La Tenrirawe Bongkangnge Raja Bone Ke-7 Tahun 1560-1564

La Tenrirawe Bongkangnge Matinroe Rigucinna adalah raja Bone ke-7 yang memerintah tahun 1560-1564. Ia menggantikan ayahnya yang bernama La Uliyo Botee (raja Bone ke-6).

La Tenrirawe kawin dengan We Tenripakiu Arung Timurung Maccimpoe (anak dari La Maddussila dengan isterinya We Tenrilekke).

La Tenrirawe dengan isterinya We Tenripakiu Arung Timurung Maccimpoe melahirkan dua orang anak, yaitu La Maggalatung dan We Tenrisompa. La Maggalatung meninggal sewaktu masih kecil dan We Tenrisompa juga meninggal karena dibunuh oleh Dangkali.

Semasa memerintah, La Tenrirawe dicintai oleh rakyatnya karena berbudi pekerti yang baik, jujur, dermawan, adil dan bijaksana. Tidak membedakan antara keluarganya yang memiliki turunan bangsawan dengan keluarganya dari orang biasa.

La Tenrirawe yang pertama-tama membagi tugas-tugas (makkajennangeng) seperti: yang bertugas mengurus jowa (pengawal), yang bertugas mengurus anak bangsawan dan yang mengurus wanua (negeri).

Pada masa pemerintahannya pernah dikunjungi oleh Karaeng Gowa untuk menyabung ayam. Dalam pertarungan itu, ayam Karaeng Gowa terbunuh oleh ayam La Tenrirawe dengan taruhan seratus kati.

Pada masa pemerintahannya pula seluruh orang Ajangngale datang menggabungkan diri di kerajaan Bone. Ia memperluas wilayahnya dengan menyerbu Awo, Teko, dan Attassalo.

Tellumpoccoe juga datang menggabungkan diri, kemudian didudukkan sebagai daerah bawahan (palili) dari Bone. Hal ini membuat Karaeng Gowa marah.

Kemudian Karaeng Gowa dengan laskarnya masuk menyerbu Bone. Mereka bertempur sebelah selatan Mare. Namun setelah pertempuran tujuh hari tujuh malam, keduanya berdamai. Dalam perdamaian itu, wilayah kekuasaan Bone bagian selatan bertambah meliputi Sungai Tangka ke atas.

Kemudian Datu Soppeng Rilau yang diturunkan dari takhtanya datang ke Bone untuk minta perlindungan. Karena Datu Soppeng Rilau yang bernama La Makkarodda To Tenribali Mabbeluwae merasa terdesak.

Tidak lama setelah berada di Bone, La Makkarodda To Tenribali kawin dengan saudara La Tenrirawe yang bernama We Tenripakkuwa. Dari perkawinannya itu lahir anak perempuan yang bernama We Dangke, We Basi Lebba’e ri Marioriwawo.

Saudara La Tenrirawe Bongkangnge yang bernama We Lempe’ kawin dengan sepupu dua kalinya yang bernama La Saliwu Arung Palakka. Dari perkawinannya itu melahirkan anak yang bernama La Tenriruwa Matinroe ri Bantaeng.

Pada suatu masa Bone diserang oleh Gowa dan terjadilah perang di Cellu. Perang berlangsung lima hari lima malam dan orang Gowa mundur.

Dua tahun kemudian Gowa kembali menyerang dan kali ini perang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Orang Gowa mengambil pertahanan di Walenna, tetapi Karaeng Gowa tiba-tiba terserang penyakit, maka ia harus kembali ke kampungnya. Konon, ketika sampai di Gowa ia pun meninggal dunia.

Hanya kurang lebih dua bulan kemudian, datang lagi Karaeng Gowa yang bernama Daeng Parukka yang menggantikan ayahnya untuk kembali menyerang Bone.

Mendengar bahwa Gowa kembali, maka seluruh orang Ajangale dan orang Timurung datang membantu Bone. Sementara Limampanua Rilau Ale’ mengambil posisi di Cinennung.

Sementara orang Awangpone mengambil posisi di Pappolo berdekatan dengan benteng pertahanan Karaeng Gowa. Terjadilah perang yang sangat dahsyat. Orang Gowa menyerbu ke arah selatan, dan membakar Bukaka namun akhirnya Karaeng Gowa tewas terbunuh.

Daeng Padulung yang menjadi pemimpin Gowa dalam perang itu, nampaknya kewalahan menghadapi serangan orang Bone. Oleh karena itu Karaeng Tallo memerintahkan utusannya untuk menemui Arumpone.

Adapun yang disampaikan oleh utusan Karaeng Tallo adalah: “Kami telah kehilangan dua Karaeng, yaitu satu tewas di tempat tidur dan satu lagi tewas di lapangan. Tetapi sekarang kami menghendaki kebaikan”.

Penasihat kerajaan Bone La Mellong Kajao Laliddong menjawab: ”Kalau begitu pendapatmu, besok pagi saya akan menemui Karaengenge”.

Keesokan harinya Kajao Laliddong menemui Karaeng Tallo. Dalam pertemuannya itu terjadilah kesepakatan damai. Kemudian Daeng Patobo diangkat menjadi Karaeng ri Gowa.

La Tenrirawe Bongkangnge juga pernah bertentangan dengan Datu Luwu yang bernama Sagariya. Karena orang Luwu kembali menguasai Cenrana. Sehingga Cenrana telah dua kali direbut dengan riala bessi (kekuatan senjata) oleh orang Bone.

Untuk memperkuat kedudukan Bone sebagai suatu kerajaan yang tangguh, La Tenrirawe menjalin hubungan kerja sama dengan Arung Matowa Wajo yang bernama To Uddamang.

Begitu juga dengan Datu Soppeng yang bernama Pollipue. Maka diadakanlah pertemuan di Cenrana untuk memperkuat hubungan antara Bone, Soppeng, dan Wajo.

Adapun kesepakatan yang diambil di Cenrana adalah ketiganya akan mengadakan pertemuan lanjutan di Timurung.

Setelah sampai pada waktu yang telah ditentukan, maka berkumpullah orang Bone, Soppeng, dan Wajo di suatu tempat yang bernama Bunne.

Ketiganya mengucapkan ikrar yang intinya : Tessiabiccukeng Tessiacinnai ulaweng tasa pattola malampe waramparang maega” (tidak saling memandang rendah tidak saling iri hati merebut harta dan saling mengakui kepemilikan).

Setelah itu barulah ketiganya mallamumpatu (meneggelamkan batu) sebagai tanda kuatnya perjanjian tersebut, sehingga disebutlah Lamumpatue ri Timurung yang kemudian disebut perjanjian Tellumpoccoe.

Dua tahun setelah perjanjian Tellumpoccoe, La Tenrirawe Bongkangnge memanggil saudaranya yang bernama La Inca. Beliau menyampaikan, bahwa setelah tiba ajalnya, maka saudaranyalah La Inca yang diserahkan kedudukan sebagai Mangkau’ di Bone karena dirinya tidak memiliki anak pattola (putra mahkota).

La Tenrirawe Bongkangnge meninggal tahun 1564, jenazahnya dibakar dan abunya dimasukkan ke dalam guci, maka digelarlah La Tenrirawe Bongkangnge Matinroe ri Gucinna.

Dari catatan : Lontara Akkarungeng ri Bone.