oleh

Perjanjian polo Malelae dalam Naskah Attoriolong ri Luwu

Abstrak:

Attoriolong ri Luwu menyebutkan, yang melatari terjadinya peristiwa perjanjian raja Bone dan raja Luwu dalah keinginan untuk menciptakan perdamaian dengan mencegah terjadinyapermusuhan dan peperangan khususnya untuk menghentikan perang Cenrana yang dipicu tidak saja karena keinginan mempertahankan wilayah tetapi juga keinginan besaratau ambisi yang kuat untuk ekspansi atau perluasan wilayah kerajaan.

Isi perjanjian itupada intinya bertujuan untuk mempersatukan orang Luwu dan orang Bone dalampersaudaraan yang kuat sehingga tercipta kehidupan yang aman dan damai selamanya,di mana tak ada lagi permusuhan dan perang antara dua kerajaan.

Selain itu, kesepakatan penting lainnya antara raja Luwu dan raja Bone selain butir-butir perjanjian Polo Malelaè ri Unynyi adalah disepakatinya pertukaran pajung Luwu yang telah direbut oleh raja Bone dengan wilayah Cenrana yang mengakibatkan batas wilayah kerajaan Luwu di Selatan menyempit (hanya sampai di Akkotengeng) dengan lepasnya Cenrana.

Tetapi, berimplikasi positif terhadap keamanan dan kedamaian kerajaan Luwu selanjutnya.
Kata Kunci: Perjanjian Raja Bone dan Raja Luwu, Naskah Attoriolong ri Luwu.

Latar Belakang Terjadinya Perjanjian Raja Bone dan Raja Luwu :

Sejarah Luwu khususnya yang terkait
dengan awal munculnya kerajaan ini hanya dikenal menurut sumber lisan secara turun temurun dari generasi ke generasi atau dari epos I Lagaligo yang merupakan sumber tertua tentang sejarah Luwu.

Disebutkan dalam epos I Lagaligo bahwa
raja pertama yang mendirikan kerajaan Luwu di sekitar kampung Ussu’ bernama Batara Guru, putera tertua To Palanroè/To Patotoè (maha dewa di langit) dan Datu Palinge.

Sawerigading dan Wè Tenriabeng adalah
saudara kembar yang lahir dari hasil perkawinan Batara Lattu dan Wè Opu Sengeng. Namun, meski Sawerigading adalah putera mahkota, pada episode penutup epos ini dikisahkan, ia tidak menggantikan ayahnya menjadi raja. Ia diturunkan ke dunia bawah (paratiwi) dan saudarinya dinaikkan ke dunia atas (botinglangi). Ketika Batara Lattu mangkat, maka tampuk pemerintahan akhirnya kosong.

Kisah tentang Sawerigading amat panjang. Selain banyak tambahan, terdapat pula beragam versi. Yang pada akhirnya dinilai sebagai mitos. Bahkan, sebagian menganggap tokoh itu tidak pernah ada. Meskipun Sawerigading memang pernah hidup di Luwu.

Sepeninggal Batara Lattu, Tana Luwu
kembali kacau-balau. Kehidupan umat manusia digambarkan bagaikan ikan yang saling memangsa (sianrè balèni tau è). ungkapan ini merupakan simbol kekosongan pemerintahan.

Konon, periode chaos ini berlangsung hingga tujuh generasi (pitu pariama). Periode chaos itu berakhir dengan munculnya Simpurusiang yang dianggap sebagai to manurung dan dipercaya masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Sawerigading atau Batara Guru meskipun kemunculannya sekitar 3 abad kemudian (abad XIII). Awal pemerintahannya sekitar tahun 1268 raja inilah yang kemudian menurunkan raja-raja Luwu selanjutnya.

Peristiwa Perjanjian Raja Bone dan Raja
Luwu terjadi pada masa pemerintahan Dewaraja (1507-1541). Perjanjian tersebut merupakan buntut dari peperangan yang terjadi antara Raja Bone dan Raja Luwu dalam memperebutkan wilayah Cenrana.

Wilayah Cenrana dianggap masuk dalam wilayah kerajaan Luwu sebagaimana dalam sejarah dikatakan, bahwa dahulu Kerajaan Luwu bersahabat dengan kerajaan Majapahit di Jawa sebagaimana keterangan yang terdapat dalam buku Negarakertagama karangan Mpu Prapanca yang selesai disusun pada tahun 1365 atau di akhir-akhir masa jabatan Tampabalusu (putera Anakaji).

Hubungan itu semakin erat ketika Anakaji (putera Simpurusiang) memperisteri puteri dari Majapahit bernama Tappacina. Wilayah Cenrana yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit diberikan kepada Tappacina sebagai hadiah atas
perkawinannya dengan Anakaji.

Dengan bersatunya Tappacina dengan putera mahkota pewaris tahta kerajaan Luwu maka batas wilayah Selatan kerajaan Luwu pun meluas sampai Cenrana.

Gejala perselisihan antara kerajaan Bone dan Luwu sudah tampak pada masa Batara Guru berkuasa di mana ia mempunyai cita-cita untuk memperluas wilayah kerajaan Luwu. Di samping itu, memang sudah mulai dirasakan
adanya gangguan terhadap wilayah Luwu di Selatan.

Untuk mewujudkan cita-citanya sekaligus mengantisipasi akan adanya gangguan dari Selatan maka pusat kerajaan dipindahkan ke Kamanre’. Letak Ware’ (pusat pemerintahan) yang baru itu dekat Balla-Bajo, kurang lebih 7 km sebelah utara. Wilayah Cenrana, Wage dan Laleng tonro harus dipertahankan.

Bahkan, diupayakan agar perbatasan di Tenggara, Tanjung Towari, sedapat mungkin diluruskan melewati Teluk Bone sehingga pasukan kerajaan ditempatkan di Cilellang. Oleh karena itu, Luwu semakin diperkuat dengan dibentuk pasukan khusus yang
terdiri dari orang Rongkong yang terkenal dengan kelebihan mereka yaitu pada umumnya kebal atau tahan besi atau benda tajam sehingga orang mengatakan bahwa “mereka telah menyatu dengan besi atau logam lainnya”.

Selain itu, mereka mahir membuat senjata bermutu tinggi serta sangat berbisa. Bahkan, di setiap wilayah kerajaan atau palili’ dibentuk pasukan yang dipimpin oleh masing-masing kepala palili’. Namun demikian, belum sempat terjadi benturan dengan kerajaan Bone sampai akhir masa Batara Guru berkuasa.

Kebijakan itu dilanjutkan oleh penerusnya, Datu Risaung Lebbi, dengan menambah kekuatan pasukan Luwu. Pasukan cadangan Luwu diminta kepada Raja Sangalla. Pasukan khusus to Rongkong juga ditambah. Demikian pula suku Mengkoka yang dikenal dengan parang jenis “sinangke”diharapkan pula oleh Raja Luwu untuk mempersiapkan pasukan.

Hal itu untuk mengantisipasi kebangkitan kerajaan Bone yang menimbulkan gejala gangguan khususnya di Cenrana. Saat itu, Bone memperluas wilayah kekuasaannya di bawah pemerintahan Raja ke 3 yang bernama La Saliyu Korangpeluwa (1424-1472).

Gangguan itu timbul karena adanya cerita yang berkembang di Kerajaan Bone bahwa wilayah Cenrana masuk wilayah Luwu disebabkan hasil diplomasi licik, yaitu Luwu pergi ke Bone lalu berkata: “mèllaui Luwu Cenrana na’alai Ganra” (Luwu meminta Cenrana diambil Ganra). Cerita itu disalah artikan bahwa dengan kelicikan diplomasinya, Luwu meminta negeri Cenrana dan mengambil Ganra di Soppeng.

Padahal maksud sebenarnya adalah Luwu meminta kayu Cendana untuk dijadikan alat pemintal benang.22 Hal itu bisa jadi dianggap sebagai suatu ancaman terhadap teritori kerajaan Luwu. Itulah sebabnya untuk mengantisipasi gangguan itu, Datu Risaung Lebbi sering ke Cenrana dan membentuk pasukan kerajaan di tempat itu yang dikepalai masing-masing oleh seorang Matowa. Perlengkapan pasukan dan hasil bumi Luwu terus-menerus dikirim ke Cenrana.

Ini berarti puluhan tahun lamanya Luwu
mempersiapkan untuk menghadapi musuh dari Selatan. Sementara kerajaan Wajo dianggap bukan lawan karena hubungan historis dan kekerabatan yang masih kuat di mana Wajo menghargai Luwu sebagai kakak atau ibu.

Bahkan, dalam wilayah Wajo terdapat area milik Luwu yakni Wage dan Lalentoro.24 Kakak dalam arti Luwu adalah kerajaan yang lebih dahulu berdiri. Ibu dalam arti puteri Simpurusiang yaitu Arung Malasa Uli’è dan suaminya dianggap sebagai awal berdirinya kerajaan Wajo.

Perang Cenrana meletus di masa pemerintahan Dewaraja di Luwu dan La
Tenrisukki yang berkuasa tahun 1508 sampai tahun 1535 M. Pada tahun 1530, Dewaraja melakukan perjalanan ke Selatan melewati Cenrana dan sekitarnya. Dewaraja menginginkan agar wilayah Luwu mudah diketahui dengan jalan berusaha merubah peta kerajaan. Batas bagian Tenggara yaitu Tanjung Towari akan ditarik garis horisontal. Ini berarti harus menguasai sebagian wilayah Bone. Saat itu wilayah Palakka dianggap terpisah dari Bone.

Untuk mewujudkan keinginan itu maka Bone harus ditaklukkan. Oleh karena itu, untuk menaklukkan Bone maka diputuskan untuk menguasai “jantung” kekuasaannya. Luwu akhirnya menyerang Bone pada tahun
1530 yang dipimpin oleh Dèwaraja.

Namun, raja Bone, La Tenrisukki, diam-diam telah membangun kekuatan dan strategi bersama tujuh Arung di wilayah Bone untuk menghadapi serangan Luwu. Pasukan Bone pun dikomandoi oleh rajanya, La Tenrisukki bersama tujuh Arung. Sehingga dua orang raja itu bertemu di medan perang. Ribuan pasukan Luwu melakukan serangan lewat laut dari arah Bajoè. Suku Bajo yang berada di Bajoè ikut bergabung dengan pasukan Luwu.

Setelah beristirahat melakukan persiapan beberapa hari, pasukan Luwu kemudian melakukan penyerbuan. Namun, pasukan Luwu terhadang oleh pasukan pertahanan Bone di Cellu sehingga selama sebulan pasukan Luwu tertahan di Cellu.

Sementara dari arah Selatan pasukan Bone berbalik melakukan serangan dari pelabuhan Kading menuju Bajoè sampai akhirnya pasukan Luwu terkepung. Semua Perahu milik Luwu dan
perbekalan untuk pasukan Luwu dibakar habis. Dèwaraja kemudian memerintahkan agar pasukannya mundur ke Cenrana.

Sambil bertempur, pasukan digerakkan ke Utara kembali menghampiri sungai Walanaè. Namun, ternyata pergerakan pasukan Luwu sudah terbaca sehingga semua perahu di Walanaè telah disingkirkan oleh penduduk Bone.

Akibatnya, ribuan pasukan Luwu terkepung rapat dan terisolasi bersama rajanya selama berbulan-bulan dalam keadaan lapar, kurus karena kehabisan perbekalan sebab tidak ada bahan makanan yang bisa masuk. Kesempatan itu digunakan oleh pasukan Bone untuk melakukan serangan secara mendadak.

Pertempuran sengit yang tak seimbang itupun terjadi di mana pasukan Luwu yang sudah sangat lemah lagi kurus karena kekurangan makanan bertempur dengan pasukan Bone yang masih kuat. Pada saat itu Dèwaraja tampil ke depan mendekati La Tenrisukki, raja Bone. Pengawal raja Bone mengenal raja Luwu
karena terus-menerus dipayungi.

Akhirnya, Payung kerajaan Luwu kemudian berhasil dirampas oleh pasukan Bone dan diserahkan kepada raja La Tenrisukki. Dalam keadaan mengamuk, Dewaraja diamankan oleh pasukan Bone. Dengan demikian maka peperangan ini dimenangkan oleh Bone.

La Tenrisukki kemudian menerima Dèwaraja dengan penuh penghormatan. Pasukan Luwu yang tersisa dari peperangan itu kemudian dirawat dan dikembalikan kesehatannya oleh Bone. Payung kebesaran kerajaan Luwu tetap dalam penguasaan La Tenrisukki. Dengan penuh kebanggaan, raja Bone dipayungi. Oleh sebab itu, Ia kemudian digelari Petta Mappajungngè. Karena ke mana pun ia pergi, selalu dipayungi.

Usai peperangan, raja Luwu dan raja Bone kemudian melakukan perjanjian perdamaian. Perjanjian itu disebut oleh Bone dengan Polo Malelaè ri Unynyi (penghentian perang di Unynyi).

Berdasarkan keterangan di atas maka dapat dikatakan bahwa yang melatari terjadinya peristiwa perjanjian raja Bone dan raja Luwu adalah keinginan untuk menciptakan perdamaian dengan mencegah terjadinya permusuhan dan peperangan, khususnya untuk menghentikan perang Cenrana yang dipicu tidak saja karena keinginan mempertahankan wilayah. Tetapi juga keinginan besar atau ambisi yang kuat untuk ekspansi atau perluasan wilayah kerajaan.

Perjanjian Raja Bone dan Raja Luwu :

Gambaran umum perjanjian raja Bone dan Raja Luwu terdapat dalam naskah Attoriolong ri Luwu yang disalin oleh pemiliknya yaitu A. Andeng. Naskah ini berbahasa Bugis dengan aksara lontara.

Naskah tersebut berisi tentang Attoriolong ri Luwu, Perjanjian raja Bone dan raja Luwu, Attoriolong ri Wajo, perkawinan La Tenri Pappa, hal-hal yang membicarakan tentang tanaè ri Bone dengan Mangkauè dan susunan raja-raja Soppeng. Naskah ini tersimpan di
Badan Arsip Nasional Republik IndonesiavProvinsi Sulawesi Selatan Rol 12 nomor 13.

Isi Perjanjian Polo Malelaè ri Unynyi :

Teks perjanjian ini sesuai naskah Attoriolong ri Luwu sebagai berikut:

I yana è sure’ poada-ada èngngi ulu adanna tu riolo è. I yanaè sure’ poada-ada èngngi ulu adanna Bone Luwu. Na engkana poaseng POLO MALELAÊ RI UNYNYI.

Makkedani arungponè ri datuè ri Luwu riyasengngè Dèwaraja: Madècèngngi tapasèyajing tanata.

Makkedai datuè ri Luwu : madècènni arung Ponè.

Makkedai arungponè. Malilu. sipukaingekki’. Marebba Sipatokkongi, duwa ata, cani puwonrau na Luwu. Gau’na Bone. Gau’na ni Luwu. Mangnguru’ ja’. Mangnguru’ dècèng. Tessi pammatèi sisappareng kè anu i. sipapoè na ungalè onrongngika anungeng.

Tessibawempiwengngi. rèkko angka nu ri ènnau tessitajangeng lilungngi. Na maunna siwennimuwa lettu’na to bonè ri Luwu. Luwuni.
Namuwa siwennina muwa lattu’na Luwu ri Bonè. to Bonè ni. Tessipèla tessipikki. Bicaranna Bonè bicaranna Luwu, Bicaranna Luwu bicaranna Luwu. Ade’na Bonè ade’na Luwu. Ade’na Luwu ade’na Bonè. Tessi acinnangengngi ulaweng matase’ patola tolampè.

Nigi-nigi temmaringerreng ri ulu wadakkeng. Iyana risariwaremparowo ri dèwataè. lettu’ ritorimonrinna. iya makkuwa ramu-ramunna apu-apunna. i tello’. Riyappasangeng ri batuè. Tanana.

Terjemahan teks perjanjian Polo Malelaè ri Unynyi:

Naskah inilah yang menerangkan mengenai perjanjian leluhur kita (Bugis bone Luwu). Naskah inilah yang menyatakan mengenai perjanjian antara Bone dan Luwu yang dinamakan Polo malaelaè ri unynyi. Arung ponè berkata pada Datu Luwu yang bernama
Dewaraja: “sebaiknya negeri kita dijadikan kerabat (dipersaudarakan)”. Datu luwu berkata:
“iya, baiklah Arung Ponè”. Berkata Arung Ponè:
“jika kita khilaf maka kita saling mengingatkan,
jika rebah saling menegakkan. Dua rakyat…
Ketentuan Luwu adalah ketentuan Bone. Se-ia sekata dalam suka dan duka, tidak saling membunuh, saling melindungi kepemilikan masing-masing. Jika terdapat sesuatu yang dicuri tidak saling menunggu untuk mengejarnya. Tidak saling menganiaya. Biarpun semalam jika orang Bone tiba di Luwu, maka menjadilah orang Luwu.

Biarpun semalam lamanya orang Luwu tiba di Bone maka dia pun akan menjadi orang Bone.
Tidak saling menyingkirkan dan tidak saling menghimpit. Keputusan Bone adalah keputusan Luwu, keputusan Luwu adalah keputusan Luwu.

Adat Bone adalah adat Luwu, adat Luwu adalah adat Bone. Tidak saling Merebut kejayaan. Barang siapa yang tidak mengingat perjanjian kita maka akan disapu bagaikan sampah oleh Dewata sampai pada anak cucunya. Dialah yang akan hancur lebur negerinya bagaikan telur yang ditindis batu”.

Perjanjian polomalèlaè ri Unynyi dapat pula dilihat dalam naskah tellumpoccoè yang telah disunting oleh Pananrangi Hamid dan Tatiek Kartika Sari4 sebagai berikut:

Iana è surek poada-ada èngngi ulu adanna Bone Luwu/Nangka poaseng POLO MALELAÊ RI UNYNYI / Makkedai arumponè ri datu è ri Luwu / Madècèngngi tapassèajing tanata/Makkedai datuè ri Luwu riaseng ngè Dewaraja / madècèngngi arumponè/Makkedai arumponè / Malilu sipakainge’ki / marebba sipatokkongngik / sèuwa ata sèuwa puwang / gaukna ni Luwu gauk nani Bonè / adanna ni Bone Adanna ni Luwu / Mangguru ja manguru dècèng / tessipèmmatè matèik / sisapparengngi akkè anungeng / tessipapolè onro akkèanungeng / tessibawampaweng ngi’ / Namau na sèwènnimua lattu na to bone ri Luwu Luwuk ni / namau sèwènni mua lattu na Luwuk è mai pi Bonè to Bonè ni / tessilegga tappi ki’ / bicaran na Bonè bicaranna Luwu / adek na Luwu adek na Bone / tessicirinnangngi ulaweng matasa / patolammalampè / nigi-nigi
temmarenngèrang ri ulu ada è / ia riserimparowo / ri dewataè / lattu’ ri torimunrinna / ia makkuwa apu-apunna i tello e riappap pang ngè ri tanaè Tanana/

Dalam teks naskah Polomaèlaè ri Unynyi versi naskah Attoriolong ada kalimat duwa ata yang dalam teks naskah versi tellumpoccoè berbunyi sèuwa ata sèuwa puang yang berarti satu rakyat satu junjungan. Ini dapat dipahami bahwa dua rakyat di dua wilayah kerajaan (Bone dan Luwu) tunduk pada masing-masing junjungannya.

Dalam teks naskah Polomaèlaè ri Unynyi versi naskah Attoriolong ada pula kalimat Tessipammatèi sisappareng kè anu i., di bawah kalimat ini khususnya di bawah huruf nga dan kata kè anu i terdapat kata è na u nga. Kemungkinan ini dimaksudkan sebagai pembetulan kata dari kè a nu i sehingga mungkin yang dimaksud adalah Tessipammatèi sisappareng akkèanungeng.

Demikian pula kalimat sipapolè onrongi ka anungeng, mungkin yang dimaksud adalah tessipapolè onrong akkèanungeng. Jika digabungkan maka kalimat itu terbaca Tessipammatèi sisappareng akkèanungeng
tessipapolè onrong akkèanungeng seperti yang terdapat dalam suntingan teks perjanjian Polomalèlaè ri Unynyi versi lontara’ tellumpoccoè.

Dalam teks naskah polomalèlaè ri Unynyi versi naskah Attoriolong ri Luwu di atas, ada pula kalimat bicaranna Bonè bicaranna Luwu Bicaranna Luwu bicaranna Luwu. Redaksi bicaranna Luwu bicaranna Luwu ini tidak terdapat dalam naskah polomaèlaè ri Unynyi versi naskah tellumpoccoè. Ini bisa dipahami sebagai suatu tambahan dari penyalin naskah atau terjadi kesalahan dalam proses penyalinannya. Jika dipahami seperti ini maka kemungkinan yang dimaksud atau kalimat yang betul adalah bicaranna Bonè bicaranna Luwu, bicaranna Luwu bicaranna Bonè, bukan bicaranna Bonè bicaranna Luwu, Bicaranna Luwu bicaranna Luwu, sebagaimana bentuk redaksi yang mengiringinya yakni ade’na Bonè ade’na Luwu, ade’na Luwu ade’na Bonè.

Namun demikian, jika dilihat dari konteks sejarahnya pada saat perjanjian ini terjadi di mana Luwu mengalami kekalahan maka dapat pula dipahami bahwa redaksi bicaranna Bonè bicaranna Luwu, bicaranna Luwu bicaranna Luwu memang demikianlah adanya, bukan merupakan tambahan atau kesalahan dalam penyalinan.

Sebab, dengan kekalahan Luwu maka dengan sendirinya Luwu berada dalam penguasaan atau tunduk pada kerajaan Bone. Dengan demikian maka redaksi itu dapat dipahami bahwa perkataan atau keputusan Bone mutlak diikuti oleh Luwu sedang keputusan Luwu hanya berlaku di wilayah kerajaan Luwu
saja, tidak berpengaruh pada kerajaan Bone.

Perjanjian tersebut di atas dilaksanakan
dalam keadaan di mana raja Bone dipayungi dengan payung Luwu. Arung Ponè mengucapkan butir-butir kesepakatan yang kemudian disetujui oleh Dèwaraja.

Berdasarkan teks perjanjian di atas maka dapat dilihat butir-butir kesepakatan itu adalah:
1. Persaudaraan antara kerajaan Bone dan kerajaan Luwu. Saling mengingatkan ketika khilaf
3. Saling menegakkan ketika rubuh.
4. Satu rakyat satu pemimpin/junjungan
5. Perbuatan/Ketentuan Bone adalah
Perbuatan/Ketentuan Luwu
6. Bersama dalam suka dan duka
7. Tidak saling membunuh
8. Saling melindungi kepemilikan masing-
masing dan tidak saling menganiaya.
9. Orang Bone dianggap sebagai orang Luwu jika datang ke Luwu meski hanya semalam demikian pula sebaliknya.
10.Tidak saling menyingkirkan dan tidak saling menghimpit.
11.Perkataan Bone adalah perkataan Luwu sedang perkataan Luwu adalah perkataan Luwu
12.Adatnya Bone adalah adatnya Luwu dan sebaliknya
13.Tidak saling Merebut kejayaan.
14.Bersama mengutuk orang dan negeri yang menyalahi perjanjian.

Dari butir-butir kesepakatan penting di atas dapat dilihat bahwa pada intinya perjanjian itu bertujuan untuk mempersatukan orang Luwu
dan orang Bone dalam persaudaraan yang kuat sehingga tercipta kehidupan yang aman dan damai selamanya di mana tak ada lagi permusuhan dan perang antara dua kerajaan.
Implikasi perjanjian terhadap kerajaan Luwu Dalam perjanjian polo malelaè ri Unynyi ada redaksi yang berbunyi:

“Na maunna siwennimuwa lettu’na to bonè ri Luwu. Luwuni (meskipun semalam saja tibanya orang Bone di Luwu maka dia menjadi orang Luwu) demikian pula sebaliknya, Namuwa siwennina muwa lattu’na Luwu ri Bonè to Bonè ni (meskipun semalam saja tibanya orang Luwu di Bone maka dia menjadi orang Bone). Ikrar ini berlaku bagi semua orang dikemudian hari. Termasuk pula orang Wajo, orang Soppeng, Makassar, Sidenreng, Enrekang, Toraja, bahkan Mandar, Malayu serta Jawa.

Sedangkan yang dimaksud orang Luwu adalah mereka yang berdiam, mencari penghidupan, dan mencintai Tana Luwu seumur hidup.

Pasca perang Cenrana, kesepakatan penting lainnya antara raja Luwu dan raja Bone selain butir-butir perjanjian Polo Malelaè ri Unynyi adalah disepakatinya pertukaran payung Luwu
yang telah direbut oleh raja Bone dengan wilayah Cenrana. Tetapi, payung yang dikembalikan raja Bone, oleh Dewaraja dihadiahkan kembali kepada pribadi La Tenrisukki. Itulah sebabnya ia digelari Petta Mappajungngè. Dengan demikian, sejak saat itu maka wilayah Cenrana tidak lagi berada dalam wilayah Luwu.

Meskipun masyarakat setempat yang setia terhadap kerajaan Luwu melakukan protes, tetapi dapat diredam oleh Dewaraja dengan dijanjikan suatu wilayah di Ware’(pusat kerajaan) atau di mana saja yang disukai di Luwu. Bahkan, matowa atau kepala wilayah Cenrana yang setia diberi status
kehormatan dan didudukkan dalam adat Luwu atau lembaga kerajaan yang berfungsi melakukan pemilihan terhadap Raja Luwu.

Lepasnya wilayah Cenrana di Selatan
menyebabkan batas wilayah Luwu hanya sampai di Akkotengeng. Sedang wilayah antara Cenrana dan Akkotengeng diberikan kepada Wajo di bawah Arung Matoa puang ri Manggalatung melalui suatu perjanjian pula antara Dèwaraja dengan Arung Matoa Wajo sehingga hubungan antara Luwu dan Wajo semakin kuat di mana Luwu amat dihormati oleh Wajo bagaikan ibu dan anak. Hal itu dapat dihubungkan dengan puteri Simpurusiang, Arung Malasa Uli’è dan suaminya yang dianggap sebagai awal lahirnya kerajaan Wajo.

Meskipun telah terjadi perjanjian perdamaian antara kerajaan Luwu dan kerajaan Wajo, akan tetapi masalah wilayah Cenrana itu selalu menjadi bayang-bayang permusuhan antara dua kerajaan. Namun, tidak terdapat keterangan bahwa ada pertikaian yang terjadi terkait wilayah Cenrana sampai Dewaraja turun tahta.

Setelah Tosangkawana naik tahta tahun
1541-1556, ia mulai memperbaiki tatanan pemerintahan Luwu, pasca perang Cenrana. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Kamanre ke Malangke (Pattimang). Pusat-pusat perdagangan di Ussu, Cerekang, Lelewau Pao, Palopo dan Kolaka tetap berlangsung ramai.
Kerajaan Luwu tetap berjalan sebagaimana mestinya dan tetap terhitung makmur, meskipun kerajaan di luar Luwu seperti Kerajaan Gowa juga berkembang pesat dengan terbukanya bandar kerajaan Gowa yang semakin ramai dikunjungi oleh orang-orang Eropa.

Janji raja Luwu pasca perang Cenrana dan perjanjian Polo Malèlaè ri Unynyi terhadap kelompok masyarakat Cenrana yang setia baru terwujud di masa Tosangkawana memerintah. Kelompok masyarakat Cenrana bersama dengan kelompok masyarakat Wage dan Lalentoro diberi kehormatan di ware’.

Mereka disatukan dalam suatu wilayah khusus yang dikepalai oleh seorang matowa dan diberi lahan untuk menggarap sawah sebab bertani adalah kelebihan mereka. Bahkan, dimasukkan dalam pasukan Luwu. sementara masing-masing matowa-nya diberi kehormatan dalam lembaga kerajaan.

Antara pemerintahan Tosangkawana
sampai Datu Maogè, nilai-nilai adat dan prinsip kerajaan yakni adèlè, lempu, tongeng diperhatikan dengan baik di mana sebelumnya sempat terkoyak sejenak dengan adanya agresi perang tanding dengan Bone.

Pemerintahan ditata kembali sehingga berjalan sebagaimana tradisi dan nilai-nilai kerajaan Luwu. Namun, setelah Datu Maogè turun tahta dan digantikan oleh Êtenrirawè tahun 1571, kerajaan Luwu dihadapkan pada situasi kemerosotan moral.

Namun, Êtenrirawè bukanlah pribadi yang lemah, meski ia seorang perempuan. Ia memiliki sikap pribadi yang cerdas dan tegas. Sehingga untuk perkembangan kerajaan dan untuk mengantisipasi dekadensi moral maka raja pada saat itu memanfaatkan orang yang memiliki pemikiran maju seperti To Ciung yang dapat menerjemahkan ketegasan raja dalam poin hukum. Bagi pelanggar berat akan dikenakan hukuman maggèno wennang cella (berkalung benang merah atau hukuman penggal leher).

To Ciung membawa tradisi kerajaan ke dalam suasana yang lebih demokratis. Hal itu dapat dilihat ketika ia memangku sebagai Opu Patunru, ia merumuskan dasar hukum. Hukum dasar dimaksud adalah “puwang temma bawang pawang ata tenri bawangpawang, puwang mapatutuata ripatutu, puwang maddampeng ata riaddampengeng,
puwang teppalèolèo ata tenrilèolèo, kalo luka bola bola luka taneng-taneng (raja tidak menganiaya rakyat tidak dianiaya, raja memelihara/memeriksa rakyat dipelihara/diperiksa, raja memaafkan rakyat dimaafkan, raja tidak mencela rakyat tidak dicela, parit menggeser rumah rumah menggeser
tanaman).

Empat butir pada bagian awal yang disebut di atas merupakan Hukum Dasar Luwu terkait dengan pemerintahan. Sedangkan butir ke lima merupakan Hukum Dasar terkait tata pengaturan kehidupan masyarakat. Maksud butir ke lima adalah bahwa bangunan fasilitas umum diutamakan, misalnya bila parit harus melewati sebuah rumah maka rumah tersebut harus digeser. Termasuk pula dalam hal ini fasilitas umum seperti jalanan umum, pasar, tanah lapang, kebutuhan pemuda atau rakyat dan sebagainya.

Hukum dasar tersebut menunjukkan makna filosofis bahwa kerajaan harus bertindak melayani dan melindungi masyarakat, batasan psikologis antara raja dan masyarakat semakin rapat, menembus ruang-ruang kesakralan.
Sedang poin kedua menyangkut tata pengaturan lingkungan pemukiman yang lebih mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi atau kelompok.

Penerapan kebijakan maju raja dan To Ciung itu membawa kerajaan kembali menjadi makmur. Namun di sisi lain, rakyat mulai bertindak semau hati dengan memanfaatkan hubungan dekat dengan para bangsawan untuk melakukan semacam kolusi dalam bahasa sekarang. Tetapi raja tak kehilangan akal, untuk mengantisipasinya ia memberi himbauan moral untuk mewaspadai empat golongan yaitu; golongan kuat (termasuk bangsawan), orang curang (oknum pedagang dan penguasa), orang pintar (dalam arti lihai dan licik) dan orang dungu (mudah dibodohi, tidak dapat membedakan antara yang benar dan salah).

Dalam rumusan to maccaè ri Luwu (To Ciung), ada empat hal dan ciri-ciri orang yang berpikiran sehat yakni “moloi nriwi gau patuju, maloniwi ada patuju, moloi rape-rape paiwang, mololoi moloi laleng nematika” artinya menyayangi perbuatan benar, menyayangi kata benar, menghadapi semak ia surut langkah, menempuh jalan ia berhati-hati”

Di masa pemerintahan Êtenrirawè, semua sektor hasil alam bergerak seakan tiada habisnya seperti hasil hutan, hasil laut, kerajinan masyarakat dan ditambah hasil pertanian yang dikembangkan oleh orang Cenrana, Wage dan Lalentoro. Setelah Êtenrirawè mangkat. ia digantikan oleh puteranya, La Patiware yang kelak berganti nama Sultan Mahmud setelah ia menerima Islam di masa pemerintahannya.

PENUTUP:
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat
disimpulkan bahwa yang melatari terjadinya
peristiwa perjanjian raja Bone dan raja Luwu
adalah keinginan untuk menciptakan perdamaian dengan mencegah terjadinya permusuhan dan peperangan khususnya untuk menghentikan perang Cenrana yang dipicu tidak saja karena keinginan mempertahankan wilayah tetapi juga keinginan besar atau ambisi yang kuat untuk ekspansi atau perluasan wilayah kerajaan.

Perjanjian polo malèlaè ri Unynyi pada intinya berisi tentang kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan antara dua kerajaan (Bone dan Luwu), saling menghargai batas wilayah dan
kedaulatan masing-masing dan mempersatukan orang Luwu dan orang Bone dalam persaudaraan yang kuat sehingga keamanan dan kedamaian tetap terjaga selamanya.

Perjanjian tersebut mengakibatkan batas
wilayah kerajaan Luwu di Selatan menyempit (hanya sampai di Akkotengeng) dengan lepasnya Cenrana tetapi berimplikasi positif terhadap keamanan dan kedamaian kerajaan Luwu selanjutnya.

Sumber :

Muhammad Sadli Mustafa
Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Berikutnya