Mimpi Menurut Pandangan Islam

90

MIMPI, semua orang pernah mengalaminya. Misal ketika Anda membayangkan kelak di masa depan Anda ingin memiliki rumah, mobil atau bercita-cita ingin menjadi orang terkenal, hal tersehut bisa disebut mimpi.

“aku bermimpi suatu saat nanti akan ….” ya! begitu kira-kira ungkapannya.

MIMPI secara sederhana bisa diartikan sebagai keinginan, cita-cita, harapan, dan khayalan untuk suatu hal yang ingin terjadi di masa depan. Selain itu, gambaran aktivitas atau kejadian yang terjadi pada saat seseorang tidur.

Mimpi juga diartikan sebagai pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat.

Nah, mari kita memahami lebih jauh mengenai mimpi berdasarkan Islam, karena tidak ada suatu ilmu yang kadar kepastiannya melibihi ilmu Islam, yakni ilmu yang berdasarkan firman Allah yang terdapat di Al-qur’an.

Beberapa ayat Alquran yang menyebutkan perihal mimpi :

Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.” Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran.

Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (QS. Al-Israa : 60)

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ashshaaffaat: 102)

Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Yusuf : 6)

Baca Juga :  Konsep Pancanorma

Dari beberapa ayat di atas bisa kita cermati, bahwa mimpi adalah suatu perkara yang dikenal dalam Islam, dan lebih dari itu Allah SWT memberikan beberapa kelebihan kepada nabi-Nya, yaitu kemampuan untuk menta’wil atau menterjemahkan maskud dari mimpi. Dan salah satunya kepada nabi Yusuf alaihi salam, yang kita kenal memiliki mu’jizat menafsirkan mimpi.

Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Beberapa Hadits yang menyebutkan perihal mimpi :

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa sesungguhnya dia mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Apabila sesorang dari kamu melihat suatu mimpi yang menyenangkan maka sesungguhnya mimpi itu hanyalah dari Allah SWT maka hendaknya ia memuji Allah SWT (bertauhid) atas mimpinya dan hendaknya ia memberitahukannya.

Dan apabila ia melihat tidak demikian dari yang tidak menyenangkannya maka sesungguhnya mimpi itu hanyalah dari syaitan, maka hendaklah ia memohon perlindungan (ta’awwudz kepada Allah SWT) dari keburukannya dan janganlah menuturkannya kepada seseorang, maka mimpi itu tidak membahayakannya (madharat).” (HR : Bukhari)

Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :
“Tidaklah tinggal dari tanda-tanda kenabian kecuali berita-berita gembira”. Para shahabat bertanya :”apa itu berita-berita gembira?”, Rasulullah SAW bersabda: “mimpi yang baik” (hr. Bukhari).

Baca Juga :  Nabi Sulaiman Manusia Terkaya yang Pernah Ada

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW :
“Sesungguhnya saya telah bermimpi (melihat) kepalaku telah terputus (dari badanku) lalu saya mengikutinya dari belakang, maka Nabi SAW mencelanya dan bersabda : “janganlah kamu ceritakan (kepada orang lain) permainan syaithan terhadapmu di dalam mimpi(mu)” (HR. Muslim)

Dari beberapa hadits di atas bisa kita simpulkan bahwa mimpi terbagi ke dalam dua bagian, yaitu :

1. MIMPI BAIK
Yaitu Mimpi yang dirasakan oleh si pemimpi berupa sesuatu yang baik bagi dirinya, bukan berupa kesedihan, atau hal-hal yang dirasakan menyedihkan, membuat gundah dan gelisah.

Mimpi baik cirinya tidak didahului oleh khayalan atau pikiran sebelum tidur, mimpi benar-benar datang sendirinya dan tidak terkait dengan kejadian sebelum si pemimpi tertidur.

Mimpi baik datangnya dari Allah SWT, dan seyogyanya bagi kita yang mengalami mimpi baik memanjatkan puji dan syukur kepada-Nya, dan juga menceritakan mimpi baik ini kepada orang yang dianggap baik. Sebagai mana kutipan hadits :

Apabila sesorang dari kamu memihat suatu mimpi yang menyenangkan maka sesungguhnya mimpi itu hanyalah dari Allah SWT, maka hendaknya ia memuji Allah SWT (bertauhid) atas mimpinya dan hendaknya ia memberitahukannya (HR. Bukhari)

2. MIMPI BURUK
Yaitu Mimpi yang dirasakan tidak baik oleh si pemimpi, biasanya mimpi yang menyebabkan rasa sedih, takut, khawatir berlebihan, gundah dan gelisah.

Mimpi buruk ini datangnya dari syaitan, sebagai musuh utama manusia, syaitan hendak memberikan gangguan dari berbagai arah, salah satunya dari mimpi.

Oleh karenanya Jika seseorang mengalami mimpi yang tidak disukai, disunnahkan melakukan lima perbuatan. Yaitu, mengubah posisi tidur, meludah ke kiri sebanyak tiga kali, memohon perlindungan kepada Allah SWT dari godaan setan yang terkutuk, bangun dan shalat, dan tidak menceritakan mimpinya kepada siapa pun.

Baca Juga :  Ramalan dalam Lagu Oemar Bakrie yang Intinya Moral Bangsa Telah Runtuh

Dan apabila ia melihat tidak demikian dari yang tidak menyenangkannya maka sesungguhnya mimpi itu hanyalah dari syaitan, maka hendaklah ia memohon perlindungan (ta’awwudz kepada Allah SWT) dari keburukannya dan janganlah menuturkannya kepada seseorang, maka mimpi itu tidak membahayakannya (madharat).” (HR : Bukhari)

Hindari kebiasaan menafsirkan mimpi tanpa ilmu!

Banyak sekali orang yang mencari-cari ta’wil atau arti dari mimpi yang dialami, bahkan tidak banyak yang terjatuh ke jurang kesyirikan, di mana orang tersebut mempercai ucapan atau tafsiran dari seseorang yang tidak sama sekali mengetahui ilmu ta’wil ini.

Yang perlu kita yakini saat ini adalah, bahwa mimpi itu ada dua macam, Mimpi Baik yang datangnya dari Allah SWT dan Mimpi Buruk yang datangnya dari syaitan.

Jadi tidak perlu kita mencari-cari arti mimpi kita, karena kebanyakan jawaban dari penta’wil mimpi saat ini adalah salah, apalagi bersumber dari sesuatu yang salah seperti ramalan China.