Enam Perempuan Bugis yang pernah memimpin Bone

568

Secara nasional yang menjadi simbol perempuan adalah RA Kartini. Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 dan meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun. Ia adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Namun jauh sebelumnya Bone juga punya perempuan selevel RA Kartini. Bahkan mampu memimpin negeri pada zamannya. Mereka adalah We Banrigau Makkalempie Mallajangnge’ ri Cina Raja Bone IV (1496-1516), We Tenri Pattuppu Raja Bone Ke-11 (1602-1611), Batari Toja Daeng Talaga Raja Bone Ke-17(1714-1715)-(1724-1749), We Maniratu Arung Data Raja Bone Ke-25 (1823-1835), Pancaitana Besse Kajuara Raja Bone Ke-28 (1857-1860), dan Fatimah Banri Raja Bone Ke-30 (1871-1895)

Mereka tidak sekadar pemimpin simbolik, apalagi sekadar memenuhi kuota. Para Srikandi Bone itu telah menorehkan sejarah gemilang bagi perkembangan Kerajaan Bone. Bahkan satu di antaranya pernah menjadi ratu dua kali yakni We Batari Toja.

I Maniratu tercatat sebagai Raja Bone ke-25. Namanya kadang ditulis dengan ejaan I Manneng Arung Data. Sedangkan Tenriawaru adalah Raja Bone ke-28. Tenriawaru sudah diabadikan sebagai nama jalan, Jalan Besse Kajuara, dan nama rumah sakit, RSUD Tenriawaru Watampone.

Berikut 6 Srikandi Bone yang pernah memimpin, antara lain :

1. We Banrigau, 1470-1510, Ratu Bone Ke-4

2.We Tenri Pattuppu, 1602-1611, Ratu Bone Ke-10

3. We Batari Toja Datu Talaga Arung Timurung, 1714-1715 dan 1724-1749, Ratu Bone Ke-17 dan Ke-21.

4. We I Mani Ratu Arung Data, 1823-1835, Ratu Bone ke-25

5. We Tenriawaru Pancai Tana-Besse Kajuara, 1857-1860, Ratu Bone Ke-28

6. We Fatimah Banri Datu Citta, 1871-1895, Ratu Bone Ke-30

Baca Juga :  Memburu Ayam Jantan

(TELUKBONE.ID)