Kumpulan Petuah Bugis

16463

Petuah berarti pesan yang berisi nasihat, peringatan dan pelajaran dari orang tua, orang bijak, dan orang alim.

Di kalangan Bugis, petuah ini terdiri dari Paseng dan Pangaja. Paseng berisi pesan-pesan yang melingkupi masa yang lalu, masa kekinian dan masa akan datang. Sedang Pangaja muncul setelah seseorang melanggar petuah atau melakukan perbuatan yang melanggar norma yang berlaku.

Jadi nasihat atau pangaja bagian dari petuah. Namun keduanya tidak bisa dipisahkan sehingga terangkum menjadi satu kesatuan dalam “petuah”. Berikut kumpulan petuah Bugis :

1. Ade’ temmakké-ana’ temmakké-éppo.
Artinya: “adat tak mengenal anak, tak mengenal cucu”. Dalam menjalankan norma-norma adat tak boleh pilih kasih (tak pandang bulu). Misalnya, anak sendiri jelas-jelas melakukan pelanggaran harus dikenakan sanksi (hukuman) sesuai ketentuan adat yang berlaku.

2. Aja’ mupoloi olona tauwwé.
Artinya: “jangan memotong (mengambil) hak orang lain”. Memperjuangkan kehidupan adalah wajar, tetapi jangan menjadikan perjuangan itu pertarungan kekerasan, saling merampas atau menghalangi rezeki orang lain.

3. Aja’ mumatebe’ ada, apa’ iyatu adaé maéga bettuwanna. Muatutuiwi lilamu, apa’  iya lilaé pawaré-waré.
Artinya: “Jangan banyak bicara, sebab bicara itu banyak artinya. Jaga lidahmu, sebab lidah itu sering mengiris”.

4. Aju maluruémi riala paréwa bola.
Artinya: “hanyalah kayu yang lurus dijadikan ramuan rumah”. Di sini rumah sebagai perlambang dari pemimpin yang melindungi rakyat. Hanya orang yang memiliki sifat lurus (jujur) yang layak dijadikan pemimpin, agar yang bersangkutan dapat menjalankan fungsi perannya dengan baik.

5. Alai cedde’e risesena engkai mappedeceng, sampeangngi maegae risesena engkai maega makkasolang .
Artinya: “ambil yang sedikit jika yang sedikit itu mendatangkan kebaikan, dan tolak yang banyak apabila yang banyak itu mendatangkan kebinasaan”. Mengambil sesuatu dari tempatnya dan meletakkan sesuatu pada tempatnya, termasuk perbuatan mappasitinaja (kepatutan). Kewajiban yang dibaktikan memperoleh hak yang sepadan adalah suatu perlakuan yang patut. Banyak atau sedikit tidak dipersoalkan oleh kepatutan, kepantasan, dan kelayakan.

6. Balanca manemmui waramparammu, abbenengemmui, kia aja’ mupalaowi modala’mu enrengngé bage labamu.
Artinya: “boleh engkau belanjakan harta bendamu, dan pakai untuk berbini, namun janganlah sampai kamu menghabiskan modal dan labamu”. Peringatan pada pedagang (pengusaha) agar dalam menggunakan harta tidak berlebihan sehingga kehabisan modal dan membangkrutkan

7. Dé nalabu essoé ri tengngana bitaraé
Artinya: “tak akan tenggelam matahari di tengah langit”. Manusia tidak akan mati sebelum takdir ajalnya sampai. Oleh karena itu keraguan harus disingkirkan dalam menghadapi segala tantangan hidup.

8. Duwa laleng tempedding riola, iyanaritu lalenna passarié enrengngé lalenna paggollaé.
Artinya: “dua cara tak dapat ditiru, ialah cara penyadap enau dan cara pembuat gula merah”. Jalan yang ditempuh penyadap enau tak tentu, kadang dari pohon ke pohon lain melalui pelepah atau semak belukar, sehingga dikiaskan sebagai menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Pembuat gula merah umumnya tak menghiraukan kebersihan, lantaran nnya itu tak diketahui orang. Kedua sikap di atas tak pantas ditiru karena mempunyai itikad kurang. Hal ini tidak berarti tidak boleh mencari nafkah sebagai  penyadap dan pembuat gula.

9. Iyapa naullé taué mabbainr narékko naulléni magguli-lingiwi dapurengngé wékka pitu .
Artinya: “apabila seseorang ingin beristeri, harus sanggup mengelilingi dapur tujuh kali”. Di sini dapur merupakan perlambang dari masalah pokok dalam kehidupan rumah tangga. Sedangkan tujuh kali merupakan padanan terhadap jumlah hari yang juga tujuh (Senin s/d Minggu). Maksudnya, sebelum berumah tangga supaya memiliki kesanggupan memikul tanggung jawab menghidupi keluarga setiap hari.

Baca Juga :  Sejarah Hari Jadi Sulawesi Selatan

10. Jagaiwi balimmu siseng, mualitutui ranemmu wekka seppulo, nasaba ranemmu ritu biasa mancaji bali.
Artinya: “jagalah lawanmu sekali dan jagalah sekutumu sepuluh kali lipat sebab sekutu itu bisa menjadi lawan”. Terhadap lawan sikap kita sudah jelas, namun yang harus lebih diwaspadai jangan sampai ada kawan berkhianat. Sebab, dengan demikian lawan jadi bertambah, dan membuat posisi rentan karena yang bersangkutan mengetahui rahasia (kelemahan) kita.

11. Lebbi-i cau-caurengngé napellorengngé
Artinya: “lebih baik yang sering kalah daripada yang pengecut”. Orang yang sering kalah, masih memiliki semangat juang meskipun lemah dalam menghadapi tantangan. Sedangkan pengecut, samasekali tak memiliki keberanian ataupun semangat untuk berusaha menghadapi tantangan.

12. Malai bukurupa ricaué, mappalimbang ri majé ripanganroé
Artinya: “memalukan kalau dikalahkan, mematikan kalau ditaklukkan”. Dikalahkan dalam perjuangan hidup karena keadaan memaksa memang memalukan. Sedangkan takluk, sama halnya menyerahkan seluruh harga diri, dan orang yang tak memiliki harga diri sama halnya mati.

13. Mattulu perajo téppéttu siranrang, padapi mapéttu iya
Artinya: “terjalin laksana tali pengikat batang bajak pada luku yang selalu bertautan, tak akan putus sebelum putus ketiganya”. Perlambang dari eratnya persahabatan. Di mana masing-masing saling mempererat, memperkuat, sehingga tidak putus jalin kelingnya. Apabila putus satu, maka semua sama-sama putus.

14. Massésa panga, temmassésa api, massésa api temmassésa botoreng
Artinya: “bersisa pencuri tak bersisa api, bersisa api tak bersisa penjudi”. Betapa pun pintarnya pencuri tak mampu mengambil semua barang (misalnya mengambil rumah atau tanah). Seberapa besarnya kebakaran hanya mampu menghancurkan barang-barang (misalnya tanah masih utuh). Akan tetapi seorang penjudi dapat menghabiskan seluruh barang miliknya (termasuk tanah yang tak dapat dicuri dan terbakar) dalam waktu singkat.

15. Mau maéga pabbiséna nabonngo ponglopinna téa wa’ nalureng
Artinya: “biar banyak pendayungnya, tetapi bodoh juru mudinya”. Kebahagiaan rumah tangga ditentukan oleh banyak hal, tetapi yang paling menentukan adalah kecakapan dan rasa tanggung jawab kepala rumah tangga itu sendiri.

16. Naiya riyasenngé pannawanawa, mapaccingi riatinna, sappai rinawanawanna nalolongenngi sininna adaé enrenngé gau’ é napoléié ja’ enrenngé napoléié décéng
Artinya: “cendekiawan (pannawanawa) ialah orang yang ikhlas, yang pikirannya selalu mencari-cari sampai dia menemukan pemecahan persoalan yang dihadapi, demikian pula perbuatan yang menjadi sumber bencana dan sumber kebajikan”.

17. Naiya tau malempu-é manguru mana-i tau sugi-é
Artinya: “orang yang jujur sewarisan dengan orang kaya”. Orang jujur tidaklah sulit memperoleh kepercayaan dari orang kaya karena kejujurannya.

18. Naiya accae ripatoppoki jékko, ebara’ aliri, narékko téyai mareddu’, mapoloi
Artinya: “kepandaian yang disertai kecurangan ibarat tiang rumah, kalau tidak tercerabut, ia akan patah”. Di Bugis, tiang rumah dihubungkan satu dengan yang lain menggunakn pasak. Jika pasak itu bengkok sulit masuk ke dalam lubang tiang, dan patah kalau dipaksakan. Kias terhadap orang pandai tetapi tidak jujur. Ilmunya tak akan mendatangkan kebaikan (berkah), bahkan dapat membawa bencana (malapetaka).

Baca Juga :  Filosofi Rumah Bugis

19. Narékko maélokko tikkeng séuwa olokolo’ sappak-i batélana. Narékko sappakko dallék sappak-i maégana batéla tau
Artinya: “kalau ingin menangkap seekor binatang, carilah jejaknya. Kalau mau mencari rezeki, carilah di mana banyak jejak manusia”. Pada hakikatnya, manusialah yang menjadi pengantar rezeki, sehingga di mana banyak manusia akan ditemui banyak rezeki.

20. Narékko téyako risarompéngi lipa’, aja mutudang ri wiring laleng
Artinya: “kalau kamu tak sudi terserempet sarung, jangan duduk di tepi jalan”. Duduk di tepi jalan dianggap perbuatan yang tak wajar, karena banyak orang berlalu-lalang. Mengandung nasihat agar menjauhi segala sesuatu yang berbahaya supaya selamat.

21. Narékko maélokko madécéng ri jama-jamammu, attanngakko ri batéla-é. Aja’ muolai batéla’ sigaru-garué, tuttungngi batéla makessinngé tumpu’na
Artinya: “kalau mau berhasil dalam usaha atau pekerjaanmu, amatilah jejak-jejak. Jangan mengikuti jejak yang simpang siur, tetapi ikutlah jejak yang baik urutannya” Jejak yang simpang siur adalah jejak orang yang tentu arah tujuan. Jejak yang baik urutannya adalah jejak orang yang berhasil dalam kehidupan. Sukses tidak dapat diraih dengan semangat saja, melainkan harus dibarengi adanya tujuan yang pasti dan jalan yang benar.

22. Ola’ku kuassukeki, ola’mu muassukeki
Artinya: “takaranku kujadikan ukuran, takaranmu kamu jadikan ukuran”. Setiap orang mempunyai prinsip atau landasan berpikir sendiri-sendiri dalam memandang sesuatu. Oleh karena itu harus ada saling pengertian atau tenggang rasa supaya tak terjadi pertikaian.

23. Paddioloiwi nia’ madécéng ri temmaddupana iyamanenna.

Artinya: “Dahuluilah dengan niat baik sebelum melaksanakan pekerjaan”. Dengan adanya niat baik yang bersangkutan akan tertuntun ke jalan yang benar. Berniat baik saja sudah merupakan kebaikan, apalagi kalau dilaksanakan.

24. Pauno sirié, mappalétté ri pammassareng essé babuaé
Artinya: “malu mengakibatkan maut, iba hati mengantar ke liang”. Rasa malu yang tak terkendali dapat mengundang malapateka (mengundang maut). Perasaan iba yang berlebihan juga dapat membawa kesengsaraan dan mencelakakan (menyebabkan kematian).

25. Pala uragaé, tebakké tongengngé, teccau maégaé, tessiéwa situlaé

Artinya: “berhasil tipu daya, tak akan musnah kebenaran, tak akan kalah yang banyak, tak akan berlawanan yang berpantangan”. Tipu daya mungkin berhasil untuk sementara, tetapi kebenaran tidak termusnahkan. Kebenaran akan tetap hidup bersinar terus dalam kalbu manusia karena ia datang dari sumber yang hakiki, yaitu Tuhan YME.

26. Pura babbara’ sompe’ku, pura tangkisi’ golikku, ulebbirenni tellengngé nato’walié

Artinya: “layarku sudah terkembang, kemudiku sudah terpasang, lebih baik tenggelam daripada kembali”. Semangat yang mengandung makna kehati-hatian dan didasarkan atas acca, yang berarti mendahulukan pertimbangan yang waras dan matang. Pelaut Bugis tak akan berlayar sebelum tiang dan guling serta tali-temali diperiksa cermat dan teliti. Di samping juga memperhatikan waktu dan musim yang tepat untuk berlayar. Setelah segala sesuatunya meyakinkan, barulah berlayar atas dasar kata putus seperti di atas.

27. Rebba sipatokkong, mali siparappé, sirui ménré tessirui no, malilu sipakainge, mainge’pi mupaja.

Artinya: “rebah saling menegakkan, hanyut saling mendamparkan, saling menarik ke atas dan tidak saling menekan ke bawah, terlupa saling mengingatkan, nanti sadar atau tertolong barulah berhenti”. Mengandung pesan agar orang selalu berpijak dengan teguh dan berdiri kokoh dalam mengarungi kehidupan. Juga harus tolong-menolong ketika menghadapi rintangan, dan saling mengingatkan untuk menuju ke jalan yang benar. Jika semua itu dilaksanakan akan terwujud masyarakat yang aman dan sejahtera.

Baca Juga :  Penyebab Seseorang Menjadi LGBT

28.“ Aja nasalaiko nyamekkininnawa sibawa lempu”

Aja nasalaiko riasengnge nyamekkininnawa, iyaritu makurang cai’na, maega a’dampenna, tennapoadang padanna tau tennaponyamengnge, tessitinajae ininnawanna.

Naia riasengnge Lempu’ iyaritu tekkacinnacinnai, tennaeloreng maja padanna rupatau, namitau ri Dewata Seuae.

Artinya :

Janganlah engkau ditinggalkan pikiran nyaman dan baik hati serta kejujuran). Yang dimaksud nyaman pikiran ialah bila dipersalahkan oleh sesama manusia, kurang amarahnya, banyak maafnya. Sedang yang dimaksud dengan “jujur” ialah tidak berkeinginan yang melampaui batas dan tidak bermaksud buruk teradap sesamanya manusia serta takut kepada Tuhan Yang Esa.

29. “Aja nasalaiko acca sibawa lempu”.

” Naia riasengnge acca, de’ gau masala napogau’, deto ada masussa nabali, ada madeceng malemma’e ri padanna rupatau.

Naia riasengnge lempu’, makessingng’e gau’na patujui nawa-nawanna, madeceng ampena, nametau’ ri Dewata Seuae.”

Artinya :

Janganlah engkau ditinggalkan oleh kecakapan (acca) dan kejujuran (lempu). Yang dimaksud cakap (acca) yakni tidak ada pekerjaan yang sukar dikerjakannya dan tidak ada pula pertanyaan yang sukar dijawabnya yaitu kata yang baik dan lembut melekat pada orang lain.

Yang dimaksud jujur (lempu) yakni baik perbuatannya, benar pikirannya, baik tabiatnya dan takut kepada Dewata yang Esa.

30. Aja’ Murette bicara

“Aja’ Murette bicara, narekko mawesso’ko, malupu’ko, macai’ko, cakkaruddu’ko, malasako, pattinangngi, apa’ tellomo-lomo nrette’e bicara monro ri ase sakkalenna.

Artinya :

Janganlah mengadili perkara jika engkau kenyang, lapar, gembira, marah, mengantuk atau sakit, undurkanlah persidangan karena berbahaya memutus perkara dalam kondisi seperti itu.

Kalau pertimbangan telah suci dan hakim pun bersih dalam pandangan Dewata Yang Esa, demikian pula akar bicara (alat bukti utama) dan alat bukti tambahan (kedua pihak) lalu putus, dibenarkanlah pihak yang benar dan dipersalahkan pihak yang salah.

31.Atutuiwi watakkalemu ri bicarae, apa’ ia bicarae mega sapana. Kuaenna : tenriakkeanakeng, tenriakkeepoang, tenriasseajingeng, tenri’aba’bareng nasaba’gelli ri ale, tenriakkamaseang nasaba’ waramparang menre’ wenni.

Narekko riakkeanakengngi, riakkeepoangngi, riasseajingengngi, riasseininnawangngi, ria’ba’barengngi nasaba’ gelli ri ale, ianaritubicara pattongengngi salae, iatona nre’du’I wesse katinna Arungnge, teppalorong welareng, pa’dunu’ raukkaju, teppa’dini wisesa, pakkanre api, pasisalasalai taue ri lalempanua, pallariwi tikka’e, teppa’buai aju-kajungnge ia rianre buana.”

Artinya :

Berhati-hatilah dalam melaksanakan peradilan, sebab peradilan itu banyak pantangannya. Misalnya:tidak mengenal anak dan cucu serta sanak, tidak dipukulkan sebab marah pribadi, tidak dipakai untuk mengasihani sebab barang-barang yang dinaikan di rumah pada waktu malam.

Bilamana diperanakkan, dipercucukan, dipersanakkan, diperhandaitolankan atau dipukulkan karena dendam pribadi itulah peradilan yang membenarkan yang salah, itu pula yang mencabut sumber nafkah raja, tidak memanjangkan keturunan, menggugurkan dedaunan, tidak mendatangkan hasil pertanian, menimbulkan kebakaran, memperselisihkan orang- orang di dalam negeri, memanjangkan kemarau dan tidak membuahkan pepohonan yang dimakan buahnya.