Cerpen : Negeri Tak Berhati

86

KALA kumandang adzan telah bertalu bersahut-sahutan, aku berusaha membangunkan tubuh ini. Bapak selalu mengajarkan kepadaku untuk membiasakan disiplin dalam hidup. Segera kubasuh muka dengan air wudhu, cepat-cepat kutuntaskan kewajiban sembahyang subuh ini, karena ‘pekerjaan rumah’ sudah menunggu.

Selesai sembahyang aku keluar kamar. Kudapati ibu sedang berkutat dengan pisau, cobek, mengolah berbagai macam sayuran sembari duduk di lantai dapur yang dingin. Sementara di luar Bapak sudah sibuk memanasi motor Pitung-nya di teras depan. “Aida, buatkan bapakmu kopi sana…!” perintah ibu kepadaku.
Segera kubuatkan segelas kopi panas untuk bapakku. Bapakku adalah seorang guru honorer di salah satu Madrasah Tsanawiyah di Kota Yogja, untuk mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn). Pak Yon, adalah nama panggilan bapakku. Kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana, walaupun statusnya masih ”kontrak” tapi sudah lima tahun pemilik rumah masih memperbolehkan keluarga kami memperpanjang kontrak itu hingga sekarang.
Pagi itu saat kuantarkan kopi teras depan, k