Falsafah Bugis Eppa Cappa

Salah satu kepandaian orang-orang Bugis yang banyak tersebar di hampir seluruh kepulauan nusantara kita adalah mampu dan piawai dalam mengartikulasikan dan merumuskan kalimat atau kata-kata sehingga bermakna filosofis bagi kehidupan baik sebagai pribadi maupun komunitas sosial.

Satu di antara sekian banyak formulasi yang bernilai filosofis, sangat strategis, taktis, dan antisipatif yang dikenal “Eppa Cappa” atau Empat Ujung.

Dalam Lontara Paseng Toriolo orang Bugis mengatakan, Engka eppa cappa’ bokonna to laoe, iyanaritu saisanna : Cappa’ lilae, Cappa’ orowanewe, Cappa kallangnge, enrengnge Cappa’ kawalie,

(Terdapat empat ujung yang menjadi bekal bagi orang yang bepergian, di antaranya, yaitu :Ujung lidah, Ujung kelelakian (ujung kemaluan), Cappa Kallang (Ujung pena/ Polpen), dan Ujung badik/kawali (senjata).

Sejak dulu orang Bugis selalu menggunakan Eppa Cappa’ dalam menyelesaikan suatu perkara atau persoalan. Ketika menghadapi sebuah masalah, orang Bugis mengedepankan Ujung Lidah, menyelesaikan dengan jalan diplomasi atau pembicaraan terlebih dahulu.

Bila gagal dengan ujung lidah, maka bisa dilakukan dengan mengadakan hubungan pernikahan antara kedua pihak yang bertikai, diharapkan dengan adanya hubungan ini bisa menjalin kekerabatan yang lebih kuat.

Apabila cara di atas gagal maka cara berikutnya Cappa Kallang yaitu dengan ilmu pengetahuan, dan kalau inipun mengalami kegagalan maka jalan terakhir adalah dengan peperangan untuk mempertahankan harga diri, menunjukkan keberanian dalam kebenaran.

Falsafah Eppa Cappa’ ini bukan hanya efektif dalam penyelesaian Perkara atau masalah saja , tapi dalam proses pembauran atau interaksi sosial kemasyarakatan…

Adapun makna falsafah EPPA CAPPA, yaitu :

1. CAPPA LILA (Ujung lidah)

Diartikan sebagai kecerdasan yang mencakup semua hal, baik kecerdasan emosional sampai kecerdasan spiritual, sehingga dapat membedakan baik-buruk.

Dalam kehidupan manusia, berbicara mempunyai dua fungsi utama, yaitu selain sebagai alat untuk melahirkan perasaan juga sebagai alat komunikasi.

Dengan berbicara, manusia dapat mengungkapkan segala perasaan yang sedang dialaminya, misal kemarahan, kesedihan, bahagia, dan lain sebagainya.

Dengan berbicara, manusia dapat mengutarakan isi hatinya, menyampaikan pesan kepada orang lain, dengan kata lain berbicara adalah alat untuk berkomunikasi manusia dalam suatu pergaulan didalam masyarakat.

Sebagai alat untuk berkomunikasi, berbicara dapat memperlancar pergaulan atau hubungan, melahirkan gagasan, ide, isi hari, perasaan, inisiatif dan kreativitas, menambah pengetahuan, dan menyampaikan informasi.

2. CAPPA LASO (Ujung Kemaluan/Kelelakian)

Bisa diartikan bahwa dalam mencari jodoh, hendaklah mencari jodoh dari kalangan bangsawan, kaya, keturunan yang baik-baik, atau orang yang berpengaruh. Cara ini salah satu cara raja-raja Bugis melakukan ekspansi tanpa kekerasan, seperti yang dilakukan raja Bone ke-16 Lapatau Matanna Tikka.

Strategi cappa laso ini, diyakini dan terbukti mampu meredakan perseteruan antara ketiga kerajaan Bone, Luwu, dan Gowa. Dengan adanya keturunan di masing-masing kerajaan mampu menciptakan kerukunan dan persahabatan ketiga kerajaan yang dikenal Perjanjian Tana Bangkalae. Perjanijian ini masih bisa dilihat situsnya di kota Watampone.

3. CAPPA KALLANG (ujung pena/polpen)

Bermakna ilmu pengetahuan, bahwa tidak cukup hanya ujung lidah atau kemampuan berbicara, dan ujung kemaluan atau melalui hubungan pernikahan, namun harus didukung pula dengan ilmu.

Cappa’ kallang juga mengacu pada kemampuan menulis serta penggunaan media informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri.

Dalam lontara Toriolo, dijelaskan “rekko eloki malampe parenggerang siko lampe ittana, winrui bate lima”, artinya jika ingin memanjangkan daya ingat maka menulislah.

4. CAPPA KAWALI (ujung badik)

Adalah jalan terakhir, bermakna bahwa dalam pergaulan hendaklah menjaga harkat dan martabat sebagai orang Bugis yang menjunjung tinggi adat siri napesse (memegang erat adat dan prinsip hidup).

Bila menghadapi permusuhan, maka di sinilah fungsi ujung yang terakhir , harga diri menjadi taruhan, keberanian pantang mundur ditunjukkan untuk dipertaruhkan, dengan catatan bahwa kita dalam posisi yang benar. Lawan tak dicari, apabila sudah menyangkut harga diri, pantang berbalik.

Dalam adat Bugis, faktor harga diri adalah harga mati yang harus dibayar meskipun dengan nyawa. Badik bukan sekadar senjata untuk membela diri tetapi juga sebagai identitas budaya.

Menurut pandangan orang Bugis, setiap jenis badik memiliki kekuatan sakti. Kekuatan ini dapat memengaruhi kondisi, keadaan, dan proses kehidupan pemiliknya.

Di masa lalu, terdapat kepercayaan bugis, bahwa badik juga mampu menimbulkan keindahan, ketenangan, dan kedamaian bagi yang menyimpannya.

Itulah keempat ujung/cappa yang menjadi bekal bagi orang Bugis dalam mengarungi hidup termasuk bugis diperantauan.