Jenderal Bugis Penggebrak Meja Presiden

5354

Sejarah mencatat, Jenderal M.Jusuf menjabat Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dari tahun 1978 hingga 1983. Di masa kepemimpinannya, kesejahteraan prajurit TNI benar-benar diperhatikan.

Tak cuma itu, Jenderal Jusuf juga memodernisasi persenjataan TNI sehingga kembali disegani di Asia Tenggara.

Tak heran dia dicintai prajurit dan masyarakat. Hingga muncul desas-desus Jenderal Jusuf bernafsu untuk menggantikan Soeharto menjadi presiden Indonesia.

Kabar inilah yang dipercayai Soeharto meskipun Jenderal Jusuf membantah tidak punya ambisi untuk itu.

Di suatu pertemuan dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara. Mendagri Jenderal Amir Mahmud yang bicara pertama kali, (bahwa) dengan semakin populernya Jenderal Jusuf selaku Menhankam/Pangab, maka diduga ada ‘ambisi-ambisi tertentu Jenderal Jusuf yang perlu ditanyakan kepada yang bersangkutan.”

“Tiba-tiba, Jenderal Jusuf mengebrak meja dengan tangannya. Dengan suara keras, dia berkata; Bohong! Itu tidak benar semua. Saya ini diminta untuk menjadi Menhankam/Pangab karena perintah Bapak Presiden.”

“Saya ini orang Bugis. Jadi, saya tak tahu arti kata kemanuggulangan yang bahasa Jawa itu. Tapi, saya laksanakan perintah itu sebaik-baiknya tanpa tujuan apa-apa”.

Tentu saja gebrakan meja Jenderal M.Jusuf mengejutkan semua yang hadir. Soeharto langsung membubarkan pertemuan yang baru beberapa menit berlangsung di kediaman pribadinya itu.

Sepanjang sejarah, hanya Jenderal Bugis ini yang berani gebrak meja di depan Presiden Soeharto.

Semenjak itu hubungan keduanya menjadi dingin. Pada bulan Januari 1983, Soeharto memberi tahu jika posisi Panglima akan diserahkan pada Letjen Benny Moerdani.

Sebagai prajurit, Jenderal M.Jusuf menerimanya. Dia sudah tak kaget mendengar hal itu.

Pada bulan Februari, tiba-tiba Jenderal M.Jusuf kedatangan tamu seorang Mayor yang membawa surat rahasia. Perwira muda pasukan elite itu meminta bertemu langsung dengan Jenderal Jusuf. Intinya ada sejumlah perwira muda yang siap bergerak untuk Jenderal M. Jusuf dan menyelamatkan negara.

Sang mayor itu juga meminta Jenderal M. Jusuf hati-hati karena diawasi oleh semua orang di dekatnya. Dia juga menyebut rumah dan kantor Jenderal Jusuf telah disadap.

“Jangan percaya siapa saja. Bapak sedang diamati. Jangan percaya Sespri, pengawal pribadi, pembantu rumah tangga,” demikian isi surat tersebut.

Jenderal Jusuf segera meminta diadakan pertemuan dengan perwira tersebut. Dipilihnya tempat di Markas Pasukan yang terletak di Jakarta Timur. Ia yakin kalau tempat itu aman.

Jenderal Bugis itu mengendarai mobil dinasnya ke sana seorang diri. Tanpa sopir, pengawal atau ajudan. Hanya Sang Mayor tadi diperintahkan mengikuti mobilnya dari belakang.

Di markas tentara itu, sejumlah perwira muda sudah hadir. Mereka mengaku kecewa karena Jenderal Jusuf akan digantikan oleh Letjen Benny Moerdani.

Namun Jusuf menunjukkan wibawanya. Dia berbicara kepada para perwira muda itu dengan bijaksana. Pak Jusuf meminta jangan ada yang melakukan tindakan perlawanan atau membangkang perintah atasan.

“Aku paham jiwa-jiwa mereka yang memprotes atau kecewa karena rupanya mereka juga mendengar rencana pergantian Menhankam/Pangab.

Tapi sejarah dan budaya TNI tidak mengenal istilah protes, memberontak atau membangkang perintah. Semangat itu harus dipelihara baik-baik dari awal, hingga nanti,” kata Jenderal Jusuf tegas.

Selama tiga jam Jenderal Jusuf berbicara dengan para perwira muda itu. Dia juga sempat mengunjungi beberapa keluarga prajurit seperti kebiasaannya jika masuk ke markas militer.

Dalam waktu tiga jam itu pula Jenderal Jusuf bisa memadamkan sebuah rencana atau niat untuk mengambil alih kepemimpinan negara akibat kekecewaan sejumlah orang atas pergantian Panglima TNI.

Hal ini dikisahkan wartawan senior Atmadji Sumarkidjo dalam buku Jenderal Jusuf, Panglima Para Prajurit terbitan Kata Hasta Pustaka tahun 2006.

Menurut Jusuf, surat tersebut tak bisa dibiarkan. Walau sejumlah perwira pasukan elite belum tentu bisa mengambil alih kekuasaan dengan mudah, tetapi hal seperti itu jelas tak boleh terjadi di tubuh TNI.

“Sejarah kita akan mencatat selama berabad-abad aib itu bila sampai terjadi,” kata Jenderal Yusuf.

Yang melegakan Jenderal Jusuf adalah sikap para perwira itu yang mau berjanji dan bersumpah untuk tetap setia kepada pimpinan mereka serta tidak akan melakukan tindakan apa pun.

Selepas peristiwa itu Jenderal Jusuf kembali ke kediamannya di Jalan Teuku Umar. Lagi-lagi menyetir seorang diri. Sebuah upaya untuk kudeta berhasil digagalkan atas kebesaran jiwanya.

Sosok jenderal TNI M. Jusuf ini diungkap pula oleh Prof. Salim Said, dalam bukunya yang berjudul “Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto”

Dalam buku tersebut dituliskan popularitas Jenderal Muhammad Jusuf saat itu sempat membuat Soeharto gusar

Menariknya, dalam perjalanannya sebagai Panglima ABRI, Jenderal M Jusuf kerap meninjau langsung ke barak-barak tentara di berbagai daerah.

Tak heran jika Jenderal M Jusuf sangat dicintai prajuritnya. Tak hanya dicintai prajuritnya, Jenderal M Jusuf juga dikenal tegas dan tak ada rasa takut.

Hal ini pula  membuat Soeharto sempat ‘cemburu’ melihat popularitas jenderal dari Bugis itu.

Jenderal TNI (Purn)  Andi Muhammad Jusuf Amir, lahir di Kajuara, Bone 23 Juni 1928 – meninggal Makassar 8 September 2004 di usia 76 tahun.

Beliau lebih dikenal dengan nama Jenderal M. Jusuf adalah salah satu tokoh militer  yang sangat berpengaruh dalam sejarah kemiliteran Indonesia.

Ia juga  keturunan bangsawan dari Bugis. Hal ini dapat dilihat dengan gelar Andi pada namany, akan tetapi melepaskan gelar kebangsawanannya itu pada tahun 1957 dan tidak pernah menggunakannya lagi. Beliau merupakan putera seorang bangsawan yang bernama Arung Kajuara.

Andi Baso Amir yang pernah sebagai Kepala Daerah Bone Tahun 1967-1969 adalah adik kandung Jenderal Jusuf.

Di masa-masa akhir hidupnya Sang Jenderal membangun Masjid Al-Markaz Al-Islami yang terletak di Makassar.  Masjid ini dibangun pada tahun 1994 dan selesai pada tahun 1996.

Demikian kisah pendek Jenderal Bugis Penggebrak Meja Presiden. Demi kebenaran Ada Na Gau.