Hukum Adat Malaweng

17

Adat merupakan pencerminan kepribadian suatu bangsa yang berlangsung turun temurun. Setiap bangsa di dunia tentu memiliki adat kebiasaan sendiri-sendiri, yang satu berbeda dengan yang lainnya. ketidaksamaan inilah yang memberikan identitas antara bangsa yang satu dengan yang lainnya.

Adat ibarat sebuah fondasi yang kukuh, sehingga kehidupan modern pun ternyata tidak mampu melengserkan adat kebiasaan yang hidup dalam masyarakat. Karena adat itu dapat mengadaptasikan diri dengan keadaan dalam proses kemajuan zaman sehingga adat itu tetap kekal dan tegar menghadapi tantangan zaman.

Hukum adat merupakan tatanan hidup masyarakat yang kemudian menjadi hukum yang tidak tertulis. walaupun demikian tetap dipatuhi berdasarkan atas keyakinan, bahwa peraturan-peraturan tersebut mempunyai kekuatan hukum.

Dahulu, dikalangan Bugis Bone dikenal hukum adat dengan istilah “Malaweng”. Hukum Adat Malaweng terdiri atas tiga tingkatan, yaitu :

1. Malaweng Pakkita, yakni sesorang yang melakukan pelanggaran melalui pandangan mata. Misalnya, menatap sinis kepada orang lain, menatap tajam laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya dan lain sejenisnya.

2. Malaweng Ada-ada,yakni seseorang yang melakukan pelanggaran melalui kata-kata yang diucapkan. Misalnya, berkata yang tidak senonoh kepada orang, membicarakan aib orang lain, berkata sombong dan angkuh, berkata kasar kepada lawan bicaranya, dan lain sejenisnya.

3. Malaweng Pangkaukeng, yakni seseorang yang melakukan pelanggaran karena perbuatan tingkah laku. Misalnya, laki-laki melakukan hubungan intim dengan perempuan adik atau kakak kandungnya sendiri, membawa lari anak gadis (silariang), melakukan hubungan intim dengan ibu/ayah kandungnya sendiri, menghilangkan nyawa orang lain, mengambil barang orang lain tanpa sepengetahuan yang punya, dan lain sejenisnya.

Dahulu, khusus dalam hal kawin-mawin dengan saudara kandungnya sendiri atau ayah/ibu kandungnya sendiri tergolong pelanggarang pelanggaran adat yang paling berat, apabila hal ini terjadi maka keduanya baik laki-laki maupun perempuan mendapat hukuman dengan cara “Riladung” yaitu keduanya dimasukkan ke dalam sebuah karung yang diikat dengan tali kemudian ditenggelamkan ke dasar laut dengan menggunakan alat pemberat batu.

Salah satu tempat eksekusi paling dikenal dalah Kawasan Tanjung Pallette yang berjarak 12 km dari kota Watampone sekarang ini. Keduanya dinaikkan kesebuah perahu kecil dan dibawa ke arah timur sejauh 3 km dari pantai Tanjung Pallette kemudian ditenggelamkan ke laut.

Malaweng sebagai implementasi penerapan hukum adat hanya berlaku di zaman kerajaan, seiring dengan perkembangan hingga saat ini tidak terdengar lagi orang dieksekusi dengan cara riladung.

Opera To Malaweng dapat dibuka Videonya DI SINI

JUDUL LAGU : MALAWENG
CIPTAAN : MURSALIM, S.Pd. M.Si.
BONE : 10 Mei 2007

ALA MASEA-SEANA TUWO RILINO
TANENGNGI BUNGA PUTE LAJO UNGANNA 2X
ALA MASEA-SEANA TUWO RILINO
TABBA PADDENRING BOLA NAIRING ANGIN 2X

SUSSANA NYAWAMU, SUSSANA NYAWAKU
SARANA ATIMMU, SARANA ATIKKU
TODDOPULI MPULAWENG BALI SALAKA 2X

NAIYYA TO MALAWENGNGE SAPA TANAI
NARILADUNGNA SIA ALAUNA PALLETTE 2X

Terjemahan

betapa sialnya hidup di dunia
menanam bunga layu
betapa sialnya hidup di dunia
dinding gubuk terbawa angin

batinmu susah batinku juga susah
derita hatimu adalah derita hatiku
emas kuharap terbalas perak

pelanggar adat terusir dari negeri
ia dibuang di timur tanjung pallette

DENGAR LAGUNYA DI SINI

(Mursalim)

BAGIKAN