Ramadan Datang Lagi, Bugis Mabbaca-baca-Mappano-pano hingga Tuah Lagaligo

554

Ramadan datang lagi tentunya momen bagi umat muslim. Ramadan datang alam pun riang

menyambut bulan yang berkah, sekaligus menantang. Umat bersenandung kumandangkan azan
pertanda hati yang senang gembira. begitu awalnya …

Jika Anda orang Bugis maka tak asing lagi dengan tradisi ‘mabbaca doang’. Mabbaca dalam bahasa Indonesia artinya membaca dan doang yang artinya doa. Tapi tradisi ini bukan sekadar membaca doa seperti biasanya.

Doa tersebut dibacakan oleh seorang ‘guru’. Yakni orang yang dipercaya di kampung untuk membawakan doa, biasanya seorang khatib (puang katte) imam desa (puang imang), ataukah pemuka adat..

Sebelum seorang guru membaca doanya sang pemilik rumah harus menyiapkan beberapa menu makanan dan juga dupa. Menu itu berupa nasi putih, ketan hitam dan putih, dengan lauk seperti ikan, ayam, bajabu, dll.

Setelah semua persyaratan telah disiapkan, seluruh anggota keluarga akan duduk bersila di depan hidangan sambil mengikuti guru baca untuk berdoa dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an, serta mendoakan almarhum (leluhur) atau anggota keluarga yang sedang mencari pekerjaan di daerah lain (massompe).

Selain itu, diyakini Massurobaca juga sangat membantu dalam hal agar keluarga yang ditinggalkan juga mendapatkan keselamatan, kesehatan dan dimudahkan rezekinya serta mengingat para leluhurnya.

Tradisi ini merupakan tradisi turun-temurun yang biasanya dilakukan mulai sepekan hingga satu hari sebelum bulan suci Ramadhan dan usai melakukan sholat Idhul Fitri.

Tradisi mabbaca-baca biasa juga disebut Massuro baca ini masih terjaga baik di kalangan masyarakat Bugis dari perdesaan hingga perkotaan yang biasanya dilakukan secara per rumah tangga ataupun berkelompok dengan menghidangkan aneka hidangan atau masakan. Seperti ayam goreng, ikan bakar, nasi uduk, acar serta menyiapkan kemenyang, garam, asam jawa dan dupa yang sudah berasap.

Mabbaca-baca adalah suatu tradisi Bugis yang telah berlangsung sejak dahulu kala sampai sekarang ini dilakukan berhubungan dengan kegembiraan dan kesedihan

Yang berhubungan dengan kegembiraan seperti naik rumah baru, telah membeli mobil, motor, sepeda baru, pengantin baru, tujuh bulanan, aqikah,

Selain itu sembuh dari penyakit parah yang diderita keluarganya, panen hasil pertanian seperti telah panen sawah/makan perdana beras baru yang telah dipanen, dan panen hasil perkebunan seperti panen durian,langsat,rambutan, coklat dll, serta panen hasil perikanan/nelayan yang telah panen perdana hasil empangnya.

Sedangkan yang berhubungan dengan kesedihan misalnya acara kematian, mulai hari dikuburkannya mayat, hari ke tiga, tujuh, empat belas, dua puluh empat puluh, seratus harinya bahkan ada yang sampai seribu harinya.

Selain itu memindahkan kuburan keluarganya yang meninggal diperantauan jauh dari tanah leluhurnya, (mappamangke’), dan memberi makan dan minum arwah leluhurnya, dll.

Tradisi Bugis dalam mabbaca-baca adalah selalu melibatkan Imam/ ustaz atau sanro/dukun tergantung dengan model acaranya.

Tradisi mabbaca-baca apabila dikaji lebih dalam maka ada makna yang bisa ambil hikmahnya di antaranya : ada rasa ketergantungan yang cukup tinggi kepada sang khalik atas rasa sukurnya dan sedihnya yang diwujudnyatakan dalam bentuk doa bersama dan diikutkan dengan berbagai macam makanan khas orang Bugis yang ada di sekitar lingkungannya, juga rasa solidaritasnya yang tinggi kepada sesama manusia sehingga mengajak atau memanggil orang datang ramai-ramai pada acara itu dan makan secara bersama-sama.

Dalam praktik keagamaan sebagian orang biasanya adat disingkirkan. Karena menurutnya adat dinilai sebagai tidak pantas berdampingan agama. Adat adalah manusia, agama adalah Tuhan. Adat relatif, agama mutlak. Adat lokal, agama universal, dan seterusnya.

Bagaimana orang Bugis menerima agama? Bagaimana mereka mempraktikkan adat. Dan bagaimana pula mereka menjalani keduanya?

Sampai hari ini orang Bugis masih konsisten menyelami budayanya sendiri dengan cara akademik. Dari menulis skripsi, tesis, hingga disertasi. Dewasa ini banyak di antara mereka/mahasiswa yang mencari narasumber dan narahubung untuk kepentingan skripsinya.

Sejak Islam masuk di Sulawesi Selatan sekitar empat ratus tahun silam seluk-beluk keyakinan dan kebudayaan Bugis pun bergerak dinamis.

Ada sebuah sejarah lisan yang sangat terkenal dan popular di kalangan masyarakat Bugis. Seperti dialog antara Nabi Muhammad dan Sawe rigading (tokoh utama dalam agama tradisonal orang Bugis yang terdapat dalam karya sastra La Galigo. Diceritakan Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Sawe rigading. Keduanya berdebat dan beradu kesaktian.

Dalam adu kesaktian itu diceritakan nabi Muhammad adalah seorang yang pandai berargumentasi dan juga sakti secara fisik. Nabi bisa berjalan di atas lautan tanpa alat bantu, dan mukjizat-mukjizat lain yang tidak dimiliki Sawe rigading.

Karena Nabi Muhammad SAW demikian sakti dan sempurna, akhirnya Sawe rigading menyerah kalah. Karena kalah, Sawe rigading menyerahkan semuanya kepada Muhammad.

“Saya pergi saja. Saya akan kembali ke asalku. Dunia beserta isinya kuserahkan kepadamu, Muhammad. Terserah Engkau mau diapakan.” Begitu kira-kira ungkapan penyerahan Sawe rigading kepada Muhammad.

Yang penting dari cerita ini adalah bukan sahih atau tidak, tapi struktur berpikir orang yang bercerita, orang yang menciptakan cerita itu.

Yang paling penting di sini adalah bagaiamana ulama dulu menjelaskan Islam masuk lewat pintu-pintu peradaban, lewat gerakan kultural, bukan kekuasaan, kekerasan. Yang demikian ini, jauh lebih efektif.

“Paradigma Lama” dan ada “Paradigma Baru”.

Yang dimaksud ‘paradigma lama’ adalah kepercayaan tradisional orang Bugis. Kitab sucinya bernama La Galigo, nabinya Sawe rigading. Itulah tadi yang berdebat dengan Nabi Muhammad di puncak gunung.

Sedangkan ‘paradigma baru’ itu agama Islam yang kita kenal sekarang ini, berkitab Al-Qur’an dan nabinya, Muhammad SAW.

Sejarah agama dan adat di Indonesia ini dipenuhi konflik panjang dan terjadi di mana-mana. Perang Padri adalah salah satu bukti nyata dari konflik antara adat dengan agama.

Sehingga dapat dikatakan, bahwa kehidupan yang rukun antara agama dengan adat pada waktu itu merupakan peran ulama atau imam yang cerdas membaca situasi lokal. Mereka cerdas dan kreatif dalam berdialog, bahkan sampai pada tingkat kehidupan sehari-hari yang sangat detail.

Misalnya, sampai hari ini kita masih menjumpai pembacaan Al-Qur’an dan Barzanji bersamaan dengan pembacaan La Galigo pada upacara pernikahan, khitanan, ataupun kelahiran.

Atau misalkan lagi bagaimana ulama mengganti tradisi memberi makanan ke laut, disebut Mappano, karena mereka menganggap ada nenek moyang di sana, diganti dengan membawa ke masjid.

Sedangkan membawa sesajen ke gunung, disebut “Mappaenre”, diganti dengan membawa makanan ke imam. Jadi, setelah masuk Islam “Mappano” berarti membawa makanan ke masjid, sedangkan Mappaenre ke rumah imam, tidak lagi ke laut atau ke gunung.

Sebelumnya yang membuat adat dan agama tegang adalah kelompok Islam yang datang belakangan. Mereka menghukumi ritual yang disebut tadi syirik dan berbau bid’ah. Inilah yang membuat kisruh kehidupan beragama dan beradat rusak.

Setelah masa kemerdekan, kehidupan masyarakat adat, yang di dalamnya juga masyarakat Islam, menjadi semakin runcing karena kebijakan politik yang tidak paham situasi masyarakat bawah.

Kesimpulannya, pengembangan Islam secara kultural jauh lebih cair dan nyaman bagi siapa saja. Beda halnya dengan cara-cara kekuasaan, semacam peraturan dan segala macamnya. Memang ada satu kreativitas yang membuat kita kagum dengan ulama dulu.

Dalam fiqih, orang zina harus dirajam. Tapi ulama dulu di sini tidak melakukan itu. Ulama di sini menghukum orang berzina dengan cara hukum malaweng, yakni diberi kain kafan. Pezina dimandikan, dikafani, dibacakan talqin, lalu dibuang ke laut yang biasa disebut riladung.

Hal ini bukan berarti membetulkan cara-cara seperti ini, tapi yang kita garis bawahi mereka telah berkreasi, tidak menjiplak mentah-mentah, meskipun datang dari ajaran agama.

Contoh lagi, soal pembagian waris. Dalam kewarisan, orang Bugis itu menganut persamaan hak antara laki-laki dengan perempuan. Bahwa dalam Islam, bagiannya perempuan hanya setengah dari laki-laki. Dalam hal nilai waris di Bugis begitu kuat, ulama tidak mengatakan mentah-mentah aturan Al-Qur’an.

Ulama bugis lalu mengatakan mallempa urane, majjujung makunrae. Maksudnya laki-laki memikul (dapat dua), sementara wanita membawa barang di kepalanya cuma satu.

Masih banyak contoh-contoh bagaimana ulama memperkenalkan Islam di tanah Bugis. Mereka memperkenalkan syari’at lewat jendela kultur, tidak dengan kekerasan, tidak dengan perang, tidak juga dengan pemaksaan dari atas.

Memang islamisasi di Sulawesi Selatan ini lewat istilah jihad, tapi sudah dimaknai lain, yaitu siri, penegakan harga diri, martabat, dan rasa malu. Jadi islam ditegakkan melalui siri.

Kalau kita pergi ke kampung-kampung di acara pernikahan, yang mendandani kan para Bissu. Satu-satunya suku di dunia ini yang menghargai trans gender ya Sulawesi Selatan. Di sini multikultur sejak dulu.

Coba Anda bayangkan, seseorang yang kelaminnya “tidak lazim”, bahkan di banyak komunitas dipinggirkan, justru dihargai. Bissu jadi tokoh agama. Para Bissu adalah orang yang status sosialnya sangat tinggi. Kenapa demikian? Karena mereka dinilai adil, tidak memihak. Mereka dianggap bisa menjadi perantara kaum laki-laki dan kaum perempuan kepada Tuhan.

Orang Islam di sini membiarkan praktik seperti itu. Mereka bergaul tanpa ada prasangka apapun. Kecuali pada massa DI/TII. Pada masa itu para Bissu dihabisi. Juga pada masa Orde baru. Rezim menggelar “operasi tobat”. Orde Baru menganggap mereka menyimpang.

Bissu adalah pendeta agama tradisional di kalangan masyarakat Bugis. Mereka ada yang Islam dan ada yang tidak. Yang tidak Islam ada di suku Tolotang di Sidrap dan Singka, serta agama Patungtung di Kajang, Bulukumba.

Tak ada yang berubah meskipun mereka Islam. Islam dan kepercayaan lama melekat jadi satu. Mereka naik haji, tapi juga melaksanakan ajaran nenek moyangnya. Kalau orang Bugis merantau, orang tuanya pasti akan menasihati, “Nak, ingat yang diajarkan leluhur kita.” Bukan mengatakan, “Nak, ingat pesan Nabi.”

Perilaku-perilaku mereka biasa disebut mapaddua. Inilah satu bukti bahwa Islam di Sulawesi Selatan begitu kuat menyatu dengan adat, dengan ajaran sebelumnya.

Pernah terjadi kalangan Muhammadiyah menggusur praktik-praktik keagamaan mereka. Tapi NU tidak. Orang NU suka sekali dengan kaum adat. Ada cerita bahwa di satu desa orangnya tidak mau masuk Islam, tidak mau mengikuti ajaran Muhammad, kecuali mereka mendengar burung-burung di gunung bersaut-sautan di pagi hari. Ini pesan para orang tua mereka. NU membuat suasana seperti yang mereka imajinasikan. Akhirnya mereka masuk Islam.

Tapi Muhammadiyah tidak melakukannya, karena dianggap tidak islami. Itulah sebabnya, Islam di sini berkembang, karena Islam di sini menerima ajaran nenek moyang mereka. Sehingga “Orang Bugis itu di tangan kirinya sejarah masa lalu, sementara di tangan kanannya pembaharuan.”

Maksudnya adalah bahwa orang Bugis mau menerima nilai-nilai baru, asalkan nilai-nilai lamanya juga tetap berjalan. Orang Bugis terbuka menerima ajaran dari luar selagi ajaran nenek moyangnya bisa dipraktikkan.

Mana yang lebih unggul di antara “tangan kanan” dan “tangan kiri”? Di antara kedunya tak ada yang lebih unggul. Keduanya adalah harmoni. Harmoni di antara langit dan bumi, siang dan malam, kanan dan kiri. Hal ini yang disebut sebagai keseimbangan dan harmonisasi di antara dua yang berlawanan.

Adalah kenyataan, orang-orang yang tidak ramah dengan adat di sini itu orang Islam yang Arab, bukan orang Islam yang Bugis. Ketidakramahan itu semakin menjadi-jadi ketika Orde Baru hanya mengakui lima agama saja.

Orde Baru mendatangkan guru agama Hindu di sekolah, anak-anak ya tidak paham, mereka tidak menerima. Yang membuat kisruh itu mereka, Orde Baru dan Islam Arab. Kita di sini baik-baik saja.

Contoh, orang Tolotang yang Islam dan yang tidak berbaur tanpa ada prasangka apapun. Identitasnya juga sama. Kalau Anda datang ke sekolah, Anda tidak bisa membedakan mana yang Islam dan mana yang bukan. Baju dan kerudung mereka sama. Mereka berbaur dalam upacara perkawinan, kematian, dan lain-lain. Yang membedakan mereka hanya rumahnya. Kalau tiang rumahnya bulat itu Tolotang, sementara yang Islam segi empat. Itu saja.

Seperti disebutkan sebelumnya, sampai hari ini kita masih menjumpai pembacaan Al-Qur’an dan Barzanji bersamaan dengan pembacaan La Galigo pada upacara pernikahan, khitanan, ataupun kelahiran.

Kalau orang Bugis diperdengarkan kitab La Galigo, mereka bisa senyum-senyum, bisa menangis. Dan mereka kuat sampai tiga malam. Dalam ajaran La Galigo ada konsep islami ada juga tidak. Artinya ada yang islami, ada yang tidak. Konsep ketuhanannya mungkin tidak islami. Mereka mempunyai dua dewa, dewa yang bermukin di atas langit dan dewa yang menempati bawah laut. Tapi konsep kejujuran, satunya kata dengan perbuatan, keadilan, sangat islami.

Begini, orang Islam itu kalau dibawa ke nuansa Islam, maka seluruh dunianya Islam semua. Sikap yang sama juga ketika mereka masuk ke dunia adat, maka seluruhnya akan berubah, mereka masuk ke dunia adat dengan segala pernak-perniknya. Sikap seperti ini tidak hanya dilakukan orang Islam, juga mereka yang menganut Kristen.

Di antara ribuan baris yang ada di La Galigo yang paling membuat terkesan adalah adalah soal bagaimana sikap orang ketika ada rintangan yang menghalang. Kira-kira isinya begini. “Apabila Engkau bertemu dengan kesulitan, bisa musuh atau apa saja yang menghadang perahu di tengah laut, belokkanlah perahumu tujuh kali. Kalau itu pun tak diberi jalan, maka hadapkanlah perahumu tujuh kali ke kiri. Kalau keduanya tidak diberi jalan, barulah engkau tempuh jalan kesulitan itu.”

Ini pesannya La Pananrang kepada anaknya, To Pananrang ketika mau berlayar ke China.” Janganlah Anda bertindak emosional kalau belum berpikir tujuh kali ke kanan dan tujuh kali ke kiri. Jadi empat belas kali”.

Coba Anda bayangkan, dalam dan bijaksana sekali nasihat itu. Kalau yakin dengan melakukan nasihat itu, tidak ada kebrutalan apapun di sekitar kita. Termasuk menyikapi pilihan yang berbeda seperti pilpres saat ini.
Ya ininnawa sabbarae saja.