oleh

Maggulaceng Mainan Edukatif Tradisional Mulai Terkikis Gadget

Ada banyak orang tua yang menginginkan anaknya menjadi orang yang ‘sukses’ dan tidak ingin sama sekali melihat anaknya mengalami kegagalan. Apalagi, di zaman globalisasi seperti saat ini yang menuntut semua orang harus hidup serba bisa. Alhasil, berbagai les didaftarkan untuk diikuti oleh anak dengan waktu istirahat yang minim.

Ada les matematika, bahasa inggris, bahasa mandarin, les pelajaran, les tari, dan sebagainya. Tanpa disadari, bukannya membuat anak semakin serba bisa, justru bisa membuat anak semakin stress. Anak jadi tidak punya waktu untuk dirinya sendiri dengan bermain. Padahal, dunia anak adalah dunia bermain, terutama untuk anak usia balita hingga Sekolah Dasar.

Alangkah bijaksananya, jika sebagai orang tua memberikan waktu leluasa untuk anaknya bermain. Jika khawatir, orang tua bisa membelikan mainan edukatif untuk sang anak.

Sesuai dengan namanya, mainan edukatif merupakan mainan yang memiliki sifat mendidik untuk siapa saja yang memainkannya, dalam hal ini anak-anak. Jadi, bukan hanya sekedar bermain-main, anak-anak juga dilatih perkembangan otak dan motoriknya.

Sebenarnya, permainan edukatif sangat aktif dimainkan anak-anak pada masa lalu. Kini, entah mengapa permainan tersebut perlahan memudar dan digantikan dengan permainan yang ada di layar gadget yang dimainkan anak saat di mobil Daihatsu, misalnya. Mari cari tahu bersama mengapa permainan ini hilang termakan zaman.

Kemana Perginya Mainan Tradisional yang Edukatif Tersebut?

Permainan lompat tali karet, maccukke, maddanda, massallo, maggulaceng, mabbolu, mabbenteng, dan sebagainya sudah tidak terdengar lagi gaungnya di kalangan anak-anak. Lantas kemana perginya mainan edukatif tradisional tersebut?

Memudarnya permainan-permainan ini rupanya disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, tergeser eksistensinya oleh permainan modern yang merupakan dampak dari kemajuan teknologi, misalnya permainan mobil remote control, game konsol, hingga permainan di gadget.

Kedua, orang tua yang malah memperkenalkan anaknya dengan permainan tradisional karena kurang praktis. Ketiga, semakin sempitnya lahan untuk bermain anak-anak, khususnya di kota-kota besar. Keempat, bentuk rumah yang cenderung lebih tertutup, apalagi kini banyak yang memilih tinggal di apartemen.

Jika tidak ada lagi kepedulian semua warisan-warisan kebudayaan akan berakhir kepunahan.

Berikutnya