Transkrip Surat La Patau Matanna Tikka Kepada Pemerintah Agung Belanda Tahun 1697

Surat La Patau Matanna Tikka Kepada Pemerintah Agung Belanda Tahun 1697

Surat Raja Bone, La Patau Paduka Sri Sultan Indris Azim uddin 1696-1714) dan Sira Daeng Talele Karaeng Ballajawa kepada Pemerintah Agung, 1697.

Surat ditulis oleh La Patau bersama isteri Arung Palakka putri Sira Daeng Talele Karaeng Ballajawa. Surat tersebut ditulis tak lama setelah Arung Palakka Meninggal.

Isi surat La Patau merujuk pada sebuah pertikaian lama antara Datu Soppeng To Esang dan Arung Palakka.

Menyusul kematian La Tenribali Datu Soppeng tahun 1678, di mana putra keduanya yang bernama To Esang menduduki takhta. Sebab kakaknya yang juga merupakan pewaris takhta, meninggal di usia muda tahun 1669 pada waktu perang Makassar.

Sebenarnya La Tenribali sangat meragukan kemampuan putranya To Esang, sementara Arung Palakka sendiri melakukan upaya untuk menghalangi To Esang berkuasa di Soppeng.

To-Esang menggunakan kesempatan setelah kematian Arung Palakka tahun 1696 untuk menggeser penguasa Soppeng ketika itu yang bernama Datu ri Watu (dalam surat tersebut tertulis Datoe Dijwasoe dan Dato Dijwatoe).

To Esang kemudian mengangkat dirinya sendiri sebagai penguasa Soppeng. Namun La Patau tidak menghendaki cara-cara seperti itu.

Selanjutnya dalam surat tersebut menuturkan sejumlah peristiwa dan kampanye yang dilancarkan La Patau yang kemudian berhasil mengalahkan To Esang. Kemudian mengembalikan Datu Riwatu ke takhta kerajaan Soppeng.

Arung Palakka dan rakyat Bugis:

Di akhir abad ke-16 , kerajaan Makassar
Gowa yang terletak di bagian Barat Daya semenanjung pulau Sulawesi berkembang
menjadi kekuatan besar di kawasan tersebut.

Pada pertengahan pertama abad ke-17 kerajaan Makassar Gowa berhasil mengendalikan beberapa kerajaan di Indonesia Timur di bawah kekuasaannya. Menguasai kegiatan perdagangan menguntungkan yang memperjualbelikan cengkeh, pala, serta bunga pala yang berasal dari Maluku Utara.

Setelah Gowa memeluk agama Islam tahun 1605, kerajaan ini mulai melancarkan apa yang dikenal sebagai rentetan “Perang Islam” yang berhasil memaksa sejumlah kerajaan non-Muslim di jazirah tersebut untuk juga memeluk agama Islam.

Rentetan perang tersebut berakhir tahun
1611 dengan penaklukan serta pengislaman Bone, yaitu kerajaan Bugis paling berkuasa ketika itu.

Orang Makassar-Gowa kemudian ditengarai oleh orang Bugis sebagai penjajah mereka, dan di pertengahan abad ke-17 banyak orang Bugis yang berasal dari sejumlah kerajaan Bone dan Soppeng dihimpun di kota Makassar untuk membangun sejumlah kubu sebagai persiapan menghadapi serangan yang ditakutkan dari Kompeni (VOC).

Perlakuan keras dan kasar terhadap buruh paksa Bugis tersebut ditambah dengan stigma yang dikaitkan dengan pengislaman paksa yang terjadi sebelumnya di abad tersebut, melahirkan fenomena Bugis terkenal yaitu Siri, adalah sebuah pandangan di kalangan Bugis Sulawesi Selatan yang lazim dimaknai sebagai “rasa malu”.

Dalam pengertian ini, pemulihan harga diri seseorang yang seringkali dilakukan dengan paksa diyakini akan menghapus rasa malu tersebut.

Di antara orang Bugis yang dibawa ke Makassar sebagai buruh terdapat Arung Palakka, seorang keturunan ningrat dari
Soppeng.

Bersama sejumlah pengikutnya, Arung Palakka berhasil melarikan diri dari Makassar, mula pertama mereka ke Buton sebelum akhirnya mencari suaka di Batavia pusat VOC. Di tempat itu mereka disambut serta diberikan sebuah kawasan permukiman di luar kota yang dikenal dengan nama Angke. itu sebabnya orang Bugis di tempat itu juga dikenal sebagai To Angke yaitu orang dari Angke”.

Sementara hidup dalam suaka di Batavia, Arung Palakka beserta orang Bugis para pengikutnya dipekerjakan sebagai serdadu tambahan dalam aksi-aksi militer di pesisir Barat Sumatra yang kemudian berhasil melenyapkan cengkraman orang Aceh atas Minangkabau tahun 1666.

Keberanian serta kesetiaan orang Bugis dicatat oleh pihak Belanda, sehingga ketika mereka merencanakan sebuah serangan terhadap pelabuhan Makassar di kerajaan Gowa, yang merupakan saingan utama VOC, Belanda mencari dan memperoleh dukungan dari Arung Palakka.

Arung Palakka menjadi sangat dihormati oleh orang Bugis, dan ketika kembali bersama armada Belanda, beliau berhasil membujuk banyak pejuang Bugis untuk bergabung ke pihaknya sehingga mereka, para penyerang, memperoleh kemenangan.

Kendati didukung bantuan besar dari para pejuang Gowa bersama, mereka akhirnya dikalahkan untuk pertama kali tahun 1667, dan akhirnya untuk kedua dan terakhir kali di tahun1669; dan dengan demikian berakhir pula Perang Makassar yang berkepanjangan (1666-1669).

Latar Belakang terkait Isi Surat:

Surat ini merujuk pada Perjanjian Bungaya yang menutup tahap pertama Perang Makassar di tahun 1667, yaitu ketika rakyat Bugis memperoleh kembali harga diri mereka, dan dengan demikian juga menghapus beban menanggung Siri (harga diri).

Hadiah tak ternilai yang diberikan kepada orang Bugis oleh pihak Belanda menyebabkan mereka tetap setia tak tergoyahkan pada VOC seperti yang diperlihatkan Arung Palakka dan penggantinya, La Patau sepanjang hidup mereka.

Ketika Arung Palakka menduduki takhta kerajaan Bone tahun 1672, beliau menjadi pemimpin yang tidak diragukan lagi bagi seluruh jazirah Sulawesi dan beliau dijamin mendapat dukungan menyeluruh dari pihak Belanda.

Barang siapa pun yang ditengarai tidak setia terhadap beliau Arung Palakka digeser dari kekuasaan, dipaksa untuk melarikan diri ke luar kawasan atau dihukum. Akibatnya, terjadi gelombang pelarian besar-besaran dari Sulawesi dan banyak di antara mereka digeser dari jabatannya di sejumlah kerajaan di nusantara ketika itu.

Rujukan terkait menurunkan To Esang sebagai penguasa Soppeng oleh Arung Palakka adalah salah satu contoh yang mencerminkan keadaan dalam kurun waktu itu.

Kematian Arung Palakka tahun 1696
membuka peluang bagi mereka yang sebelumnya dikucilkan atau digeser untuk menuntut pengakuan kembali. Usaha To Esang untuk memperoleh takhta di Soppeng menjadi pokok persoalan dalam surat ini.

Dalam surat itu memuat serta penjelasan panjang lebar yang diutarakan oleh La Patau dan Daeng Talele, yaitu mereka yang paling dekat dengan Arung Palakka, dan dapat dinilai sebagai contoh terkait cara mereka berdua berusaha mempertahankan warisan
Arung Palakka di jazirah tersebut.

Sepanjang masa kekuasaannya, La Patau Matanna Tikka dihadapkan pada sejumlah tantangan seperti yang diuraikan dalam surat ini, yang berhasil diatasinya dengan dukungan menyeluruh dari pasukan serta pemerintah Belanda yang berkedudukan di Benteng Rotterdam Makassar.

Berikut Transkripsi dalam teks bahasa Belanda:

Translaat Maleytse missive door Radja Bony, en Dain Telille aan Haar Edelens de Hoge Regeringe tot Batavia geschreven.

Dese brief van opregte en suyvere genegentheyt des herte, verseld met hartgrondige salutatie van Paduka Radja Bony en Paduk Bonda Poetry Daing Telille wil den Almogende laten toekomen aan Sijn Edelheyt den heere gouverneur generael Willem van
Outhoorn en de heeren raden van India, dewelcke den hoogh verheven God heeft volmaekt in haer vermogende en hoogaansienelijke waerdigheden etc.

Wijders wanneer U Edele Hoog Agtbare voortreffelijcke missive, benevens de daerbij gevoegde ongemeene schenkagie alhier wierd aangebraght soo belasten wij deselvemet alle statieusheyt op het aansienelijkste nae de maet van ons vermogen in te halen.

Doen wij dien brief lasen soo versprijde uyt alle hare regels paerlen van onwaerdeerlijkheyt en dat vanwegens de Hoog Aansienelijke, en voortreffelijke woorden van Uw Edele Hoog Agtbare, sijnde wij ten hoogsten verheugt en wel vergenoeght doordien Uw Edele Hoog Agtbarens gonstelijck hebben gelieven aan te nemen onser aller Bonesen woorden en versoek, en is ons vertrouwen grootelijx vermeerdert, doordien wij hebben gesien U Edele Hoog Agtbares geschenck en weldaden aan ons bewesen, hebbende wij met alle eerbiedigheyt op het volmaekste opgevolght den inhoud Uwer Edele Hoog Agtbares missive, alwaer van het Bangayse contract werd gementioneert, want dat contract alleen stelt ons in vrijheyt waerdoor wij Bonesen en Sopingers weder de exercitie van ons reght en eygendom hebben bekomen, konnende wij klaerlijck sien, dat het de Compagnie alleen is door wien God Sijne goedertierentheyt aan ons heeft blijkbaer gemaeckt, waerdoor Bony en Soping weder haer naam (fol. 486).

Hebben bekomen, hebbende wij daerom een groot vertrouwen op de Compagnie en sijn eeuwig dankbaer niet alleen voor de redenen die in U Edele Hoog Aghtbare missive werden gementioneert, en welcke ons tot lessen en onderwijsingen strecken, maer ook dat U Edele Hoog Agtbare gelieve meldinge te doen, wegens de goede diensten die onsenoverleden heer aan de Compagnie heeft bewesen, en dat daerom U Edele Hoog Agtbare genegentheyt en liefde groot was, over alle die van onsen overleden heer nagelaten, en weder door U Edele Hoog Agtbare tot de vrijheyd hersteld zijn, hetwelcke zekerlijck de oorsake is, dat U Edele Hoog Agtbare hare heylsame onderwijsinge aan ons gelieven te doen, waerdoor wij vermeerderinge van vreugde en eere genieten.

Voorts hebben U Edele Hoog Agtbare haer over ons gelieven te ontfermen wegenshet examineren der beginselen van de Sopingse saken over hetwelcke wij seer dankbaer sijn, alsoo U Edele Hoog Agtbare niet onbekend is, hoe dat degenen die buyten ons zijn haer uytterste vlijt aanwenden, om de Compagnie onbehoorlijcke dingen wijs te maken want bij aldien U Edele Hoog Agtbare van die saak geen mentie hadden gemaekt, soo waren wij in dit labirint gebleven zonder dat de Compagnie kennisse soude hebben gehad van het bedrog en arglistigheyt onser wederparthije, daerom sijn wij ten hoogsten dankbaer en verheugd, dat U Edele Hoog Agtbare begeren te weten
en in waerheyt te verstaen, wat eygentlijck van het Sopingse gedoente is, waerop wij dan aanvankelijck seggen, wanneer Toysangh blijken van sijn onbehoorlijck comportement gaf, tot groot miscontentement van onsen overleden heer Radja Sopingh, die aan onsen heer, den overleden Paduka Bony, tot Bontouwala testament hadde gemaekt
soo geschieden [fol. 487] het dat den overledenen Radja Bony, ordonneerden dat er een vergadering der Bonese en Sopingers in de negorij Sopingh soude gehouden worden om malcanderen te indagtigen de redenen en woorden waerdoor ons den Admirael Speelman heeft aangenomen en ook om gesamentlijck te beraaden wegens de executie van het testament door den overleden Radja Sopingh aan Radja Bony gemaeckt, als wanneer de Bonesen en Sopingers, in een goede hermonie tredende, zeyden dat haer welvaren en levensonderhoud principalijck bestont in het nacomen van het testament
van haren heer, ter welcker oorsake die van Sopingh, en Bone, met eendragtigheyt, tot Coning van Soping vercoren Dato Dijwasoe, en voorts met gemeender stemmen besloten, Toysang te verstoten, gelijk sulx de heer commissaris Dirk de Haas, oock is aangediend, doe Sijn Edele van Ambon tot Macasser aanquam, waeraan wij ons vasthouden en daerbij blijven persisteren.

Wijders aangaande de oorsaken, ofte eerste beginselen van onse Sopingse saken zoo is ’t sulx, doe wij wierden verlaten van onsen heer den overleden Paduka, zoo maakten wij hem een graff tot Goa, en wij bewaakten dat graf, ook wordende ik door Radja Goa, bij hem in sijn Hoff ontboden, en zijde Radja Goa tot mij, ik heb een brief aan Toysangh gesonden, hem aanseggende, ghij sult uw eerst niet bewegen soo lange mijn woorden tot uw niet gecomen sijn, seggende Radja Goa wijders bij aldien Toysangh op dese mijne woorden niet antwoord, soo is het seker dat sijn bedrijf niet goed is. Onderwijlen begeerden ik op dit seggen van Radja Goa, niet te repliceren.

Doe nu 20 dagen verstreken waren dat [fol. 488] onsen heer in het graf hadde gelegen, zo weken wij terugh na Boutowala etc. alwaer wij den 29e dagh der maand july aanquamen.

Wanneer Dayangh Balykangh uyt ordre van Radja Goa bij ons quam, seggende tot ons heeft Radja Bony ook wetenschap dat Toysangh weder tot het rijck van Sopingh is gekeerd?

En dat Dato Dywatoe uyt sijn rijck is verdreven geworden? Horende wij Bonesen doe eerst het bedrijff van Toysangh dat hij het volck van Sopingh belast hadde, hem aan te nemen uyt Menpoe, en met de wapenen te adsisteren.

De veldoversten, ofte de voorgangers der Sopingers waren Ladayang en Toubaky,
dewelke haer met de wapenen in onse negorij hadden begeven, terwijle wij daer niet present waren, en deselve ledigh was, hetgene ons geadviseert wierd, door een Bonees man, van Boegis comende, waerdoor ons herte seer beroerd wierd, en hebben dierhalven alle de volckeren van Bony tesamen vergaderd in Bantowala, om haer te indagti gen het testament van onsen heer den overleden Radja Sopingh, aan den Paduka Radja Bony gemaeckt, zijnde wij met Arong Itoe overeengecomen, om ons benevens alle deconingtjes van Bony na Sopingh te begeven, alle de volckeren van Soping bijeen te roepen, en ’t gementioneerde testament nader te overwegen, dewijle sulx ons leven en
welvaren concerneert, want doe wij binnenquamen, en aan de gouverneur Isaek van Thije versoghten dat wij nae ’Tsienrana wilden, sonder hem iets verders te seggen, soo hadden wij in ons herte gantschelijk niet besloten om Bony met Sopingh in misdaad, off overhoop te helpen.

Na ’Tsienrana vertreckende, ontmoeteden wij onsen affgesondene, die [fol. 489] tot ons zeyde, dat sij Sopingers, niet het alderminst hadden geantwoord.

Tot Tanete comende belasten wij dat hij weder na Soping zoude keeren, om onse vorige reden aldaer de novo te repeteren, daerop ook niets ter wereld is gerepliceert geworden.

Wij onderwijlen voortmarcherende, geraackten tot zeekere rustplaets genaamt Tou-dangang, van waer een afgesonde tot ons quam, zeggende dat Radja Bony Sopingh dogh niet soude aangieren, siende onse volckeren inmiddens de wapenen van de Sopingers
etc.

Eyndelijck quamen wij tot ’Tsienrana, alwaer wij doe hoorden dat de Sopingers onse Touradjase volckeren hadden ontboden, ordonnerende haer een vastigheyd te maken, begerende dat die van Mandar haer met deselve soude conjungeren, soomede die van Wadzio, Sedinre, Sowyto, Mohyna, Maichyna, Hyryna, Manpoe, en den ouden Arong-Tenete, Arongh Oudziongh, mitsgaders de volckeren van Patan Panoya, zijnde wij alle dese dingen in waerheyt te weten gecomen, alsoo een ygelijck deser volckeren, het geschrift verthoonden, dat de Sopingers aan haer gesonden hadden.

Op den 20e dagh der maand september quam Dyangh Mambany, gesonden zijnde door Toysangh, en seyde dat Toysangh met Dato Dijwatoe, eene residentieplaets tesamen hadden, en dat hij (Dajangh Mambany) herwaerts gesonden was, om te seggen het goed soude wesen dat Radja Bony bedagt, om de broederschap te maken met het land van Bony en Sopingh, gelijck voordesen is besloten geworden, daer wij op antwoorden hetselve ons principael oogmerk te wesen, en daerom
onsen gesant soo dickwils hadden afgevaardigt, begerende die van Bony en Soping (fol. 490) tot een stantplaets te hebben, hoewel ghijlieden sulx niet hebt gewild.

Op den eersten dag van october Radja Sopingh tot ’Tsienrana comende en alleen verseld zijnde met twee personen van coninglijken afcomst, en eener zijnder slaven, soo vraagden ik hem is het waeragtigh dat mijn heer met Toysangh een besit heeft?

En Dayang Mambany herwaerts gesonden hebt? Daar Radja Soping op dienden, ik hebbe geen eene besittingen met hem, seggende hij Radja Sopingh wijders, O vader! Ik ben om geen andere oorsaeke herwaerts tot uw gecomen, dan om mijn toevlugt bij uw te nemen, en mijn selven aan uw over te geven, dewijle ik door de Sopingers uyt mijn coningrijk ben verdreven, alsoo Toysangh sigh selven tot Coning van Soping heeft verheven, zijnde ik sulx te weten gecomen, omdat ik gehoord heb ’t geluyt der trommelen en ’t gerugt der volckeren die den eed van getrouwigheyt, aan hem gesworen hebben, hebbende hij mij ontnomen hetgene waermede uw heer vader mij beweldadigt heeft.

Op den 2 October verrigten de volckeren van Bony, hetgene sij van dien gouverneur Van Thije hadden versogt, doe wij na Boegis wilde vertrecken, te weten, dat sij volgens de oude gewoonte Radja Bony tot conink van sijn rijk verheften, en het goude sonnedeck des rijx boven hem openden en uytspreyden. Doe dit ons werck g’eyndig was, soo belasten de Bonyse volckeren dat men eenige presenten, en goederen aan die van Soping soude laten toecomen, en wij haer doen te binnen brengen, het testament van den overleden Sopingsen coningh aan Paduka Radja Bony gemaekt (’tgeen wij deden).

Dogh de Sopingers wilden sulx niet aannemen, maer vielen op de negorij [fol. 491] van onsen heer Dat Datsyta aan, beroofden en ruïneerden alle de inwoonders van deselve, soomede de negorij Wato, als wanneer een afgesondene van Marobo bij ons quam, en ons om adsistentie versoght, seggende wij moesten haer ook te keer gaan, hetwelcke ons een groote hertseer veroorsaakten, dewijle wij dese twee saken van haer Sopingers niet conne verdragen, als eerstelijk dat yemand veranderinge maakt in de woorden die wij van den Admirael Speelman hebben aangenomen, en ten tweden dat ymand verandering maakt, in hetgene onsen overleden Heer heeft gedaen.

Want wij zijn ten hoogsten gebelgt over het bedrijff van Toysangh, die in de vastgestelde saken van onsen overleden heer veraderinge heeft gemaeckt, agtende ook, bij aldien wij dit ons niet aantrocken, dat de Compagnie misschien daerom hare genegentheyt tot ons zoude intrecken.

Wij dan wijders de mars na Soping nemende, quamen den 11e october tot Tana-tenga, passeerden aldaer de groote revier en bevolen doe weder goederen aan de Sopingers te brengen met recommandatie, het verhaelde in agth te nemen, dogh sij wilden sulx niet aanvaerden, begevende ons vorders na de negerij Mare-Mare als wanneer Dayang Malaba, tot ons quam, seggende wij hebben in opmerkinge genomen het testament van onsen heer den overleden Sopingsen coningh aan Paduka Radja Bony Marhoem gemaekt, daer wij op antwoorden, wij sijn wel vergenoegt
van herte dat ghijlieden het testament van onsen heer in agt en waerde hout, en het een goede zaek soude wesen dat die van Bony en Soping een besit hadden, en met eendraght tesamen spanden om [fol. 492] na te comen en te volbrengen de uytterste wille van onsen heer daer Dayangh Malaba op antwoorden, laat ik eerst terugh keren om in dit reguard, met alle de Sopingers te beraadslaan, waerop Dayangh Malaba na Sopingh vertrock, comende hij des morgens daaraen weder, zeggende het goed, morgen sullen wij die van Bony en Sopingh in eene besittinge stellen ter
welcker oorsake wij ook agteloos zijn geworden.

Marcherende alleen des avonds. Onderwijlen quamen de Sopingers op de been, vatteden het geweer aan, en dreven ons nederwaerts, dog wij wederstonden haer, maer doe de Bonesen zagen dat wij van de Sopingers wierden afgewesen, zoo grepen zij met hevigheyd de wapenen ook aan, en quamen ons bij. En wij benevens haer sloegen er wacker onder, en dewijle wij zeer vergramd waren, vielen wij haer
des morgens op het lijf, vegtende met haer tot den avond toe, verliesende sij den slagh, en vlugtende om een goed heencomen.

Wanneer Dayang Malaba weder bij ons verscheen, zeggende ik geringe ben hier
gecomen, om het testament van onsen heer aan te vaarden, brengende meteen en mede Arang Saloutango en Toubagy, dewijle zij de oorsaak van alle dese differenten zijn, waerop wij antwoorden O Dayangh Malaba, wat is er dogh bij mij?

Ghijlieden sijt het testament van onsen heer ongehoorsaam geweest en hebt de eerste beginselen voortgebraght om ons te attaqueren, dat ghij nogh versch cont heugen, ’t is dan wel, wij willen morgen een aanvanck maken van eene besittinge.

Des morgens dan vergaderden wij de volckeren van Bony en Sopingh (fol. 493) opdat wij tesamen met eendragtigheyt de uytterste wille van onsen heer, den overleden Conink van Soping, aan den overleden Radja Bony bevolen, zoude volbrengen, waerop wij eenparigh hebben verclaard, dat sulx een saek was, die ons heyl en welvaren raakten, en met gemeender hand besloten om Arongh Saloutongo, en Toubagy te laten doden, dewijle het den wegh ter dood van des conings kinderen van Bony en Sopingh is, bij aldien deselve schelmagtigh tegen de usantie en wetten der negorijen comen te doen. En alsoo dese twee persoonen de wetten der negorij-
en hebben gebroken en geschonden, zoo sijn se ook daerover gestorven.

Dit verright zijnde, weken wij weder na ’Tsienrana en wierden van de Sopingers
gevolght, om onsen heer (Dato Dywatoe) den Coning van Soping bij te comen, en hem weder in sijn rijk te herstellen. Wanneer wij tot ’Tsienrana quamen, zoo keerden den vorst Dato Dywatoe tot zijn Sopings rijck gelijck voordesen, zonder datter eenige moeyelijheden door ons aan hem sijn veroorsaekt en wierd er een eenigheyt tusschen die van Bony en Soping besloten. Aldus is het kenbaer geworden met alle waerheyt en sinceriteyt, den staat en de saken van Soping. Finis.

Eyndelijck het gering present dat dese missive vanwegen Paduka Radja Bony aan den heer gouverneur generael ende raden van India, bestaet in thien slaven, en van Paduka Poetry Dayingh Telille twee slavinnen. Dit is hetgene dat na ons vermogen is gesonden, hoewel het met de waerde van het gesondene niet overeen comt. Finis.

Geschreven in de negorij Bantawalo in het Coningrijk Bony. Den 4e dagh der weke, en den 29e der maand Majus in dit jaar.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

Terjemahan surat dalam Bahasa Melayu yang ditulis Raja Bone dan Dain Telille ditulis dan ditujukan kepada para Yang Mulia di Pemerintah Agung di Batavia.

Surat ini berisi ungkapan tanda kasih sayang tulus dari lubuk hati dan disertai salam hormat mendalam dari Paduka Raja Bone dan Paduka Bunda Poetri Daeng Talele, semoga Yang Maha Kuasa berkenan menghantarkan berkat kepada Yang Mulia Tuan Gubernur Jenderal Willem van Outhoorn beserta para anggota Dewan Hindia yang oleh Tuhan telah dimuliakan serta ditingkatkan kedudukannya, dst.

Selanjutnya, bersamaan dengan surat Yang Terhormat beserta semua hadiah yang menyertainya, maka kami pun berharap semoga semua itu dapat diterima dengan segala upacara serta hormat yang sepantasnya.

Ketika membaca surat tersebut, kami mendapatkan betapa setiap kalimatnya berisi butir-butir mutiara kebijakan yang sangat berharga dan berdasarkan kata-kata hebat Yang Mulia tersebut, kami menjadi sangat bergembira serta berpuas hati karena dapat memahami tanggapan baik Yang Mulia terhadap semua yang diutarakan serta dimohonkan oleh kami, rakyat Bone.

Selanjutnya, kepercayaan kami semakin bertambah oleh karena kami telah melihat betapa semua itu sudah pula diwujudkan oleh berbagai hadiah serta kemudahan yang diberikan oleh Yang Mulia. Dengan rasa hormat tertinggi, kami memenuhi sejauh kemampuan kami apa yang terkandung dalam surat Yang Mulia, yang juga menyebutkan perihal kontrak Bungaya.

Berdasarkan Kontrak tersebut, dan hanyalah dengan hal itu, kami memperoleh kebebasan sehingga sebagai rakyat Bone dan Soppeng, kami akan kembali melaksanakan hukum dan mengelola semua hak milik kami. Dalam
pengampunanNya, Tuhan telah dengan gamblang menjelaskan kepada kami bahwa hanya Kompenilah yang telah memulihkan kehormatan serta nama baik kami, rakyat Bone dan Soppeng.

Oleh sebab itu kami memiliki kepercayaan besar pada Kompeni dan kami senantiasa berterima kasih, tidak hanya oleh karena apa yang telah disebutkan dalam surat terhormat Yang Mulia, yang menjadi bimbingan serta pengajaran bagi kami, melainkan juga oleh karena Yang Mulia telah dengan murah hati menyebutkan pula jasa-jasa baik yang telah diberikan oleh almarhum Tuan kami kepada Kompeni.

Oleh sebab itu, sungguh besarlah rasa kasih sayang Yang Mulia kepada semua orang yang menjadi ahli waris almarhum Tuan kami, yang telah memperoleh kembali kebebasan mereka dari Yang Mulia.

Sejatinyalah, hal ini merupakan alasan mengapa Yang Mulia sudah berkenan menyampaikan bimbingan serta pelajaran terhormat kepada kami, yang semuanya telah meningkatkan kegembiraan serta kehormatan kami.

Selanjutnya, Yang Mulia juga telah memberikan perhatian kepada kami dengan meneliti duduk perkara yang berkaitan dengan Soppeng, dan untuk itu kami sangatlah berterima kasih sebab sejatinya Yang Mulia juga menyadari bahwa ada sejumlah pihak di luar kami yang berusaha keras untuk memberikan masukan tidak benar kepada Kompeni, sehingga apabila hal tersebut tidak disebutkan oleh Yang Mulia, maka kami akan terperangkap dalam pusaran fitnah tersebut dan Kompeni akan tetap tidak menyadari betapa pihak musuh kami telah menebar berbagai kebohongan serta tipu muslihat.

Oleh sebab itu, kami sangatlah berterima kasih serta berpuas hati bahwa Yang Mulia berkeinginan untuk memperoleh lebih banyak informasi serta untuk memahami inti permasalahan yang berkaitan dengan urusan Soppeng.

Untuk memenuhi keinginan tersebut kami awali dengan menyebutkan bahwa ketika Toysangh mulai memperlihatkan sikapnya yang tidak benar, yang membuat sangat sedih almarhum Raja Soppeng yang sudah membuat surat wasiatnya di Bontoala di hadapan Tuan kami yaitu almarhum Paduka Bone dan selanjutnya almarhum Raja Bone memutuskan untuk menggelar sebuah pertemuan antara raykat Bone dengan rakyat Soppeng di dusun Soppeng, dengan tujuan agar masing-masing diingatkan pada pemikiran serta perkataan Laksamana Speelman yang sudah memutuskan untuk melindungi kami, dan juga agar masing-masing pihak dapat merundingkan bagaimana sebaiknya melaksanakan surat wasiat yang dibuat oleh almarhum Raja Soppeng demi kemaslahatan Raja Bone.

Selanjutnya, rakyat Bone dan rakyat Soppeng hidup berdampingan dalam suasana keserasian. Mereka mengatakan betapa kesejahteraan serta jaminan hidup mereka pada intinya didasarkan dengan menaati apa yang disebut dalam surat wasiat Tuan mereka, dan sebagai dampaknya, rakyat Soppeng dan Bone besatu dan mendukung Datu ri Watu yang sudah diangkat menjadi raja Soppeng, dan kemudian secara bersama-sama memutuskan untuk mengenyahkan To Esang.

Hal tersebut juga diberitahukan kepada
komisaris Dirk de Haas, ketika Yang Mulia tiba di Makassar dari Ambon. Kami berpegang teguh dan tetap bertahan pada hal ini.

Untuk selanjutnya, terkait dengan sebab musabab ataupun dengan pokok-pokok
persoalan Soppeng, maka ketika kami ditinggalkan oleh tuan kami, almarhum Paduka, maka kami pun membangun baginya sebuah makam di Goa, dan kami pun menjaga makam tersebut.

Hamba pun juga diundang oleh Raja Goa agar datang ke istana beliau, dan Raja Goa pun berkata kepada hamba, saya sudah mengirim sebuah surat kepada To Esang dan mengatakan kepadanya bahwa janganlah anda mengambil tindakan apapun sebelum mendengarkan serta memahami dan mengikuti kata-kata saya. Raja Goa pun berucap bahwa Toysangh tidak menjawab dan dengan demikian maka sikapnya itu sudah pasti tidak benar.

Sementara itu, hamba tidak berniat menjawab apa yang dikatakan Raja Goa. Sesudah 20 hari berlalu sejak kami meletakkan jasad beliau dalam kubur, maka kami pun kembali ke Bantoala, dst. dan tiba pada hari ke-29 bulan Juli.

Ketika Dayang Balykang tiba pada kami, atas perintah Raja Goa, dan berkata kepada kami, apakah Raja Bone juga mengetahui bahwa To Esang sudah kembali ke kerajaan Soppeng?

Dan bahwa Dato di Watu telah diusir keluar dari kerajaannya? Ketika itu kami orang Bone baru mendengar untuk pertama kalinya tentang prakarsa To Esang yang memerintahkan dari arung Mampu agar rakyat Soppeng juga tunduk kepadanya, dan untuk membantunya dengan persenjataan.

Para pemimpian rakyat Soppeng adalah Ladayang dan Toubaku, yang telah masuk ke dusun kami dengan membawa senjata mereka, yaitu ketika kami tidak berada di tempat itu, dan dusun kami kosong, dan kami diberitahukan tentang hal tersebut oleh seorang dari Bone yang berasal dari Bugis, sehingga membuat hati kami sangat kacau.

Dan oleh karena itu kami telah mengumpulkan semua rakyat Bone di Bantoala untuk memberitahukan mereka tentang isi surat warisan Tuan kami, almarhum Raja Soppeng yang telah diberikan kepada Paduka raja Bone.

Kami pun telah bersepakat dengan Arung itu untuk pergi dari Bone ke Soppeng bersama semua raja/kepala dan mengumpulkan semua rakyat Soppeng untuk mempelajari surat wasiat yang disebutkan tadi yang sangat berkepentingan dengan kehidupan
serta kesejahteraan kami.

Ketika kami memasuki benteng dan mohon kepada gubernur Isaek van Thije agar diperbolehkan pergi ke Cenrana, tanpa mengatakan apa-apa lagi, maka dalam hati kami tidaklah ada niat untuk melakukan kejahatan kepada Bone dan Soppeng, Sesudah pergi ke Cenrana, kami berjumpa dengan seorang utusan yang [fol. 489] berkata kepada kami bahwa mereka tidak menjawab pihak Soppeng.

Setelah tiba di Tanete, kami memerintahkannya untuk kembali ke Soppeng dengan tugas untuk mengatakan kembali apa alasan kami, tetapi ini pun tidak mendapat jawaban.

Sementara itu kami terus berjalan hingga tiba di sebuah tempat istirahat yang bernama To uddamang, dan di tempat itu datang seorang utusan yang mengatakan bahwa Raja Bone dan Soppeng tidak akan datang, dan utusan itu melihat rakyat kami beserta persenjataan dari rakyat Soppeng, dsb.

Akhirnya kami tiba di Cenrana dan di tempat itu kami mendengar bahwa rakyat Soppeng telah memerintahkan rakyat Toraja untuk membangun sebuah benteng dengan harapan bahwa akan dapat digabungkan dengan benteng dari Mandar, dan juga dengan yang di Wajo, Sidenreng, Sawitto, Mohyna, Maichyna, Hyryna, Mampu dan yang lama di Arung Tenete, Arung pugi, termasuk rakyat dari Patampanua, dan semua ini kami ketahui oleh karena rakyat bersangkutan sudah memperlihatkan sebuah surat yang dikirim oleh rakyat Soppeng.

Pada hari ke 20 bulan September, Daeng Mambanu tiba, diutus oleh To Esang dan
berkata bahwa To Esang bersama Dato di Watu sudah bergabung, dan bahwa yang bersangkutan telah mengutus (Dajang Mambanu) ke sana untuk mengatakan, bahwa akan menjadi baik apabila Raja Bone mempertimbangkan untuk mejalin tali persaudaraan dengan tanah Bone dan Sopeng, seperti yang telah diputuskan sebelumnya.

Kami pun menjawab, bahwa tujuan utama kami juga demikian dan sebab itu kami juga sudah seringkali mengirim utusan kami dengan maksud agar mempunyai tempat tetap bagi Bone dan Soppeng kendati Anda sekalian tidak menghendakinya demikian.

Pada hari pertama bulan Oktober, Raja Soppeng tiba di Cenrana, dan hanya didampingi dua orang keturunan raja dan seorang budak. Maka hamba pun bertanya kepada beliau, benarkah bahwa tuanku sudah bergabung (memiliki tempat bersama) dengan
To Esang?

Dan bahwa Dayang Mambanu telah diutus ke tempat tersebut? Jawaban raja Soppeng, saya tidak memiliki hubungan dengannya, dan katanya selanjutnya, Oh Ayahanda, alasanku pergi menghadap semua hanyalah untuk mencari perlindungan dan untuk mengabdi kepada ayahanda oleh karena saya telah pun diusir dari kerajaanku oleh rakyat Soppeng, sementara To Esang telah mengangkat dirinya sendiri menjadi Raja Soppeng, dan semuanya itu saya ketahui karena saya telah mendengar gendang dibunyikan dan kabar dari rakyat yang telah memberikan sumpah setia kepadanya, dan merampas apa yang sudah diberikan kepada hamba oleh Tuanku.

Pada tanggal 2 Oktober, ketika kami hendak berangkat ke Bugis, rakyat Bone melakukan apa yang mereka minta dari gubernur Van Thije, sementara mereka menyadari bahwa sesuai adat kebiasaan lama, mereka akan mengangkat Raja Bone menjadi raja kerajaan mereka dan akan dibentangkan di atas kepadanya payung emas kerajaan.

Ketika pekerjaan kami ini sudah selesai, maka [raja] memerintahkan rakyat Bone untuk memberikan sejumlah hadiah dan barang kepada rakyat Soppeng. Dan kami pun membawa masuk surat wasiat dari almarhum raja Sopeng yang dibuat untuk Paduka raja Bone [yang kami pun lakukan].

Akan tetapi rakyat Soppeng menolak, dan bahkan menyerang dusun tuan kami di situ dan merampok serta menghancurkan semua penduduk, begitu juga mereka lakukan terhadap dusun Watu.

Ketika itu seorang utusan dari Marobo datang kepada kami dan minta bantuan kami sambil mengataan bahwa kami juga harus membantu mereka, sehingga membuat kami sangat sedih, sementara kami tidak dapat mengatasi dua perkara rakyat Soppeng ini, mula pertama bahwa seseorang telah melakukan perubahan pada kata-kata yang diucapkan oleh Laksamana Speelman dan kedua bahwa seseorang telah mengubah apa yang sudah dilakukan oleh almarhuam Tuan kami.

Kami sangatlah tersinggung oleh apa yang dilakukan To Esang, yang telah mengubah banyak dalam urusan almarhum Tuan kami, dan kami pun khawatir, apabila kami tidak menangani masalah ini, kemungkinan Kompeni juga akan menarik kembali rasa kasihnya dari kami.

Kami pun kemudian melanjutkan perjalanan ke Soppeng dan tiba pada tanggal 11 Oktober di Tana Tengnga, dan kami melewati sebuah sungai besar dan kembali memerintahkan untuk memberikan sejumlah barang kepada rakyat Soppeng dengan mengatakan agar mereka memerhatikan, tetapi mereka tidak bersedia menerimanya.

Kami melanjutkan perjalanan hingga ke dusun Mare-Mare ketika Dayang Malaba tiba pada kami dan berkata bahwa apa yang disebutkan dalam surat wasiat Tuan kami, almarhum Raja Soppeng yang dibuat untuk Paduka Raja Bone Marhum. Kami pun menjawab betapa kami sepenuhnya gembira bahwa mereka memerhatikan dan menghormati surat wasiat tersebut, dan bahwa akan menjadi hal baik apabila Bone dan Soppeng bersatu dan bersama-sama mengusahakan untuk melaksanakan apa yang disebutkan dalam surat wasiat bersangkutan dan melaksanakan apa yang dikehendaki oleh tuan kami.

Dayang Malaba pun menjawab, biarlah hamba kembali dahulu untuk merundingkan semua ini dengan rakyat Soppeng. Kemudian Dayang Malaba pergi ke Soppeng dan tiba di sana di pagi hari, dan mengatakan bahwa keesokan hari kami dari Bone dan Soppeng akan bersatu.

Itu sebabnya pula kami kemudian menjadi ceroboh, lalu berjalan hanya di malam hari. Sementara itu orang-orang Soppeng berjalan dengan membawa senjata dan mengusir kami, akan tetapi kami bertahan, namun ketika orang-orang Bone melihat bahwa kami juga diusir oleh orang-orang Soppeng, maka mereka pun menyandang senjata mereka dan menghampiri kami.

Kami pun memerangi mereka dengan seru dan kendati kami sangat lelah kami menyerang mereka di pagi hari dan bertempur melawan mereka hingga malam hari, sehingga mereka kalah dan melarikan diri.

Ketika Dayang Malaba kembali bergabung dengan kami, dia pun berkata bahwa beliau telah datang untuk menerima surat wasiat Tuan kami, dan bersama dengannya ada
Arung Salo Tengnga dan Toubagi, sementara mereka semua adalah sebab musabab segala perselisihan ini. Kami pun menjawab, O Dayang Malaba, apa pula yang kami miliki?

Anda sekalian sudah tidak mengikuti isi surat wasiat tuan kami, dan mulai menyerang kami, tidakkah kalian ingat itu, maka esok kami akan mulai bersatu.

Pada keesokan pagi kami mengadakan rapat, yaitu rakyat Bone dan rakyat Soppeng dengan tujuan untuk bersatu padu dan melakukan kehendak tuan kami, almarhum Raja Soppeng seperti yang diucapkan kepada almarhum Raja Bone.

Oleh sebab itu kami membuat maklumat bersama bahwa sejauh menyangkut kesejahteraan dan keselamatan kami, kami memutuskan bersama untuk membunuh Arung Salo Tengnga dan Toubagy, sesuai jalan kematian keturunan raja-raja Bone dan Soppeng dan semuanya yang memerangi tradisi serta hukum dusun dan oleh karena kedua orang ini sudah melanggar hukum dusun maka mereka pantaslah dibinasakan.

Sesudah melaksanakan semua ini kami pun pulang kembali ke Cenrana dengan diikuti oleh rakyat Soppeng untuk menghadap kepada tuan kami (Datu ri Watu), Raja Soppeng dan menempatkan beliau kembali dalam kedudukannya. Ketika kami tiba di Cenrana, raja Datu ri Watu kembali kepada kerajaan Soppengnya tanpa menghadapi kendala dan terciptalah persatuan antara rakyat Bone dan Soppeng. Demikian diberitahukan sesuai kebenaran dan kejujuran, dan berakhirlah urusan Soppeng. Selesai.

Pada akhirnya, seperti yang dinyatakan dalam surat yang dimeterai dari Paduka raja Bone kepada tuan gubernur jenderal dan para anggota Dewan Hindia, dan disampaikan oleh sepuluh orang budak, dan dari Paduka Putri Daeng Talele, dua budak perempuan. Itulah yang dikirimkan kepada kami, kendati nilainya tidaklah sesuai dengan isi surat. Selesai.

Ditulis di dusun Bantawalo, di kerajaan Bone. Pada hari dan tanggal 29 bulan Majus tahun ini (1697).

Catatan Teluk Bone:

Redaksi terjemahan masih perlu penyempurnaan

Rujukan Pustaka:

  1. Andaya, Leonard Y. The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes)
    in the Seventeenth Century. The Hague: Martinus Nijhoff, 1981.
  2. Andaya, Leonard Y. Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad Ke-17. Makassar: Ininnawa, 1st printing 2004, 2nd printing 2006.
  3. Cummings, William (tr. & ed.). The Makassar Annals. Leiden, KITLV Press, 2010.
  4. Gibson, Thomas. “The Sea King and the Emperor”. Chapter 7 in Gibson, And the Sun Pursued the Moon: Symbolic Knowledge and Traditional Authority Among the Makassar. Honolulu: University of Hawai’i Press, 2005.