Indahnya Sastra Bugis

Budaya dan masyarakat adalah sesuatu tak terpisahkan, karena budaya lahir dari masyarakat. Budaya dapat diartikan sebagai segala daya upaya manusia untuk memenuhi keperluan hidup, baik rohani maupun jasmani.

Kebudayaan diperoleh manusia melalui pembelajaran dan menjadi milik masyarakat yang menjalankannya.

Kebudayaan terbagi dua macam, yaitu, pertama kebudayaan dalam arti luas, misalnya di bidang ekonomi, sains dan teknologi, pertanian, sosial dan kepercayaan. Kedua, kebudayaan dalam arti sempit, misalnya di bidang karya sastra, seni musik, seni tari, seni lukis, dan seni patung.

Karya seni sastra dengan karya seni lainnya memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah karya seni sastra dan karya seni lainnya sama-sama memiliki nilai seni atau nilai keindahan.
Perbedaannya adalah pencipta karya sastra disebut sastrawan dan pencipta karya seni lainnya disebut seniman. Karya sastra dikomunikasikan dengan bahasa sedankan karya seni lainnya, seperti seni musik dikomunikasikan dengan suara, seni tari dengan gerak, seni lukis dengan warna dan garis, seni patung dengan bentuk

Karya seni sastra, merupakan hasil dan milik masyarakat. Karya sastra adalah gambaran dan pancaran jiwa masyarakat. Misalnya manusia sebagai makhluk sosial, hubungan kekerabatan, strata sosial, dan lain-lain.

Masing-masing daerah mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri dan memiliki berbagai bentuk kesenian serta berfungsi secara khusus untuk masyarakat yang menciptakannya. Seperti daerah dan suku lainnya di Nusantara, suku Bugis juga memiliki karya seni sastra misalnya dalam hubungan kekerabatan.

Sastra Bugis masih sering kita dengar dalam acara adat pernikahan bertujuan untuk menambah semarak suasana pesta. Lantunan syair-syair itu diucapkan dengan saling berbalas syair antara orang-orang tua dari kedua mempelai. Bila salah satu pihak tidak mampu membalasnya, maka gelak tawa akan meledak, sehingga riuh rendahlah acara tersebut.

Berikut beberapa syair gubahan orang Bugis seringkali mengandung makna yang terselubung yang bersifat puitis.

1. Dega pasa ri lipumu mulinco mabela? (Tak adakah pasar di negerimu maka engkau mengembara jauh?)

2. Engka pasa ri lipuku nyawami kusappa
(Ada pasar di negeriku hanya budi yang kucari)

3. Rekko maruddaniki congaki ri ketengnge tasidduppa mata
(Bila engkau rindu tengadahlah ke bulan kita kan bertemu pandang)

4. Temmasiri kajompie,tennia iyya taro jelle’ naiya makkalu
(Tak bermalu si kacang panjang, bukan ia memasang jenjangan tetapi dia yang melingkar)

5. Duai kuwala sappo, unganna panasae, belona kanukue
(Dua yang kujadikan pagar, bunganya nangka, hiasannya kuku)

6. Ia teppaja kusappa, rapanna rialae palangga mariang
(Yang selalu kucari, bagai yang dijadikan penopang meriam)

7. Nyili’ka buaja bulu, patompang aje tedong, kusala ri majeng
(Kulihat buaya gunung, bekas tapak kerbau, aku tersalah ingatan)

8. Mapanre ritu jennang, paka ati goari, to mate nasuro
(Pandai benar orang itu, berhati bilik, orang mati yang disuruh)

9. Makkepannipi bojoe, menrenre’pi kua dongi, kunappa massappa
(Kalau siput telah bersayap, terbang bagai burung pipit, baru aku merindukanmu)

10. Gellang ri watang majjekkoe, inanrena Menre’E, bali ulunna bale
(kawat dibentuk membengkok, makanan orang Mandar,lawan dari kepala ikan)

11. Maputei bulunna kaoe, kutea melle, nakusala ri majeng
(Memutih bulu burung gagak, aku tak berpaling, kutersalah ingatan)
12. Purana elo mutea, nabukeni wae mata, mole bukku toni
(Sudah aku mau, banjir air mata, biar tegak tetap jadi bengkok)

Itulah contoh syair-syair yang turut memperkaya khasanah sastra Bugis dan tentunya masih banyak contoh-contoh lainnya.