Manurungnge Rimatajang Raja Bone Ke-1 Tahun 1330-1365

Sketsa Foto Manurungnge Rimatajang Dilukis oleh Andi Bahrum Jahidin bersama Mursalim Tahun 2016 (Teluk Bone)

Nama lengkapnya Manurungnge Rimatajang, Matasilompoe adalah Raja Bone Ke-1 yang memerintah tahun 1330-1365. Berjenis kelamin pria. Ia memerintah di kerajaan Bone selama 35 tahun.

Asal usul dan nama aslinya tidak diketahui sehingga dalam makna kias ia hanya dinamai manurungnge artinya orang yang turun dari langit, yaitu orang yang datang dengan maksud dan tujuan untuk memperbaiki. Jadi bukanlah benar-benar turun dari langit.

Kehadirannya bertepatan ketika rakyat Bone sedang bertikai (Bugis: sianre bale) untuk memperebutkan kekuasaan. Dengan kehadiran Manurungnge ia mampu menghentikan pertikaian itu. Lalu ia disepakati menjadi pemimpin Bone setelah melalui musyawarah.

Dalam musyawarah itu melahirkan perjanjian yang disebut perjanjian manurungnge. Bukti perjanjian itu masih bisa dilihat di Jalan Manurungnge Kota Watampone Kabupaten Bone Sulawesi Selatan.

Setelah diangkat menjadi raja kemudian digelar matasilompoe artinya orang yang mampu melihat jauh. Maksudnya ia mempunyai pikiran, pandangan, dan wawasan yang luas.

Sementara kata rimatajang artinya suatu tempat/wilayah yang bernama Matajang sebagai tempat berlangsungnya perjanjian.

Oleh karena itu, manurungnge merupakan peletak dasar berdirinya kerajaan Bone. Dalam pemerintahannya ia mampu menyatukan masyarakat dalam kehidupan yang sentosa.

Dalam struktur kerajaan Bone kedudukan raja biasa juga disebut mangkau. Seorang mangkau otomatis berhak menyandang strata arung (bangsawan).

Sebagai wujud penghargaan rakyat menyebutnya puangta. Dari kata puangta kemudian menjadi petta sampai sekarang. Dengan demikian manurunggnge adalah mangkau yang pertama-tama di kerajaan Bone.

Setelah menjadi raja di kerajaan Bone kemudian Manurungnge mulai mengarur dan menetapkan hak-hak dan kepemilikan semua pihak, yang disebut mappolo leteng.

Manurungnge mampu meredakan segala bentuk kekerasan, menegakkan hukum, peraturan adat yang kesemuanya menjadi norma hukum. Kemudian ia menciptakan bendera kerajaan yang disebut Woromporongnge yang artinya kumpulan berbagai kelompok wanua.

Manurungnge kemudian kawin dengan Manurungnge ri Toro yang bernama We Tenriwale. Toro adalah sebuah kampung terletak di sebelah timur Matajang.

Dari perkawinan itu melahirkan putera-puteri, yaitu: La Ummasa (pria), Pattanra Wanua (pria), We Tenrisalogo (perempuan), dan We Aratiga (perempuan).

Berdasarkan catatan Lontara Akkarungeng ri Bone, Manurungnge wafat tahun 1365 dan ketika itu jasadnya tidak ditemukan sehingga ia disebut mallajang (menghilang). Oleh karena itu tidak ada makamnya.

Detik-detik terakhir hayatnya Munurungnge menunjuk anaknya yang bernama La Ummasa untuk menggantikannya setelah mendapat persetujuan rakyat.

Selanjutnya