Riwayat Andi Pangerang Petta Rani

368

Andi Pangerang Petta Rani, Karaeng Bontonompo, Arung Macege Matinroe ri Panaikang  adalah Kepala Afdeling  Bone Tahun 1951-1955.

Beliau merupakan seorang bangsawan Bugis dilahirkan pada tanggal 14 Mei 1903 di desa Mangasa, Kabupaten Gowa.

Andi Pangerang Pettarani dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar. Atas jasanya pula pemerintah setempat mengabadikan namanya sebagai nama jalan.

Andi Pangerang Petta Rani memiliki tiga istri dan delapan anak, yaitu :
1. Isteri pertamanya, adalah Basse Daeng Talanna telah dikaruniai lima anak.
2. Isteri kedua, adalah Daeng Karaeng dikaruniakan tiga anak.
3. Istri ketiga, adalah Ratna Winis Daeng Carammeng tidak dikaruniakan anak.

Pendidikan umum yang pernah di tempuh oleh Andi Pangerang Pettarani, yaitu HIS, MULO, dan OSVIA di Makassar. Ia menamatkan pendidikan OSVIA Makassar, dan memangku suatu jabatan dalam Dewan Penguasa Bone pada tahun 1930-an.

Dalam perjuangan mengusir penjajah Belanda, Andi Pangerang Pettarani menjalani profesi sebagai tentara dan turut berjuang melawan penjajah.

Pada masa itu tentara Hindia Belanda sempat mengusai kawasan di Sulawesi Selatan, bahkan Pemerintah Hindia Belanda memiliki beberapa Benteng pertahanan di beberapa lokasi, seperti Benteng Fort Rotterdam dan Benteng Somba Opu.

Pada bulan Agustus 1945 ia ditunjuk sebagai anggota delegasi Sulawesi ke Komite Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Bersama Dr. Sam Ratulangi dan Andi Sultan Daeng Radja, dia mengikuti rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang pada saat itu diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1945.

Ketika sekutu mendarat di Makassar, Gubernur Ratulangi mengundang raja-raja dan pemimpin partai untuk mendukung kesetiaan terhadap proklamasi kemerdekaan RI.

Tawaran kerja sama dengan pemerintah Belanda pun ditolak mentah mentah. Pertemuan itu dihadiri raja-raja termasuk Andi Pangerang Petta Rani.

Baca Juga :  Sejarah Awal Mula Mattompang Arajang di Bone

Dalam pertemuan tersebut Andi Pangerang Petta Rani kembali mengeluarkan pernyataan kalau rakyat sulawesi mendukung sepenuhnya NKRI.

Dan atas dasar itulah Belanda dan para sekutunya menahan Andi Pangerang Petta Rani dan keluarganya di Rantepao.

Selanjutnya, Pada tahun 1950 ia diangkat menjadi Kepala Afeling Bone  1951-1955)  selain kepala Afdeling beliau juga sebagai Residen Koordinator untuk Sulawesi Selatan.

Selanjutnya, pada tanggal 12 Juli 1956 ia diangkat menjadi Gubernur Sementara Sulawesi, jabatan yang dipangkunya sampai tanggal 20 April 1960.

Pada tanggal 2 Maret 1957 Andi Pangeran Pettarani adalah salah satu orang yang ikut dalam penanda tanganan Piagam Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) yakni sebuah gerakan militer pada tahun 1958-1961.

Setelah itu dirinya diangkat sebagai Gubernur Militer Sulawesi Selatan – Tenggara oleh Pemerintahan Militer Permesta. Dan secara resmi pada tanggal 1 April 1957, Andi Pangerang Petta Rani diangkat sebagai Gubernur Militer Sulawesi dan diberi pangkat Perwira Menengah Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Andi Pangerang Petta Rani juga dikenal sebagai pemimpin yang menyatu dengan rakyat, sehingga rakyat Sulawesi Selatan terutama warga kota Makassar memberi julukan “GodFather”.

Di mana pada saat itu ketika dia menjabat sebagai Gubernur Sulawesi pada tahun 1956-1960. Beliau pernah mengajak anaknya pergi ke tempat cukur. Sang anak langsung menyiapkan mobil sedan, tapi Andi Pangerang Petta Rani kemudian memanggil becak.

Di atas becak tersebut, Andi Pangerang Petta Rani menasihati anaknya bahwa, “Kita harus merasakan hidup sebagai orang biasa, jangan sombong walau seorang anak gubernur atau raja sekalipun.Tidak selamanya mempunyai mobil dan tidak selamanya menjadi anak gubernur atau raja. Dan suatu saat bila jabatan lepas dan tidak punya mobil kita tak harus canggung“. Begitu pesan kepada anaknya.

Baca Juga :  Museum yang terdapat di Kabupaten Bone

Hidup sederhan memang melekat pada di Andi Pangerang Petta Rani. Tanah warisannya lebih banyak dia bagikan kepada rakyatnya. Dan suatu saat ia dihadiahkan sebuah rumah yang cukup mewah oleh seseorang. Tapi pemberian tersebut ditolaknya dengan bijak, dia mengatakan, “saya lebih suka tinggal di rumah sendiri”.

Karena orang itu memang berniat memberikan hadiah dengan ikhlas, sebagai gantinya, Petta Rani dihadiahkan sebuah jam tangan. “Untuk mengingatkan Petta bilamana waktu salat tiba,” katanya memberi alasan, kali ini beliau berat untuk menolak akhirnya Andi Pangerang Petta Rani menerimanya.

Untuk diketahui, Andi Pangerang Petta Rani adalah putra dari Raja Bone ke-32 La Mappanyukki (Andi Mappanyukki) dan ibunya adalah seorang ningrat/bangsawan yang bernama I Batasai Daeng Taco. Ia adalah saudara tiri dari Andi Abdullah Bau Massepe yang juga
Datu Suppa ke-25.