Bugis ada di Belanda

606

Siapa yang tidak bangga kalau satu suku bangsa di mana pendahulunya banyak menyimpan catatan sejarah dan peradaban yang tinggi?

Seperti halnya suku Bugis meskipun sebelumnya hanya berkecimpung di suatu kawasan yang terbilang tidak luas? lalu dengan jumlah komunitasnya juga terbilang bisa dihitung dengan jari?

Lalu, kemudian mereka kini menyebar di seantero dunia bak bintang menenebar kilau gemerlap?

Jawabnya, memang Orang Bugis terkenal dengan kreativitasnya, menghasilkan pinisi yang terkenal sampai melaut menjelajah ke seluruh padang negeri.

Cafe Kusuka Jalan Merdeka Watampone, 11/04/2019

Dengan berbagai peninggalan suku Bugis menjadikan bangga sebagai salah seorang anak yang terlahir sebagai dari suku bangsa ini.

Sampai sekarang masih banyak misteri terpendam yang belum terungkap tentang bugis itu sendiri. Sudah barang tentu menghipnotis para pemburu misteri yang tidak hanya dari dalam bahkan dari benua lain.

Tentu juga saya sebagai anak pattola yang lahir dan dibesarkan di daerah bugis bangga dan salah satu kebanggaan itu adalah bisa membaca dan menulis huruf lontara’ yang merupakan salah satu kebanggaan bugis itu tersendiri.

” Ternyata, Belanda adalah surga bagi anak Bugis. Mengapa? Karena berbagai peninggalan suku Bugis dapat dengan mudah ditemukan di museum-museum di negeri kincir angin tersebut” kisah Andi Youshand Petta Tappu seorang sejarawan dan budayawan Bugis dari Dewan Adat Bone.

Semalam di Cafe Kusuka, malam Jumat sekira pukul 22.00 Wita 11 April 2019 saya sempat bertemu beliau bersama Kadis Pariwisata dan Kasi Promosinya sering disapa Kansa (Kanda Samad), oh ada juga Bangroel serta Kanna (Kanda Nasir).

Lanjutkan cerita, bahkan lontara’ La Galigo yang merupakan salah satu karya yang kabarnya lebih panjang dari epik Mahabarata dan telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia (Memories of the World) juga dapat ditemukan di perpustakaan Leiden University.

Negeri Kincir Angin yang pernah beranak pinak di negeri ini selama 350 tahun lamanya itu juga terkenal kreatif. Mereka mampu melestarikan bahkan mengembangkan segala sesuatu yang bernilai bagi negara mereka sendiri.

Di sana terlihat tulisan lontara’ terpatri di depan salah satu museum di Belanda. Tulisan lontara’ yang tertulis itu semacam pantun yang menggunakan bahasa Bugis kuno yang perlu ditelaah untuk memahami maknanya.
Jika ditulis dengan latin seperti ini :
POLENA PELELE WINRU, TENRI KUTUJU MATA, PADANNA SULISA

Terjemahan bebas :
SAYA TELAH BERKELANA MENEBAR ILMU, NAMUN BELUM PERNAH KUTEMUKAN, SAMA DENGAN SULAWESI (TANAH BUGIS)

Artinya, Saya telah pergi berkelana/mengembara ke berbagai tempat, namun mata saya ini belum pernah menemukan keindahan seperti yang saya temukan di negeri ini sulawesi tanah bugis

MIRIS, … sebagai seorang putra Bugis, saya harus ke Belanda untuk mengenal sejarah saya sendiri, bukannya di daerah asal di mana suku Bugis berada” tutur Andi Youshand.

BANGGA, … karena ternyata suku Bugis adalah salah satu suku penjelajah dan diakui serta dihargai di negeri orang.

SALUT, … atas kemampuan dan kreativitas orang dan pemerintah Belanda yang tetap memelihara berbagai peninggalan yang mencerminkan kecintaan dan kebanggan mereka akan sejarah.

DAN, … Jas merah, Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Karena dari sejarah seseorang bisa memprediksikan masa depan.

SEMOGA, … menjadi motivasi bagi kita semua senantiasa menghargai sejarah dan budaya serta kearifan lokal kita sendiri. Menggali peninggalan nenek moyang, menemukan identitas diri, dan kemudian mempertahankan kebanggaan sebagai seorang ANAK BUGIS

ORANG lain saja menghargai dan merawatnya apalagi KITA SEBAGAI ORANG BUGIS milik kita sendiri.

Perpustakaan Leiden Belanda

Koninklijk Instituut voor Taal Land-en Volkenkunde (KITLV) dalam bahasa Indonesia “Lembaga Ilmu Bahasa, Negara dan Antropologi Kerajaan Belanda” didirikan pada tahun 1851. Negeri Belanda biasa dijuluki Negeri Kincir Angin.

Dengan bantuan angin, kincir angin bisa berputar dan mengeringkan lautan. Jadi, wilayah yang tadinya berisi air bisa menjadi daratan. Untuk mengeringkan air laut itu tidak cukup hanya satu kincir angin, tapi banyak. Karena mendirikan banyak kincir angin itulah Belanda disebut sebagai Negeri Kincir Angin.

KITLV Tujuan utamanya ialah penelitian ilmu antropologi, ilmu bahasa, ilmu sosial, dan ilmu sejarah wilayah Asia Tenggara, Oseania, dan Karibia.

Di mana wilayah-wilayah ini merupakan wilayah penelitian sebab di terletak bekas jajahan Belanda dan juga wilayah Kerajaan Belanda yaitu Indonesia, Suriname, Antillen Belanda, dan Aruba

Perpustakaan KITLV di Leiden Belanda ini memiliki koleksi lengkap buku-buku, naskah-naskah manuskrip, dan bentuk dokumentasi lainnya.

KITLV banyak membuat artikel-artikel tentang pengetahuan bahasa, antropologi dan geografi, terutamanya tentang Indonesia modern, dan sudah diterbitkan 161 tahun silam yang ditulis bahasa Inggris.

KOTA LEIDEN BELANDA

Di kota kecil bernama Leiden ini organisasi kepemudaan Indonesia pertama di luar negeri, yaitu Indonesisch Vereeniging (Perhimpoenan Indonesia) pada tahun 1922. Kota Leiden menjadi saksi bagaimana sekumpulan pelajar Indonesia yang berasal dari beragam latar belakang ini berkumpul bersama dan mendiskusikan usaha-usaha untuk dapat memerdekakan tanah air nan jauh di seberang samudera.

Kota Leiden tidak hanya identik dengan sejarah nasional semata melainkan ada beberapa jejak sejarah serta kebudayaan Sulawesi Selatan, yaitu dari etnis Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja.

1. Rumah Achmad Soebardjo

Sebuah rumah di Jalan Noordeinde No. 32 yang letaknya tak jauh dari gedung utama Universitas Leiden menjadi kediaman seorang putra Indonesia yang kelak akan menjadi Menteri Luar Negeri pertama dan Duta Besar Indonesia untuk Switzerland. Namanya Achmad Soebardjo, mahasiswa Fakultas Hukum di universitas yang telah berdiri sejak tahun 1575 ini.

Kediaman Soebardjo sering menjadi sarang tempat berkumpulnya mahasiswa-mahasiswa anggota Perhimpoenan Indonesia yang berasal dari berbagai kota di Belanda. Dulunya, sebuah bendera berwarna merah-putih dengan hiasan gambar benteng di tengahnya disimpan di kamar Soebardjo. Bendera tersebut menjadi representasi dari cita-cita pemuda Indonesia yang tengah berkuliah di luar negeri untuk memerdekakan bangsanya.

Rumah Achmad Soebardjo tidak hanya sarat dengan diskusi politik yang serius. Ia juga suka bermain musik. Teman-teman bisa membayangkan pada tahun 1920-an saat Soebardjo masih meninggali rumah tersebut, sayup-sayup suara biola yang ia gesek dapat terdengar hingga ke jalanan.

Lalu, apa hubungan antara Achmad Soebardjo dengan Sulawesi Selatan?Nah, ternyata Achmad Soebardjo ini berdarah campuran Aceh-Bugis-Jawa. Ibunya yang bernama Wardinah ialah seorang Jawa-Bugis yang berasal dari Cirebon. Ayah Soebardjo yang bernama Teuku Yusuf sendiri merupakan seorang Aceh dengan darah bangsawan.

Tokoh nasional lainnya yang memiliki darah campuran Jawa-Bugis antara lain ialah Dr. Wahidin Soedirohusodo dan Presiden Habibie.

2. Gedung KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal Land-en Volkenkunde)

Polena pelele winru, tenri kutuju mata, padanna sulisa. Demikian bunyi pepatah yang ditulis dalam aksara Bugis di mural gedung KITLV. Mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya.

KITLV yang merupakan institut riset untuk wilayah-wilayah bekas jajahan Belanda di Asia dan Karibia ini memilih untuk mengabadikan pepatah Bugis tersebut untuk menggambarkan keindahan serta keluhuran kebijaksanaan lokal dari mengkaji beragam naskah kebudayaan Sulawesi Selatan.

Arti pepatah yang tertuang di mural KITLV adalah Saya telah pergi ke berbagai tempat, namun mata saya ini belum pernah menemukan keindahan seperti yang saya temukan di negeri ini sulawesi tanah bugis.

KITLV sendiri telah banyak sekali menelurkan buku mengenai kebudayaan dan sejarah Sulawesi Selatan. Beberapa pakar Sulawesi Selatan yang berasal dari KITLV antara lain: Cense, Kern, Noorduyn, Roger Tol, Kathy Wellen dan Ian Caldwell.

3. Museum Volkenkunde

Museum Volkenkunde merupakan museum etnografi pertama di Eropa. Ada segala macam benda dari empat benua di museum ini. Museum ini menyimpan banyak sekali koleksi artefak bersejarah yang dikumpulkan sejak zaman VOC.

Koleksi Boneka mengenakan pakaian adat Waju Tokko/Waju Bodo di Museum Volkenkunde (di Leiden Belanda)

Koleksi andalan Museum Volkenkunde tentu saja adalah Indonesische zaal alias ruang Indonesianya. Di ruangan tersebut ada beragam patung dan prasasti mulai dari zaman Singosari hingga zaman menjelang kemerdekaan. Koleksi emas kraton Cakranegara, Lombok yang merupakan hasil rampasan perang juga terpajang di sana.

Museum Volkenkunde juga menyimpan banyak sekali benda-benda yang berasal dari Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah keris kerajaan “Staatsiekeris” yang berasal dari tanah Bugis. Keris ini dimiliki oleh Stadhouder Willem IV yang menjabat sebagai direktur VOC pada tahun 1740.

Keris tersebut konon berasal dari abad sebelum kedatangan Islam di Sulawesi Selatan. Selain benda yang dianggap sakral seperti keris, artefak-artefak sehari-sehari seperti sarung, pakaian, kain penutup kepala, bejana dan bahkan keranjang rotan juga dikoleksi oleh Museum Volkenkunde.