Puisi Mattompang

272

Mattompang

di hari yang memerah darah
kuhentak tempatku berpijak
kumandangkan risalah tak terbaca
kala tegakku menggusur gentar
Jangan coba-coba mendekat

lihat lembayung Bone memerah
dalam sunyi laskar tak bersuara
kala badik itu menjulang angkasa
lalu menerkam menghujam bumi
membatu dan membisu tanpa lelah

kini kuberminyak tujuh sumur
jantungku menggigil mendidih
dalam nafasku yang membara
dalam rimba bertuan tak bertuan
aksara kata cingara adalah nyata

katakan itu pada badik bersarung
yang tergenggam di lengan berapi
tegak kukuh di singgasana arajang
bertakhta di altar-altar yang bertuah

aku badik passiuno tak bersarung
katakan pada rimba-rimba raya
pada setiap hati tanpa tetesan darah
katakan pada junjungan raja
terburai sudah isi jantung
para pelaknat

Aku ini passiuno tak bersarung
menjulang tantang laknat semesta
pada titik nadir yang terendah
di setiap butir pasir ranah sengketa
jua aliran laknat sang tirta

aku passiuno tak bersarung
menjulang tantang seringai semesta
lantangkan pekik makar nirwana
bakarkan nista di altar kematian
demi Bone tana sumange’

Bone, 4-4-2019