Tetaplah tersenyum Jenderal…

93

Di antara empasan angin yang berdebu…
Di antara pecahan bongkahan-bongkahan batu…
Di antara pohon-pohon yang ditumbuhi benalu…
Di antara tanah yang berhamburan terkena mortir dan peluru…

Kau tak gentar…
Kau tak gemetar…
Kau tak risau meski kau kan dapat terkapar…
Meregang nyawa dalam selimut semak belukar…

Maaf, Jenderal… .
Pena bangsa kami telah tergadaikan dalam moral yang cacat…
Hingga apa yang telah Kau lakukan tak lagi perlu untuk dicatat…
Rakyat yang Kau lindungi keamanannya sekarang merasa paling hebat…

Tak peduli lagi meski Kau telah menyabung nyawa demi bangsa yang bermartabat…
Kaupun di”pecat”…
Dan rakyatpun terus menghujat…
Dibalik kekisruhan yang sebenarnya juga tak kau harap…

Kini kau kembali…
Tuk memberi warna demokrasi…
Demi cita-cita bangsa yang mulia dan hakiki…

Tapi… Jenderal …
“Dosa”mu pun diungkit kembali…
Tanpa menyebut prestasi yang telah kau ukir di negeri ini…

Jenderal…
Aku tahu hatimu pedih…
Aku tahu hatimu sedih…
Saat seluruh Rakyat Bangsa ini menyaksikan Kau disudutkan kembali dengan “dosa-dosa”mu…
Tak ada darah mendidih…
Kaupun tersenyum dibalik jiwamu yang gigih…

Tetaplah tersenyum Jenderal….

Baca Juga :  Tabe' Puang