokoh yang patah hati lalu menulis—dear diary, hari ini aku….. ah, tak ada guna.

Baca Juga :  Juwita

Namun yang kini kulakukan tak jauh berbeda, tapi mungkin aku sedang membuatnya lebih nyastra dan puitis sedikit. Huruf merangkai kata, mata setengah terpejam. Kata merangkai kalimat, salah ketik tekan backspace. Hirup aroma kopi hitam. Hampir terpejam kembali, ingin tidur. Melihat layar. Hirup kembali.

Player musik memainkan lagu Iwan Fals—buku ini aku pinjam, kan kutulis sajak indah, biar mereka bicara, telinga kita tertutup.

Kutuliskan sejumput kisah tak menarik, yang dahi akan selalu mengerenyit dan alismu kan bertemu.

“Apa yang salah dengan kita?”, katanya

“Entahlah, aku pun tak tahu pasti, mungkin salah..tapi mungkin juga tidak”, jawabku.

Kulihat riak-riak awan yang menjadi aksen di tengah langit yang haru (biru), aku tahu aku tak boleh menemuinya, tapi siapa  pula yang menyembunyikannya jika aku yang menemuinya.

Kulihat pula matahari dengan segaris senyum hambar seperti enggan melihatku. Sungguh, aku tak habis pikir sampai-sampai sang empunya hari matanya tak senang melihatku.

Sambil menunduk aku berkata “Mengapa kita harus bertemu sekarang, mengapa? Aku seperti terlanjur memetik bunga yang belum merekah sempurna. Mungkin semua salahku, aku tak mampu bersikap sepadamu”

Bibirnya bergerak manis perlahan “Tak perlu disesali. Ini semua karena Tuhan ingin, tinggal kau jaga saja bunga yang terlanjur kaupetik, dan tak perlu kau persalahkan dirimu, karena memang Adam turun ke bumi karena Hawa yang memaksa sesuatu hal”

Riak-riak awan perlahan berganti warna jingga, tak putih lagi. Bangau pulang sarang, tapi aku tak melihatnya, terhalang—lagi-lagi—gedung tinggi. Matahari yang tadi tak senang melihatku, seperti buru-buru tenggelam ke timur.

Entah apakah ini adalah sebuah awal perkenalan atau akhir dari segala, apakah rasa ini sebatas singgah lalu pergi lagi, atau singgah pergi dan kembali lagi?

Saat pagi menjelang, kutitip rindu pada riak-riak awan, kusampirkan dengan doa dan harap.

Terserah maumu Tuhan, aku tahu apa yang kulakukan ini salah, tapi berilah pelita cahaya dihatiku, jangan matikan sumbunya.

Atau Ah, lebih baik aku ke Selatan saja? karena perasaan ini tidak bisa ku Utaran lagi.