Bone trend karena budayanya masih ada

169
Sejumlah tamu kehormatan dari berbagai kerajaan di Nusantara dan luar Negeri, pada peringatan Hari Jadi Bone Tahun 2018

Bone terkenal dan trend di mana-mana karena tradisi para raja pendahulunya masih dipertahankan. Bone juga dikenal sebagai barometer untuk menguji kemampuan seseorang.

Kalau ada orang yang pernah bertugas di Bone kemudian pindah ke daerah lain, biasanya ia akan lebih mudah mencapai karirnya. Karena selama ia berada di Bone sudah ditempa berbagai tantangan kehidupan.

Hebatnya, meskipun Bone yang dihuni suku bugis ini mempunyai banyak karakter tapi ia punya hubungan sosial yang kuat satu sama lainnya. Kalau di daerah lain apabila ada persoalan yang muncul bisa saja menjadi retak, tapi di Bone masalah seperti itu tak bakal pecah apalagi retak, semua bisa terselesaikan.

Orang Bone banyak berkelana, di manapun ia menyandarkan perahunya di situlah ia meninggalkan jejak. Mereka sudah teruji di kampungnya, sehingga ke manapun ia melanglang tidak sulit untuk menyesuaikan diri. Mengapa? karena budayanya masih kuat, karakter sebagai orang Bone masih melekat.

Salah satu ritual budaya di Bone yang banyak mengundang perhatian yaitu ritual cuci benda pusaka kerajaan yang dikenal Mattompang Arajang dilaksanakan sekali setahun ketika merayakan hari jadi.

Dalam rangka merayakan hari jadinya yang ke-686 tahun, Bone kembali mempersembahkan serangkaian upacara adat ‘Mattompang Arajang’. Ini adalah penyucian benda pusaka kerajaan yang digelar di Museum Arajangnge.

Ritual adat penyucian pusaka seperti keris, parang, dan berbagai benda antik lainnya ini setiap tahun dilaksanakan. Tahun 2018 ini, pemerintah bersama Dewan Adat mengundang sejumlah tamu kehormatan dari berbagai kerajaan di Nusantara dan luar Negeri.

Tidak tanggung-tanggung ada 31 raja, ratu dan tokoh budaya yang diundang menghadiri upacara adat ini. Mereka adalah:

1. Panembahan Agung Tedjowulan (Maha Menteri Kasunanan Surakarta Hadiningrat/Ketua Agung MARS Indonesia)
2. Hari Ichlas Majo Lelo Sati (Raja Minangkabau/Sekretaris Agung MARS Indonesia)
3. Sultan Aji M Andrian Sulaiman (Kesultanan Paser Kalimantan Timur)
4. Rheindra J Wiroyudho Alamsyah (Ketua Umum Matra)
5. Pangeran Raja Adipati Arief Natadininggrat (Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon)
6. Arena Jr Parampasi (Raja Palu)
7. A Agung Ngurah Ugrasena dan Permaisuri (Raja Puri Agung Singaraja Buleleng Bali)
8. Upu latu ML Benny Ahmad Samu Samu (Raja Samu Samu)
9. Aji Bambang Kusuma (Kesultanan Gunung Tabur Kalimantan Timur)
10. Datu Dissan Maulana (Kesultanan Bulungan)
11. Pangeran Syah (Brunei Darussalam)
12. Anakia Endri Tekaka (Putra Mahkota Raja Laiwoi Kendari)
13. Tengku Sahwal Azis (Singapura)
14. Raja Sabri Palakka (Singapura)
15. Seppi Uyo (Papua)
16. Cristomus Wamuar (Papua)
17. Elia Merahabia (Papua)
18. Kaisar Raja Bana Naineno II, (Kerajaan Oenun Mutis/Bimomi Meomafottu-Timor-NTT)
19. Sultan Bangsa-Sultan Gulamatsyah II (Kesultanan Muko Muko Bengkulu)
20. Pangeran Nata Adiguna Mas’ud Thoyib Jayakarta Adiningrat (Kedaton DKI Jakarta)
21. Fadlan Maalip, SKM Tuanku Bosa Talu XIV (Pasaman Barat Sumatera Barat)
22. Tan Sri Dato Mujeebudeen (Presiden Kelab Bnau Malaysia)
23. Raja Amanatun Don Kusa Banunaek
24. Rex Sumner (tokoh budaya Kerajaan Inggris)
25. Sultan Ratu Bagus Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja (Kesultanan Banten)
26. Nouhoum Fofana, Luciana (Tokoh Pemuda Adat Mali Afrika Barat)
27. M Nizar Yang Dipertuan Agung (Kerajaan Gunung Sahilan Rantau Kampar Kiri. Prov Riau)
28. Tengku Tresneidy (Kerajaan Gunung Sahilan Rantau Kampar Kiri Prov Riau.)
29. Jhonny Za, Rajo Johan (Bendahara MARS Indonesia)
30. Ida Dalem Smaraputra (Raja Kakungkung)
31. Lalu Muh Putria (Kerajaan Silaledeng Lombok)

Ritual ‘Mattompang Arajang’ merupakan rangkaian acara inti di setiap perayaan Hari Jadi Bone ini. Pelaksanaannya dianggap sakral, yang mana prosesi doa pun dipimpin oleh sejumlah Bissu. Dalam proses penyuciannya menggunakan jeruk nipis dan air yang diambil dari 7 sumur dengan lokasi berbeda.

Baca juga : Sejarah dan Makna Simbolik Mattompang Arajang

Itulah salah satu dari sekian banyak ritual adat yang masih eksis di Bone sehingga membawa nama Bone menjadi trend. Sejatinya, memang budaya harus dipertahankan karena menjadi jatidiri. Budaya Nasional ada karena budaya daerah juga masih ada.

Mestinya pemerintah pusat mengalokasikan anggaran tertentu bagi daerah yang masih mempertahankan budayanya.