Pesan Kajao, Keangkuhan dari Istana ke Gubuk Derita

193

Ketika hidup masih berantakan hubungan baik terus terjaga. Bukan hanya dengan para tetangga,tapi juga dengan teman-teman yang berada di tempat lain.

Tetapi ketika nasib mulai berubah dan meraih pencapaian,demi pencapaian, bukannya menysukuri semuanya, malah sebaliknya sering kali membuat orang lupa diri.

Apalagi setelah menempati kedudukan yang terhormat atau menjadi pemilik dari sebuah perusahaan, jangankan teman jauh malahan tetangga juga sudah tidak lagi sempat disapa.

Merasa diri di atas angin, berada dalam posisi sebagai pengambil keputusan, bahkan mungkin memiliki kapasitas dalam menentukan hitam putihnya keberadaan orang lain atau bahkan sebuah negara.

Ia merasa bahwa wewenang yang ada padanya, kehebatan yang dimilikinya, sudah menjadi abadi di dalam dirinya. Bila kondisi ini dibiarkan berlanjut, maka orang akan menjadi lupa diri.

Menganggap orang lain tidak lagi penting, merasa tidak perlu lagi menghargai orang lain, bahkan tidak lagi merasa perlu menjawab permohonan ataupun pertanyaan yang diajukan. Karena merasa tidak lagi membutuhkan orang lain.

Mereka tidak lagi membutuhkan kritikan dan saran orang lain, bahkan orang semacam ini memandang enteng orang-orang sekelilingnya apalagi lawan-lawannya.

Nah, bagaimana misalnya kalau seorang pemimpin negara yang sudah dirasuki hasrat keangkuhan, biasanya aturan-aturan akan dilanggarnya. Sumpah dan janji yang pernah diucapkan terlupakan semua.

Tapi niscaya, cepat atau lambat keangkuhan dan angkara murka akan tumbang dengan sendirinya, bahkan istana kesombongannya akan berubah menjadi gubuk derita.

Kajao Lalliddong, seorang pemikir dan penasihat ulung dari Tanah Bugis telah menanamkan nilai-nilai atau sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu :
Lempu’ (kejujuran),
Acca (kepandaian),
Asitinajang (kepatutan),
Getteng (keteguhan),
Reso (usaha,kerja keras),
Siri’ (harga diri).

Manakala seorang pemimpin sudah keluar dari sifat-sifat di atas, maka seorang pemimpin tinggal menunggu konsekwensinya.

Pokok-pokok pikiran Lamellong yang dianjurkan kepada pemimpin ada empat hal, yakni :

1. Tidak membiarkan rakyatnya bercerai-berai;
2. Tidak memejamkan mata siang dan malam;
3. Menganalisis sebab akibat suatu tindakan sebelum dilakukan; dan
4. Raja harus mampu bertututur kata dan menjawab pertanyaan

Ungkapan di atas sekaligus menggambarkan bahwa, nasihat itu pada dasarnya bermuatan saran atau kritikan untuk memperbaiki sikap bertindak seorang pemimpin pada rakyatnya.

Menurut Kajao Lalliddong seorang pemimpin dalam menjalankan roda pemerintahan harus memiliki 11 (sebelas) kriteria, antara lain, pemimpin harus bersifat :

1. LINO (BUMI) : Mempunyai watak BUMI, yaitu seorang pemimpin hendaknya mampu melihat jauh ke depan, berwatak murah hati, suka beramal, dan senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya

2. LANGI (LANGIT) :

Mempunyai watak LANGIT, yaitu langit mempunyai keluasan yang tak terbatas hingga mampu menampung apa saja yg datang padanya. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan batin dan pengendalikan diri yang kuat, sehingga dengan sabar mampu menampung pendapat rakyatnya yang bermacam-macam

3. WETTUING (BINTANG) :

Mempunyai watak BINTANG, yaitu bintang senantiasa mempunyai tempat yang tetap di langit sehingga dapat menjadi pedoman arah (Kompas). Seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan rakyat kebanyakan tidak ragu menjalankan keputusan yang disepakati, serta tidak mudah terpengaruh oleh pihak yang akan menyesatkan.

4. MATAESSO (MATAHARI) :

Mempunyai watak MATAHARI, yaitu matahari adalah sumber dari segala kehidupan, yang membuat semua mahluk tumbuh dan berkembang. Seorang pemimpin hendaknya mampu mendorong dan menumbuhkan daya hidup rakyatnya utk membangun negara dengan memberikan bekal lahir dan batin untuk dapat berkarya dan memamfaatkan cipta, rasa, dan karsanya.

5. KETENG (BULAN) :

Mempunyai watak BULAN, yaitu keberadaan bulan senantiasa menerangi kegelapan malam dan menumbuhkan harapan sejuk yang indah mempesona. Seorang pemimpin hendaknya sanggup dan dapat memberikan dorongan dan mampu membangkitkan semangat rakyatnya, ketika rakyat sedang menderita kesulitan. Ketika rakyatnya sedang susah maka pemimpin harus berada di depan dan ketika rakyatnya senang pemimpin berada di belakang.

6. ANGING (ANGIN) :

Mempunyai watak ANGIN, yaitu angin selalu berada disegala tempat tanpa membedakan daratan tinggi dan daratan rendah ataupun ngarai. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyatnya, tanpa membedakan derajat dan martabatnya, hingga secara langsung mengetahui keadaan & keinginan rakyatnya.

7. WARA API (API) :

Mempunyai watak API, yaitu api mempunyai kemampuan untuk membakar habis dan menghancurleburkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan hukum dan kebenaran secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu.

8. TANA (TANAH) :

Mempunyai watak TANAH, yaitu tanah merupakan dasar berpijak dan rela dirinya ditumbuhi. Seorang pemimpin harus menjadikan dirinya penyubur kehidupan rakyatnya dan tidak tidur memikirkan kesejahteraan rakyatnya.

9. RAUKKAJU (TUMBUHAN) :

Mempunyai watak TUMBUHAN, yaitu tumbuhan/tanaman memberikan hasil yang bermamfaat dan rela dirinya dipetik baik daun,dan buahnya maupun bunganya demi kepentingan mahluk lainnya.

10. TASI’ (LAUT LUAS) :

Mempunyai watak SAMUDRA, yaitu laut, betapapun luasnya, senantiasa mempunyai permukaan yg rata dan bersifat sejuk menyegarkan. Seorang pemimpin hendaknya menempatkan semua rakyatnya pada derajat dan martabat yang sama di hatinya. Dengan demikian ia dapat berlaku adil, bijaksana dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya.

11. SAO/BOLA (RUMAH) :

Mempunyai watak RUMAH, yaitu rumah senantiasa menyiapkan dirinya dijadikan sebagai tempat berteduh baik malam maupun malam. Seorang pemimpin harus memayungi dan melindungi seluruh rakyatnya.

Nah, tidak seperti yang banyak dipraktikkan sebahagian pemimpin masa kini yang hanya menebar kebohongan dan pencitraan belaka.