Sejarah dan Karakteristik Si Rambut Pirang Jamaah An-Nadzir

1060

Komunitas Jamaah an-Nadzir adalah kelompok Islam minoritas yang terdapat di wilayah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Jamaah an-Nadzir yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang tersebut memilih bertempat tinggal sebagai sebuah komunitas mandiri di tempat yang cukup terpencil tepatnya di tepi danau Mawang, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan sekitar 20 Kilometer dari kota Makassar.

Selain di Kabupaten Gowa, Komunitas an-Nadzir memiliki jaringan di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jakarta, Medan, Banjarmasin, Batam, Dumai, Batubara, Bogor, dan di berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Jamaah an-Nadzir di Indonesia didirikan oleh Kyai Syamsuri Abdul Madjid pada tahun 1998 yang melakukan perjalanan dakwah ke berbagai daerah di Indonesia termasuk di Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar dan di Luwu. Menariknya, Kyai Syamsuri Abdul Madjid oleh anggota Jamaah an-Nadzir kerap dikaitkan sebagai sosok titisan Kahar Muzakkar, tokoh pejuang gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan.

Di awal keberadaannya, Jamaah an-Nadzir ini sempat menimbulkan kecurigaan dari berbagai pihak, bahkan kepolisian dan intelejen sempat mendatangi komunitasm ereka karena dicurigai melakukan praktik terorisme ataupun menyebarkan ajaran ‘sesat’.

Anggapan bernada miring tersebut dikarenakan Jamaah an-Nadzir memiliki kekhasan yang membedakannya atau dianggap berbeda dengan umat Muslim pada umumnya. Jamaah laki-laki An-Nadzir rata-rata berambut panjang sebahu, selain itu mereka juga mewarnai rambutnya (dengan warna dominan kuning atau merah).

Para Jamaah laki-laki juga memelihara jenggot dan memanjangkannya. Ciri khas lain Jamaah an-Nadzir adalah pakaiannya. Mereka biasanya memakai jubah dan sorban di kepala, serta memakai celak. Sementara itu jamaah perempuan berpakaian tertutup dengan jilbab besar disertai kain penutup muka. Tata cara berpakaian dan tampilan fisik seperti ini juga mereka terapkan kepada anak-anak mereka. Selain itu para anggota jamaah yang sudah dewasa juga selalu membawa badik di balik celana jika mereka bepergian di sekitar wilayah kelurahan yang mereka tempati.

Menariknya, kebiasaan membawa senjata tajam ini terkesan dibiarkan dan dimaklumi oleh aparatkeamanan setempat dan dianggap sebagai sesuatu yang ‘khas’ An-Nadzir. Tata cara berpakaian dan tampilan fisik seperti ini menurut Jamaah an-Nadzir merupakan tata cara berpakaian yang diterapkan oleh Rasulullah kepada umatnya. Mereka berpakaian seperti itu dalam rangka menjalankan sunnah Rasulullah.

Argumentasi mengenai cara berpakaian mereka dapat dilihat dari petikan wawancara dengan seorang jamaah bernama Ismail yang merupakan salah satu pengikut awal Jamaah an-Nadzir.

# Begini, kami di sini itu hanya berusaha menjalankan sunnah Rasulullah. Dalam menjalankan sunnah rasul itu kami di sini tidak memilih-milih mana sunnah yang ringan atau menguntungkan kami saja.

Tata cara berpakaian seperti ini itu adalah sunnah nabi. Nabi itu ketika memasuki Makkah pada saat Fathul Makkah mengepang dua rambutnya dan mengecat rambutnya. Bagaimana mungkin nabi bisa mengepang rambutnya kalau rambutnya itu pendek seperti rambutmu. Yang bisa dikepang hanya rambut yang panjang #

Jamaah an-Nadzir melakukan kritik balik terhadap orang-orang yang mengkritik cara berpakaian mereka yang dianggap esensialis, puritan dan terlalu skriptualis dalam memaknai teks-teks suci dengan mengatakan bahwa umat Islam saat ini sudah jauh meninggalkan ajaran nabi dalam tata cara berpenampilan.

Baca Juga :  Hasil Survei Menyebut Soeharto Presiden Paling Berhasil

Menurut Jamaah an-Nadzir saat ini tata cara berpakaian laki-laki dan perempuan Muslim sudah terbalik, di mana laki-laki berpenampilan tertutup sementara para perempuan malah berpakaian lebih terbuka. Fenomena yang demikian itu menurut An-Nadzir sudah bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad.

Kekhasan Jamaah an-Nadzir tidak hanya terletak pada penampilan fisik dan tafsiran teologi mereka tetapi juga cara hidup dan pola ekonomi mereka.

Komunitas an-Nadzir berusaha mengembangkan sebuah pola ekonomi mandiri untuk menghidupi dan membiayai komunitas mereka. Komunitas ini menyadari bahwa ekonomi yang kuat dapat menjadi landasan komunitas agar tetap utuh, apalagi komunitas ini kebanyakan adalah pendatang yang meninggalkan daerah dan pekerjaan mereka sebelumnya untuk hidup sebagai sebuah komunitas. Hal ini membuat pengelolaan ekonomi sangat dibutuhkan demi kelanjutan hidup komunitas.

Hal lain yang juga menarik dari Jamaah an-Nadzir adalah keputusan mereka untuk tidak menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah formal baik milik pemerintah maupun swasta. Mereka hanya mengajari anak-anak mereka secara otodidak.

Yang diajarkan pun terbatas pada kemampuan membaca, berhitung, dan baca tulis Al-Quran. Selain itu, sejak kecil anak-anak mereka telah diajarkan kemampuan bercocok tanam, berkebun, dan berniaga sebagai modal untuk bertahan hidup.

Menurut Jamaah an-Nadzir, kurikulum sekolah-sekolah yang ada saat ini hanya menjauhkan anak-anak dari kehidupan agama yang ‘seharusnya’, lagipula
menurut Jamaah an-Nadzir fase hidup yang sedang kita jalani ini adalah fase akhir zaman di mana kehidupan dunia bukan lagi prioritas, kehidupan akhiratlah yang seharusnya dikedepankan dengan menghidupkan kembali kehidupan kenabian sebagaimana yang telah dicontohkan oleh nabi Muhammad di masa lalu.
.
Sistem pendidikan seperti ini tidak menyediakan ijazah sebagaimana layaknya sekolah-sekolah formal. Mereka sendiri tidak memproyeksikan anak-anak mereka
untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Mereka hanya mempersiapkan anak-anak mereka sebagai pelanjut dari cita-cita komunitas di masa depan.

Melalui sistem pendidikan yang seperti ini, Jamaah an-Nadzir mendekonstruksi pemikiran mainstream tentang pendidikan. Mereka seakan merevisi pandangan konvensional bahwa mereka tidak akan bisa hidup “layak” tanpa bantuan sistem pendidikan formal. Jamaah an-Nadzir membuktikan bahwa sebuah komunitas dapat “melanjutkan hidup” tanpa harus terjebak dalam sistem pendidikan formal yang telah tergerus dalam logika pasar kapitalisme.

Komunitas Jamaah an-Nadzir seringkali dianggap sebagai komunitas revivalis
atau fundamentalis karena cara mereka menafsirkan teks-teks suci (Al-Quran dan Hadist) yang dianggap sangat skriptualis dan tekstual. Praktik-praktik keagamaan
mereka termasuk konstruksi identitas dan tampilan fisik mereka biasanya dijadikan sebagai landasan dari pelabelan revivalis mereka.

Salah satu yang membedakan Jamaah an-Nadzir dengan umat Islam kebanyakan adalah cara mereka merayakan bulan suci Ramadhan. Jamaah an-Nadzir
hanya melaksanakan ibadah puasa dan meniadakan ibadah shalat tarawih di malam hari. Peniadaan ini dalam pandangan Jamaah an-Nadzir karena ditakutkan shalattarawih akan dianggap wajib.

Mereka merujuk kepada nabi yang semasa hidupnya hanya melakukan ibadah tarawih pada malam ke 23, 25, dan 27 bulan Ramadhan. Dalam pandangan an-Nadzir umat Islam sekarang ini seakan-akan menjadikan ibadah shalat tarawih sebagi sebuah kewajiban
.
Jamaah an-Nadzir juga tidak mau dikategorikan dengan label Sunni maupun Syiah, dua sekte terbesar dalam dunia Islam. Mereka menyebut komunitas mereka
sebagai Ahlul Bait. Dan Ahlul Bait dalam pengertian an-Nadzir bukanlah keluarga nabi sebagaimana yang lazim dipahami.

Baca Juga :  Isi Perjanjian Tellumpoccoe

Menurut Jamaah an-Nadzir pengertian ahlulbait itu ada dua, yang pertama, keluarga langsung Nabi Muhammad yang berasal dari keturunan hasil pernikahan antara Ali bin Abi Thalib dan puteri nabi, Fatimah.

Kedua, defenisi Ahlulbait (versi An-Nadzir) adalah orang-orang yang melaksanakan sunnah nabi mulai dari sunnah yang kecil hingga sunnah yang besar tanpa memilah-milih ajaran yang dianggap ringan atau hanya menguntungkan dirinya sendiri. Itu berarti ahlul bait adalah orang yang meletakkan nabi sebagai teladan dalam segala hal.

Dalam proyek mengikuti nabi itu-lah, komunitas an-Nadzir memanjangkan rambut hingga sebahu, memakai jubah, tongkat sebagai upaya menghadirkan sosok nabi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan klaim seperti ini, Jamaah an-Nadzir berusaha merivisi definisi ahlulbait yang terbatas hanya pada keturunan nabi saja.

Apa yang dilakukan Jamaah an-Nadzir ini adalah sebuah usaha politik identitas untuk menampilkan diri sebagai komunitas yang lebih ‘berislam’ (sehingga tidak mungkin sesat) dengan menjadikan kehidupan nabi sebagai medan kontestasi.

Jamaah an-Nadzir mengkonstruksi bahwa mereka merupakan komunitas pilihan yang akan mengembalikan kehidupan Islam ‘sebagaimana mestinya’. Mereka
meyakini bahwa komunitasnya adalah kelompok pembawa panji-panji hitam dari Timur di akhir zaman sebagaimana telah dijanjikan dalam hadist Rasulullah. Jamaah an-Nadzir berusaha melakukan redefenisi tentang makna Timur untuk mengafirmasi argumentasi bahwa merekalah komunitas dari Timur yang dijanjikan sekaligus menegasikan kelompok-kelompok lain yang juga mengklaim sebagai kelompok yang dijanjikan.

Jamaah an-Nadzir meyakini bahwa timur yang dimaksud bukanlah dari Jazirah Arab melainkan wilayah Nusantara atau tepatnya Kabupaten Gowa. Menurut mereka, Gowa terletak pada wilayah paling timur, jikapun ada wilayah yang lebih
timur dari Gowa tetapi komunitas yang mejalankan dan menghidupkan kembali dimensi kehidupan kenabian hanya ada di tanah Gowa, yakni komunitas mereka. Kelompok panji-panji hitam diartikan sebagai komunitas yang akan menegakkan
kembali hukum-hukum Islam.

Konstruksi an-Nadzir tentang komunitas dari ‘Timur’ yang dijanjikan memuat unsur revivalisme terhadap masa lalu yang dianggap sebagai kehidupan ideal yang
masih ‘murni’. Konstruksi tersebut juga mengadung unsur messianisme yang sangat kental.

Mungkin kita dapat mengatakan bahwa pola dasar yang selalu terdapat dalam gerakan-gerakan messianistis adalah adanya anggapan bahwa masa atau realitas yang mewujud saat ini merupakan realitas yang telah terdistorsi, bukan realitas ‘yang seharusnya ada’.

Berangkat dari anggapan demikian itu, sebuah gerakan messianistis
biasanya mengidealisasikan masa-masa tertentu di masa lalu yang dikonstruksi sebagai zaman keemasan, di mana kehidupan dan moralitas masih ‘agung’, di mana kehidupan berlangsung dengan adil dan setara karena ditopang oleh penegakan hukum dan kepemimpinan ilahiah.

Praktik keagamaan Jamaah an-Nadzir seperti cara dan penentuan waktu shalat, puasa dan konstruksi syariat lainnya yang dianggap agak ‘nyeleneh’ karena cenderung berbeda dengan praktik mayoritas umat Islam di Indonesia dan diklaim an-Nadzir sebagai ajaran ‘asli’ Nabi Muhammad sesungguhnya bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru atau hasil ciptaan dan kreasi Jamaah an-Nadzir sendiri.

Baca Juga :  Mengenal sosok Andi Fahsar

Kebanyakan praktik ibadah an-Nadzir –seperti tata cara shalat dan puasa- memiliki kemiripan dengan konstruksi teologi Syiah, meski Jamaah an-Nadzir tidak mau diklasifikasikan sebagai sempalan salah satu dari dua sekte besar Islam, Sunni dan Syiah.

An-Nadzir menyebut diri mereka sebagai ahlubait dalam arti kelompok yang secara konsisten mengamalkan ajaran nabi Muhammad yang ‘benar’.

Sementara dikutip dari tempo, Ulama jemaah An-Nadzir Lukman A. Bakti menjelaskan kisah masuknya An-Nadzir di Sulawesi Selatan.

Awalnya, seorang ulama bernama KH Syamsuri Abdul Madjid menggelar tabligh akbar di Sulawesi Selatan pada 1998 Kedatangannya di Sulawesi Selatan mengundang simpati sehingga banyak pengikutnya.

“Kiai ini bermukim di Dumai Kepulauan Riau, tapi datang di sini untuk tabligh akbar,” kata Lukman kepada Tempo, Selasa 23 Mei 2017.

Menurut Lukman, Syamsuri sempat mendirikan Pondok Pesantren Al Adawiyah di Dumai. Namun saat menetap di Sulawesi Selatan, Syamsuri mendirikan Majelis Jundulloh. “Banyak jemaah berbondong-bondong datang, dan banyak yang menjadi pengikutnya,” tutur Lukman.

Hanya berselang beberapa tahun, lanjut Lukman, majelis Jundulloh dikeluhkan Laskar Jundulloh pimpinan Agus Dwikama. Sehingga pada 2002, diubahlah nama majelis Jundulloh menjadi jemaah An-Nadzir. Ciri-cirinya menggunakan sorban dan jubah, berambut pirang dan berbaju warna hitam-hitam.

Menurut Lukman, kata An-Nadzir tersebut dari bahasa Arab yang artinya pemberi peringatan, bukan hanya pengikutnya melainkan juga masyarakat umum. Saat ini jumlah jamaah An-Nadzir sekitar 1.000 orang.

Ciri khas mereka adalah rambut pirang dan memakai celak bagi laki-laki. Sedangkan perempuan menggunakan cadar penutup muka dan jilbab besar. “Kita mengikuti ajaran Rasulullah dan yang dia lakukan termasuk memanjangkan rambut dan berwarna pirang,” ucap dia.

Selain itu, perbedaan penetapan waktu salat, di mana An-Nadzir menggunakan alat pengukur bayangan matahari. Misalnya salat Duhur ditetapkan pukul 16.00 Wita, Ashar pada pukul 16.30 Wita, serta Magrib ketika senja dan langit gelap lalu waktu Isya dilakukan menjelang subuh, yakni pukul 05.00 Wita.

Daftar Referensi :

Abdullah, Hamid. Manusia Bugis Makassar, Jakarta. Inti Idayu Press. 1985.

Amini, Ibrahim. Imam Mahdi: Penerus Kepemimpinan Ilahi, Jakarta. Islamic Center.
2002.

Berger, Peter (ed). Kebangkitan Agama Menantang Politik Dunia. Yogyakarta. Penerbit Ar-Ruzz. 2003.

Bertens, K. Filsafat Barat Perancis. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama, 2001.

Deal, William E, and Beal, Timothy K. Theory for Religious Studies, New York. Routledge, 2005.

Foucault, Michel. The History of Sexuality, Vol I: An Introduction. New York. Vintage, 1978.

Foucault, Michel. Discipline and Punish; the Birth of the Prison, New York. Vintage Books, 1995.

Gibson, Thomas. Narasi Islam dan Otoritas di Asia Tenggara, Makassar. Penerbit Ininnawa, 2012.

Hardiyanta, Sunu. Disiplin Tubuh; Bengkel Individu Modern, Yogyakarta. LKiS, 1997.

Haryatmoko. Dominasi Penuh Muslihat: Akar Kekerasan dan Diskriminasi’.Jakarta, Gramedia, 2010.