La Pattawe Raja Bone ke-9 Tahun 1565-1602

La Pattawe Daeng Soreang Matinroe ri Bulukumba adalah raja Bone ke-9 yang memerintah 1565-1602. La Pattawe raja di Bone selama 37 tahun.

Dari catatan Lontara Akkarungeng ri Bone, bahwa La Pattawe menggantikan sepupunya yang bernama La Inca Matinroe ri Sapana, Raja Bone ke-8 yang memerintah tahun 1564-1565.

La Pattawe ini merupakan keturunan dari We Banrigau Arung Majang, We Pattanra Mabela Daeng Marowa, Mallajangnge ri Cina yang bergelar Arung Palakka Makkaleppie. Adalah ratu Bone ke-4 yang memerintah tahun 1470-1510.

We Banrigau inilah yang mendirikan Sao Lampe-e yang biasa juga disebut Lawelareng. Oleh karena itu, maka digelarlah juga Makkaleppie Massao Lampe-e Lawelareng. Orang banyak menyebutnya Puatta Lawelareng.

La Pattawe Daeng Soreang memperisteri We Balole I Dapa Lippu Arung Mampu Massalassae ri Kaju. Anak La Uliyo Bote-e Matinroe ri Itterung, raja Bone ke-6 yang memerintah tahun 1535-1560.

Selanjutnya La Pattawe juga kawin dengan We Samakella Datu Ulaweng. Dari hasil perkawinannya itu lahirnya We Parappu Datu Ulaweng. Selanjutnya We Parappu diperisteri oleh La Papesa (Anak dari La Tenri Adeng Datu Sailong) dan La Tenri Adeng ini bersaudara dengan We Tenri Pakiu Arung Timurung).

Kerajaan Bone di bawah pemerintahan La Pattawe (1565-1602) tidak terlalu banyak disebut dalam pemerintahannya, juga tidak diberitakan adanya perang atau serangan militer Gowa ke Bone.

Hanya dikatakan bahwa setelah tujuh tahun menjadi raja/mangkau di Bone La Pattawe ke Bulukumba dan di situlah beliau wafat karena sakit.

Keberadaan La Pattawe di Bulukumba patut diduga, bahwa hubungan Gowa dan Bone di masa pemerintahan La Pattawe cukup harmonis, karena pada masa itu Bulukumba merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Gowa.

Dalam perjalanan sejarah Bone selanjutnya, pada tahun 1905 terjadi perang antara Bone dengan Belanda yang dimenangkan oleh Belanda. Bone pada masa itu dipimpin oleh La Pawawoi Karaeng Sigeri, raja Bone ke-31 yang memerintah tahun 1895-1905.

Konon, dengan kekalahan itu banyak tokoh pejuang kerajaan Bone yang tidak mau tundak diperintah oleh Belanda. Salah satunya adalah La Mappapenning yang merupakan panggoriseng (keturunan) raja Bone ke-9 yakni La Pattawe Daeng Soreang.

Konon, La Mappapenning bersama anggota laskarnya bertempur melawan Belanda di Daratan Wilayah Tanjung Pattiro, namun kalah persenjataan ditandai gugurnya sejumlah laskarnya. Akhirnya ia memilih mundur setelah ia sendiri menderita luka-luka sekujur tubuh terkena mesiu tentara Belanda.

Lalu La Mappapenning bergerak ke arah laut Teluk Bone dengan perahunya ia memilih menyingkir ke tempat daerah di mana leluhurnya dimakamkan yaitu Bettung Bulukumba. Namun dalam pelayaran itu perahunya dihantam gelombang besar sehingga merenggut jiwa sang pejuang itu.

Sepanjang pelayarannya menuju Bettung, perahunya tidak bisa mendekat di pantai karena tentara Belanda mengikutinya hingga pantai timur Balannipa Sinjai. Mayatnya didapat terapung dan terbawa arus laut ke bibir pantai Bulukumba.

Namun mudah dikenali karena terdapat identitas panggoriseng di saku celananya kalau ia bernama La Mappapenning sehingga masyarakat setempat memakamkannya di daerah tersebut. Karena ia meninggal di laut sehingga ia digelar La Mappapenning Matinroe ri Tasi’na (La Mappapenning yang meninggal di laut).

Nah, Kompleks Makam tokoh Bugis Bone La Mappapenning Petta Matinroe ri Tasi’na saat ini berada Kelurahan Kasimpureng, Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba.

Dalam kompleks makam kuno tersebut teridentifikasi sebanyak sebelas makam yang bercampur dengan makam lainnya yang relatif baru. Material makam terbuat dari papan batu padas yang membentuk kotak berundak bertingkat-tingkat.

Bahkan, Kompleks Makam La Mappapenning Petta Matinroe ri Tasi’na ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan surat keputusan Nomor: PM.59/PW.007/MKP/2010, tanggal 22 Juni 2010, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E.

Seyogianya perjuangan La Mappapenning salah seorang pejuang ini mendapat perhatian pemerintah kabupaten Bone setidaknya bekerja sama pemda Bulukumba untuk memperbaiki makamnya. Karena merupakan bukti sejarah perlawanan rakyat Bone terhadap Belanda.