oleh

Memang Aku Kecut Tapi Bukan Pengecut

Memang Aku Kecut Tapi Bukan Pengecut

Sewaktu sekolah saya harus menempuh perjalanan 14 km dengan naik kaki. Terkadang harus melalui jalan pintas melewati semak belukar penuh duri. Rintangan itu kuterjang tanpa ampun. Akhirnya bisa kutulis ini.

Sepulang dari sekolah tak jarang perut mulai keroncongan. Untuk mengganjal perut akupun mencari pohon asam berharap ada buahnya yang jatuh.

Alangkah senang hatiku ketika kudapat CEMPA MALLOLA, artinya buah asam yang besar-besar melengkung . Memang amat kecut (makecci) tapi setidaknya bisa menambah tenaga untuk bisa sampai ke rumah.

Tapi sayang … pohon-pohon asam yang tumbuh berjajar di pinggir jalan, kini telah tiada, semua ditebang, tidak seperti dulu. Padahal orang Belanda sengaja menanam pohon asam di tepi jalan sebagai penahan longsor.

Tahukah Anda kalau buah asam yang kecut itu, bisa menjadi bahan pembelajaran dalam kehidupan kita? Hendaknya jangan sekadar memandang kecutnya.

Filosofi buah asam, bahwa setiap orang hendaknya bersabar untuk memahami sesuatu yang baru. Buah asam memang rasanya asam, namun bila kita sabar memaknainya, maka akan memberi manfaat yang luar biasa bagi kehidupan kita.

Buah asam memberikan nilai-nilai positif untuk membangun cara berpikir, bersikap dan berperilaku. Memaknai rasa asam sangat kuat hubungannya dengan kehidupan. Kesan seperti ini kerap digunakan untuk memaknai hal-hal yang tidak nyaman atau tidak sesuai keinginan.

Sesuatu yang baru (kecuali pengantin baru) sering menciptakan rasa tidak nyaman. Terjadi konflik di dalam hati, antara rasa puas dengan kondisi yang ada dengan keinginan untuk berubah mempelajari hal-hal baru.

Memasuki dunia baru atau perubahan memang membuat hati kecut, seperti makan buah asam. Namun bila perubahan itu dijalani, maka dipastikan akan ada manfaat yang luar biasa.

Tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan itulah yang membuat kehidupan berjalan sebagaimana mestinya.

Perubahan yang baik dilandasi ilmu. Karenanya, seseorang harus menguasai ilmu, termasuk ilmu-ilmu keagamaan, agar ia mengetahui, dengan menggunakan kepekaan dan kearifan, menjalankan perubahan yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ilmu pengetahuan membantu memahami dan mengurai fenomena dunia secara akurat dan cermat. Sementara ilmu agama membantu mengarahkan terciptanya kemaslahatan umat sesuai syariat.

Kearifan orang berilmu mampu memahami sesuatu yang pahit sebagai suatu keniscayaan, menjangkau hal-hal positif di balik hal yang negatif, melihat kemudahan dibalik suatu kesulitan.

Bukankah di balik kesulitan itu ada kemudahan?

Buah asam rasanya memang asam, dan tetap berasa asam. Kalian harus memahami, bahwa buah asam pada akhirnya juga akan berubah menjadi matang hingga rasanya menjadi manis.

Bila seseorang hatinya tidak terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Ia akan mencari alasan-alasan pembenaran untuk mempertahankan kepentingannya. Ia punya sejuta alasan, selalu banyak omong, mengeluh dan menyalahkan orang lain.

Orang seperti itu, cenderung menggunakan pikiran-pikirannya dibanding bertindak dan bekerja. Orang-orang ini biasanya sulit untuk diajak maju, bahkan menjadi penghambat.

Filosofi buah asam ini berlaku untuk orang yang sedang belajar, sedang menjalankan perubahan, atau hijrah kepada kebaikan. Mereka itu akan merasakan hal-hal yang tidak enak, berjuang, bekerja keras, belajar mati-matian.

Keberhasilan setudaknya perlu trikorban, yaitu korban tenaga, korban materi, dan korban perasaan.
#TAHANNGILER

Selanjutnya