oleh

Menggendong Gunung

M e n g g e n d o n g G u n u n g

Tuhan telah menyediakan berbagai sumber kehidupan, ada Gunung, lembah, dan lautan. Kesemuanya ini menjadi tempat bagi seluruh mahluk-Nya untuk mengais rezeki agar bisa bertahan hidup.

Dari sekian banyak mahluk itu, manusia yang paling ditinggikan derajatnya serta dibekali akal, pikiran, dan perasaan. Akan tetapi dalam faktanya dari semua jenis mahluk, manusia pula yang paling rakus.

Manusia adalah jenis mahluk yang suka membangun sekaligus perusak. Potensi karsa dan ciptanya itu kerap digunakan untuk membunuh dirinya sendiri. Mereka gemar merusak alam tempat tinggalnya.

Ia suka menelanjangi alamnya tanpa perhitungan demi mencapai kepuasannya yang pada akhirnya penyesalan ada di belakang hari. Meskipun ia tahu sebelumnya kalau hal itu akan menjadi bumerang dalam hidupnya.

Terkait hal itu, Nenek Moyang Bugis sebenarnya sudah mewanti-wanti, bahwa pada suatu saat nanti terjadi hal-hal yang mau tidak mau mutlak terjadi. Ia pun menitip pesan turun temurun untuk anak, cucu, cicit, dan generasinya agar senantiasa terus waspada dalam menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi.

 

Sebagaimana pesan bijak, Jagalah alam-mu karena tempat tinggal-mu dan turunan-mu. Hal ini mempunyai makna yang sangat urgen yang mengajarkan kepada kita agar memanfaatkan alam dengan bijak.

Sebuah filosofi Bugis yang biasa kita dengar, yang berbunyi :

” Mangangkalung ribulue, massulappe ripottanangnge, makkoddang ritasie ”

Artinya :

” Gunung adalah bantal-mu, lembah/darat adalah guling-mu, lautan adalah minum-mu “. Hal ini bermakna, bahwa Tuhan telah menyediakan kepada kita tiga tempat untuk mencari rezeki, yakni gunung, lembah, dan lautan. Ketiga tempat ini saling menghidupi satu sama lain.

Walaupun lautan berada pada posisi paling rendah, tetapi tanpa kehadiran laut gunung akan mengering dan lembah akan menjadi tandus.

Oleh karena itu mutlak diperlukan keseimbangan hidup. Dan keseimbangan ini di mana manusia sebagai kuncinya dan bukanlah hewan serta setan. Janganlah mengorupsi alam agar hidup-mu tenang.

Hal ini sesuai dengan petuah Bugis terkait asas asitinajang (kepatutan) : “Alai cedde’e risesena rekko engkai mappideceng, sampeangngi maegae rekko risesena engkai makkasolang”.

Artinya:

Ambillah yang sedikit jika yang sedikit itu mendatangkan kebaikan, dan tolaklah yang banyak apabila yang banyak itu mendatangkan kebinasaan/kerusakan”.

Prinsip asitinajang adalah sitinajai resona na appoleangenna. Artinya, kepatutan adalah cocok atau sesuainya antara pekerjaannya dengan pendapatannya atau hasil yang diperoleh.

Dalam prinsip budaya orang Bugis yang menghayati dan mengamalkan budayanya memperoleh hasil harus sesuai dengan pekerjaannya, sesuai dengan tanggung jawabnya.

Jadi, asitinajang bertentangan dengan perilaku korup. Korupsi merupakan jalan pintas yang sangat tidak patut dipelihara. (Murs).

Berikutnya