Menapak Tilas Arung Palakka

242

Sejenak menoleh sejarah, ketika Sultan Hasanuddin menaiki kuasa menjadi Karaeng Gowa dalam tahun 1653, Ia mengangkat pula Karaeng Karunrung mendampinginya sebagai “Tumma’bicara butta” Juru Bicara Kerajaan atau juga biasa disebut sebagai Perdana Menteri

Karaeng Karunrung menggantikan ayahnya sendiri Karaeng Pattingalloang Raja Tallo yang juga sebelumnya menjadi juru bicara kerajaan Gowa.

Telah tiga generasi semenjak Hasanuddin menaiki kuasa itu, Gowa di bawah pimpinan kombinasi dengan Tallo yang solid dan kuat.

Setahun duet Gowa-Tallo telah berhasil membawa Makassar menggapai puncak kejayaan yang gemilang. Kejayaan gemilang yang kemudian menggerek Makassar naik ke puncak sebagai imperium penguasa paling digdaya di Timur Nusantara.

Dalam masa-masa itu tak ada satu pun kerajaan di wilayah timur Nusantara yang luput dari pengetahuan dan kontrol kuasa kerajaan Gowa.

Arogansi Gowa itulah yang kemudian menimbulkan resistensi dan kemudian memantik perlawanan diam-diam dari kerajaan-kerajaan lainnya di wilayah Timur Nusantara seperti Ternate dan Buton. Ternate begitu sangat marahnya kepada Gowa ketika Gowa mancaplok Pancana (Muna) sebagai Palili nya atau wilayah bawahannya dan menarik pajak di sana.

Inilah awal perlawanan diam-diam  Ternate dan Buton itu pecah menjadi berontak melawan terang-terangan setelah kesertaan mereka dalam kongsi bersekutu Belanda-Bugis menyerang dan menaklukkan Makassar dalam perang tahun 1666-1669.

Abad ke tujuh belas adalah abad kegemilangan. Abad di mana kejayaan tergenggam dalam hegemoni tangan Makassar dengan kukuhnya. Makassar bergeliat bangkit, pelabuhannya Panakukang menjadi bandar yang ramai disinggahi para pedagang dan pelaut dari Eropa dan negeri-negeri di Timur Tengah dalam ekspedisi pelayaran mereka ke negeri kaya rempah-rempah di timur Nusantara.

Setelah jalur pelayaran di utara dirasakan terlalu jauh dan memboroskan banyak waktu, maka para pelayar dan pedagang bangsa-bangsa Eropa dan Timur Tengah memilih melalui jalur selatan di mana di sana Makassar, Butung, bahkan Ternate terlalui dan hal penting lainnya; bisa sampai dengan cepat ke negeri penghasil rempah yaitu Maluku.

Sultan Hasanuddin telah mewarisi sebuah kerajaan kuat dan besar dengan perdagangan internasional yang sedang berkembang terkerek menaik pasang.

Sejak naiknya Hasanuddin itu, koalisi dan kombinasi sangat efektif penguasa Gowa—Tallo telah sampai pada generasi ketiga, generasi dicmana intrik perebutan kekuasaan politik telah usai dengan kemenangan di pihak Gowa.

Di timur Nusantara kemudian tersebutlah Gowa sebagai negeri paling digdaya. Gowa, tidak hanya menguasai dan memimpin secara politik, tetapi juga meluaskan pengaruh dengan menghegemoni secara ekonomi. Penguasaan dan hegemoni secara politik dan ekonomi itu bahkan menjangkau sampai di negeri-negeri terjauh di Timur Nusantara.

Armada Gowa pernah beberapa kali dikirim melayari dan menyeberangi laut  Sulawesi hingga ke kepulauan Aru Maluku di Timur dan Selaparang Lombok di Barat.

Tampaknya Gowa hendak menunjukan eksistensi dan penguasaan mereka atas negeri-negeri itu. Dari ekspedisi yang melelahkan itu, Gowa menerima sepersepuluh dari produk apa saja yang dihasilkan oleh negara-negara taklukan atau bawahan yang disebut oleh Gowa sebagai negeri Palili.

Kekuatan Gowa yang digdaya itu pernah beberapa kali menggentarkan Belanda. Satu dekade setelah generasi ketiga di Gowa itu berkuasa, Belanda pernah mengirim armadanya dengan beberapa ribu orang tentara menyerang Makassar.

Baca Juga :  Presiden Republik Indonesia dari Masa ke Masa

Sesuatu yang sebenarnya tak meyakinkan Belanda bahwa penyerangan itu akan sukses dan memenangkan mereka, hal yang pada akhirnya terbukti benar, dalam awal-awal penyerangan mereka atas Gowa, Belanda tak sekalipun memenangi peperangan.

Di tengah hiruk pikuk kemegahan dan naik pasang kejayaan yang gemilang itu, diam-diam tercatat dalam hati seorang Bangsawan Lelaki Bugis tawanan Gowa, niat dan tekad sumange teallara yang kuat untuk berdiri melawan arus besar dan meruntuhkan segala kegemilangan itu.

Lelaki Bugis itu bahkan berkata akan mau bekerja sama dengan setan dari neraka sekalipun untuk upaya melawan kecongkakan Gowa itu.

Peniat yang hendak melawan itu bernama  La Tenritatta Arung Palakka Bangsawan Bone yang ditawan Gowa setelah penaklukan di Passempe.

Lelaki bangsawan Bugis itu dicatat oleh sejarah sebagai penguasa paling berpengaruh di Sulawesi Selatan setelah Hasanuddin menemui ajal kejatuhannya. Pengaruh dan kuasanya bahkan selanjutnya melebihi kebesaran pengaruh raja-raja sebelumnya di seluruh Sulawesi Selatan.

Sampai kemudian tekad kuat yang diniatkannya itu datang terwujud. Sebuah koalisi aneh di mata awam tersepakati, kerja sama diam-diam diteken memakai darah sebagai tintanya antara seorang kuat pribumi yang diburu Gowa

Kini supremasi kuasa Gowa atas wilayah timur Nusantara kemudian perlahan runtuh oleh persekutuan tak terduga antara VOC Belanda di bawah Speelman dengan Arung Palakka sebagai pelawan Gowa serta sebagian besar orang Bugis Bone, Soppeng, Ternate dan Buton.

Strategi perang Lelaki Bugis Bone dengan berkoalisi Speelman Belanda seperti pertemuan dua badai dari sisi cita-cita berbeda yang melahirkan badai baru dengan lebih dahsyat kekuatannya

Ketika koalisi pasukan Hasanuddin-Wajo melakukan penyerbuan ke Soppeng dalam tahun 1660 untuk mencari dan menghukum para pangeran dan bangsawan Bugis yang sedang dalam pelarian dari kerja paksa.

Karaeng Karunrung, pimpinan penyerangan ini menerima kabar keberadaan Arung Palakka di Bone yaitu Bukit Cempalagi-Palette yang siap berlayar ke Buton.

Seketika itu sekelompok pasukan yang terdiri dari orang-orang Wajo dan Gowa kemudian dibentuk dan diperintah segera ke Bone Bukit Cempalagi melakukan penangkapan terhadap Arung Palakka.

Tetapi Arung Palakka memang bukan tanpa siasat, bukan pelawan kacangan yang tanpa kelihaian dan perhitungan. Sekalipun dengan susah payah, ia dan keluarganya serta pengikutnya berhasil lolos dari upaya penangkapan itu meskipun sebagian lainnya dari pengikutnya ditangkapi di Cempalagi, daerah pantai berbukit di Timur Utara Bone.

Setelah bersumpah Ia diam-diam dengan cepat telah meninggalkan tanah Bone sebelum sekelompok pasukan kiriman Karaeng Karunrung tiba untukcmendapatkan mereka.

Usai menghentakkan kakinya, Ia kerek layar kapalnya tinggi-tinggi, angin datang meniup dengan kencangnya, kain layar kapal mengembung busung dan berjalanlah kapalnya menjauhi pantai menggaris lautan Teluk Bone yang teduh biru.

Ia berlayar dengan aman ke Butung-Buton. Penghengkangan Arung Palakka ke Buton itu dicatat oleh sumber-sumber Belanda dan Makassar terjadi dalam akhir tahun 1660 atau awal tahun 1661 Ligtvoet dalam catatan harian raja-raja Gowa dan Tallo, 1880:119).

Konon sepeninggalnya dari Cempalagi Palette, sebelum tanah pantai Bone ia lepas tinggalkan, ia terlebih dahulu mengangkat sumpah dengan sepenuh heroik emosional.

Baca Juga :  Sejarah Awal Mula Mattompang Arajang di Bone

Ia hunus telanjangkan kerisnya, ia acung-acungkan kerisnya yang terhunus telanjang itu ke udara dan berkata jika dia dapat pulang dengan selamat ke negerinya dan berhasil membebaskan rakyatnya dari penghambaan, dia akan mempersembahkan dalam acara syukuran, yakni :
1. Sokko (beras ketan yang dimasak, dibungkus dengan daun kelapa dalam potongan kecil) sejumlah tujuh macamnya ditumpuk setinggi bukit di Cempalagi;

2. Seratus (100) ekor kerbau Camara­ Belang dengan ujung tanduk emas;

3. jantung seorang bangsawan Gowa.

Dia kemudian mengikat sebuah simpul dengan sulur sebuah pohon yang tumbuh di pantai untuk menandai pengucapan sumpahnya dan berkata dia baru akan membuka simpul yang diikatnya itu jika telah memenuhi sumpahnya.

Mengapa Arung Palakka harus menggerek layar kapalnya dan mengarahkan kemudinya menuju Buton? Apapula yang menjadi sebab sultan Buton ke-9 La Awu Sultan Malik Sirullah (1654–1664) yang kemudian terus berlanjut ke sultan Buton ke-10 La Simbata Sultan Aidil Rahiem (1664—1669) mengulur tangan sepenuhnya terbuka dan menerimanya bahkan kemudian memberinya perlindungan yang itu tentu ia tahu akibatnya bisa sangat fatal berbahaya dan beresiko besar pada goyangnya eksistensi dan keamanan kesultanan Buton?

Mengapa hanya untuk seorang Arung Palakka, kemudian Sultan La Simbata rela mempertaruhkan eksistensi keamanan kesultanan sehingga mengabaikan dan seperti tak takut pada nanti serangan hukuman dan murka dari Karaeng Gowa Sultan Hasanuddin?

Adakah hubungan antara Bone dan Buton melebihi hanya karena semusuh, sehingga bahkan tak cukup hanya memberi perlindungan tetapi harus ikut pula membiayai perjalanan Arung Palakka beserta 400-an orang pengikutnya dalam pelayarannya menuju Batavia?

Bagi sebagian orang Buton, Arung Palakka tak hanya adalah sekutu dalam sekaitan kepentingan yang semusuh. Ia adalah sekutu yang bertaut dalam kait darah turunan yang kental.

Maka itu, bagi sultan Buton melindungi dan membelanya adalah telah seharusnya dan bahkan merupakan kewajiban karena sama halnya itu dengan melindungi dan membela kebesaran klan dan kemuliaan darah-darah bangsawan Buton.

Tampaknya pertalian darah itulah yang sepertinya menjadi alasan paling rasional atas pertanyaan mengapa Arung Palakka dilindungi Buton?

Ketika Arung Palakka memasuki Wolio, ia diikuti seluruh pengikutnya masuk. Maka menjadi agak aneh jika melihat situs ceruk gua di sisi timur benteng keraton Buton sekarang yang katanya disebut sebagai gua Arung Palakka.

Gua ceruk itu sangatlah cadas, terjal dan sempit. Air tak berhenti jatuh menetes dari langit-langitnya. Bahkan untuk seorang saja akan sangat susah masuk tinggal di situ apalagi menyertakan keluarga dan pengikut yang berjumlah sekira 400-an orang itu dalam setahun pula lamanya?

Arung Palakka selama setahun pengasingannya di Buton tinggal dalam sebuah tempat yang layak huni dan sepantasnya bagi seorang bangsawan terhormat, bukan dalam ceruk gua cadas dan sempit yang hanya pantas ditinggali para maling berandalan.

Saya meyakini bahwa sebagai bangsawan terhormat itu ia akan mendapatkan perlakuan terhormat pula. Maka sebenarnya di mana tempat sembunyi beristirahat bagi Arung Palakka, keluarga, serta pengikutnya selama dalam setahun pelariannya di Buton?

Baca Juga :  Perjanjian Bone dengan Luwu

Sebagian orang mengatakan dan saya sendiri lebih meyakini yang dikatakan sebagian orang itu bahwa sebenarnya ia dilindungkan di sebuah terowongan rahasia di bawah Masjid Agung Keraton Buton.

Beberapa narahubung meyakini memang di sanalah itu tempat Arung Palakka. Apa yang selama ini kita namai dan meyakininya sebagai pusat bumi yang konon di sana jika melongok melihat dari lubangnya akan terlihat seluruh keluarga yang telah meninggal sebenarnya adalah pintu rahasia dari terowongan menyelamatkan diri yang ditutupi dengan cerita aneh-aneh yang mistis.

Apa yang selama ini kita dengar sebagai katanya lubang pusat bumi itu sebenarnya adalah pintu masuk dari terowongan sangat rahasia tempat para bangsawan lelaki Bugis itu menyusun siasat ketika pusat kesultanan dalam keadaan darurat.

Jika kita tidak lupa bagaimana ketika komandan pasukan Belanda Rijwebber datang menyerang dan berhasil masuk membakar keraton dalam apa yang dinamai Zamani Kaheruna Walanda, Sultan Himayatuddin dikabarkan sedang salat lalu dalam seketika kemudian hilang tak berjejak ketika pasukan Rijweber masuk menggerebeknya.

Sangat mungkin ia sebenarnya melalui pintu terowongan sangat rahasia itu yang akses keluarnya bercabang banyak sekali. Arung Palakka pun sebenarnya sangat mungkin masuk sembunyi di situ karena ketika utusan Karaeng Gowa Sultan Hasanuddin datang menghadap dan meminta penjelasan sultan Buton mengenai kabar keberadaan Arung Palakka di Buton, beliau dengan bersumpah mengatakan bahwa Arung Palakka dan seluruh pengikutnya tidak ada di atas tanah Buton.

Hal yang kemudian ini diketahui sebagai langkah bertaktik dan ucapan politis mengelabui saja karena sebenarnya Arung Palakka dan pengikutnya memang ada di Buton, tidak memang di atas tanahnya tetapi dilindungi di bawah tanahnya.

Inilah juga Bone-Boton dikenal mempunyai hubungan klan, yaitu kesatuan geneologis dan menunjukkan adanya integrasi sosial, kelompok kekerabatan yang besar, kelompok kekerabatan sebelum Arung Palakka.

Untuk mengenang dan merasakan perjuangan getir Arung Palakka, setiap memperingati Hari Jadi Bone salah satu yang dilakukan adalah Menapak Tilas Arung Palakka.

Kata napak tilas berasal dari kata “tapak” yang berarti bekas jejak atau bekas jalan yang pernah dilalui. Sedang “tilas” berarti bekas sesuatu pada masa lampau.

Dengan demikian “Menapak Tilas” berarti berjalan kaki dengan menelusuri jalan yang pernah dilalui oleh seseorang, pasukan, dan sebagainya untuk mengenang perjalanan pada masa perang dan atau sejarah masa lalu.

Menapak tilas juga diartikan menyusuri jejak yang pernah dilalui bekas pejuang.

Tujuan napak tilas Arung Palakka untuk merefleksikan perjuangan beliau demi kemerdekaan bangsa Bugis dari cengkeraman kerajaan Gowa pada masa itu.

Di samping itu esensi dari napak tilas Arung Palakka, antara lain menghayati bagaimana masa-masa sulit, para pahlawan berpeluh bergerilya menelusuri hutan, melawan para penjajah, adanya harapan untuk merdeka.

Selain itu dapat menggugah generasi muda kita untuk tetap mengingat perjuangan Arung Palakka dan senantiasa melakukan hal yang selaras bahwa keberhasilan itu tidak mudah, penuh keringat tetesan air mata dan berdarah-darah.

Meskipun saat ini metode perjuangan telah berganti, namun tetap pada inti mengobarkan estafet cita-cita luhur Arung Palakka pada kehidupan yang kompleks seperti sekarang ini.