KALA kumandang adzan telah bertalu bersahut-sahutan, aku berusaha membangunkan tubuh ini. Bapak selalu mengajarkan kepadaku untuk membiasakan disiplin dalam hidup. Segera kubasuh muka dengan air wudhu, cepat-cepat kutuntaskan kewajiban sembahyang subuh ini, karena ‘pekerjaan rumah’ sudah menunggu.

Selesai sembahyang aku keluar kamar. Kudapati ibu sedang berkutat dengan pisau, cobek, mengolah berbagai macam sayuran sembari duduk di lantai dapur yang dingin. Sementara di luar Bapak sudah sibuk memanasi motor Pitung-nya di teras depan. “Aida, buatkan bapakmu kopi sana…!” perintah ibu kepadaku.
Segera kubuatkan segelas kopi panas untuk bapakku. Bapakku adalah seorang guru honorer di salah satu Madrasah Tsanawiyah di Kota Yogja, untuk mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn). Pak Yon, adalah nama panggilan bapakku. Kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana, walaupun statusnya masih ”kontrak” tapi sudah lima tahun pemilik rumah masih memperbolehkan keluarga kami memperpanjang kontrak itu hingga sekarang.
Pagi itu saat kuantarkan kopi teras depan, kulihat bapak sedang mengkutak-katik motor kesayangannya itu. Kemudian sontak bertanya padaku. “Gimana sekolahmu nduk?”
”Lancar pak, ini Aida lagi siap-siap buat ujian masuk perguruan tinggi”
”Belajarlah yang giat nduk..sekarang mandi sana, kita berangkat bareng !”, tukas bapak untuk mencukupkan pembicaraan singkat itu.
Aku segera mandi, badanku sudah bersih, aku siap berangkat. Sarapan pun sudah terhidangkan di meja dapur. Kami tidak punya meja makan, sehingga kami biasa makan disembarang tempat. Biasanya di ruang tamu sambil nonton berita di televisi, biasanya lagi saat-saat seperti ini adalah saat di mana bapak akan berubah menjadi negarawan sekaligus kritikus berita. Seperti biasa ibu tidak ikut makan, ibu sibuk menyiapkan dagangannya di teras depan yang disulap menjadi warung makan ’jadi-jadian’, entah untuk menghindari analisis kenegaraan bapak atau memang malas sarapan.
“Nduk, kamu lihat itu…korupsi telah membudaya di negri ini. Budaya Korupsi, disebut budaya karena hal tersebut termanifestasi dalam kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus, dan konon kabarnya dilakukan oleh segala lapisan masyarakat di negri ini. Mungkin asumsi bapakmu ini akan dibantah oleh para budayawan, karena khittahnya budaya itu adalah segala hal yang sifatnya baik-baik semua. Tapi bapak tidak bisa menemukan istilah lain untuk menggambarkan praktek korupsi dinegri ini yang lebih pantas selain dari kata budaya.
Sebagai sebuah aktifitas yang keliru atau salah, kalau kita bicara mengenai terminologi yang haq dan yang bathil, Bapak yakin hati nurani tiap orang pasti akan tergetar bila melakukan hal-hal yang salah. Tetapi kenapa analisis mengenai yang Haq dan Bathil itu kontras dengan semua fakta yang ada. Yang menunjukan bahwa tidak ada orang yang risau, gundah, atau merasa kliru ketika melakukan praktek-praktek seperti itu. Gilanya, orang-orang mengamini ’kesalahan’ sebagai sebuah kenormalan yang ’toh semua juga pernah melakukan’. Damai dengan polisi kalau di-tilang, melobikan keponakan biar diterima kerja kepada bos, salam-tempel, serangan-fajar, uang-pelicin itu adalah hal ’normal’ yang semua juga pernah melakukannya.
Orang mulai lupa pada hati nurani nduk. Ini yang kadang membuat bapak risau karena beban kerusakan ’moral’ bangsa ini sebagian ada di pundak bapak ketika bapakmu ini diberi tanggung jawab mengampu mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (Pkn) di sekolahan nduk.
Bapak takut kalau yang bapak ajarkan kepada murid bapak hanyalah sebuah usaha meng-garami samudra atau melukis di atas air”.
Aku faham apa yang bapak rasakan di dalam hati. Tapi bisa apa aku, Aku tak tahan melihat raut muka bapak yang penuh dengan rasa kecewa. “Nduk, hidup itu butuh pegangan, kamu harus bisa menemukan pegangan hidupmu agar tidak terseret dalam gelombang ke-normalan dari peng-aminan kesalahan.”
Aku agak risih mendengar nasihat itu, Tiba-tiba bapak merubah pembicaraan. “Rencana kuliahmu besok, sudah kepikiran mau masuk fakultas apa?” Selamatlah aku dari kebekuan gerak dan kebingungan jawaban ”Sudah pak, Insya Allah kedokteran”
”Bagus itu, bapak yakin kalau Aida bisa, kamu harus mulai dari sekarang itu belajar dengan pakde Mantri, ayo lekas selesaikan makanmu Nduk. Kita langsung berangkat.”
”Kapan ujian masuknya?”
”Besok minggu pak, bapak antar Aida ya besok!”pintaku
Hari-hari telah berlalu, hitungannya seperti pohon jati yang sedang ’meranggaskan’ daunnya. Jatuh satu demi satu. Sekarang hari Sabtu, aku libur, tidak ada persiapan khusus menjelang besok Minggu yang merupakan hari penentuan nasibku, Ujian Masuk Perguruan Tinggi. Tapi ada satu hal yang membuatku khawatir-berat. Yaitu adalah ketika tidak sengaja kutemukan cetak roentgen di atas lemari ibu. Di dalam amplopnya tertulis diagnosa tumor-payudara stadium awal. Sontak membuat aku kaget. Segera aku lari ke depan rumah. Aku butuh klarifikasi dari ibu. Beliau baru belanja sayuran untuk dagangannya besok di warung depan. Aku tunggui ibu, dengan raut muka campur aduk.
Ibu datang. Aku diam. Ibu langsung masuk kedapur dan sok sibuk dengan sayuran yang dibelinya tadi. Segera kususul dengan cetak potret-roentgen di tangan.
”Bu ini apa bu?”
”Itu cetak-Roentgen ibu nduk”.
”Kenapa ibu tidak kasih tahu Aida, kalau ibu punya tumor-payudara..!!!” rengekanku kepada ibu.
”Buat apa nduk, ibu ndak mau kamu khawatir. Saat mengerjakan ujian sekolah dan besok ketika ujian masuk perguruan tinggi”
”Tapi itu sama saja bohong bu…. ibu bohong sama Aida….”, entah aku sedang menangis atau apa, yang jelas perasaan dihati ini serasa campur aduk.
”Sudah-sudah kamu ndak usah khawatir nduk, itu gambar benjolannya masih kecil kok… baru juga stadiun awal belum masuk rounde berikutnya, toh ibu juga masih bisa beraktifitas normal, kamu tenang saja nduk….” ibu berusaha menenangkan aku.
Sambil tersenyum ibu mengatakan hal itu. Aku bingung dengan senyum ibu. tapi setidaknya kata-kata itu membuat kekhawatiranku sedikit berkurang. Mulut ini seakan sudah kehabisan kata-kata menghadapi senyum ibu….
Hari Minggu tiba. Aku degdegan, bukan karena teror ujian, tapi karena ibu. Pagi ini tidak seperti pagi-pagi biasanya. kegundahan hati mengenai kondisi ibu memenuhi jiwaku pagi ini, inilah yang membedakan antara pagi ini dengan pagi-pagi sebelumnya.  ”Aida, ayo berangkat…!!!’ tegur bapak.
Ragu-ragu menyerang tubuhku. Tapi hidup adalah pilihan. aku harus memilih. Untuk hari ini aku pilih untuk berangkat menunaikan perjuangan menentukan masa depan. ”Wah cantiknya anak ibu ini,” sapa ibu. Segera kucium-tangan ibu sebelum berangkat. Memohon doa restu.
Sesampainya di lokasi. Kulihat ternyata banyak juga sainganku, mereka datang dari Sabang sampai Merauke ke kota ini untuk masuk di universitas yang sama dengan tujuanku. Ujian dimulai. Kukerjakan soal demi soal dengan sungguh-sungguh. Hingga selesai. Ya…semuanya sudah selesai. Sudah kutuntaskan tugasku.
”Sudah selesai Aida…?” tanya bapak kepadaku.
”Sudah pak. Sekarang Aida tinggal tunggu pengumumannya dua minggu lagi”
Dua minggu kemudian. Ternyata Aku diterima. Informasi ini diumumkan di Koran. Bapak juga tahu dari koran dinding disekolahannya. Banyak rekan-rekan sesama guru di sekolahan bapak mengucapkan selamat atas berhasil diterimanya aku di fakultas kedokteran salah satu universitas di Jogja.
Mungkin inilah kenikmatan menjadi orangtua. Bapak menceritakan pengalamannya itu kepada ibu sepulang kerja dengan mata berbinar-binar. Dan aku yang mendengarnya hanya bisa tersipu malu. Kebanggaan itu tidak berlangsung lama, ketika mengetahui syarat biaya masuk yang harus dibayar. Tertulis nominal disana: Rp5 juta, mengakhiri kebanggaan dari orangtuaku. Itu adalah tumbal dari sistem pendidikan di negri ini. ”Uang dari mana, Lima juta harus cair dalam sehari,” pikirku.
Sementara bapak dan ibuku sibuk berkutat mencari pinjaman uang. Aku malah disuruh di rumah, berdoa. Ya…apa yang bisa dilakukan seorang anak perawan lulusan SMA yang tidak memiliki ketrampilan apa-apa selain berdoa.
Tapi aku merasa ada yang ganjil hari ini, hasratku untuk masuk ke perguruan tinggi seketika itu punah. Tepat pukul dua belas siang, Kudapati ibu tiba-tiba sakit sepulang muter-muter cari pinjaman dengan bapak. Badannya panas, tangannya menggigil. Kekhawatiran yang sudah bisa kulupakan itu tiba-tiba hadir kembali. Langsung kusambut ibu dengan pelukan erat, kubawa beliau kekamarnya untuk istirahat.
Bapak pergi lagi. Aneh glagat bapak, sebelum pergi Si pitung motor kesayangannya ’di-lap’ hingga kinclong. Aku tak tahu bapak mau ke mana.
Hari menjelang sore, Bapak ternyata telah menjual motor kesayangannya itu. Hanya laku dua juta. Aku bilang pada bapak ”Pak uang itu sebaiknya digunakan dahulu untuk mengobati ibu” pintaku kepada bapak.”Tapi bagaimana rencana kuliahmu, nduk?” tanyanya.
“Bapak tenang saja, Allah tidak akan meninggalkan hambanya. Aida pasti akan kuliah pak, toh waktu pembayaran uang registrasi kuliahnya juga masih sampai minggu depan kok…pasti ada jalan…!!!” aku yakinkan bapak dan hatiku. Kemudian Ibu segera kami antar ke Rumah Sakit, karena kami semua khawatir kondisinya.
Suatu hari di Rumah Sakit kami kedatangan kunjungan dari orangtua dari salah satu murid di sekolah bapak. Bapak pernah cerita kepadaku bahwa ada satu muridnya bernama Bimo, nakal bukan kepalang, dia tidak pernah memperhatikan pelajaran dan suka membolos. Ketika ujian kemarin si Bimo, tidak diberi nilai oleh bapak karena dia ketahuan mencontek saat ujian. Mungkin kedatangan orangtuanya kemari untuk melobikan masalah itu kepada bapak.
”Pak Yon, kami berdua ini sudah menyerah pak dengan anak ini. Setiap kami nasehati itu seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Kami merasa malu pak dengan kelakuannya pak, apalagi setelah kami mendapat laporan dari bapak tentang kelakuannya di sekolahan,” tutur ibu anak itu.
”Ya..begitulah bu anak-anak. Sebisa mungkin kita harus bisa mengarahkannya, agar tidak terjerumus. walaupun dengan berat hati juga saya mengambil keputusan itu, tapi ini semua demi kebaikan Mas Bimo anak bapak dan ibu,” jawab bapak.
“Betul Pak Yon, tapi anak ini tidak mau mendengar nasihat kami, orangtuanya. Sejak saya bercerai dengan bapaknya Bimo, Bimo tidak mau mendengakan omongan yang keluar dari mulut saya sedikitpun. Apalagi setelah saya menikah dengan suami saya ini, di rumah itu hampir setiap hari kalau saya berhadapan dengan anak itu rebut terus kerjaannya.” Raut muka wanita itu kelihatan sedih. Bapak mulai kehabisan kata-kata untuk ngeles dari curhatan wanita itu.
“Pak Yon” sahut laki-laki disamping ibu Bimo,”Jadi kedatangan kami di sini ini, kami mohon kebijaksanaan dari Pak Yon dalam menindaklanjuti perbuatan yang telah dilakukan Bimo, anak kami…pak”.
”Untuk masalah itu, mungkin nanti akan saya coba cek kembali pak hasil ujiannya Mas Bimo, bapak dan ibu tenang saja,” tutur bapak kepada orangtua Bimo.
Beberapa saat kemudian di hadapan kami, laki-laki itu mengeluarkan sebuah amplop dari saku jaketnya, amplop berwarna coklat muda dan tebal. Rasa penasaran mulai menyerang pikiranku. Laki-laki segera menyerahkan amplop tersebut ketangan bapak. “Maaf, Apa ini pak?”sahut bapak.
Laki-laki itu melirik istrinya sebentar kemudian berkata ”kami sangat mengharap kebijaksanaan bapak terhadap anak kami Bimo, mohon bapak berkenan menerima amplop ini sebagai tanda terimakasih dari kami sebelumnya.”
Raut muka bapak mulai kebingungan, Amplop tersebut kemudian bapak buka, seketika itu pun bapak terkejut. Di dalamnya ternyata berisi satu bendel uang senilai enam jutaan. Akupun terkejut mengetahui hal tersebut. Pikiranku melayang, aku membayangkan ibu bisa segera dioperasi, aku bisa bayar registrasi untuk kuliah, bapak bisa mendapatkan motornya lagi. Dalam hati aku berberkata ”pak terima saja uang itu”, entah apa yang membuat aku punya pikiran itu.
Aku sangat berharap bapak menerima uang itu. ”Begini pak, mungkin dalam beberapa hari ini keluarga saya memang sedang mengalami kesulitan, tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada bapak dan ibu, saya tidak bisa menerima amplop ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tapi untuk masalah Mas Bimo, setelah saya mendengar penjelasan dari ibu dan bapak tentang Mas Bimo. Saya jamin, akan saya cek kembali hasil ujiannya Mas Bimo, jadi saya harap bapak dan ibu tidak usah khawatir dengan hal tersebut,” tutur bapak.
Aku kecewa dengan jawaban bapak itu. Seluruh bayang-bayang indah yang ada di kepalaku seketika itu pupus. Sementara itu setelah mendengar jawaban dari bapak kedua pasangan suami-istri itu pun kemudian berpamitan, kulihat raut muka puas menghiasi wajah mereka. Bapak kemudian menatapku.
”Nduk, kamu tidak apa-apakan?” tanya bapak, Kujawab ”Tidak apa-apa pak”.
”Ada sesuatu yang kadang memang berat untuk diterima dalam hidup ini, tapi seberat apapun hidup. Jangan sekali-sekali kita mengorbankan keyakinan tentang suatu hal yang kita anggap benar” sambung bapak.
Seketika itu juga, aku ingat perbincangan dengan bapak minggu lalu tentang gelombang kenormalan dari pengaminan kesalahan. Aku sadar sekarang. Bapak adalah satu-satunya orang yang benar dan berusaha bertahan di tengah-tengah dominasi kenormalan yang ternyata salah. Silahkan orang berkata apa, yang jelas aku bangga dengan Bapakku.
Sudah lima hari ibu berada dirumah sakit, dan sampai hari kelima inipun kami belum memiliki cukup biaya untuk dapat mengoprasi ibu ataupun membayar registrasi kuliahku. Biar bagaimanapun hidup adalah pilihan, setelah melalui pertimbangan panjang, telah aku pilih satu hal. Aku putuskan untuk tidak mengambil kesempatan kuliah itu. Ada hal yang lebih penting yang harus diselesaikan.
”Bapak Aida sudah memutuskan untuk mengiklaskan kesempatan kuliah Aida,” tuturku kepada bapak.
Bapak kaget mendengar perkataanku barusan,”Mengapa kau berkata seperti itu nduk, jangan menyerah kamu !!!” tegasnya. ”Tenang saja pak, Aida melepaskan kesempatan itu bukan berarti Aida menyerah,  Aida belajar dari bapak, toh ilmu kan tidak hanya didapatkan dari bangku kuliah pak. Kuliah juga tidak menjamin Aida besok jadi apa. Yang penting kan bukan kuliahnya tapi ilmunya. Kan hakekat ilmu itu universal. Aida bisa belajar dulu dari Pakde Mantri sekaligus bantu-bantu beliau.
Tahun depan kan masih bisa Aida daftar kuliah lagi kalau ibu sudah sehat dan bapak sudah tidak ada tanggungan lagi. Jadi tenang saja pak aman terkendali. Dana yang kita punya untuk mengobati ibu dulu saja…” akupun berusaha tersenyum untuk meyakinkan bapak terhadap keputusanku ini.
Ya…apa yang bisa kita perbuat di ’negri tak berhati’ ini selain tersenyum ’menertawai atau ditertawai’ kehidupan. Apakah di negri ini garis pembeda yang haq dan yang bathil telah kabur sehingga orang tidak dapat mengetahui lagi benar atau salah dari perbuatannya.
Apakah di negri ini ’kenormalan’ yang telah mendominasi tindakan manusianya, dan pertimbangan nurani sudah dilupakan. Apakah di negri ini orang-orang yang berusaha benar akan selalu tersubordinasikan oleh iklim ’normal’. Apakah negeri ini benar-benar sudah tak berhati ?.
BAGIKAN