oleh

Mengenal Prosesi Mattompang Arajang di Kabupaten Bone

Kebudayaan adalah sebuah sistem tanda yang memiliki beberapa peranan, di antaranya cara pemahaman, perhubungan, dan penciptaan.

Kebudayaan juga merupakan sistem yang berupa gagasan, kelakuan, dan hasil kelakuan. Dengan kata lain, kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia.

Bentuk-bentuk simbolis yang berupa kata, benda, laku, mite, sastra, lukisan, nyanyian, musik, kepercayaan yang berkaitan erat dengan konsep-konsep dari sistem pengetahuannya, juga tidak dapat terpisahkan dari sistem sosial, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh perilaku sosial.

Kabupaten Bone, di Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai kota beradat dalam motto sumange tealara yang menyimpan beragam keunikan dan estetika budaya sangat menghormati dan menjunjung tinggi budaya nenek moyang.

Pada setiap peringatan Hari Jadi Bone, ritual “Mattompang Arajang” yaitu pembersihan benda-benda pusaka rutin selalu diadakan. Benda-benda pusaka tersebut disimpan di sebuah ruangan khusus di Museum Arajangnge kompleks rumah jabatan Bupati Bone. Pada upacara mattompang tersebut, benda-benda pusaka disakralkan bagai makhluk hidup.

Mattompang arajang adalah upacara adat yang sakral dengan mensucikan benda-benda pusaka kerajaan Bone. Prosesi tersebut biasa juga disebut dengan Mappepaccing arajang atau dikenal pula dengan istilah Pangadereng dilangiri.

Benda-benda pusaka yang ditompang meliputi Teddung Pulaweng (Payung emas), Sembangeng Pulaweng (selempang emas), Kelewang Latea Riduni, Keris Lamakkawa, Tombak Lasagala, Kelewang Alameng Tata Rapeng (Senjata adat tujuh atau Ade’ Pitu), dan lainnya.

Pencucian benda pusaka tersebut menggunakan beberapa air sumur yang berada di Kabupaten Bone, yakni Bubung Parani, Bubung Bissu, Bubung Tello, dan Bubung Laccokkong. Sumber mata air ini dikumpulkan
sebagai bahan pembersihan pusaka.

Pada zaman dahulu, mappepaccing arajang atau mattompang dilaksanakan oleh para Bissu atas restu Raja Bone atau Mangkau di dalam ruangan tempat penyimpanan arajang tersebut. Para Bissu dianggap mengetahui
serta mampu berhubungan dengan kegaiban yang menyertai arajang atau benda pusaka tersebut.

Oleh karena itu, secara religius, hanya para Bissulah yang dianggap mampu dan kapabel untuk menggerakkan dan memindahkan arajang (benda pusaka) dari tempatnya semula.

Ritual Mattompang Arajang ini merupakan sebuah ritual tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat dan pemerintah Kabupaten Bone dalam rangka penyucian benda-benda pusaka warisan Kerajaan Bone. Ritual tersebut sebagai salah satu pesta adat masyarakat, sekaligus pelestarian budaya Kerajaan Bone. Masyarakat Bone umumnya akan “pulang kampung” demi menyaksikan secara langsung prosesi dan ritual tersebut.

Oleh karena generasi saat ini dan yang akan datang tentu akan sangat membutuhkan informasi yang akurat mengenai bentuk-bentuk ritual yang ada di masyarakat, salah satunya adalah ritual Mattompang Arajang ini.

Selain itu, ritual ini rutin dilaksanakan setiap tahun sehingga dapat menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang dapat menarik para wisatawan untuk berkunjung di Kabupaten Bone. Hal ini tentu akan turut memengaruhi perekonomian masyarakat, terutama sektor penginapan dan makanan.

Berikut ini kita akan mengetahui bagaimana bentukprosesi ritual Mattompang Arajang serta bagaimana makna ritual Mattompang Arajang bagi masyarakat Kabupaten Bone.

Adapun bentuk-bentuk prosesi dalam ritual Mattompang Arajang dalam rangka peringatan hari jadi Bone diuraikan sebagai berikut.

1) Malekke’ Toja (Memindahkan atau mengambil air)

Proses mappasawe’ ini dilaksanakan beberapa hari sebelum kegiatan Mattompang Arajang dilakukan. Sebelum melaksanakan acara Mallekke Toja terlebih dahulu para bissu memohon izin kepada raja/pemerintah/bupati. Proses mohon izin ini disebut Mappasawe’.

Kegiatan mallekke’ toja dilakukan di beberapa tempat yaitu:

a. Bubung Paranie dan Bubung Bissu yang keduanya berada di wilayah Kecamatan Barebbo yang disebut oleh para nenek moyang terdahulu berada ri Saliweng Benteng (di luar dari benteng).

b. Bubung Tello dan Bubung Laccokkong yang ada di Kelurahan Watampone Kecamatan Tanete Riattang atau dalam bahasa terdahulu berada ri Laleng Benteng (di dalam benteng).

Prosesi ritual adat pengambilan dilakukan dengan perjalanan menuju mata air suci. Sepanjang perjalanan, pembacaan doa-doa dengan bahasa Torilangi terus terucap dan bunyi-bunyian dari alat seperti ana baccing, kancing, gendang dan lain-lain terus dibunyikan dengan tujuan mengusir ruh-ruh jahat yang dapat mengganggu prosesi ritual pengambilan air suci.

Prosesi awal dalam pengambilan air dilakukan dengan doa dalam bahasa Bugis (pembacaan mantera dengan bahasa torilangi). Prosesi dilakukan biasanya pada pukul 6.00 pagi di Museum Arajangnge Bone.

Toja (air) ini dimaksudkan untuk digunakan membersihkan benda-benda pusaka atau arajang, setelah dilakukan pengambilan air dari beberapa sumur tersebut maka air dibawa ke dalam tempat benda-benda pusaka dan didiamkan.

2) Ritual Mappaota

Yakni pemimpin Bissu (Puang Matoa) mempersembahkan Ota, yakni daun sirih yang diletakkan dalam sebuah cawan kepada Bupati Bone sebagai laporan bahwa upacara adat segera dimulai. Selanjutnya diiringi oleh para bissu ke tempat arajang.

Dalam prosesi ritual ini, Ota (daun sirih) diletakkan di depan pintu ruangan tempat arajang disimpan, dengan maksud memohon izin kepada dewa selaku leluhur terdahulu dan sebagai pemberitahuan bahwa arajang akan diambil dan dibersihkan.

3) Mattompang Arajang

Setelah arajang (benda pusaka) diambil dari tempat penyimpanannya dan telah mendapatkan restu dari leluhur maka ketua adat yang diwakili Puang lolo (wakil ketua adat) mengarak pusaka kerajaan yang ingin dibersihkan kepada Pattompang atau Passossoro untuk disucikan atau ditompang yang diiringi gendrang Bali Sumange serta Sere Bissu yang dilakukan oleh para bissu dengan mengelilingi para pattompang dan arajang yang dibersihkan.

Pada prosesi Mattompang Arajang oleh para bissu menggabungkan kelima gerakan sere, salah satunya gerakan sere terakhir, yaitu Sere Maddampu Alameng/maggiri (mencabut senjata). Bissu berada pada keadaan antara
sadar dan tidak sadar.

Bissu melakukan gerakan menusuk-nusuk diri dengan benda tajam sementara para bissu yang lainnya melakukan sere sambil bergerak mengelilingi hingga prosesi tersebut selesai

4) Mappatinro Arajang

Ritual selanjutnya yang dilakukan oleh para bissu disebut Mappatinro Arajang (menidurkan nilai spiritual benda pusaka), kemudian bissu kembali membacakan mantra-mantra yang disebut Mamemmeng.

Setelah tanda isyarat selesai dikeluarkan oleh para pattompang maka ketua adat mengambil kembali arajang untuk dikembalikan di tempat penyimpanannya yang diwakili oleh Puang Lolo (wakil ketua adat).

Arajang (Benda Pusaka) :

Benda-benda pusaka peninggalan kerajaan Bone (arajang) yang disucikan atau dibersihkan pada saat prosesi mattompang, yaitu:

1) Sembangeng Pulaweng (Selempang emas)

Merupakan pusaka kerajaan Bone pada masa Raja Bone yang ke-15 La Tenritatta Arung Palakka. Pusaka ini dipersembahkan kepada pemerintah kerajaan Bone sebagai penghargaan atas keberhasilan kerajaan Bone membangun kerjasama dengan raja Pariaman.

Pusaka salempang emas ini merupakan rantai besar dari emas 63 (enam puluh tiga) potong dengan panjang 1,77 meter dan berat 5 kg dengan dua medali emas berbahasa Belanda. Sembangeng Pulaweng ini kemudian menjadi perlengkapan resmi dalam upacara pelantikan dan penobatan raja-raja Bone.

2) Lamakkawa (Keris)

Sebuah karis  hulunya berlapis emas dan dihiasi intan permata. Pusaka ini merupakan pusaka Raja Bone ke-15 La Tenritatta Arung Palakka.

Pada zamannya, pusaka Lamakkawa ini dipergunakan oleh ArungPalakka dari setiap pertempuran melawan musuh kerajaan. Pusaka ini memiliki sifat ketajaman dan berbisa sehingga sekali tergores atau terluka, orang yang cedera tersebut akan meninggal dengan cepat yang dalam Bahasa Bugis “Makkawa”.

3) Latea Riduni (Kalewang)

Sebuah kalewang sarung serta hulunya berlapis emas dan dihiasai intan permata. Pusaka ini merupakan pusaka Raja Bone yang ke-15 La Tenritatta Arung Palakka.

Pusaka selalu dikebumikan bersama raja yang mangkat, namun setiap kali itupun memunculkan diri di atas makam yang diliputi cahaya terang benderang. Sehingga atas kejadian itu, maka pusaka ini disebut Latea Riduni (yang tidak untuk di kebumikan).

Pusaka Latea Riduni kemudian di simpan dan mendapatkan pemeliharaan, serta dipergunakan sebagai perlengkapan resmi dalam upacara pelantikan dan pengangkatan raja-raja Bone.

4) Lasalaga (Tombak)

Merupakan sebuah tombak yang pada pegangan dekat mata tombak dihiasi emas. Tombak ini merupakan simbol kehadiran Raja Bone. Tombak tersebut diberikan nama LASALAGA dikarenakan pada saat perang raja-raja terdahulu sering menggunakan tombak ini dengan mempunyai kelebihan bahwa pada saat dilepaskan oleh pemiliknya tombak tersebut akan mencari sasaranya
sendiri.

5) Alameng Tatarapeng (Senjata adat tujuh atau Ade’ Pitu Bone)

Pusaka kerajaan ini adalah sejenis kalewang yang hulu serta sarungnya berlapis emas, dan merupakan kelengkapan pakaian kebesaran anggota Ade’ Pitu. Selain itu ada pula perlengkapan-perlengkapan yang dipakai oleh Bissu.

Untuk diketahui, Bissu adalah sebutan bagi pemimpin agama Bugis kuno yang dipercaya oleh para raja untuk melaksanakan upacara-upacara keagamaan demi memuji sang pencipta.

6) Teddung Pulaweng (Payung emas)

Merupakan payung pusaka kerajaan Bone yang telah ada sejak zaman kejayaan raja Bone ke-15 La Tenritatta Arung Palakka. Pusaka ini merupakan suatu pusaka karajaan yang diterima oleh kerajaan Bone sebagai bentuk penghargaan dari kerajaan Pariaman yang merupakan wujud sikap persaudaraan antara kedua kerajaan.

Sesudah pemerintahan raja Bone ke-15 La Tenritatta, maka pusaka Teddung Pulaweng ini menjadi suatu alat perlengkapan resmi pengangkatan dan pelantikan raja-raja selanjutnya hingga ke masa raja terakhir.

Makna Tarian dalam Prosesi Hari Jadi Bone

Makna Tarian Sere Bissu:

Adapun makna-makna yang ditimbulkan dari tarian sere bissu yang dilakukan oleh para penari bissu dalam prosesi acara mattompang arajang, mulai dari prosesi mattompang pertama hingga berakhirnya ritual mattompang, yaitu sebagai berikut:

1) Sere alusu: menggunakan Alusu (anyaman dari daun lontar) menyimbolkan tutur kata yang baik, sesama manusia tidak memandang strata sosial. Merujuk pada hal-hal yang halus/lembut.

2) Sere bibbi: gerakan tangan yang menyimbolkan akan menyadari kesalahan
dan kekurangan diri sendiri sebelum melihat kekurangan orang lain. Merujuk pada gerakan mencubit diri sendiri.

3) Sere mangko: gerakan tangan, menyimbolkan merangkul dan menyatukan
sesama masyarakat. Merujuk kepada gerakan yang menampung.

4) Sere lemma: gerakan tangan menyimbolkan berperilaku sopan dan santun terhadap sesama, tidak memandang status. Merujuk kepada gerakan yang pelan.

5) Sere maddampu alameng/maggiri dengan Tappi: yaitu menggunakan senjata untuk kebaikan dan menolak hal-hal buruk.Merujuk pada senjata yang dipergunakan dalam hal-hal baik.

Dari lima hal di atas hanya ada satu hal yang berkaitan dengan senjata tajam secara khusus, yaitu Sere Madampu Alemeng. Hal ini disesuaikan dengan maksud dari tujuan, bahwa kehidupan sosial bermasyarakat sangat penting memahami sendi-sendi sosial tanpa mengurangi rasa hormat sesama manusia yang diciptakan oleh sang pencipta, selain itu rasa saling menjaga kerukunan dan kesatuan.

Makna Rirual Mattompang Arajang :

Dari beberapa simbol pada acara mattompang, makna-makna yang tersirat di dalamnya, yaitu :
1) makna silaturahmi dan persatuan, yakni
dilihat pada prosesi acara mattompang yang dilakukan pada setiap tahunnya bertepatan saat hari jadi Bone. Pejabat atau Bupati Bone memanggil dan mengundang para turunan-turunan raja atau pejabat baik yang berada di luar daerah, masyarakat Bone serta unsur-unsur yang masih berkaitan dengan
masyarakat terdahulu.

2) makna membersihkan atau menyucikan, yaknipada prosesi mattompang arajang sekali dalam setahunnya setiap benda-benda yang pernah digunakan oleh para raja atau pejabat disucikan begitu pula para raja-raja beserta masyarakat agar tetap berpikir jernih dan tetap menjaga hal-hal yang disucikan.

Terutama kepada pejabat dalam hal ini Bupati Bone agar tetap berpikir sehat dalam mengambil segala keputusan demi kepentingan masyarakat dan warganya demi mewujudkan cita-cita nenek moyang (leluhur).

3) makna magis/spiritual, yaknidalam prosesi adat mattompang terdapat hal-hal yang tidak bisa diterima oleh akal sehat atau logika manusia biasa dikarenakan adanya mantra-mantra yang diucapkan dan mempercayai yang gaib, semua itu diartikan bahwa manusia di muka bumi ini diciptakan oleh hal yang gaib, yaitu Allah SWT yang berhak dan wajib disembahnya.

4) makna kelestarian budaya, yakniprosesi adat mattompang tidak terlepas pada pendahulu-pendahulu masyarakat Bone yang telah mewariskan anak cucu mereka dengan budaya yang menandakan perjuangan, pengabdian serta rasa kasih sayang sesama. Maka dari itu diadakanlah acara tersebut.

Ada beberapa hal yang ingin dicapai melalui Mattompang Arajang ini, khususnya bagi masyakat Kabupaten Bone, yaitu sebagai berikut:

a. Mempercayai tuhan yang suci dan berprilaku baik;
b. Saling menghargai sesama manusia dalam hidup bermasyarakat;
c. Pemimpin masyarakat atau pemerintah haruslah berfikir jernih demi warganya; dan
d. Membangun rasa solidaritas pada masyarakat, khususnya masyarakat Bone.

Simpulan:

Jika disimpulkan, bahwa makna ritual Mattompang Arajang dapat diungkapkan hal-hal berikut, yaitu:

1) Pelaksanaan Mattompang Arajang berlandaskan pada kebiasaaan-kebiasaan
raja terdahulu yang ada di Kabupaten Bone. Kebiasaan tersebut meliputi hal-hal yang suci yang disukai oleh para raja serta selalu menghargai benda-benda pusaka yang telah digunakan oleh para raja.

Di mana dalam tata cara pelaksanaanya dilakukan berdasarkan adat istiadat yang telah diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun.

2) Makna yang terkandung dalam ritual Mattompang Arajang adalah bentuk saling menghargai satu sama lain dalam hidup bermasyarakat dan tetap menjaga sopan santun serta etika dalam bermasyarakat, membersihkan diri dan tidak memandang rendah sesama mahluk hidup ciptaan Tuhan.

Tidak melaksanakan ritual ini dianggap suatu tanda tidak menghargai raja-raja terdahulu dan tidak mensyukuri nikmat tuhan.

Demikian pemahaman tentang prosesi mattompang arajang yang dilaksanakan sebagai rangkaian kegiatan pada peringatan hari jadi Bone.

Kegiatan mattompang arajang pada zaman kerajaan Bone tidak dilaksanakan setiap tahun. Dilaksanaka ketika ada tamu kerajaan, menghadapi perang, serta apabila terjadi musim kemarau berkepanjangan. Kegiatan mattompang arajang baru dilaksanakan rutin setiap tahun setelah terbit peraturan daerah kabupaten Bone tentang penetapan hari jadi Bone.

Sementara itu dasar penetapan dan peringatan Hari Jadi Bone berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Bone Nomor 1 Tahun 1990 Tanggal 22 Maret 1990 Seri C Nomor 1 Tentang Penetapan Hari Jadi Bone.

Berikutnya