La Inca Matinroe Risapana Raja Bone Ke-8 Tahun 1564-1565

La Inca Matinroe Risapana adalah raja Bone ke-8 yang memerintah tahun 1564-1565. Ia menggantikan saudara kandungnya yang bernama La Tenrirawe Bongkangnge (raja Bone ke-7). Kedudukan ini memang telah diserahkan ketika La Tenrirawe Bongkangnge masih hidup.

Sebelumnya La Tenrirawe Bongkangnge berpesan kepadanya agar nanti manakala sampai ajalnya, agar La Inca mengawini iparnya yang bernama We Tenripakiu Arung Timurung (bekas isteri La Tenrirawe Bongkangnge).

Setelah La Inca menjadi raja Bone, kemudian Karaeng dari kerajaan Gowa datang untuk menyerang kerajaan Bone. Ternyata La Inca tidak mewarisi kepemimpinan yang telah dilakukan oleh saudaranya La Tenrirawe Bongkangnge.

Banyak langkah-langkah yang dilakukan La Inca sangat merugikan orang banyak. Kehendaknya jua harus berlaku. Para Arung Lili dimarahi dan dihukumnya.

Salah seorang Arung Lili yang bernama La Patiwongi To Pawawoi diasingkan ke Sidenreng. Namun karena sudah terlalu lama berada di Sidenreng, akhirnya ia pun kembali ke Bone untuk minta maaf kepada La Inca.

Akan tetapi apa yang dialami setelah kembali di Bone, malah La Patiwongi To Pawawoi dibunuh La Inca. Dalam catatan lontara akkarungeng ri Bone tidak jelas mengapa ia dibunuh.

Tidak hanya La Patiwongi To Pawawoi akan tetapi To Saliwu Riwawo Arung Paccing mengalami nasib yang sama, dan masih ada bangsawan Bone lainnya yang tidak tercatat.

Pada suatu hari La Inca melakukan tindakan yang sangat memalukan, yaitu mengganggu isteri orang. Karena didapati oleh suaminya, La Inca lantas mengancam orang tersebut akan dibunuhnya sehingga orang tersebut melarikan diri.

Untuk menutupi kesalahannya, malah isteri orang tersebut yang dibunuh. Kemarahan La Inca belum cukup sampai di situ, lalu membakar Kota Bone dan Macege. Orang Bone pun mengungsi ke Majang.

Melihat orang Bone berlarian mengungsi, lalu Arung Majang bertanya, “Ada apa gerangan di Bone?”

Dengan ketakutan orang Bone berkata ; ”Kami tidak bisa mengatakan apa-apa, Puang. Silakan Puang melihat sendiri bagaimana Bone sekarang”.

Mendengar jawaban orang Bone, kemudian Arung Majang keluar melihat ke arah Bone. Disaksikan nyala api yang melalap rumah-rumah penduduk yang dibakar oleh La Inca.

Arung Majang kemudian menyuruh beberapa orang ke Palakka untuk memanggil I Damalaka. Tidak lama kemudian I Damalaka pun tiba di Majang. Sesampainya di rumah Arung Majang ia pun disuruh untuk ke Bone menghadapi La Inca.

Kemudian I Damalaka menyuruh salah seorang untuk pergi menemui raja Bone La Inca dan menyampaikan agar tindakannya yang brutal itu dihentikan.

Akan tetapi setelah orang itu tiba di depan La Inca, ia pun dibunuh. Setelah itu, La Inca bahkan semakin mengamuk, ia membakar semua rumah yang ada di Lalebbata (kota Bone). Maka habislah rumah di Bone, hanya menyisakan puing-puing.

Mendengar itu, Arung Majang kemudian berangkat ke Bone disusul oleh I Damalaka untuk menghadapi La Inca yang tidak lain adalah cucunya sendiri.

“Mari kita menghadapi La Inca, dia bukan lagi sebagai Arumpone (raja Bone) karena telah melakukan pengrusakan”. Maka berangkatlah semua orang mengikuti Arung Majang termasuk I Damalaka.

Tiba di Bone didapatinya La Inca berdiri sendirian di depan rumahnya. Setelah melihat orang banyak datang, La Inca lalu menyerbu dan menyerang membabi buta.

Banyak orang yang dibunuhnya pada saat itu dan bagi yang kuat masih mampu bertahan.
Namun karena dikeroyok, akhirnya La Inca kehabisan tenaga.

Karena kelelahan, ia pun melangkah menuju sapana (tangga rumahnya). Lalu ia bersandar dengan nafas yang terputus-putus.

Melihat cucunya sekarat, Arung Majang timbul naluri kemanusiaannya, lalu berlari mendekati dan memangku kepalanya. La Inca pun mengembuskan nafasnya yang terakhir.

Oleh karena itu disebutlah La Inca Matinroe ri Sapana (yang meninggal di tangga rumahnya).

Adapun anak La Inca dari hasil perkawinannya dengan We Tenripakiu Arung Timurung Maccimpoe adalah: La Tenripale To Akkeppeang dan We Tenrisello Makkalarue.

Untuk menggantikan La Inca, maka Arung Majang mengumpulkan orang Bone lalu berkata : ” Inilah cucuku yang bernama La Pattawe yang kita sepakati menggantikan sepupunya La Inca”.

Dari Catatan: Lontara’ Akkarungeng ri Bone, Oleh: Drs. A. Amir Sessu Mantan Kasi Kebudayaan Kandep Dikbud Kabupaten Bone yang Diterbitkan dengan Biaya Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tahun 1985.

Selanjutnya