oleh

Sejarah Perjanjian Topekkong

Secara geografis, wilayah Sinjai menempati posisi strategis karena berada pada kawasan pantai dan pegunungan yang merupakan lintas batas kerajaan Gowa dan Bone. Antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone senantiasa bersaing dalam merebut pengaruh terhadap kerajaan tetangga sehingga wilayah Sinjai merupakan wilayah yang diincar oleh kedua kerajaan tersebut.

Tahun 1561 atas anjuran Raja Bone Ke-7 La Tenrirawe Bongkangnge agar kerajaan Bulo-bulo, Tondong, dan Lamatti bergabung menjadi kerajaan serikat yang disebut Tellu Limpoe. Usulan Raja Bone La Tenrirawe Bongkangnge mendapat persetujuan dari tiga kerajaan. Ketiga kerajaan ini berada dekat pesisir pantai.

Dalam perkembangannya, kemudian kerajaan-kerajaan yang berada di daratan tinggi yakni Kerajaan Turungeng, Manimpahoi, Terasa’, Pao, Manipi, Suka dan Bala Suka juga membentuk federasi yang disebut Pitu Limpoe.

Selanjutnya, karena raja-raja yang ada dalam wilayah Sinjai merasa dirinya sebagai satu sumber keturunan sehingga kedua kekuatan tersebut (Tellu Limpo dan Pitu Limpoe) menempuh jalan yang arif dengan bersikap netral menghadapi kedua kerajaan besar yang selalu bersaing yaitu Bone dan Gowa.

Melihat kondisi perkembangan gerakan kedua kerajaan Gowa dan Bone, maka kerajaan-kerajaan kecil yang ada dalam wilayah Sinjai menyatakan dirinya sebagai kerajaan yang berstatus federasi yang terbentuk menjadi dua kekuatan yang tidak dapat dipisahkan dalam membendung pengaruh dari dua kerajaan besar itu.

Upaya pembentukan dua kekuatan pertahanan, yaitu Tellu Limpoe dan Pitu Limpoe mengadakan kesepakatan untuk mempertahankan wilayahnya dari pengaruh ekspansi Gowa dan Bone.

Sikap netral itulah sehingga menjadikan dirinya sebagai mediator untuk melakukan perdamaian antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone.

Untuk itu maka Tellu Limpoe maupun Pitu Limpoe tidak melakukan pemihakan dalam menghadapi kedua kerajaan tersebut sehingga berhasil mempertemukan kedua kerajaan yang saling berebut kekuasaan dan pengaruh.

Dengan demikian maka digagaslah suatu perundingan untuk perdamaian sehingga pada bulan Februari 1564 oleh Raja Bulo-Bulo Ke-6 La Mappasoko Lao Manoe’ Tanru’na berhasil mempertemukan kedua kerajaan yang bertikai (Bone dan Gowa).

Dalam perundingan itu, kerajaan Gowa diwakili oleh I MANGERAI DAENG MAMETTA dan kerajaan Bone diwakili oleh LATENRI RAWE BANGKANGNGE yang disaksikan oleh raja-raja yang ada dalam wilayah Sinjai.

Pertemuan antara Raja Bone dan Raja Gowa diadakan di Topekkong Kalaka Sinjai kira-kira 3 km dari pusat kota Sinjai (Balangnipa) dan berhasil melahirkan kesepakatan yang dikenal dengan PERJANJIAN TOPEKKONG yang ditandai dengan LAMUNG PATUE RI TOPEKKONG (penanaman batu besar).

Adapun Isi PERJANJIAN TOPEKKONG adalah :
1. Madumme to sipalalo, Mabelle’ to Siparoso,
Seddi Pabbanua pada riappunnai, Lempa asepa mappanessa;

2. Musuna Gowa musuna to Bone nennia Tellulimpoe, Makkutopi assibalirenna;

3. Sisappareng deceng tessisappareng ja’
Sirui menre tessirui no, Malilu sipakainge mali siparappe

Artinya :

1. Saling mengizinkan dalam mencari tempat bernaung, Saling memberi kesempatan dalam mencari ikan, Satu rakyat milik kita semua, Kemanalah padinya dibawa itulah yang menentukan.

2. Musuh Kerajaan Gowa juga musuh Kerajaan Bone dan Tellulimpoe. Demikian pula sebaliknya.

3. Saling memberikan kebaikan bukan kejahatan, Saling bantu membantu tidak saling mencelakakan, Yang lupa diri diingatkan, yang hanyut diselamatkan.

Lamung Patue’ di Topekkong merupakan simbol, bahwa bagian batu yang tertanam dimaksudkan sebagai simbol penguburan sikap keras yang dapat merugikan semua pihak. Batu yang muncul dipermukaan tanah, merupakan simbol persatuan yang tak tergoyahkan.

Dalam situs topekkong terdapat 3 (tiga) buah batu jenis andesit dengan ukuran dan warna yang berbeda. Batu tersebut yang oleh masyarakat setempat dan batu tersebut merupakan tempat duduk masing-masing raja yang berasal dari perwakilan Kerajaan Tellulimpoe, Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa.

Posisi/letak batu ini membentuk pola segitiga sama sisi. Batu pertama berada di sebelah barat, berwarna hitam dengan panjang 75 cm dan lebar 85 cm. Batu kedua berada di sebelah selatan, berwarna coklat dengan panjang 86 cm dan lebar 71 cm.

Batu ketiga berada di sebelah timur dengan ukuran panjang 82 cm dan lebar 76 cm. Di sebelah barat pagar Situs Perjanjian Topekkong terdapat sebuah batu menyerupai menhir yang jika dikaitkan dengan sejarah Perjanjian Topekkong, batu tersebut masih memiliki asosiasi dengan temuan-temuan di dalam kawasan Situs Perjanjian Topekkong.

Batu tersebut merupakan jenis batuan andesit dengan ukuran tinggi 43 cm, dan diameter 22 Cm. Batu ini dianggap merupakan simbol peleburan segala permusuhan antara Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa.

Situs Topekkong saat ini terletak di kelurahan Biring Ere, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai.

Selanjutnya