oleh

Peta Geopolitik Sulawesi Selatan Tahun 1590

Peta geopolitik Sulawesi Selatan sekitar tahun 1590 yang menggambarkan pembagian semenanjung antara Gowa-Tallo’ dan aliansi Tellumpoccoe

Pada masa lalu di Sulawesi Selatan berdiri sejumlah kerajaan/negara yang berdaulat. Untuk mempertahankan wilayah dan eksistensinya beberapa kerajaan berdaulat membentuk konfederasi. Salah satu yang konfederasi yang kita kenal di Sulawesi Selatan adalah Konfederasi Ajattappareng.

Negara konfederasi adalah negara yang terdiri dari persatuan negara-negara yang berdaulat. tujuannya adalah untuk mempertahankan kedaulatan dalam negara konfederasi.

Negara federal (serikat) adalah suatu negara yang merupakan gabungan dari beberapa Negara, yang menjadi Negara-negara bagian dari Negara serikat itu.

ALIANSI TELLUMPOCCOE TAHUN 1582

Persekutuan Tellumpoccoe adalah suatu aliansi antara tiga kerajaan Bugis di Sulawesi Selatan, yaitu Bone, Wajo, dan Soppeng dalam menghadapi kekuatan dua kerajaan kembar Makassar, yakni Gowa-Tallo.

Persekutuan Tellumpoccoe yang diprakarsai kerajaan Bone ini dikukuhkan dalam perjanjian pada tahun 1582 di Bunne, Timurung, Bone utara, berupa upacara sumpah disertai menghancurkan telur dengan batu.

Inti persekutuan ini Bone diakui sebagai saudara tua, Wajo saudara tengah, dan Soppeng saudara muda, yang diurutkan berdasarkan luas masing-masing kerajaan.

Ketiga kerajaan akan saling melindungi satu sama lain, dan ekspansi hanya akan diadakan ke luar wilayah tiga kerajaan tersebut. juga akan dibela apabila Gowa memperlakukannya sebagai budak.

Karaeng Matoaya Gowa-Tallo masuk Islam pada tahun 1605, yaitu setahun setelah Datu Luwu La Patiware’ Daeng Parabbung yang telah lebih dahulu masuk Islam. Hal tersebut membawa warna baru dalam hubungan antara Gowa-Tallo dengan kerajaan-kerajaan Bugis selanjutnya, meskipun persaingan dan peperangan telah lama terjadi sebelum kedatangan Islam di Sulawesi Selatan.

Kekompakkan persekutuan Tellumpoccoe teruji pada tahun 1608 saat terjadi Pertempuran Pakenya antara Gowa-Tallo melawan Soppeng, dan kembali pada tiga bulan setelahnya dalam perang antara Gowa-Tallo melawan Wajo.

Pasukan Gowa-Tallo di bawah pimpinan Karaeng Matoaya berhasil dipukul mundur pada dua peristiwa itu. Namun, persekutuan mulai goyah setelah Datu Soppeng Beowe masuk Islam tahun 1609 mengikuti ajakan Gowa.

Kemudian Gowa dan Soppeng bersama-sama menghadapi kerajaan-kerajaan Bugis lainnya, sehingga Arung Matoa Wajo La Sangkuru Patau antara tahun 1609-1610 juga masuk Islam, dan akhirnya Arumpone Bone La Tenripale juga dapat dikalahkan dan memeluk agama tersebut tahun 1611.

Di saat satu demi satu kerajaan-kerajaan Bugis tersebut menyerah, Karaeng Matoaya dari Gowa-Tallo tidak menuntut denda perang, melainkan hanya meminta agar mereka mengucapkan syahadat saja.

Gowa-Tallo kemudian menyarankan agar Persekutuan Tellumpoccoe dipelihara kembali oleh Bone, Wajo, dan Soppeng untuk menghadapi musuh yang merugikan agama, sedangkan musuh dari seberang lautan akan dihadapi oleh Gowa-Tallo.

Setelah wafatnya Karaeng Matoaya yang alim dalam beragama, perseteruan Bone dan Gowa timbul kembali, yang berujung pada perang yang berlarut-larut di antara kedua kerajaan tersebutnya.

Bone dan Gowa silih berganti berupaya menguasai hagemoni berbagai kerajaan di Sulawesi Selatan, hingga akhirnya Gowa berhasil dikalahkan dan menandatangani Perjanjian Bungaya.

AJATTAPPARENG

Ajatappareng adalah sebuah kawasan di bagian barat Sulawesi Selatan yang meliputi wilayah historis dari persekutuan lima kerajaan kecil: Sidenreng, Suppa, Rappang, Sawitto, dan Alitta.

Persekutuan lima kerajaan ini dibentuk pada abad ke-16 sebagai respons terhadap meningkatnya pengaruh Gowa-Tallo di selatan dan Tellumpoccoe yang melibatkan tiga kerajaan Bugis (Bone, Wajo, dan Soppeng) di bagian timur Sulawesi Selatan.

Ajatappareng menjadi kekuatan yang berpengaruh di Sulawesi Selatan hingga kemundurannya pada abad ke-17. Bekas konfederasi ini kini menjadi bagian dari beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.

Ajatappareng dalam bahasa Bugis adalah sebelah barat danau. Ajang artinya barat, Tappareng artinya danau. Bila kedua kata disatukakan sehingga menjadi Ajangtappareng atau yang lebih populer dengan penyebutan Ajattappareng.

Adapun danau yang dimaksud adalah Danau Tempe, Danau Sidenreng, dan Danau Buaya di bagian tengah Sulawesi Selatan. Jangkauan geografis Ajattappareng meliputi wilayah modern empat kabupaten dan satu kotamadya (Parepare).

Wilayah bekas Sawitto dan Alitta kini menjadi bagian dari Kabupaten Pinrang. Sementara Sidenreng dan Rappang menjadi Kabupaten Sidenreng Rappang serta kecamatan Maiwa, Enrekang. Kemudian wilayah Suppa kini terpecah antara sebagian daerah Pinrang, sepotong wilayah Barru, serta keseluruhan Kota Parepare.

Ajatappareng memiliki bentang alam yang beragam, mulai dari perbukitan di utara hingga dataran hijau yang subur di bagian tengah dan selatan. Wilayah ini juga dialiri oleh berbagai sungai yang memberikan air untuk irigasi pertanian padi lahan basah.

Keadaan alam yang menguntungkan ini menjadikan Ajattappareng salah satu penghasil beras utama di Sulawesi Selatan. Seorang penjelajah Portugis yang mengunjungi Sidenreng pada tahun 1540-an menyebutkan bahwa negeri tersebut kaya akan beras dan hasil tani lainnya.

Sejak abad ke-13, masyarakat Sulawesi Selatan mulai mengelompok menjadi wanua kecil yang berbasiskan pertanian intensif, termasuk di wilayah Ajattappareng.

Menurut catatan lontara (sejarah), negeri Sidenreng dan Rappang didirikan tak lama setelah Kerajaan Bone berdiri pada sekitar tahun 1300-an. Kedua kerajaan ini pada dasarnya merupakan negara agraris yang berbasis pada pertanian padi sawah.

Berbeda dengan Suppa yang berada di wilayah pesisir dan menggantungkan ekonominya pada perdagangan. Pertumbuhan awal kerajaan ini dibuktikan dengan temuan arkeologis berupa temuan pecahan keramik, yang sebagian besarnya diperkirakan berasal dari dinasti Ming pada abad ke-15 dan ke-16.

Pemrakarsa Konfederasi :

Penaklukan Melaka oleh Portugis tahun 1511 menyebabkan beralihnya sebagian besar pedagang, terutama pedagang Muslim ke bandar-bandar baru yang bebas dari pengaruh Eropa. Termasuk di antaranya bandar-bandar di bagian barat jasirah Sulawesi Selatan, seperti Siang (Pangkep), Tallo, Somba Opu, dan Bacukiki (Suppa).

Sebagai pusat niaga, Suppa merupakan salah satu pemain kunci di Ajattappareng juga sebagai pemrakarsa persekutuan antarkerajaan di wilayah tersebut.

Menurut sumber lisan, konfederasi ini dipelopori oleh Datu Suppa ke-7 La Pancaitana, yang sekaligus merupakan penguasa Sawitto dan Rappang.

Namun sumber lain menyebut, bahwa penguasa Suppa yang menjadi pelopor persekutuan adalah Datu ke-4 La Makkarawi atau La Makaraie, bersama-sama dengan La Paleteang dari Sawitto, La Pateddungi dari Sidenreng, serta La Pakallongi dari Rappang yang merangkap sebagai wakil dari Alitta.

Konfederasi ini didirikan pada saat yang sama dengan atau sebelum pembentukan persekutuan Tellumpoccoe. Beberapa sumber menyebut konfederasi Ajattappareng dibentuk tahun 1523, 1540, hingga 1582.

Konfederasi ini dikenal dengan nama LimaĆ© Ajatappareng atau Lima Ajattappareng, yang dicirikan dalam ikrar pembentukan sebagai “satu rumah lima kamarnya,” yang ditafsirkan sebagai satu bangsa dengan lima anggota konfederasi.

Ajattappareng berkembang menjadi kekuatan politik yang berpengaruh besar di Sulawesi, menggunakan kekuatan maritimnya untuk menyokong Suppa sebagai bandar niaga utama.

Sumber-sumber lontara menyebutkan bahwa Suppa dan Sawitto pernah menundukkan, atau setidaknya menyerang, wilayah Leworeng, Lemo-Lemo, Bulu Kapa, Bonto-Bonto, Bantaeng, Segeri, Passokreng, Baroko, Toraja, Mamuju, Kaili, Kali dan Toli-Toli.

Masa Kemunduran Konfeferasi :

Kebangkitan Gowa pada pertengahan abad ke-16 menggoyahkan pengaruh Suppa dan Sawitto di pesisir barat Sulawesi. Kronik Gowa mencatat, bahwa penguasa Gowa Tunipalangga (1546-1565) pernah menyerbu Suppa, Sawitto, dan Alitta serta menawan dan membawa sebagian orang-orang mereka ke Gowa.

Sejarawan Leonard Andaya berpendapat, bahwa yang dimaksud di sini adalah para pedagang Melayu yang ditarik ke Gowa untuk berdagang di sana.

Di sisi lain, berdasarkan naskah-naskah Suppa dan Sawitto yang menyinggung mengenai penawanan dan pembantaian bangsawan-bangsawan mereka oleh Gowa, sejarawan Stephen C. Druce berpendapat, bahwa penaklukan Gowa atas kerajaan-kerajaan ini juga diiringi dengan perbudakan penduduknya.

Druce juga menyebut bahwa penyerbuan ini mengakhiri persaingan kekuasaan di pesisir barat Sulawesi Selatan, serta mengukuhkan posisi Gowa sebagai kekuatan utama di kawasan tersebut.

Walaupun Sidenreng dan Rappang sempat bersekutu dengan Gowa demi mempertahankan kedaulatan mereka, pengaruh keduanya semakin memudar, dan pada tahun 1609, seluruh wilayah Ajatappareng telah ditaklukkan oleh Gowa.

Pengaruh bandar-bandar di wilayah Ajatappareng semakin melemah setelah jatuhnya Makassar ke VOC, diikuti dengan penerapan monopoli dagang seiring berlakunya Perjanjian Bungaya. Suppa dan Sawitto, yang pada saat itu telah menjadi vasal dari Gowa-Tallo, terpaksa mengikuti perjanjian dan mengalihkan segala bentuk perdagangan ke bandar Makassar yang dikuasai VOC.

Bukti-bukti arkeologis juga menunjukkan berkurangnya jumlah keramik di wilayah Ajatappareng sejak akhir abad ke-17.

Dalam kenyataannya, kekuatan geopolitik yang terbentuk pada masa lalu itu masih terasa pengaruhnya sampa sekarang. Hal itu tampak pada pemilihan figur dalam proses politik daerah dan nasional.

Berikutnya