Pengertian Anregurutta

261

Anregurutta disingkat A.G. adalah sebuah istilah gelar bagi ulama Sulawesi Selatan. Istilah ini tidak dipakai secara umum kepada seseorang yang dianggap sebagai ulama tetapi hanya dipakai kepada Ulama/ustadz dalam lingkup pesantren itupun hanya dalam bentuk panggilan kepada guru bukan dalam bentuk penulisan nama gelar.

Pemberian gelar Anregurutta bukanlah pemberian gelar akademik, melainkan pengakuan yang timbul dari masyarakat, atas ketinggian ilmu, pengabdian dan jasanya dalam dakwah keislaman.

Anregurutta atau Gurutta sama dengan kyai yang ahli agama Islam di Jawa atau Tuan Guru di NTB dan Banjarmasin, dan Buya di Minang.

Dalam tradisi masyarakat Bugis, gelar Anregurutta dapat diibaratkan sebagai profesor di dunia akademik. Anre gurutta menempati status sosialnya yang tinggi dan kedudukan terhormat di mata masyarakat Bugis.

Jika orang luar Sulawesi Selatan mendengar seseorang warga yang menyebutkan Anre gurutta kepada seorang tokoh, tentu sang tokoh tersebut termasuk kategori Ulama yang disegani.

Sekitar pertengahan tahun 1990-an istilah mulai dipakai secara umum, baik yang dalam lingkup pesantren maupun di luar.

Pengertian “anreguru” dari segi etimologi adalah rangkaian dua suku kata yang artinya berlainan antar satu dengan lainnya.

Kata “anre” dalam bahasa Bugis berarti “makan” dan “guru” juga berarti “guru”, namun jika dilebur menjadi “anreguru” maknanya berubah menjadi “mahaguru”.

Guru di sini dapat diartikan sebagai pendidik dalam pengertian yang lebih luas bukan sebagaimana kata “guru” menurut pengertian dari kamus-kamus bahasa Indonesia, salah satunya adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengartikan bahwa “guru” hanyalah orang yang mata pencahariannya mengajar.

Kata “guru” dapat digunakan untuk menyebut berbagai jenis orang yang mengajarkan sesuatu. Seperti para pengajar di sekolah, yang mengajar mengaji guru pangaji, begitu pula para Imam kampung yang sering diminta membacakan doa untuk hajatan disebut guru pabbaca doang. Bahkan seseorang yang mengajarkan ilmu bela diri juga disebut guru pamenca’

Pada dasarnya kata “guru” berasal dari bahasa sangsekerta yang berarti pengajar agama (religious teacher) dari kalangan brahma dalam agama Hindu, yang dapat disejajarkan dengan istilah pendeta dalam agama Kristen dan Syekh dalam Islam.

Gurutta sebagai pengganti kata Ulama di kalangan masyarakat Bugis sama dengan bahasa aslinya, Sansekerta. Syekh Yusuf pernah berkata, “siapa yang tidak memiliki syekh ‘guru’ maka setanlah akan menjadi gurunya”.

Jadi menurut Syekh Yusuf guru memiliki kedudukan sejajar dengan Syekh dalam kalangan sufi, yang sekaligus memiliki maqam (kedudukan) sebagai pembimbing (mursyid) pagi pengikutnya.

Dari segi istilah, anreguru atau gurutta adalah seseorang yang memiliki keilmuan dalam bidang agama yang tinggi dan memiliki prilaku ampe-ampe yang baik, yakni ampe-ampe madeceng.

Dengan demikian hanya Ulama saja yang bisa disematkan padanya gelar anreguru dan gurutta, kedua panggilan tersebut adalah legitimasi dari masyarakat sendiri yang memberi pengakuan terhadap Ulama yang telah sampai derajatnya pada level anreguru dan gurutta.

Namun perlu dicatat bahwa anreguru memiliki kedudukan yang tertinggi dalam hierarki keulamaan bagi masyarakat Bugis daripada gurutta, namun kedua istilah tersebut kerap bergonta-ganti penyebutannya, hal ini karena yang bergelar anreguru sudah pasti dapat dipanggil gurutta, namun tidak demikian sebaliknya.

Para muballigh misalnya, ada juga yang tetap dipanggil ustadz, yaitu orang yang membawakan khutbah dan ceramah di masyarakat. Namun belum bisa dijadikan sebagai suatu rujukan bertanya berbagai hal keagamaan.

Sementara posisi tingkat Anregurutta ini dijadikan sebagai tempat bertanya berbagai persoalan dan kehidupan secara umum. Ustadz dikenal hanya dalam kelompok kecil, misalnya kelompok pengajian dan ceramah-ceramah umum.

Pada umumnya masyarakat di Sulawesi Selatan yang diwakili oleh etnis Bugis dan Makassar menyebut Ulama dengan sebutan “anreguru”” dan “gurutta” penambahan “ta” pada gurutta berarti “kita”, jadi makna dari “gurutta” adalah “guru kita”.

Tidak semua yang mengajar agama dipanggil sebagai Anregurutta, tergantung dari tingkat keilmuannya. Selain itu, masyarakat Bugis juga meyakini adanya kelebihan Anregurutta berupa karomah, dalam Bugis disebut makarame.

Anregurutta berarti maha guru atau guru besar secara kultural; bukan gelar akademik akan tetapi merupakan gelar bagi ulama senior di Sulawesi Selatan yang mempunyai pengakuan keilmuan dan akhlak yang patut yang dipercaya dan diteladani oleh masyarakat. Sehingga penggunaan KH (kyai haji) menjadi Anregurutta Haji (AGH).

Istilah AGH ditetapkan berdasarkan keputusan MUI Sulawesi Selatan. AGH merupakan akronim dari Anregurutta Haji. Sedangkan untuk ulama tingkatan di bawahnya disebut Gurutta (disingkat G), ulama yunior.

Semua masyarakat Sulawesi Selatan pasti mengenal istilah Anregurutta, salah satunya Anregurutta Haji Muhammad Sanusi Baco Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan, dan Anregurutta Haji (AGH) Daud Ismail yang juga pejuang dakwah Islamiyah di tanah Bugis.

Sekarang penggunaan istilah gurutta dan anregurutta sudah menjalar ke dalam bahasa tulisan, baik di media massa maupun dalam undangan pernikahan.