oleh

Contoh filosofi Bugis yang berhubungan dengan laut

Banyak contoh kata-kata yang sering dituturkan nenek moyang suku Bugis yang dinilai mempunyai makna yang sangat dalam. Tutur/ungkapan itu kemudian menjadi filosofi dalam lungkungan kehidupan Bugis itu sendiri.

Dalam memenuhi kebutuhan hidup, Suku Bugis tidak hanya mencari nafkah pada pekerjaan bidang tertentu seperti bidang pertanian melainkan juga pada kehidupan laut. Berikut contoh filosofi Bugis dalam bidang kelautan.

1. Mangkalungung ribulue, massulappe ripottanangnge, makkoddang ritasi’e.

2. Tasi’ magaloang, nasompereng minasa, nainring unga pute, nasitongkoreng baja-baja.

3. Pura babbara’ sompe’ku, pura tangkisi’ golikku, ulebbirenni tellengngé natowalié.

4. Mangumpelle’ bulue, lete bombang tasi’, maddaka laleng ati, inninawa pajokkai.

5. Lopi sagalae, rappe’na wiring langi, mabbola tengnga tasi, nasaba’ pangeloreng siparappe’.

Berikut maknanya:

1. Mangkalungung ribulue, massulappe ripottanangnge, makkoddang ritasi’e.

Berbantal dengan gunung, mengguling dengan daratan, mandi dengan laut. Hal ini bermakna untuk mencari nafkah tidak hanya di gunung sebagai petani kebun, tapi juga di darat sebagai petani sawah dan ladang, serta di laut sebagai petani tambak dan nelayan.

2. Tasi’ magaloang, nasompereng minasa, nainring unga pute, nasitongkoreng baja-baja.

Meskipun mengarungi samudera, apabila dilandasi keinginan keras, dengan hati bersih tulus iklas, semuanya akan berjalan lancar dalam kehidupan sehari-hari.

3. Pura babbara’ sompe’ku, pura tangkisi’ golikku, ulebbirenni tellengngé natowalié.

Bila layar sudah terkembang, kemudi sudah terpasang, aku lebih baik tenggelam dari surut langkah.

Leluhur orang Bugis terkenal sebagai pelaut ulung, yang tangkas dan berani. Mereka menggunakan perahu layar melintasi pulau-pulau.

4. Mangumpelle’ bulue, lete bombang tasi’, maddaka laleng ati, inninawa pajokkai.

Gunung akan melandai, gelombang rata jadi jalanan, bila tertancap di hati semua akan dimudahkan, sebab niat yang menggerakkan.

5. Lopi sagalae, rappe’na wiring langi, mabbola tengnga tasi, nasaba’ pangeloreng siparappe’.

Jika bahtera telah berlayar, walau terdampar hingga ujung langit suatu masa akan mencapai dermaga, sebab hidup itu saling menolong.

Berikutnya