Arung Palakka Memiliki 9 Nama

613

Sejak kecil, dari pelajaran dan buku-buku sejarah, kita mungkin sering mendengar nama Arung Palakka. Yang ada dibenak kita saat itu (dan mungkin sampai sekarang) bahwa dia adalah seorang pengkhianat bangsa karena bekerja sama dengan VOC memerangi Sultan Hasanuddin. Siapakah sebenarnya beliau? Apa sebetulnya motifnya bekerjasama dengan VOC dan memerangi bangsanya sendiri? Catatan pendek berikut ini semoga dapat memberi sedikit pencerahan.

Arung Palakka Memiliki 9 Nama

Nama Arung Palakka cukup banyak, sehingga bila ingin disebut semuanya bisa menjadi barisan kalimat nama yang panjang. Kata Arung Palakka hanyalah sebuah gelar, untuk mengetahui siapakah nama sesungguhnya sang pembebas itu ?

Berikut daftar nama-namanya :
Arung Palakka adalah tokoh sentral yang mengubah jalannya percaturan kekuasaan di kawasan Sulawesi Selatan pada Abad XVII. Dalam banyak buku tentang ketokohan dan perjuangannya, seringkali membuat pembaca, khususnya peminat Sejarah Sulawesi Selatan yang bukan orang Bugis Makassar menjadi bingung karena banyaknya nama yang dilekatkan pada diri Arung Palakka. Berikut ini penjelasan satu persatu mengenai nama-namanya.

  1. Latenritatta Toappatunru, adalah nama kecil dan nama remaja Arung Palakka. Kata depan “La” pada depan namanya tersebut menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah Bangsawan (Laki – laki). Kata “Tenri” itu artinya Tidak, sedang Tatta bermakna kemauan. ” Toappatunru” artinya adalah yang menundukkan. (To = orang, Appatunru = yang menundukkan). Jadi, “La Tenri Tatta Toappatunru” itu artinya Laki-laki (bangsawan) yang tidak dapat dibatasi kemauannya dan orang yang menundukkan.
  2. Daeng Serang, adalah nama Arung Palakka saat berada di Makassar (Saat Bone telah dijajah oleh Gowa, Arung Palakka dan keluarganya dipekerjakan di rumah bangsawan tinggi Gowa sedang Orang Bugis Bone – Soppeng lainnya menderita kerja paksa membangun benteng – benteng Makassar. Arung Palakka pun juga merasakan kerja paksa bersama rakyatnya tersebut).
  3. Datu Marioriwawo, artinya Raja di Marioriwawo. Marioriwawo adalah kerajaan yang ada di Soppeng. Kerajaan ini adalah warisan dari ibunya, We Tenrisui Datu Mario Riwawo.
  4. Arung Palakka, artinya Raja di Palakka. Palakka adalah salah satu kerajaan yang ada dalam wilayah Bone. Kerajaan Palakka adalah warisan dari kakeknya, La Tenri Ruwa Arung Palakka MatinroE ri Bantaeng (Raja Bone XI). Menurut tradisi Kerajaan Bone bahwa, “Yang berhak menjadi Raja di Palakka, berhak pula menjadi Raja di Bone (Arung Mangkaue’ ri Bone), namun tidak semua Raja Bone pernah menjadi Raja di Palakka”. (Kasim, 2002).
  5. Petta Malampee Gemme’na, artinya Raja yang berambut panjang. Nama ini terkait dengan sumpahnya bahwa Arung Palakka tidak akan memotong rambutanya jika belum berhasil membebaskan rakyatnya dari penjajahan Gowa. (Petta itu sebutan untuk bangsawan tinggi Bugis, Malampeq = panjang, Gemmekna = panjang rambutnya). Rambut Arung Palakka tersebut terus menyertai masa perjuangannya (1660-1667) dan nantilah dipotong setelah perjuangannya dianggapnya telah berhasil.
  6. Arung Ugi, artinya Raja Bugis (Kompeni Belanda menyebutnya Koningh der Bougis). Gelar ini melekat pada Arung Palakka setelah membebaskan negerinya dari cenkeraman kekuasaan Gowa dan menjadi Penguasa atasan (Raja tertinggi) semua negeri / kerajan Bugis. (Ugi artinya Bugis).
  7. Petta Torisompae’, artinya Raja yang disembah. Gelar ini melekat pada Arung Palakka sebagai sebuah sebutan dari rakyatnya karena begitu diagungkannya sosoknya sebagai ‘Pahlawan’ dan Raja yang berjasa menaklukkan Kerajaan Makassar.
  8. Sultan Saaduddin, adalah nama atau gelar Islam untuk Arung Palakka
  9. Petta Matinroe ri Bontoala , artinya yang meninggal di Bontoala, istananya di Makassar.

Sebenarnya masih ada lagi beberapa nama yang melekat pada diri Arung Palakka, Raja Bone XV ini, seperti Datu Pattiro, Datu Lamuru, dan lain sebagainya tapi tidaklah terlalu populer dan yang umum disebut adalah nama-nama diatas.

Arung Palakka merupakan anak dari Putri Raja Bone ke 11, La Tenriawe Matinroe ri Bantaeng. Dilahirkan di Lamatta Soppeng, 15 September 1634 pada saat Kerajaan Bone menjadi daerah taklukan kerajaaan Gowa ketika penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan dimulai di masa Sultan Alaudin (kakek Sultan Hasanuddin) da meninggal di Bontoala, 16 April 1696 (Usia 62 Tahun)

Arung Palakka tumbuh besar bersama I Mallombasi anak Sultan Malikussaid Raja Gowa. Ia sebenarnya menikmati hidup di kerajaan Gowa karena mendapat fasilitas yang sama dengan I Malombassi, yang kelak menjadi Sultan Hasanuddin. Bahkan disinyalir, bahwa sebenarnya mereka ini bersaudara tiri.

Semasa kecil, ia sempat menyaksikan salah seorang pamannya mati dibunuh dengan cara di “nampu” dimasukkan di lesung kemudian ditumbuk-tumbuk seperti layaknya menumbuk gabah untuk membuat beras. Ia dapat melihat semua bentuk penindasan karena memang dijadikan anak angkat oleh Karaeng Pattingalloang Raja Tallo yang merangkap Tumabbicar-butta na Gowa

Patih Kerajaan Gowa semasa pemerintahan Sultan Malikussaid, ayah dari Sultan Hasanuddin yang kemudian memberinya nama Paddaengeng yakni, Daeng Serang.

Sedari usia muda, ia menyaksikan dengan kasat mata penderitaan rakyat Bone yang ditindas secara kejam oleh kerajaan Gowa, salah satu diantaranya adalah kerja paksa untuk membangun Benteng dan kanal atau terusan alias sungai buatan.

Setelah dewasa, Arung Palakka semakin hari semakin membulatkan tekad untuk membebaskan Bone dari penindasan Gowa.

Akan tetapi banyak kerabatnya yang tidak mendukung karena dianggap melawan Gowa adalah tindakan nekat dan mereka tidak yakin bisa memenangkan pertempuran karena kalah pasukan dan persenjataan.Tetapi tekad Arung Palakka dengan semangat MATTULU TELLUE SUMANGE’ TEALLARA’ dan menyatakan akan bekerja sama dengan setan dari neraka sekalipun demi membebaskan Bone dari penindasan.

Menurut catatan sejarah, ada satu hal yang membuat Arung Palakka amat tersinggung sehingga membulatkan tekadnya untuk menaklukkan Gowa yaitu adalah pemaksaan yg dilakukan oleh Karaeng Karunrung (sebutlah Perdana menteri Gowa Tallo saat itu) yang memerintahkan semua orang Bone, Soppeng, dan semua daerah taklukkan untuk membangun Benteng Somba Opu yang kala itu terancam di serang oleh VOC. Karena merasa bangsawan, disuruh bekerja kasar bersama rakyat Bone waktu itu, Arung Palakka, Arung Bakke, dan Arung Tobala serta beberapa pengikutnya yang terkenal dengan nama To Angke’ menolak dan melarikan diri.

Ketika dikejar oleh pasukan Gowa, Arung Palakka lari ke Buton untuk meminta suaka atau perlindungan politik sebelum bertolak di tepi pantai Bulu Campalagi, Arung Palakka mengucapkan sumpah yang berbunyi “Iyapa Kuteppe’i Welua’ku, Narekko Pura Kupaccolo Darana ana’ Maddara Takku-na Gowa”
(nanti kupotong rambutku, setelah kubuat menetes darah putra bangsawan Gowa) sembari menghentakkan kakinya ke batu kemudian melompat naik ke perahu. Saking kerasnya sentakan kaki Arung Palakka, bekas telapak kakinya masih berbekas di batu sampai sekarang di pantai Bukit Campalagi. Pelarian mereka akhirnya sampai ke Batavia.

Di Batavia, ia menjalin kesepahaman dengan VOC (Belanda). VOC sendiri memiliki misi menguasai kerajaan Gowa (mereka berulangkali menyerang Gowa akan tetapi selalu gagal), jika mereka berhasil memenangkan peperangan maka Gowa akan dikuasai oleh VOC sedangkan Bone tidak akan diinjak oleh Kompeni VOC Belanda. Kesepakatan terjadi Belanda menyerang Gowa dari laut dan Bone menyerang melalui darat. Pada tahun 1667, Makassar jatuh dan terpaksa menandatatangani perjanjian Bongaya.

Setelah Gowa jatuh, Arung Palakka kembali mendapatkan kerajaannya. Sampai penghujung abad 17, Arung Palakka adalah satu-satunya Raja yang berhasil menguasai hampir seluruh jazirah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku dan Nusa Tenggara. Pengaruhnya sampai ke Sumatera Barat dan Jawa Timur, dimana beliau pernah menghancurkan kekuatan raja lokal disana, termasuk kerajaan Trunojoyo di Madura.

Arung Palakka juga memiliki gelar Islam yakni Sultan Sa’aduddin, artinya adalah Singa Agama.

Entah bagaimana di banyak kronik sejarah, nama Islam raja-raja Bone jarang disebutkan, tidak seperti raja-raja Gowa/Makassar yang justru lebih ditampilkan adalah gelar Islam nya.

Arung Palakka Meninggal di Bontoala, 16 April 1696. Dimakamkan di Katangka, makam raja-raja Gowa-Tallo, berdampingan dengan ayah angkatnya, Karaeng Pattiongalloang Raja Tallo.
Dari kronologis di atas, apakah masih ada pihak-pihak yang inging mengatakan Arung Palakka Penghianat?
Pada saat itu belum ada NKRI, yang ada adalah kerajaan-kerajaan yang masing-masing ingin mempertahankan eksistensinya. Kami bangga beliau digelar Pahlawan Kemanusiaan karena menyangkut seluruh dunia. Pahlawan Kemerdekaan atau Nasional hanya menyangkut dari Sabang sampai Marauke.

Salah satu keturunannya adalah Arung Labuaja yang terkenal dengan “La Temmu Page Daeng Parenring”. Arung Labuaja yang dikenal sebagai “Sang Jenderal”, De laatste Generaal Van Bontorio (Panglima Perang Terakhir Kerajaan Bone dari Bontorio), “Tolo’ Rumpa’na Bone dan “Tolo’na Arung Labuaja”. Panglima Perang Bone inilah yang terakhir melawan Kolonialis Belanda di awal abad 20.
Balada Arung Palakka

BALADA ARUNG PALAKKA
Satu bayi suci memberontak
Melepaskan diri dari dekapan
Rahim suci bunda
Bersamaan guntur menggelegar
Merobek sunyi di keheningan langit
Bayi sucimenalap dunia
Menerima kejadian – kejadian datang
Mendengar desing – desing huru
Arung palakka … Arung Palakka… Arung Palakka
Laki – laki batu berdarah semberani
Jiwamu memberontak
Pikiranmu mau memberontak
Merontak…merontak… merontak
Panglima melampe’e gemme’na
Berhati rajawali
Pemberontakanmu , perlawananmu
Membawa kemuliaan batin
Bagi umat Tana Bone
Bimbinganmu keperdamaian
Arung Palakka…Arung Palakka…Arung Palakka
Laki laki malampe’e gemme’ na
Berdarah bangsawan
Penberontakanmu , pahlawanmu
Menjadi merah
Merah…merah…merah kotor
Bagi sejarah bangsa lain
Namun tuhanmu di arasi
Lebih mengetahui hakikat
Jiwa dan perasaanmu
Juga baktimu.