La Tenriruwa Raja Bone ke-11 Tahun 1611-1616

La Tenriruwa Sultan Adam Arung Palakka Matinroe ri Bantaeng adalah raja Bone ke-11 yang memerintah tahun 1611-1616. Ia menggantikan sepupunya We Tenrituppu Matinroe ri Sidenreng.

Tiga bulan setelah menjadi raja Bone datanglah Karaengnge dari Gowa membawa agama Islam ke Bone. Orang Gowa membuat benteng di Cellu dan Palette.

Berkata La Ternriruwa kepada orang Bone, bhwa kalian telah mengangkat saya menjadi mangkau’ untuk membawa Bone kepada jalan yang baik.

Karaengnge di Gowa datang membawa agama Islam yang menurutnya adalah suatu kebaikan. Dan sesuai perjanjian kita yang lalu, siapa yang mendapatkan kebaikan, dialah yang menunjukkan jalan. Oleh karena itu saya mengajak kalian untuk menerima Islam.

Kemudian dilanjutkan Karaengnge dari Gowa dan berkata, menurutku agama Islam adalah kebaikan dan dapat mendatangkan cahaya terang bagi kita. Oleh karena itu saya berpegang pada agama Nabi Muhammad SAW.

“Kalau engkau menerima pendapatku, maka Bone dan Gowa akan menjadi besar untuk bersembah kepada Dewata SeuwaE” tuturnya.

La Tenriruwa kembali kepada rakyatnya, kalau kalian tidak menerima baik maksud Karaengnge padahal dia benar, dia pasti masih memerangi kita dan kalau kita kalah berarti kita menjadi hamba namanya.

“Tetapi kalau kalian menerima dengan baik, kita dijanji untuk berdamai. Kalau kita melawan, itu adalah wajar. Jangan kalian menyangka bahwa saya tidak mampu untuk melawannya” ungkapnya.

Namun, ketika itu semua orang Bone yang hadir menolak agama Islam. Lalu, La Tenriruwa hanya diam, karena dia sudah tahu bahwa orang Bone berpendapat lain.

Atas penolakan rakyatnya itu, maka La Tenriruwa berangkat ke Pattiro dan hanya diikuti oleh keluarga dekatnya. Sampai di Pattiro, ia mengajak lagi orang Pattiro untuk menerima agama Islam. Ternyata orang Pattiro juga menolak.

Akhirnya raja Bone La Tenriruwa naik ke Salassae (istana) bersama keluarga dan hambanya.

Ketika La Tenriruwa berangkat ke Pattiro, orang Bone sepakat untuk menjatuhkannya sebagai mangkau di Bone. Kemudian diutuslah La Mallalengeng To Alaungeng ke Pattiro untuk menemui La Tenriruwa.

La Mallalengeng menyampaikan, saya disuruh oleh orang Bone untuk menyampaikan, bahwa bukan lagi orang Bone yang menolak engkau sebagai Mangkau’ di Bone, akan tetapi engkau sendiri yang menolak kami semua, karena pada saat Bone menghadapi musuh besar, engkau lalu meninggalkannya.

La Tenriruwa menjawab, saya menyangkal, bahwa saya meninggalkan orang Bone, saya hanya menunjukkan jalan kebaikan dan cahaya yang terang.

“Tetapi kalian tidak mau mengikutinya dan lebih suka memilih jalan kegelapan. Makanya saya pergi memilih jalan kebaikan dan cahaya terang itu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya” jawabnya.

Pada saat La Mallalengeng To Alaungeng kembali ke Bone, kemudian La Tenriruwa menyuruh salah seorang keluarganya ke Pallette untuk bertemu dengan Karaengnge ri Gowa yang sementara berkedudukan di Pallette.

Begitu pula sebaliknya, Karaengnge ri Gowa menyuruh Karaeng Pettu ke Pattiro menemui La Tenriruwa. Sesampainya Karaeng Pettu di Pattiro tiba-tiba tempatnya bertemu itu dikepung oleh orang Pattiro bersama orang Sibulue.

Atas pengepungan itu, raja Bone La Tenriruwa sekeluarga bersama Karaeng Pettu meninggalkan tempat itu dan menghindar ke puncak gunung Maroanging.

Setelah itu, La Tenriruwa pergi menemui Karaengnge ri Gowa, sementara Karaeng Pettu tinggal menjaga Pattiro.

Di Pallette La Tenri Ruwa ditanya oleh Karaengnge ri Gowa, ”Sampai di mana batas kekuasaanmu. Sebab saya tahu bahwa Bone adalah milikmu, sementara menurut berita bahwa akkarungeng telah berpindah di Bone”.

La Tenriruwa menjawab, ”Yang menjadi milikku adalah Palakka dan Pattiro begitu juga Awangpone. Tapi kalau Marioriwawo adalah milik isteriku”.

Berkata lagi Karaeng Gowa, ”Sekarang ucapkanlah kalimat syahadat, biarlah Palakka, Pattiro, dan Awangpone saja yang menerima Islam. Untuk Bone biarkan saja tidak bertuan, Gowa tidak akan memperhambamu”.

La Tenriruwa menjawab, ”Karena saya memang akan mengucapkan syahadat, sehingga saya kemari”.

Selanjutnya Karaeng ri Gowa berkata, “Saya juga tahu bahwa Pallette ini adalah milikmu, tetapi kebetulan tempat berdirinya bentengku. Oleh karena itu saya menganggapnya sebagai milikku, namun saya berikan kembali kepadamu”.

Setelah mengucapkan syahadat, kemudian Karaeng Gowa, Karaeng Tallo, dan La Tenriruwa berikrar. Ikrar pertama diucapkan oleh Karaeng Gowa dan Karaeng Tallo :

” Inilah yang akan dipersaksikan kepada Dewata SeuwaE, bahwa bukanlah turunan Karaengnge ri Gowa dan Karaeng Tallo yang kelak akan mengganggu hak-hakmu. Kalau ada kesulitan yang engkau hadapi, bukalah pintumu untuk kami masuk pada kesulitan itu”.

Lalu kalimat ikrar lanjutannya dituturkan oleh La Tenriruwa, dan berkata ”Wahai Karaeng, ikat padiku tidak akan terbuka, tidak sempurna pula kehidupanku dan apa yang ada dalam pikiranku. Kalau ada kesulitan yang menimpa Tanah Gowa, biar sebatang bambu yang dibentangkan, kami akan melaluinya untuk datang membantumu sampai kepada anak cucumu dan anak cucuku, asalkan tidak melupakan perjanjian ini”.

Setelah ketiganya mengucapkan ikrar, kembalilah La Tenri Ruwa ke Pattiro. Lima hari setelah perjanjian itu diucapkan bersama, dibakarlah Bone oleh orang Gowa.

Maka orang-orang Bone menyerah dan mengucapkan syahadat. Kemudian Karaeng Gowa dan Karaeng Tallo kembali ke negerinya.

Sejak La Tenriruwa meninggalkan Bone dan berada di Pattiro, sejak itu pula orang Bone menganggapnya bahwa dia bukan lagi Mangkau’ di Bone.

Selanjutnya, orang Bone mengangkat La Tenripale To Akkappeang (ia adalah anak La Inca Matinroe ri Sapana raja Bone ke-8). Pada waktu itu La Tenripale berkedudukan sebagai Arung Timurung.

Setelah Karaeng Gowa dan Karaeng Tallo kembali ke negerinya, kemudian La Tenriruwa diusir oleh orang Bone agar meninggalkan tanah Bone.

Oleh karena itu, La Tenriruwa adalah raja Bone yang dianggap mula-mula menerima agama Islam dari Karaeng Gowa dan Karaeng Tallo.

Karena diusir, maka La Tenriruwa meninggalkan Tanah Bone peri ke Mangkasar dan tinggal bersama Dato’ ri Bandang yang kemudian ia diberi nama Arab, yaitu Sultan Adam. Sehingga namanya menjadi La Tenriruwa Sultan Adam.

Setelah itu, La Tenriruwa disuruh memilih tempat oleh Dato’ dan Karaeng Gowa. Dan La Tenriruwa memilih Bantaeng yang pada waktu itu merupakan wilayah kerajaan Gowa.

La Tenriruwa Sultan Adam kemudian sambil memperdalam ilmu agama Islam ia membangun masjid di Bantaeng dan menetap di sana hingga akhir hayatnya. Sehingga digelar Matinroe ri Bantaeng (yang meninggal di Bantaeng).

Itulah sebabnya Bantaeng merupakan daerah transisi, di mana penduduknya berasal dari suku Bugis dan Makassar. Karena keturunan La Tenriruwa juga banyak di Bantaeng sehingga terdapat keterpaduan antar dua etnis.

Jadi La Tenriruwa adalah peletak dasar hubungan emosional antara warga Bone dan Bantaeng yang terjalin sampai sekarang ini. Jalinan emosional ini menjadi potensi kedua daerah.

La Tenriruwa kawin dengan sepupunya yang bernama We Baji atau We Dangke Lebae ri Marioriwawo yang kemudian disebut juga Datu Marioriwawo. Dari perkawinan itu lahirlah We Tenrisui.

Kompleks Makam La Tenriruwa Raja Bone Ke-11 dapat disaksikan apabila berkunjung ke Bantaeng dan kerap diziarahi oleh pemda Bone setiap peringatan Hari Jadi Bone.