We Tenriawaru Besse Kajuara Ratu Bone Ke-28 Tahun 1857-1860

Sketsa Foto We Tenriawaru Dilukis oleh Andi Bahrum Jahidin bersama Mursalim Tahun 2016 (Teluk Bone)

We Tenriawaru, Pancaitana, Besse Kajuara, Sultanah Ummulhuda, Matinroe ri Majennang (Suppa Pinrang) adalah Ratu Bone ke-28 memerintah di kerajaan Bone tahun 1857-1860.

Dalam catatan Lontara Akkarungeng ri Bone We Tenriawaru menggantikan suaminya yang bernama La Parenrengi Arung Ugi menjadi mangkau’ di Bone. We Tenriawaru dengan La Parenrengi Arung Ugi selain suami isteri juga bersepupu satu kali, karena kedua orang tuanya bersaudara kandung.

We Tenriawaru Pancaitana Besse Kajuara adalah sosok perempuan tangguh dan militan. Namanya diabadikan sebagai nama jalan, Besse Kajuara, namanya juga diabadikan sebagai nama rumah sakit, yakni Rumah Sakit Pancaitana dan RSUD Tenriawaru.

Di masa pemerintahannya, ketegangan antara Bone dengan kompeni Belanda kembali memanas. Kompeni Belanda hendak memperbaharui Perjanjian Bungaya agar persahabatan Bone dan Belanda tetap kokoh dan terjaga.

Namun, We Tenriawaru Besse Kajuara menolak tegas memperbaharui perjanjian tersebut. Besse Kajuara menolak karena kemenakannya sendiri yang bernama Singkeru’ Rukka (raja Bone ke-29) ingin merebut kedudukannya sebagai Mangkau.

Singkeru Rukka Arung Palakka selalu menghadap kepada kompeni Belanda agar keinginannya untuk menjadi Arumpone dapat disetujui.

Karena ia merasa berhak ditunjuk oleh Adat Tujuh Bone sebagai Arumpone sejak meninggalnya La Parenrengi Arung Ugi Sultan Ahmad Saleh Muhiddin Matinroe ri Ajang Benteng raja Bone ke-27 (1845-1857).

Pada Desember 1859 Gubernur Jenderal Belanda, Van Switten bersama pembesar Kompeni Belanda, Tuan Djensin menyerang Bone. Ternyata di belakangnya ikut Singkeru Rukka Arung Palakka.

Sementara Arumpone We Tenriawaru Besse Kajuara berkedudukan Pasempe, didukung oleh pamannya bernama La Cibu To Lebae Ponggawa Bone untuk melawan Belanda.

Namun, Belanda berhasil membumihanguskan Bone. Serangannya pun semakin kuat. Dengan terpaksa, Besse Kajuara pun menyatakan kalah untuk menghindari jatuhnya banyak korban.

Besse Kajuara lalu meninggalkan Bone menuju Ajatappareng. Dalam perjalanannya menuju Ajatappareng bersama pengikutnya, ia singgah di Polejiwa. Ia dijemput oleh pamannya bernama La Cibu To Lebae, Addatuang Sawitto Ponggawa Bone.

La Cibu To Lebae Addatuang Sawitto berpesan kepada kemanakannya Besse Kajuara untuk memilih tempat menetap di antara tiga wanua, yaitu, Suppa, Sawitto atau Alitta.

Setelah beristirahat beberapa hari, Besse Kajuara meninggalkan Polejiwa melanjutkan perjalanan ke Alitta.

Di Alitta, Besse Kajuara menyuruh anaknya bernama We Cella atau We Bunga Singkeru atau We Tenri Paddanreng untuk menetap.
Sementara dia sendiri melanjutkan perjalanan ke Suppa.

Besse Kajuara menetap di Suppa hingga meninggal dunia. Karena meninggal di Majennang Suppa, sehingga ia diberi gelar Matinroe ri Majennang Suppa.

Selanjutnya