La Pabbenteng Raja Bone Ke-33 Tahun 1946-1951

La Pabbenteng adalah Raja Bone Ke-33 (1946-1951). Ia adalah putra Abdul Hamid Baso Pagilingi, Petta Ponggawae, Panglima Perang Bone tahun 1905.

La Pabbenteng atau biasa juga disapa Andi Pabbenteng Petta Lawa, Sultan Idris, Arung Macege ini merupakan cucu langsung Raja Bone Ke-31 La Pawawoi Karaeng Sigeri.

La Pabbenteng menjadi raja di Bone ke-33 diangkat oleh NICA (Nederland Indiche Civil Administration).

 

NICA merupakan organisasi yang dibentuk Belanda dan sekutunya dengan tujuan untuk berkuasa kembali di Indonesia, setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya 17 Agustus 1945 oleh Sukarno-Hatta.

Setelah La Mappanyukki Raja Bone Ke-32 (1931-1946) berhenti sebagai raja Bone, maka tidak ada lagi putra mahkota yang dapat menggantikannya kecuali La Pabbenteng Petta Lawa Arung Macege. Oleh sebab itu, NICA mengangkatnya menjadi Raja Bone atas persetujuan Ade’ Pitu Bone.

Dalam struktur kerajaan Bone, jabatan raja biasa juga disebut mangkau, yang artinya seseorang yang diberikan amanah oleh rakyat menjadi pemimpin.

Mangkau berasal dari kata “mangkok” artinya sebuah wadah/tempat. Sehingga mangkau disimbolkan sebagai sebuah wadah untuk menampung aspirasi masyarakat. Mereka adalah orang pertama bertanggung jawab memimpin kerajaan serta memberikan kesejahteraan dan perlindungan kepada rakyat.

Sebelum diangkat menjadi raja/mangkau di Bone, La Pabbenteng dekat dengan NICA dan selalu bepergian bersama-sama. Oleh karena itu, La Pabbenteng diberi pangkat kemiliteran, yaitu Kapten Tituler.

Setelah diangkat menjadi raja Bone, La Pabbenteng dinaikkan pangkatnya oleh NICA menjadi Kolonel Tituler.

Setelah La Mappanyukki Raja Bone Ke-32 (1931-1946) berhenti menjadi raja di Bone, maka tidak ada lagi putra mahkota yang dapat menggantikannya kecuali La Pabbenteng yang posisinya pada saat itu sebagai Arung Macege.

Oleh karena itu, NICA mengangkatnya menjadi raja Bone atas persetujuan anggota Ade’ Pitu Bone (sejenis DPR/D sekarang).

Pada awal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 1945, Belanda kembali melakukan agresi kekuasaan di beberapa wilayah Indonesia.

Untuk melemahkan Proklamasi 1945, pihak Belanda menciptakan negara-negara Boneka. Dengan dukungannya, menghidupkan kembali kekuasaan wilayah-wilayah Kerajaan.

Pada 24 Desember 1946 wilayah Indonesia bagian timur berdiri sebuah pemerintahan yang bernama “Negara Indonesia Timur atau NIT”. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir separuh daerah Karesidenan yang ada di Sulawesi Selatan dan Tenggara, pada saat itu.

Lembaga Pemerintahannya dinamakan Hadat Tinggi. Lembaga ini La Pabbenteng ditunjuk sebagai Ketua Hadat Tinggi dan Andi Ijo sebagai Wakil Ketua Muda.

Pada 27 Desember 1949 pihak Belanda menyerahkan kedaulatan kekuasaan kepada RI, sehingga Negara Indonesia Timur sebagai negara boneka bentukan Belanda juga dibubarkan.

Selanjutnya, pada 26 April 1950, Andi Ijo selaku Ketua Muda Hadat Tinggi menyatakan bergabung dalam pemerintahan RI dan melepaskan diri dari “Negara Indonesia Timur” yang masih pimpinan La Pabbenteng.

Pada tahun 1952, Pemerintahan Hadat Tinggi Daerah Sulawesi Selatan resmi dibubarkan oleh Pemerintah RI, dan berubah menjadi Pemerintah Daerah “Kabupaten” hingga sekarang.

Setelah berhenti sebagai mangkau di kerajaan Bone La Pabbenteng hijrah ke Surabaya bersama keluarga dan 3 putra-putri beliau, yaitu Andi Junus Idris, Andi Khaimuddin, dan Andi Chandra.

Beberapa tahun kemudian beliau beserta keluarga kembali ke Watampone. Hanya seorang putranya, Andi Junus Idris yang tetap hidup dan berkeluarga di Jawa dengan 4 Putra-putrinya, di kota Surabaya.

Rumah tinggal beliau di Watampone masih berupa rumah adat Bone, rumah panggung yang terbuat dari kayu sampai sekarang.

Rumah tinggal Raja Bone itu masih tetap terjaga dan terawat oleh putra beliau Andi Khaimuddin beserta keluarga. Rumah tersebut terletak di Jln. Makmur, Watampone. Sebuah rumah sederhana yang menjadi bagian dari situs dan saksi sejarah raja Bone terakhir.

Rumah yang pernah beliau tinggali ketika di Surabaya, terletak di Jln. Teluk Bone – Perak dan di Jln. Bubutan – Maspati IV, Tetapi sudah berubah bentuk/Renovasi.

Tahun 1967 La Pabbenteng wafat dan dimakamkan berdekatan Ayahandanya Abdul Hamid Baso Pagilingi, Petta Ponggawae Panglima Perang Bone 1905 di kompleks permakaman Desa Matuju Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone.

Sejarah mencatat, bahwa beliau pernah menjadi raja/mangkau di Bone yang sekaligus menutup sistem kerajaan di Tana Bone. Ia tetap dikenang dan terus menjadi kebanggaan anak-cucu dan masyarakat Bone itu sendiri.